
Saat berpamitan, Nate baru sadar bahwa jam telah menunjukkan waktu di angka 23.00.
Melihat raut wajah Lin yang terlihat lelah, pria itu pun akhirnya meminta kartu akses wanita itu. Ia memutuskan akan langsung masuk ke kamarnya tanpa harus mengganggu tidurnya.
Keduanya pun kembali berciuman, sebelum akhirnya pria itu menutup pintu apartemen dan menyuruh wanitanya untuk langsung tidur.
Berada di lorong, pria itu melirik pintu apartemen Dominic yang tertutup rapat. Ia baru akan menekan bel pintunya ketika ponselnya kembali berbunyi.
"Ya Marc. Aku akan segera turun."
Kembali memandang pintu yang masih tertutup itu, Nate memutuskan akan berbicara dengan pria itu saat ia datang lagi nanti.
Dengan segera, ia melangkahkan kakinya ke lift untuk menemui Marcus yang telah menunggunya di bawah.
Sesampainya di dalam mobil, Marcus memperhatikan pakaian atasannya yang terlihat berantakan dan tidak karuan.
Saat datang kemarin, pakaian Nate terlihat sangat rapih dan necis. Tapi kini, pria itu mengenakan jas di luar kemejanya yang terbuka setengah, memperlihatkan sebagian dadanya yang berotot.
Asistennya pun memperhatikan kalau beberapa kancing kemejanya telah terlepas dan ada yang tergantung dengan menyedihkan di kainnya.
Tapi anehnya, aura atasannya terlihat sangat cerah dan bahagia. Berbeda jauh dari kemarin.
Mulai mengarahkan mobilnya keluar dari area apartemen, dengan pelan Marcus bertanya.
"Seru acaranya tadi malam, Tuan?"
Pertanyaan dari asistennya membuat Nate tertawa dengan keras, membuat Marcus menatap atasannya dari kaca spion dengan takjub. Sudah sangat lama ia tidak pernah mendengar lagi atasannya tertawa dengan sangat lepas seperti itu.
Masih tertawa, Nate menepuk pundak asistennya dengan cukup kencang.
"Benar Marc. Tadi malam sangat seru sekali. Terima kasih sudah bertanya."
Dengan senyum lebar yang masih terpatri di wajahnya, pria itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Ia benar-benar merasa sangat bahagia saat ini.
Masih mengarahkan pandangannya kembali ke kaca spion, pria dingin itu kembali berkata.
"Seharusnya Anda meminta saya saja untuk mengambil pakaian Anda, Tuan. Jadi Anda tidak perlu repot-repot untuk kembali ke penthouse secepat ini."
Ia melihat atasannya menggelengkan kepalanya pelan. Masih sambil tersenyum dan memandang ke luar jendela, pria itu berkata pelan.
"Tidak Marc. Aku memang harus segera kembali ke rumah. Ada sesuatu yang penting harus aku ambil sendiri di sana. Kamu nanti mau menunggu sebentar kan?"
Nate akhirnya mengalihkan pandangan ke Marcus dan balas menatapnya.
Kepala Marcus mengangguk kaku. "Tentu Tuan. Tidak masalah."
Dalam waktu singkat, Marcus telah memarkirkan mobilnya di basement penthouse Nate.
Terburu-buru, pria itu pun keluar dari mobil dan sempat berpesan pada asistennya.
"Tunggu sebentar Marc. Aku akan segera kembali."
Marcus yang masih berada di dalam mobil sedikit menggelengkan kepalanya. Ini adalah kali pertamanya ia melihat atasannya terlihat begitu tidak sabar dan terburu-buru.
Biasanya Nate sangat sabar dalam melakukan sesuatu, dan akan memanfaatkan waktunya untuk menunggu. Tapi sekarang, atasannya bahkan terlihat berlari-lari kecil menuju lift yang akan mengarahkannya langsung ke penthouse pria itu.
Sampai di penthouse-nya, Nate langsung menuju kamar tidur dan membuka lemarinya.
Setelah mencari sebentar, ia pun menemukan benda yang dicarinya.
Tersenyum, Nate membuka kotak kecil yang sedang dipegangnya dan tampak kepuasan menghiasi raut wajahnya.
Segera mengantonginya dengan hati-hati di saku celananya, ia pun mengganti kemejanya yang telah rusak dengan pakaian santai dari lemarinya.
Dengan cepat, pria itu pun menyiapkan beberapa pakaian ganti dan juga pakaian kerja yang akan dipakainya besok pagi.
Menenteng duffel bag-nya, Nate berhenti sejenak di depan pintu dan menoleh memandang ke sekeliling kamar tidurnya yang sangat luas.
Senyuman lebar perlahan terlihat di wajah tampannya, sebentar lagi ia tidak akan merasa kesepian lagi ketika berada di kamar yang besar ini.
Ia pun menutup pintu kamarnya dan kembali berlari-lari kecil untuk segera menyusul Marcus yang sedang menunggu di mobilnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 pagi, saat Nate yang sedang melangkah di lorong apartemen Lin mendengar pintu yang terbuka dari salah satu kamar.
Langkahnya terhenti, ketika ia melihat pria berambut merah sedang berdiri menyambutnya.
Keduanya saling memandang dalam diam. Mata Dominic tampak bergerak-gerak ketika menatap sahabatnya yang terlihat sedang menenteng tas pakaian di salah satu bahunya.
"Nathanael. Boleh kita bicara sebentar?"
Akhirnya Dominic menyuarakan pikirannya. Suaranya terdengar sedikit tercekat.
Nate mengangguk pelan. Ia juga sudah berencana untuk berbicara dengan pria itu tadi.
Tanpa bersuara, kedua pria itu memasuki tempat tinggal Dominic dan pintu menutup dengan pelan di belakang mereka.
Memasuki apartemen Dominic, Nate menjadi teringat hal yang sudah dilakukannya beberapa hari lalu pada temannya. Kondisi ruangan saat ini terlihat rapih, dan tidak tampak bekas apapun dari perkelahian mereka sebelumnya.
Dalam hati, ia merasa bersalah tidak memberikan kesempatan pada pria itu untuk berbicara dan menjelaskan. Tapi apa mau dikata, rasa dendam dan sakit hati selama ratusan tahun memang tidak mudah untuk dilupakan dan dimaafkan begitu saja.
"Duduklah, Nate."
Perlahan, Nate meletakkan tasnya di lantai dan ia pun duduk di salah satu sofa di sana.
Dominic terlihat berdiri di meja pantry dan menyiapkan sesuatu.
Tidak lama, sang tuan rumah pun kembali dan meletakkan secangkir teh hijau hangat di depan tamunya. Cangkir lainnya, ia letakkan tepat di seberangnya.
"Minumlah dulu."
__ADS_1
Mengangguk kaku, kedua pria itu akhirnya saling menyesap tehnya masing-masing.
Meletakkan cangkirnya di meja, akhirnya Nate yang pertama kali memecahkan kesunyian ini.
"Kamu masih ingat kesukaanku, Dom."
Satu-satunya teman yang dapat diajaknya minum teh hijau di kesatuannya dulu adalah Dominic. Keduanya memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Bahkan ada beberapa wanita yang pernah mereka taksir di masa remaja pun ternyata merupakan wanita yang sama.
Meski pada akhirnya mereka berdua menikahi wanita yang berbeda, tapi Dominic lebih beruntung dapat memilih dan memiliki wanita yang benar-benar dicintainya.
Karena meski berasal dari kaum bangsawan juga, tapi pria itu tidak diberikan beban besar sebagai penerus keluarga Allard. Ia masih memiliki kakak-kakak di atasnya yang dapat berbagi beban tanggungjawab itu.
Hal ini berbeda dengan Nate yang merupakan anak tunggal di keluarga Axelle. Ia sama sekali tidak memiliki hak untuk bebas memilih dan memiliki apapun dalam hidupnya.
Perkataan Nate tadi terasa menusuk hati Dominic, membuatnya merasa sakit.
"Tentu saja aku masih ingat, Nate. Kamu adalah satu-satunya sahabatku."
Ketika mengatakan itu, pandangan Dominic terlihat menunduk. Suaranya pelan.
Mengerjapkan matanya yang mulai terasa memanas, Nate bertanya.
"Kenapa kamu melakukan itu, Dom?"
Tanpa diduga, Dominic tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan pria bermata kelabu itu. Kedua tangannya berada di lantai dan ia menunduk dalam pada pria di depannya.
"Kalau kamu bisa membunuhku, maka bunuhlah aku sekarang, Nathanael! Aku benar-benar sudah tidak bisa menanggung beban rasa bersalah ini lagi!"
Samar, terdengar isak tangis yang berasal dari pria berambut merah itu. Nate dapat melihat tetesan air matanya yang jatuh ke lantai kayu di bawahnya.
Pria yang sedang duduk itu pun perlahan bangkit dan berlutut di depan Dominic yang sedang menangis.
Dengan pelan, Nate melingkarkan kedua tangannya di bahu temannya dan memeluknya erat.
"Aku sudah memahaminya, Dom. Aku sudah tahu semuanya. Aku memaafkanmu."
Mendengar perkataan sahabatnya, Dominic menekankan dengan kuat kedua matanya yang masih mengeluarkan air mata di bahu Nate.
"Maafkan aku, Nate. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf..."
Terdengar sedu-sedan yang menyayat keluar dari mulut pria yang biasanya ceria itu.
Sejenak, waktu terasa berhenti untuk keduanya. Sejenak, keduanya berusaha untuk saling meminta dan memberi maaf. Keduanya berusaha untuk melupakan kejadian tragis yang telah membuat ikatan erat di antara keduanya sempat terputus, selama beberapa ratus tahun.
Ketika akhirnya emosinya keduanya sudah tenang, mereka pun terlihat duduk kembali di sofa dengan posisinya masing-masing.
Wajah Dominic masih terlihat berantakan. Pria itu masih berusaha mengembalikan kontrol dirinya yang sempat hilang tadi.
"Bagaimana kamu tahu?" Suaranya terdengar serak karena habis menangis.
Nate menatap sahabatnya sambil menyesap tehnya pelan. Ia juga membutuhkan minum untuk meredakan kesedihannya tadi.
Mata Dominic membola. "Maksudmu, kamu bertemu dengan Master Laurent?"
Pria di depannya mengangguk dan meletakkan cangkirnya yang telah kosong ke atas meja.
"Ya. Secara kebetulan, aku bertemu dengannya. Dan beliau cukup berbaik hati untuk menjelaskan mengenai dirimu."
Sekilas, Nate menceritakan hal-hal yang dikemukakan oleh Master Laurent, termasuk tentang Otto yang sudah mendapat hukuman yang setimpal atas kejahatannya.
Mendengar cerita Nate, Dominic mengangguk-angguk. Ia mengeluarkan nafas lega.
"Aku harus mengucapkan terima kasih pada Master Laurent. Apakah kamu tahu dimana aku bisa menemuinya?"
"Kamu bisa menghubungi Tuan Felixander bila mau bertemu dengannya."
Mendengar nama itu, membuat alis Dominic mengernyit dan bibirnya mencebik.
"Ah! Kalau begitu, berarti Master Laurent sedang bersama dengannya. Aku benar-benar malas bertemu dengan orang itu."
Kedua alis Nate terangkat. "Memangnya ada apa dengan Tuan Felix?"
Menenggak sisa tehnya dengan cara yang kurang sopan, Dominic pun sedikit membanting cangkirnya di meja. Meski bangsawan, ia memang cenderung berandalan.
"Dia meminta bayaran yang tidak masuk akal, hanya karena aku meminta bantuannya untuk mencari buyutku sendiri!"
"Memangnya apa yang dia minta?"
Muka Dominic tiba-tiba tampak lebih memucat mendengar pertanyaan itu. Ia terlihat berusaha menghindari bertemu pandang dengan pria di depannya.
"Apa yang dia minta Dom?"
Mata Nate semakin memicing ketika temannya masih belum mau menjawab. "Dom?"
Akhirnya Dominic menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
"Dia ingin aku menciumnya, Nate! Dia ingin merasakan bagaimana rasanya dicium oleh seorang pria V! Dan itu harus aku sendiri yang melakukannya."
Sejenak, Nate tampak membeku mendengar jawaban itu. Tapi lama-lama terdengar tawa yang keras dari mulutnya.
Pria itu tertawa dengan terpingkal-pingkal, membuat kedua matanya mengeluarkan air.
Tidak pernah terpikirkan di benaknya bahwa seorang casanova seperti Dominic, akan diminta untuk mencium seorang pria.
Mendengar ada suara bantingan cangkir dari arah wastafel, membuat Nate tersadar dan menghentikan tawanya. Ia berusaha mengontrol dirinya. Wajah temannya terlihat cemberut.
"Maaf. Aku kelepasan tadi."
Nate tahu kalau Dominic sangat tidak menyukai bila ia dituntut untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya menentang kodratnya sebagai seorang pria.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kamu lakukan akhirnya?"
Geram, pria berambut merah itu terlihat menggosok-gosok cangkirnya dengan sekuat tenaga saat mencucinya.
"Tentu saja aku menolaknya. Lebih baik aku meminta bantuan detektif manusia untuk mencari keluargaku daripada harus melakukan tindakan menjijikkan itu!"
"Bukannya Tuan Felix berasal dari Master Laurent juga?"
"Justru karena itulah aku meminta bantuannya. Aku kira dia akan lebih dermawan saat diminta bantuan oleh orang yang berasal dari pencipta yang sama."
Terkekeh, Nate kembali mengingat kalau Felixander Osborne memang adalah pria yang sama sekali tidak bisa ditebak. Kadang ia bisa memberikan bantuan dengan cuma-cuma tapi di lain waktu, banyak juga dari permintaannya yang aneh dan sangat tidak masuk akal.
Tanpa sadar, Nate merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil yang tadi dibawanya dari rumah.
Nate membukanya pelan dan terlihatlah sebuah cincin bermata jamrud, dengan butiran berlian kecil-kecil yang mengelilinginya. Cincin itu, meski usianya sudah sangat tua tapi terlihat anggun dan klasik. Sama sekali tidak ketinggalan jaman untuk masa sekarang.
"Bukannya itu cincin keluargamu Nate?"
Tiba-tiba Dominic sudah berada di sampingnya dan menatap cincin yang ada ditangan Nate.
Salah tingkah, Nate pun langsung menutup kotak itu dan memasukkannya kembali ke saku celananya.
Tersenyum miring, pria berambut merah itu pun duduk di depan Nate yang masih terlihat salah tingkah.
"Kamu mau melamarnya?"
Berdehem pelan, pria di depannya mengangguk sekali. "Ya."
Dominic menyilangkan kedua lengannya di dada dan menopangkan kakinya dengan asal.
"Aku sama sekali tidak pernah melihat cincin itu dipakai oleh Coraline. Apakah-"
Tiba-tiba Dominic menutup mulutnya. Raut wajahnya memucat kembali ketika baru tersadar topik yang sedang dibicarakannya.
Tersenyum samar, Nate menatap pria di depannya yang terlihat menunduk.
"Tidak apa Dom. Dan memang benar, aku tidak pernah memberikan cincin ini pada Coraline. Jadi wajar kalau kamu memang belum pernah melihatnya memakai cincin ini."
Informasi dari Nate membuat Dominic mengangkat mukanya. Matanya terlihat bertanya.
"Saat ibuku memberikan cincin ini untukku, aku sudah berniat akan memberikannya pada wanita yang kucintai nantinya. Dan bila pun tidak, maka aku akan mewariskannya pada anak perempuanku kelak."
Setiap membicarakan masalah keturunan, membuat hati Nate kembali sakit dan sedih. Alisnya terlihat berkerut dalam.
Tapi ia tetap bersyukur masih diberikan kesempatan untuk dapat bertemu dengan orang yang dicintainya saat ini.
Pria berambut merah itu kembali tertunduk. "Maafkan aku, Nate. Karena aku-"
"Sudahlah Dom. Aku memutuskan tidak akan pernah mengungkitnya lagi."
Memandang jam tangannya, Nate baru sadar kalau ia ternyata telah menghabiskan waktu lebih lama dari yang diinginkannya.
"Aku harus pergi sekarang."
Pria itu pun segera meraih tasnya yang tergeletak di lantai.
Saat sedang bersiap-siap menuju pintu depan, tiba-tiba Dominic mengajukan pertanyaan.
"Kamu sudah benar-benar yakin dengan wanita itu, Nate?"
Perlahan, Nate membalikkan badannya dan menatap pria di depannya dengan tajam.
"Aku sudah menandainya, Dom."
Jelas tersirat ancaman yang nyata dari kata-kata singkat pria itu. Dan bukannya membuat pria berambut merah itu takut, Dominic malah tersenyum lebar menampilkan gigi kelincinya.
"Aku mengerti." Kedua tangannya terangkat, tanda menyerah.
Kata-kata Dominic membuat Nate bergumam dan mengangguk kaku. "Bagus."
Pria itu kembali berbalik menghadap pintu, bersiap untuk membukanya.
Tapi sebelum Nate dapat keluar dari apartemen, kembali terdengar pertanyaan dari Dominic.
"Aku penasaran. Dia itu manusia atau bukan, Nate?"
Salah satu hal yang membuat Dominic tertarik pada Lin adalah baunya yang unik, campuran aroma kaum V dan bau manusia. Pria itu tadinya tertarik untuk menggali lebih jauh mengenai wanita itu.
Sedikit menoleh, Nate menjawab dingin.
"Tidak peduli rasnya. Yang jelas, dia adalah milikku. Dan hanya milikku seorang."
Setelah mengungkapkan kata-kata yang terdengar sangat posesif itu, Nate pun langsung keluar dari apartemen, meninggalkan Dominic dengan mulut ternganga lebar.
Baru kali ini, pria itu melihat sahabatnya begitu posesif akan sesuatu. Ia sangat shock.
Berdiri di lorong yang sepi itu, jantung Nate berdebar dengan keras. Ia gugup tapi hatinya sangat bahagia. Itu adalah pertama kalinya, ia dengan berani mengklaim atas sesuatu.
Kali ini pria itu dapat merasakan memiliki sesuatu yang memang benar-benar merupakan miliknya. Dan ia merasa memiliki hak untuk sesuatu itu secara absolut.
Perlahan, pria itu memasuki apartemen Lin dengan menggunakan kartu akses wanita itu.
Dengan langkah yang pelan, ia membuka kamar Lin dan melihat wanita itu telah tertidur dengan nyenyak. Hal ini membuat bibir pria itu tersenyum lembut.
Ia pun pelan-pelan meletaknya tasnya di lantai, dan segera mengganti pakaiannya.
Pria itu kemudian naik ke tempat tidur, dan meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia pun menghirup aroma rambut wanitanya dalam dan menciumi keningnya.
Merapihkan selimut yang menutupi tubuh keduanya, tanpa disadarinya matanya pun mulai menutup dan ia pun menyusul wanitanya untuk pergi ke alam mimpi.
__ADS_1