
Di tengah padang rumput yang luas, terlihat sosok seorang wanita yang tampak riang berlari-lari. Wanita itu tertawa dengan gembira dan hatinya merasa bahagia saat ini.
Kebahagian yang dirasakannya saat ini benar-benar memuncak. Ia merasa dirinya sebagai wanita yang beruntung di seluruh dunia. Hal ini membuatnya bersenandung riang sambil mengelilingi bunga-bunga yang tumbuh dengan indah di sekelilingnya.
Dari kejauhan, ia dapat melihat seorang pria paruh baya yang sedang berjalan mendekatinya bersama seorang anak perempuan kecil.
Keduanya terlihat tersenyum dengan sangat lebar, memperlihatkan gigi mereka yang putih dan rapi.
Wanita itu mengenali pria itu sebagai ayahnya, tapi ia belum mengenali sosok anak perempuan kecil yang berlari-lari kecil mendekatinya.
Rambut panjang gadis kecil itu yang berwarna merah kecoklatan, tampak melambai-lambai diterbangkan angin ketika anak itu berlari. Membuatnya tampak seperti peri kecil yang lucu.
Tanpa diduga, gadis kecil itu melompat ke pangkuannya dan memeluk lehernya erat sambil tertawa gembira.
"Mama!"
Panggilan itu membuat hati wanita tersebut berdesir bahagia. Kedua tangannya memeluk erat tubuh gadis itu yang menempel padanya.
Ia pun memandang pada sosok pria tua di depannya, yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Pria itu hanya memandangnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Perlahan sosoknya pun mulai menghilang diterbangkan angin.
Kamu harus bahagia, puteriku.
Kata-kata yang terdengar dalam benaknya, membuat wanita itu kembali tersenyum.
Perhatiannya beralih pada gadis kecil yang sedang dipangkunya. Menjauhkan tubuhnya, wanita itu mengamati sosok anak kecil di pelukannya.
Anak perempuan kecil itu memiliki mata yang bulat, sama seperti dirinya. Bibirnya yang sedikit tebal, tampak mungil dan merupakan versi kecil dari bibirnya sendiri.
Hal yang membedakan adalah hidung anak kecil itu yang bangir. Telunjuk wanita itu dengan iseng menyentil ujung hidung gadis itu, membuatnya semakin tertawa.
Kedua mata anak perempuan itu berwarna abu-abu muda. Pupil dan lingkaran luar matanya yang berwarna hitam, tampak terceta dengan jelas di kedua matanya.
Pandangan mata anak kecil itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat dekat dengan dirinya. Seseorang yang sangat penting bagi dirinya.
Wanita itu mengernyitkan kedua alisnya. Ia berusaha mengingat-ingat sosok orang itu.
Lin.
Wanita itu mengerjapkan matanya ketika mendengar suara yang sangat dirindukannya. Suara seorang pria yang dalam dan halus.
Lin.
Menoleh, wanita itu dapat melihat sosok seorang pria yang tinggi dan berambut hitam sedang berdiri tidak jauh dari dirinya. Pria itu sedang membelakangi dirinya. Terlihat angin dengan lembut menerbangkan rambutnya yang hitam dan juga kemeja yang sedang dipakainya.
Sambil menggendong gadis di pelukannya, wanita itu berusaha melangkah mendekati sosok pria itu. Tapi meski berusaha mendekat, tapi pria itu tetap tidak bisa diraihnya.
Sosok itu akhirnya membalikkan tubuhnya, memperlihatkan seorang pria tampan yang mengenakan kemeja kerja, lengkap dengan dasi dan juga rompi yang terlihat tebal. Pakaiannya tampak rapih dan necis, menandakan kelas sosialnya yang cukup tinggi.
Memandang wajah pria di depannya, hati wanita itu berdesir dengan perasaan bahagia dan juga hasrat untuk menyentuhnya.
Tapi ia seperti berjalan di tempat. Ia sama sekali tidak bisa mendekati pria di depannya. Hal ini membuat jantungnya perlahan berdetak kencang, dan ia mulai merasa gelisah.
Ia harus menyentuh pria itu. Ia butuh untuk menyentuh pria itu!
__ADS_1
Nafas wanita itu mulai terasa cepat, saat ia merasakan kecemasan mulai naik dari perutnya.
Saat melihatnya, pria itu tampak tersenyum. Tapi bukan senyum kebahagiaan yang dilihat oleh wanita itu, melainkan senyum kesedihan. Kedua matanya yang berwarna kelabu muda terlihat sedih dan tampak berair.
Wanita itu memandang nanar sosok pria di depannya. Ia ingin berteriak agar pria itu mendekat, tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokannya.
Kamu harus selamat, Lin.
Suara itu terdengar lagi, membuat kepala wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak menemukan sosok orang yang sedang berbicara itu.
Jagalah anak kita.
Mengerjapkan matanya, akhirnya wanita itu menyadari kalau suara itu berasal dari sosok pria yang sedang berdiri dengan tatapan sedih di depannya.
Ingatlah. Aku selalu mencintaimu.
Tiba-tiba, sosok pria itu berubah menjadi bayangan yang menghampiri dirinya. Bibir pria itu menyentuh keningnya dengan lembut, memberikan ciuman sayang padanya.
Bayangan itu pria itu terlihat melayang-layang di depannya, dan perlahan mulai menghilang.
Aku sangat mencintaimu, Lin. Ingatlah itu.
Panik, wanita itu berusaha menahan bayangan pria itu dan hanya berhasil menggenggam angin di depannya.
Sosok pria itu telah menghilang, meninggalkan dirinya bersama anak perempuan kecil yang sekarang sedang menangis di pelukannya.
Perasaan wanita itu campur aduk. Kedua matanya mulai memanas, dan mengeluarkan air.
Wanita itu menjerit sekuat tenaga di dalam hatinya. Tapi, ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya saat ini.
Wanita itu hampir menjadi gila, ketika merasakan ada sesuatu di tangannya yang tadi berusaha meraih pria itu. Membukanya, ia melihat sebuah cincin berwarna biru kehitaman yang mengkilat dengan batu tunggal berwarna biru safir di tengahnya.
Mendekatkan cincin itu ke wajahnya, wanita itu dapat melihat tulisan grafir yang terukir di sepanjang lingkaran dalamnya.
Nathanael D' Axelle.
Nate?
"Nate!"
Lin tampak membuka kedua matanya dengan pelan. Wanita itu merasakan air mata yang turun mengalir di pipinya. Mengerjapkan matanya, ia sadar kalau telah bermimpi tadi dan meneriakkan nama suaminya.
Melihat ke sekelilingnya, Lin tahu kalau saat ini ia sedang berada di kamar tidurnya sendiri. Ia pun mengangkat tangannya dan mengusap air matanya. Apa yang telah ia mimpikan tadi sampai menangis seperti ini?
Dan bagaimana ia bisa berada di sini? Bukannya pagi ini, ia sedang mengendarai mobilnya menuju kantor?
Teringat kejadian yang baru menimpanya, wanita itu segera mengarahkan pandangannya pada perutnya sendiri dan lega saat menyadari kalau bayinya masih aman di tempatnya.
Menghela nafasnya, wanita itu mengusap-usap perutnya dengan lembut dan dapat merasakan jantung bayinya yang berdetak dengan kuat, membuatnya tersenyum.
Dari ekor matanya, Lin menyadari ada seseorang yang sedang berbaring di sampingnya.
Menoleh, ia melihat sosok suaminya yang terlihat sedang tertidur dengan tenang. Seperti biasanya, profil samping wajahnya terlihat sangat sempurna.
__ADS_1
Kulit pria itu tampak bersinar, karena cahaya matahari menyilaukan yang masuk dari jendela kamar tidur yang sedang tidak tertutup tirai.
Beringsut mendekat, wanita itu tersenyum pada suaminya. Ia ingin menganggu tidur suaminya dan membuatnya terbangun.
Semakin mendekat, Lin merasakan ada keanehan dari sosok suaminya yang masih tidur itu.
Sebelum dapat menyentuh suaminya, ia merasakan ada sesuatu yang menahan tangan kirinya dan melihat jarum infus yang menusuk kulitnya.
Mengernyit, pandangannya mengarah ke selang infus dan menatap kantong darah yang sudah kosong, tergantung di atas kepala tempat tidurnya.
Wanita itu pun dengan segera dan tidak sabar, melepas selang infus yang menahannya untuk mendekat pada suaminya.
Matanya mengerjap, ketika ia menyadari tetesan darah yang tersisa dari jarum itu berwarna hitam mengkilat. Tidak seperti warna darah yang biasanya.
Hidungnya pun perlahan mengenali aroma darah yang berwarna hitam itu. Aroma ini adalah milik suaminya. Ia sangat tahu, karena aroma inilah yang pertama kali membuatnya tergila-gila pada pria itu dan hampir memperkosanya saat itu.
Apa yang terjadi? Kenapa ia mendapatkan transfusi dari darah suaminya sendiri?
Sedikit melemparkan jarum itu ke meja di samping tempat tidur, Lin kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok suaminya yang masih betah tertidur.
Dahinya mengernyit, ketika menyadari kalau suaminya sama sekali belum terbangun padahal waktu sudah cukup siang saat ini.
Kembali beringsut mendekati suaminya, mata Lin mengerjap cepat saat akhirnya dapat melihat jelas sosok suaminya yang sedang terbaring saat ini.
Pria itu tampak terbaring rapih. Kedua lengannya terlipat dengan kaku di atas perutnya. Kakinya pun tampak lurus dan saling merapat satu sama lain.
Hal yang mengagetkan wanita itu adalah kulit suaminya yang terlihat sangat pucat sampai berwarna kelabu-ungu. Tampak guratan urat-urat berwarna kelabu yang sangat jelas di bawah permukaan kulitnya.
Wajah pria itu pun sama kondisinya. Bawah matanya terlihat menghitam, dan urut-urat berwarna kelabu tampak menghiasi pipi, leher dan kening pria itu. Bibirnya pun tampak berwarna kelabu gelap.
Baru kali ini, Lin melihat wajah suaminya sepucat ini, membuat wanita itu mulai cemas.
Dengan cepat, ia menyentuh tangan suaminya dan tanpa diduga, wanita itu tampak kaget dan menjauhkan tangannya.
Gemetar, Lin kembali mendekatkan telapak tangannya dan menyentuh jari-jemari suaminya.
Jari-jari itu terasa dingin dan sangat kaku.
Perlahan, tangan wanita itu terangkat dan mengusap pipi suaminya. Wanita itu kembali merasakan suhu tubuh pria itu yang sangat dingin, dan kulitnya yang terasa kaku.
Mata wanita itu bergerak-gerak gelisah dan penuh dengan emosi yang campur-aduk saat ini.
Jantung Lin berdegup kencang, dan nafasnya mulai terasa cepat.
Penasaran, ia pun mendekatkan kepalanya pada dada pria yang tidak sadar itu dan kedua matanya mulai memanas. Ia mendengar degup jantung Nate yang sangat lambat dan suara nafasnya yang terdengar lemah. Pria itu bahkan terdengar hampir tidak bernafas.
Ia mengingat kata-kata suaminya beberapa waktu lalu, kalau pria itu akan tertidur seperti patung saat menjalani proses hibernasi. Tapi, apakah memang seperti ini? Apakah ini normal?
Meski tidak pernah tahu mengenai hibernasi seorang kaum V tapi sebagai isteri, Lin sangat yakin bahwa kondisi suaminya sedang tidak beres saat ini.
Lin akhirnya menggenggam erat tangan suaminya yang dingin seperti es. Ia berusaha mengalirkan sedikit kehangatan dari kulitnya. Matanya nanar melihat wajah suaminya yang terlihat pucat seperti mayat.
"Nate..."
__ADS_1