
Lin dan Nate terlihat sedang bersiap di salah satu kamar tunggu. Karena ini bukan pernikahan biasa, maka mereka tidak melakukan ritual seperti pernikahan pada umumnya.
Lin terlihat mengenakan gaun sederhana yang dipinjamnya dari Felix, dan Nate hanya mengenakan kemeja berbalut jas yang memang telah dipakainya tadi.
Keduanya terlihat duduk bersama, sambil menunggu dipanggil ke ruangan.
Untungnya Felixander Osborne adalah pria serba bisa. Gedungnya yang megah ini ternyata seringkali digunakan untuk berbagai acara khusus kaum V, salah satunya acara pernikahan.
Nate menggenggam tangan Lin di pangkuannya, pandangannya terlihat sedih.
"Aku minta maaf Lin. Tadinya aku sudah merencanakan acara pernikahan yang lebih baik dibanding hari ini."
Wanita itu malah tersenyum dan mengusap pipi Nate.
"Tidak apa Nate. Aku malah senang kalau acaranya tertutup seperti ini. Lagipula, kita berdua tidak akan dapat mengadakan pernikahan secara terbuka, bukan?"
Nate mencium tangan Lin yang sedang digenggamnya. "Terima kasih Lin."
Saat sedang termenung, Lin tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh ya, Nate. Tadi kamu bilang pada ayah, kalau kamu sudah menandaiku. Apa maksudnya?"
Kepala pria itu terlihat tertunduk malu. Ia mengusap-usap tangan Lin di pangkuannya.
"Aku sudah memberikan esensi diriku padamu, Lin."
"Maksudnya?"
"Dalam tubuhmu sudah mengalir cairanku, membuat pria lain akan menjauh karena kamu sudah aku tandai."
"Kamu menandai aku saat kita berhubungan?" Hal ini masih membuat Lin bingung.
Pria itu menggeleng pelan. "Aku menandaimu ketika menggigitmu saat itu."
"Oh!" Wanta itu baru teringat sensasi luar biasa yang dirasakannya saat Nate menggigitnya. Ia memang merasakan ada sesuatu yang masuk, tapi tidak terlalu memperhatikannya.
Wanita itu mengangguk-angguk pelan.
Pembicaraan keduanya terhenti ketika terdengar ketukan dari arah pintu. Felix terlihat masuk ke dalam ruangan tunggu itu.
"Nathanael. Sudah waktunya."
Nate mengangguk dan pandangannya beralih pada Lin. Pria itu mencium kening wanitanya dan tersenyum.
"Sampai jumpa di dalam."
Balas tersenyum, Lin pun berujar, "Sampai jumpa, Nate."
Tidak lama setelah Nate keluar dari ruangan, Johan terlihat memasuki ruangan tersebut.
Pria tua itu tampak menunggu di depan pintu yang masih terbuka. Raut muka Johan terlihat sangat bahagia.
"Lin? Kamu siap?"
Sambil tersenyum manis, Lin bangkit dari duduknya dan menghampiri ayahnya.
Tangan keduanya saling menggenggam erat. "Aku sudah siap, yah."
Setelah itu, pasangan ayah-anak itu memasuki sebuah ruangan yang telah ditata sedemikian rupa oleh Felix. Berbagai bunga hidup terlihat menghiasi sudut-sudut ruangan, menyebarkan bau harum yang menenangkan.
Kaki Lin sedikit gemetar, ketika menyadari bahwa ruangan itu ternyata telah terisi oleh cukup banyak tamu. Ada sekitar 20 orang yang menghadiri upacara ini, dan sebagian besarnya tidak dikenal oleh wanita itu.
Ia hanya dapat mengenali sosok Marcus yang kaku dan juga rambut merah Dominic yang terlihat cukup menonjol di ruangan.
Lin terlihat lega, ketika ia melihat tubuh tinggi Nate yang telah menunggu di depan mimbar. Pria itu tersenyum lebar padanya.
Saat Lin semakin mendorong kursi Johan ke depan, beberapa tamu tampak terkesiap kaget. Belum pernah ada dalam sejarahnya ada seorang wanita V diantar ke mimbar oleh orang lain.
Umumnya kedua pasangan yang akan menikah, sudah siap sedia di depan mimbar dan menunggu upacara pemberkatan. Jika pun tidak, wanita V hanya akan melangkah sendirian di selasar itu dan menghampiri sang pengantin pria.
Kejadian ini tentunya merupakan sejarah untuk kaum mereka. Namun etiket tampak melarang mereka untuk saling bergosip dalam upacara yang sakral ini. Suasana terdengar hening, meski banyak pertanyaan terlihat berkecamuk dalam kepala mereka.
Ketika sudah mendekat, Johan menghentikan kursi rodanya dan mengambil tangan anaknya.
__ADS_1
Pria tua itu menghampiri Nate dan menyerahkan tangan puterinya pada pria muda itu.
"Tolong jaga puteriku, Nathanael."
Nate mengangguk dan menerimanya.
"Saya akan selalu menjaganya, Master Johan. Anda tidak perlu khawatir."
Sambil bergandengan tangan, kedua pengantin berbalik dan membelakangi para tamu. Tidak lama, terdengarlah pengumuman dari Felix sebagai pembawa acara.
"Dan sekarang, mari kita saksikan penyatuan suci dari Nathanael D'Axelle, putera satu-satunya dari bangsawan Perancis Navarre D'Axelle dengan Alina Johan, puteri satu-satunya dari Master Alexander Johan."
Pengumuman itu membuat ruangan sedikit ricuh tapi dengan sedikit suitan dari Felix, semuanya kembali menjadi tenang.
"Harap tenang. Acara akan segera dimulai."
Selesai pengumuman dari Felix, acara pemberkatan pun dilangsungkan dengan khidmat. Setelah itu, kedua pengantin pun bertukar cincin dan pengantin pria mencium sang pengantin wanita dengan cukup singkat. Tampak keduanya saling tersenyum di depan mimbar.
Semua tamu memandang takjub pasangan pengantin yang ada di depan, dan ini benar-benar merupakan sejarah bagi kaum mereka.
Penyatuan suci dalam kaum V cukup jarang terjadi dan saat mereka berkesempatan untuk melihatnya secara langsung, tentu hal ini menjadi berkah yang luar biasa. Apalagi ketika mengetahui bahwa salah satu dari pengantin adalah anak dari seorang The Master.
Banyak dari mereka yang akhirnya mengerumuni kedua pengantin itu setelah acara selesai. Tapi Felix dengan sigap, mengarahkan keduanya untuk keluar dari pintu belakang dan langsung menuju ke area parkiran.
Ketika akhirnya keduanya sudah berada di dalam mobil yang dibawa Nate, Lin baru bisa menghela nafas lega. Wanita itu tertawa riang.
Pria di sampingnya pun terlihat tertawa bahagia. "Kita pulang sekarang?"
Lin mengangguk. "Bolehkah kita menginap dulu di apartemenku malam ini, Nate? Aku masih belum mempersiapkan apapun."
Nate mengelus rambut Lin. Ia sebenarnya ingin langsung membawa Lin ke tempatnya tapi untuk saat ini, ia tidak mau memaksanya. Nate mau agar Lin merasa nyaman dulu dengan status barunya sekarang.
"Tentu. Kita akan menginap di tempatmu dulu."
Mobil itu pun mulai bergerak meninggalkan gedung mewah Felix, membawa pasangan pengantin yang siap untuk menempuh hidup baru.
Keesokan harinya, Lin dan Nate berangkat ke kantor dengan menggunakan kendaraan yang berbeda. Sesuai kesepakatan awal, mereka akan merahasiakan hubungan mereka selama di kantor dan akan bertemu setelah mereka berada di rumah.
Sampai di kantor, Lin menuju ruangannya dan bertemu dengan Pak Robertus.
"Alina! Masuklah."
Kedua orang itu pun akhirnya mengobrol sebentar terkait pekerjaan dan membahas mengenai batalnya rencana pengunduran diri Lin.
"Saya benar-benar berterima kasih Alina, karena kamu batal keluar dari perusahaan ini. Kalau saya boleh tahu, apa yang membuatmu tidak jadi keluar?"
Lin tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Sebenarnya ada masalah pribadi Pak Robertus, yang sayangnya tidak bisa saya ceritakan pada Anda. Tapi yang jelas, masalah itu sudah selesai dan saya sudah bisa fokus untuk bekerja kembali. Saya minta maaf kalau sudah membuat Anda cemas."
Pria paruh baya itu hanya menggeleng dan tersenyum.
"Yah. Saya tidak perlu tahu detailnya. Yang jelas, saya bersyukur kamu tidak jadi keluar. Kalau ada apapun yang kamu tidak sukai, kamu bisa membahasnya langsung dengan saya. Saya akan mendiskusikannya dengan Pak Marcus nanti."
Lin mengerjapkan mata ketika mendengar nama Marcus.
"Pak Marcus?"
"Ya. Beliau sepertinya cukup memperhatikan kamu. Beberapa kali, ia bertanya mengenai dirimu dan cukup terkejut saat tahu kamu akan mengundurkan diri."
Mendengar itu, Lin hanya mengangguk. Sepertinya hal ini juga yang membuat Nate uring-uringan beberapa hari lalu ketika ia tidak menjawab telepon pria itu. Dalam hati, Lin tertawa puas telah berhasil membuat suaminya kalang kabut saat itu.
"Apakah kamu kenal dekat dengannya, Alina?"
Alis Lin otomatis terangkat tinggi. "Kenal dekat? Maksud Anda, dengan Pak Marcus?"
Pak Robertus mengangguk semangat. "Ya. Apakah kalian cukup dekat?"
Kepala Lin menggeleng pelan. Ia tersenyum samar pada atasannya.
"Tidak juga. Hanya saja, saya pernah beberapa kali membantu beliau terkait dengan pekerjaan. Mungkin karena itu, Pak Marcus jadi sedikit memperhatikan saya. Tapi di luar itu, kami sama sekali tidak memiliki hubungan apapun."
"Oh begitu. Saya kira kalian sangat dekat. Terus terang, saya mendengar sedikit gosip mengenai kalian karena kejadian beberapa hari lalu."
__ADS_1
Ingatan Lin melayang pada kejadian di ruangan lift yang cukup traumatis bagi Nate.
"Mengenai hal itu, kebetulan beliau melihat saya sedang membantu partnernya. Jadi karena telah mengenal saya, maka Pak Marcus meminta saya untuk ikut dengan mereka. Partnernya benar-benar sakit dan harus di rawat. Tidak ada hal lain yang terjadi setelah itu."
Pak Robertus mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika itu, Lin pun telah menjelaskan duduk perkaranya dan atasannya menerima penjelasannya, apalagi ketika Lin dengan tegas mengatakan kalau ia tidak jadi resign dari perusahaan.
Merasa bahwa tidak ada lagi hal yang penting untuk dibicarakan, Lin memutuskan untuk pamit dari ruangan atasannya. Ia mulai tidak suka arah pembicaraan ini.
"Kalau tidak ada lagi yang harus dibicarakan, maka saya permisi untuk kembali ke ruangan saya, Pak Robertus."
Sadar bahwa bawahannya sudah tampak tidak nyaman, membuat pria baya itu tersenyum.
"Tentu Alina. Maaf, saya menanyakan hal yang sedikit pribadi tadi. Sekali lagi, saya ucapkan selamat datang kembali di perusahaan."
Lin pun mengangguk. Salah satu hal yang membuatnya bisa bertahan selama ini di perusahaan, adalah sosok Pak Robertus yang bijaksana dan tahu batasan wilayahnya.
"Terima kasih Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Sepanjang pagi itu, Lin tampak berkutat di depan komputernya ketika ponselnya berbunyi.
Melirik ke jam tangannya, ia baru menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Lin pun meraih ponselnya, dan melihat kalau yang menelepon adalah Lucy.
Wanita itu menghela nafasnya pelan. Perilaku Lucy yang seringkali reaktif, mulai membuat Lin merasa jengkel. Tapi sadar kalau temannya berniat baik, membuatnya berusaha untuk menekan kemarahannya.
"Halo, Luce. Tentu. Aku akan menyusulmu di kantin. Sampai nanti."
Ia baru saja meletakkan ponselnya di meja, ketika muncul notifikasi pesan baru.
'Bagaimana kabarmu, isteriku?'
Kata-kata itu membuat Lin tersenyum. Ia telah mengganti ID 'Nate' menjadi 'MyV', berusaha sebisa mungkin menyembunyikan identitas Nate dari orang lain.
'Kabar baik, suamiku. Bagaimana denganmu?'
'Kabar baik juga. Aku rindu padamu.'
'Jangan terlalu rindu, karena sekarang aku mau pergi.'
Sedetik setelah pesan itu diterima, ponselnya berbunyi nyaring.
Tertawa, Lin mengangkatnya.
"Halo."
"Kamu mau pergi kemana?" Terdengar suara Nate yang tegang di seberang.
Terkekeh, Lin menjawab enteng.
"Makan siang. Memangnya kamu pikir, aku mau pergi kemana?"
"Oh."
Jawaban singkat itu membuat Lin membayangkan wajah suaminya yang pasti tertunduk dan terlihat sangat malu. Semakin mengenal Nate, semakin Lin menyukai sosok suaminya.
"Aku harus pergi sekarang, Lucy sudah menungguku di kantin."
"Lucy? Dia orang yang telah menampar dan memukulku, Lin. Kamu masih mau berteman dengan orang semacam itu?"
Terdengar suara Nate yang mengeluh. Lin tahu kalau suaminya hanya berusaha terdengar dramatis dan sama sekali tidak memiliki dendam pada temannya.
Lin kembali terkekeh.
"Kamu memang pantas untuk dipukul hari itu, Nate. Kalau kamu masih ingat, kamu telah mengambil kesempatan dalam kesempitan pagi itu."
Suara Lin yang riang, membuat Nate tersenyum di seberang telepon.
"Kamu memang harus dihukum nanti, isteriku. Sekarang pergilah, sebelum temanmu yang bar-bar itu melakukan sesuatu yang bodoh nanti."
"Oke. Sampai jumpa di rumah."
"Sampai jumpa. Love you." Sebelum Lin dapat membalas, Nate telah menutup teleponnya.
Pelan, Lin meletakkan ponselnya di meja. Ia sadar kalau ia sama sekali belum pernah mengatakan perasaannya pada Nate. Tapi ia bersyukur, kalau suaminya tidak memaksa dan memberinya ruang untuk berfikir.
__ADS_1
Lin memang belum bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Nate tapi ia tahu, kalau perasaannya pada suaminya jauh lebih dalam dari pada kata-kata cinta apapun.
Mengambil dompetnya, Lin pun bangkit dari duduknya dan segera menyusul Lucy di kantin.