Madness

Madness
Chapter 49


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Apa katamu tadi?" Suara Johan terdengar menggelegar di kamarnya.


"Ayah, tadi Nate-"


"Ayah sedang bertanya pada Nathanael, Lin."


Nada suara ayahnya yang dingin membuat Lin terdiam. Ia menoleh pada pria yang sedang duduk di sampingnya, dan mendapati raut Nate yang ternyata sama dengan ayahnya. Pria itu terlihat dingin dan kaku.


"Jadi, apa maksud-"


"Saya telah menandai Lin. Saya akan menikahinya, meski tanpa restu dari Anda."


Kata-kata Nate yang terdengar tidak sopan membuat Johan geram. Pria tua itu sudah sadar kalau puterinya telah ditandai oleh pria muda ini, tanpa seizinnya. Tubuh Lin terlihat bersinar dengan esensi dari Nate, menandakan kalau wanita itu milik seseorang.


Jawaban Nate membuat Lin bingung. Menandai? Apa maksudnya?


Lin ingin bertanya, tapi melihat kedua pria di depannya yang bersitatap penuh permusuhan, membuatnya menggigit lidahnya. Ia tidak mau membuat keadaan menjadi runyam.


"Itu tidak berarti apapun! Aku akan bisa menghilangkannya dengan mudah! Kau..."


Tangan Nate menarik pinggang Lin, membuat tubuh wanita itu menempel erat padanya.


"Lin telah menjadi milik saya. Seutuhnya."


Perkataan itu membuat Johan melotot. Tarikan nafas pria tua itu terdengar tajam.


"Jangan katakan kalau kau..."


"Tubuh Lin telah menjadi milik saya. Anda mau buktinya?"


Jawaban pongah Nate membuat Lin dan Johan terperangah. Baru kali ini mereka mendengar pria sopan itu berperilaku sangat sombong dan posesif.


Keadaan ini membuat Lin salah tingkah. Ia sangat malu kehidupan pribadinya diketahui oleh ayahnya. Mukanya memerah seperti tomat.


"Ayah, mengenai ini-"


"Apakah itu benar, Lin?" Johan menatap puterinya tajam.


"Ayah..." Lin hanya mampu mencicit. Ia benar-benar malu saat ini.


"Apakah benar kamu sudah menyerahkan dirimu padanya?"


Kepala Lin menunduk. Ia merasa bersalah tidak mampu menjaga dirinya dengan baik. Kedua matanya terasa memanas.


"Benar, ayah. Aku sudah menjadi milik Nate."


Mendengar itu, tangan Johan langsung memencet tombol di kursinya. Tidak lama, Felix memasuki ruangan yang terasa penuh aura permusuhan.


Sadar dengan situasi ini, Felix dengan perlahan menghampiri pria tua di depannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Master?"


"Felix, sepertinya permintaanku dipercepat. Aku ingin agar hal itu dapat dilakukan hari ini."


Kedua mata Felix membola. Pria tinggi itu terlihat sangat kaget. Perlahan, ia menatap pada dua orang yang masih duduk di depannya.


"Apakah mereka sudah tahu, Master?"


"Tahu mengenai apa?" Pasangan itu terlihat bingung.


"Kalian harus dinikahkan hari ini!"


Setelah mengatakan pengumuman itu, Johan pun mengarahkan kursinya ke kamar tidur dan membanting pintunya kencang. Meninggalkan tiga orang yang masih terbengong.


Nate yang pertama kali tersadar dari kekagetan ini. Jantungnya berdebar.


"Felix. Apa maksud Master Johan tadi?"


Bibir Felix menyunggingkan senyum.


"Master Johan sebenarnya telah mempersiapkan agar Anda berdua dapat menikah beberapa minggu lagi. Tapi sepertinya, beliau ingin agar hal ini dapat dilakukan hari ini juga."


Penjelasan ini membuat Nate terkejut dan ia memandang pintu yang tertutup rapat itu.


"Master Johan sudah merencanakan ini?"

__ADS_1


Pria berambut pirang itu terkekeh pelan.


"Benar Nate. Jadi sepertinya, permintaanmu yang tadi sudah tidak berlaku, karena Master Johan yang lebih dulu menginginkannya."


Sebelum bertemu dengan Johan, Nate telah berbicara dengan Felix mengenai keinginannya untuk mengadakan upacara pernikahan di tempat pria itu. Ia membutuhkan seseorang yang dapat menikahkan mereka dan untuk mengurus surat-surat resminya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Ada banyak hal yang harus segera saya persiapkan untuk acara malam nanti."


Setelah Felix undur diri, pasangan itu saling bertatapan dalam diam.


Nate memandang Lin dengan tatapan yang berbeda. Wanita ini sebentar lagi akan menjadi miliknya seorang. Menjadi isterinya.


Memegang sisi wajah Lin, dengan lembut Nate mencium dahinya lama.


Sambil tersenyum, Nate meremas tangan Lin.


"Aku harus bicara dulu dengan ayahmu, Lin."


Lin mengangguk dan tersenyum pada Nate.


"Tolong jangan terlalu keras padanya Nate. Dia juga sebenarnya sangat sayang padamu."


Menutup kedua matanya, Nate mencium kedua tangan Lin. Wanita ini benar-benar membuatnya merasa memiliki semangat untuk hidup lagi.


"Aku tahu, Lin. Aku tahu. Tunggulah di sini, aku akan segera kembali."


Mencium kening Lin cepat, Nate pun bangkit dan langsung mengetuk pintu kamar yang tertutup itu. Pria itu pun segera masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.


Sampai di dalam, Nate melihat Johan yang sedang duduk membelakanginya.


"Master Johan."


"Aku sama sekali tidak menyangka Nathanael, ternyata kamu sudah banyak berubah."


Perlahan, Nate maju menghampiri pria tua itu. Ia berhenti beberapa langkah dari pria yang sedang duduk membelakanginya.


"Berubah? Maaf, tapi saya tidak mengerti maksud Anda."


"Dulu, kamu tidak akan masuk tanpa disuruh. Dulu, kamu tidak pernah membantah. Dan dulu, kamu tidak pernah menginginkan apapun. Apa yang membuatmu berubah?"


Perkataan Johan menyadarkan Nate. Benarkah dia telah berubah? Ia sendiri tidak menyadarinya. Tapi kejadian demi kejadian beberapa hari lalu, membuat pria itu sadar bahwa ada hal-hal yang memang dilakukannya untuk pertama kali dalam hidupnya. Hal-hal yang cukup konyol sebenarnya.


"Katakan. Bagaimana perasaanmu pada Lin sebenarnya, Nathanael?"


Mendengar pertanyaan itu, membuat pria muda itu semakin menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


"Saya mencintai Lin."


Mata Johan sedikit melebar. Sejujurnya, ia tidak menyangka jawaban ini.


"Kamu mencintai puteriku?"


"Ya. Saya mencintai puteri Anda."


"Kalau begitu, kamu berjanji akan menjaganya?"


Nate menganggukan kepalanya mantap. "Ya. Saya akan menjaganya."


"Bahkan dengan nyawamu sendiri?"


Pria muda itu kembali mengangguk mantap. "Ya. Dengan nyawa saya sendiri."


Johan menghela nafas dan menutup kedua matanya. Hatinya merasa lega saat ini.


Tidak lama, ia membuka matanya dan menatap Nate kembali.


"Bagaimana dengan Lin sendiri? Apakah dia mencintaimu?"


Pertanyaan ini membuat kepala Nate menggeleng pelan.


"Saya tidak tahu. Seperti yang pernah saya bilang dulu, saya sendiri belum yakin dengan perasaan Lin pada saya."


Kedua tangan Nate terkepal erat. Dulu mungkin ia takut untuk melangkah karena hal ini tapi sekarang, Nate sudah tidak mau ambil pusing lagi. Ia telah mengklaim wanita itu.


"Yang saya tahu pasti, Lin merasa nyaman berada di dekat saya. Dia mengkhawatirkan saya. Dan dia menyayangi saya. Itu saja sudah cukup bagi saya."


Jawaban yang sangat rendah hati itu membuat mata Johan sedikit berkabut. Anak ini sama sekali tidak berubah. Ia tetaplah seorang pria baik, yang tidak akan memaksakan kehendaknya pada orang lain meski mengorbankan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kalau tahu itu, kenapa kamu menandainya?"


"Saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya harus memilikinya, sebelum ia dimiliki oleh orang lain."


"Kamu pria yang egois, Nathanael!"


Johan sedikit memancing Nate.


"Untuk hal yang lain, saya masih bisa mengalah. Tapi untuk yang satu ini, terus terang saya tidak peduli. Kalau perlu, saya akan memaksanya untuk terikat pada saya. Selamanya."


"Kamu memaksanya dengan menodainya?"


"Kalau yang Anda maksud apakah saya sudah memiliki tubuhnya, maka jawabannya ya. Saya sudah menodainya. Dan itu saya lakukan lebih dari sekali, kalau Anda mau tahu. Tapi saya tidak memaksanya melakukan itu. Lin menginginkannya juga."


Kata-kata dari Nate terdengar sangat vulgar dan menantang pria tua di depannya.


Baru kali ini Johan melihat mata Nate yang berkilat, menunjukkan rasa kepemilikan pada sesuatu. Lin telah benar-benar membuat pria muda ini lepas kontrol. Tampaknya untuk yang satu ini, Nate memang telah jauh berubah dibanding dulu.


Mendengus, Johan mengalihkan tatapannya. Hatinya merasa gembira. Akhirnya Nate bisa mengalami perasaan bebas untuk memiliki sesuatu. Hal yang sama sekali tidak menjadi haknya ketika ia hidup di masa lalu sebagai seorang bangsawan.


Melihat Johan yang terdiam, Nate akhirnya mengutarakan pikirannya.


"Apakah Anda merestui kami?"


Pria tua itu kembali menatap Nate dengan marah.


"Kamu sudah melakukan semua itu, dan kamu masih berani meminta restu dariku?"


"Bagaimana pun, Anda tetap ayahnya. Orang tua Lin satu-satunya. Tentu saja, saya harus meminta restu dari Anda meskipun itu tidak akan memberikan pengaruh apapun pada keputusan saya nantinya."


Kembali mendengar jawaban sombong dari pria itu, membuat Johan tertawa terbahak-bahak dengan sinis. Mata Johan berkilat memandang Nate dan kembali membuang mukanya.


"Kita lihat saja nanti, Nathanael. Sekarang, panggil puteriku kesini. Aku sudah muak melihat mukamu."


Tapi Nate belum beranjak sama sekali dari tempatnya. Ia masih memandang pria tua di depannya. Tatapannya sedikit melembut.


"Master Johan. Apakah Anda merestui hubungan kami?"


Nada Nate yang lebih lembut membuat Johan menatap kembali pria muda itu. Matanya terlihat memicing.


"Kamu pikir, kenapa aku ingin menikahkan kalian berdua hari ini? Sekarang, panggil Lin ke sini Nathanael. Aku muak melihat wajah pongahmu!"


Muka Nate terlihat cerah. Senyum lebar muncul di wajah tampannya. "Terima kasih Master."


"Keluar! Sekarang!"


Ketika melihat pria muda itu keluar dari kamar, senyum Johan terbit dari bibirnya. Betapa ia sudah menunggu untuk dapat melihat raut bahagia Nate selama ini. Dan ia bersyukur, kalau ternyata puterinya-lah yang dapat memberikan kebahagiaan pada pria muda itu.


Tidak lama, terdengar ketukan pelan dari arah pintu dan tampaklah puterinya yang terlihat cemas ketika memasuki kamar itu.


Dengan pelan, Lin menutup pintunya dan melangkah ke ayahnya.


"Ayah..."


"Kemarilah Lin." Johan merentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar.


"Peluk ayah, Lin. Kamu telah membuatku bangga puteriku."


Perkataan Johan membuat Lin tersenyum sangat lebar, membuat kedua matanya menyipit.


Dengan sangat erat, ayah-anak itu berpelukan dengan bahagia. Akhirnya Johan dapat memenuhi impiannya melihat anak-anaknya bersatu. Dan Lin pun bahagia, karena ia telah dapat memenuhi permintaan ayahnya untuk yang pertama dan mungkin terakhir kalinya.


Satu-satunya yang tidak menyadari hal ini hanyalah Nate, yang tampak menunggu tidak sabar di ruang tamu.


Salah satu kakinya bergerak-gerak gelisah dan ia pun merogoh sesuatu dari saku celananya. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya yang gugup. Seumur hidupnya, baru kali ini Nate gugup akan sesuatu.


Pria itu mengeluarkan kotak kecil dari perak dan membukanya. Di dalamnya terdapat sepasang cincin perkawinan yang baru didapatnya kemarin.


Bentuknya cukup sederhana dan berwarna biru kehitaman. Tidak ada hiasan apapun, kecuali ukiran rumit di kedua sisinya.


Cincin itu sederhana, tapi sekaligus tampak mahal. Nate sangat puas dengan cincin yang sebenarnya sudah dipesannya jauh-jauh hari itu.


Ketika Lin mengutarakan ingin memiliki cincin yang tidak mencolok, Nate sangat bahagia karena ia memang telah memesan cincin seperti yang diinginkan oleh wanita itu.


Ia mengambil salah satu cincin yang ukurannya lebih kecil dan menelitinya. CIncin untuk wanita itu hanya dihiasi oleh satu batu berlian berwarna biru yang tertanam. Di bagian dalamnya terdapat grafir yang sangat jelas berwarna biru-perak. Nathanael D'Axelle.


Senyum Nate terbit di bibirnya. Sangat lebar sampai memperlihatkan giginya yang putih.

__ADS_1


Akhirnya. Akhirnya dalam hidupnya, ia dapat memilih dan memiliki sesuatu dengan bebas. Dan hal ini dilakukannya, dengan tanpa campur tangan orang lain.


__ADS_2