
"Lin!"
Lucy terlihat melambaikan tangannya, membuat Lin pun menghampiri temannya.
"Maaf lama, Luce. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan tadi."
Lucy menggelengkan kepalanya. "Santai, Lin. Aku juga baru datang kok."
Lucy memperhatikan temannya yang terlihat membolak-balik menu yang ada di depannya. Tidak lama, Lin pun memanggil pelayan dan memesan makanan yang diinginkannya.
Setelah pelayan itu pergi, Lin menoleh pada temannya. Ia memutuskan akan lebih dulu menanyakan mengenai kejadian beberapa hari lalu, sebelum didahului oleh temannya.
"Jadi, bagaimana ceritanya kamu bisa memukul pria itu, Luce?"
Mata Lucy sedikit melebar. Ia memang ingin menanyakan mengenai hubungan Lin dengan pria berambut hitam yang tinggi itu, dan tidak menyangka kalau temannya ternyata bertanya duluan padanya.
"Dia benar-benar bukan pelaku pelecehan itu, Lin?"
Lin menggeleng pelan. Pandangannya cukup menusuk temannya.
"Bukan Luce. Seperti yang pernah aku bilang dulu, dia bukan pelakunya. Kamu masih tidak percaya padaku rupanya."
Tuduhan Lin yang tepat sasaran membuat hati Lucy sakit. Wanita itu tertunduk.
"Maaf, Lin. Tadinya aku kira..."
"Kalau kamu mau tahu, beliau adalah partner kerja Pak Marcus. Dan bagaimana aku bisa kenal dengannya, karena aku pernah beberapa kali membantu beliau untuk urusan pekerjaan."
Tangan Lucy di atas meja terlihat terkepal. Ia masih mengingat betapa marahnya Pak Marcus pada dirinya ketika melihatnya telah memukul pria asing itu. Ternyata ini sebabnya.
"Beliau orang penting, Lin?"
"Tidak hanya penting, Luce. Beliau adalah orang yang benar-benar penting bagi perusahaan. Kamu sudah melihat sendiri bagaimana reaksi Pak Marcus ketika melihat pria itu terdesak kemarin. Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan Pak Marcus kalau sampai partnernya benar-benar pingsan saat itu."
"Sepertinya aku harus meminta maaf padanya, Lin. Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan hal itu kemarin, tapi karena menyangka kalau dia adalah pria peleceh itu... Aku langsung..."
Melihat temannya benar-benar menyesal, membuat Lin menggenggam tangan Lucy erat.
"Jangan khawatir, Luce. Aku yakin kalau Pak Marcus dan partnernya pasti memaklumi tindakanmu kemarin."
"Tapi aku tetap harus meminta maaf padanya! Kamu harus membantuku, Lin!"
Permintaan temannya membuat Lin terdiam. Ia cukup bingung dengan keadaan ini.
Sudah jelas, Nate tidak akan pernah mau untuk bertemu dengan Lucy. Bau tubuh Lucy membuat suaminya tidak tahan berada di dekat wanita itu. Apa yang harus dilakukannya?
"Aku akan coba menyampaikannya pada Pak Marcus dulu. Nanti, biar beliau yang memutuskan harus melakukan apa."
Akhirnya Lin hanya bisa mengatakan itu. Sepertinya untuk urusan karyawan, Nate lebih banyak menyerahkan pada asistennya. Ia akan membicarakannya nanti pada suaminya.
"Terima kasih, Lin. Aku cukup takut ketika Pak Marcus membentakku. Sepertinya, aku memang sudah keterlaluan kemarin."
Lin hanya bisa tersenyum singkat menanggapinya. Tidak lama, pelayan pun datang membawakan makanan yang dipesannya tadi.
Wanita itu baru akan mulai makan, ketika tangan kirinya di tarik pelan oleh Lucy.
"Cincin apa ini, Lin? Minggu kemarin, aku belum melihatmu memakainya."
Pertanyaan itu membuat Lin sedikit membeku. Ia sama sekali belum memikirkan alasan apapun untuk temannya.
Lucy tampak memperhatikan dengan seksama cincin yang ada di jari manis temannya.
"Ini berlian asli, Lin? Sepertinya sangat mahal sekali."
Perlahan, Lin meletakkan sendoknya di piring. Benaknya berputar memikirkan berbagai alasan yang mungkin masuk akal untuk temannya.
"Apa ini souvenir yang kamu beli kemarin waktu berlibur?"
Mata Lin mengerjap mendengar kata-kata Lucy. Ia memang mengatakan pada temannya kalau akan cuti untuk berlibur. Sama sekali tidak menyinggung mengenai rencana resign-nya.
"Benar. Ini adalah souvenir yang aku beli saat di Italia."
"Tapi ini cantik sekali. Pasti harganya mahal. Apakah aku boleh melihatnya? Mungkin aku juga ingin membelinya kalau berlibur ke sana."
Terkekeh, Lin menarik tangannya dengan pelan dari genggaman temannya.
"Harganya tidak mahal, Luce. Kalau kamu tahu, banyak orang yang menawarkan barang-barang seperti ini di jalanan. Aku membelinya karena bentuknya yang unik dan seperti katamu tadi, benda ini terlihat lebih mahal dibanding harga aslinya."
"Oh begitu?" Mata Lucy masih terarah ke cincin itu. Ia tampak sangat tertarik.
Lin mengibaskan tangannya di depan Lucy, membuat temannya mengerjap kaget.
"Sepertinya kamu memang butuh liburan, Luce. Ini hanya barang biasa, tidak perlu terlalu tertarik seperti itu."
Menghindari topik ini diperpanjang, Lin meletakkan tangan kirinya di pangkuannya, membuat Lucy tidak bisa melihat cincin itu lagi.
"Lebih baik kita segera makan, Luce. Jam istirahat sebentar lagi akan habis."
__ADS_1
Setelah makan siang, Lin segera kembali ke ruangannya. Ia sepertinya harus mulai lebih berhati-hati ketika berbicara dengan Lucy.
Mengeluarkan ponselnya, Lin pun mengetik sesuatu di chat-nya.
'Nate. Apa kamu sedang sibuk?'
Beberapa menit menunggu, Nate masih belum membaca dan menjawab chat-nya. Merasa kalau suaminya sedang sibuk, Lin pun akhirnya meletakkan ponselnya di meja.
Baru beberapa jam kemudian, Nate membalas pesannya.
'Maaf Lin, baru membalas. Tadi aku harus meeting dengan Marcus dan beberapa petinggi lain. Ada hal yang harus diselesaikan dulu.'
Tersenyum, Lin membalas chat itu.
'Tidak masalah, Nate. Aku tahu kamu sedang sibuk. Kamu masih meeting sekarang?'
'Ya sebenarnya. Aku mungkin akan terlambat pulang nanti. Kamu tidak apa-apa kan?'
'Tidak apa, Nate. Kalau begitu, sampai ketemu di rumah nanti.'
'Sampai ketemu. Love you.'
Jari-jari Lin otomatis akan membalas pesan itu dan terhenti di tengah jalan.
Menyenderkan kepalanya di kursi, Lin menghela nafasnya.
Dia ingin membalas dengan kata-kata yang sama, tapi hatinya belum siap. Ia sama sekali belum terbiasa mengungkapkan kata-kata sayang pada orang lain, sehingga hal ini membuatnya canggung.
Saat mencoba memberanikan diri untuk mengetik kata-kata keramat itu dengan tangan gemetar, tiba-tiba ia mendengar area kubikalnya di ketuk pelan.
Lin hampir saja menjatuhkan ponselnya ketika melihat ternyata Lucy yang sedang berdiri di depannya. Wajah temannya tidak terlihat jelas, karena area ruangan yang ternyata mulai dimatikan lampunya membuat sosok Lucy seperti siluet.
"Luce! Kamu membuatku kaget!"
Temannya malah terkekeh. "Kamu mau sampai jam berapa di sini? Mau lembur?"
Kepala Lin menoleh ke sekelilingnya, dahinya mengernyit. "Jam berapa sekarang?"
"Hampir jam 9. Kamu tidak mau pulang?"
Lin baru tersadar kalau ia berkutat dengan pergulatan kata hatinya hampir 1 jam lamanya. Akan konyol sekali kalau ia membalas pesan suaminya 1 jam setelah ia membacanya.
Lin melihat Lucy terlihat sudah menenteng tas tangannya. Wanita itu sebenarnya sedang menuju lift ketika melihat area kerja Lin yang ternyata masih terang, membuatnya menghampiri temannya.
Mematikan layar komputernya, Lin pun membereskan barang-barang yang ada di mejanya.
Mereka berjalan beriringan menuju lift dan menunggu.
Ragu-ragu, Lucy menoleh pada temannya yang sedang memperhatikan pintu lift di depannya.
"Oh ya, Lin. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan tadi kantin."
Kepala Lin menoleh pada Lucy dan alisnya terangkat sedikit.
"Kamu mau menanyakan apa?"
"Mengenai pria asing itu. Kamu tahu siapa nama-"
Sebelum Lucy dapat menyelesaikan kalimatnya, bel lift berbunyi nyaring dan terbuka lebar.
Kedua wanita itu cukup terkejut ketika melihat kalau orang yang di dalamnya adalah Marcus.
Pria itu terlihat dingin dan tanpa ekspresi. Badannya kaku dan seperti patung.
Meski sudah beberapa kali berjumpa dengannya dan tahu kalau pria itu cukup baik, tapi Lin tetap masih belum terbiasa dengan aura Marcus yang mengintimidasi.
"Selamat malam."
Terdengar suara Marcus yang berat dan serak dalam ruangan lift yang sempit itu.
"Selamat malam, Pak Marcus." Cicit kedua wanita yang baru masuk itu.
Kotak besi itu bergerak dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, membuat waktu serasa lama bagi para wanita di dalamnya.
Ketika lift berhenti di lantai dasar, Marcus kembali mengeluarkan suara khasnya.
"Kalian tidak keluar?"
"Mobil saya terparkir di area basement, Pak." Lin menjawab sopan.
Sejenak, Marcus memandang wanita di depannya dan senyum sangat samar terlihat di bibirnya yang tipis. Ia mengangguk dan mulai melangkah keluar.
"Kalau begitu, saya duluan. Kalian hati-hatilah di jalan."
Kedua wanita itu mengangguk dan langsung bersandar lemas ke dinding ketika pintu lift menutup kembali.
"Pak Marcus benar-benar menakutkan." Lucy memegang dadanya.
__ADS_1
Awalnya Lucy mengira bahwa Marcus tidak semenakutkan itu tapi sejak kejadian di area lift kemarin, ia memutuskan tidak mau macam-macam dengan pria besar itu.
Komentar temannya membuat Lin terkekeh. Ia pun segera mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya setelah keduanya keluar dari lift di area parkiran basement.
Melihat Lin yang sedang menghampiri mobilnya, membuat Lucy teringat pertanyaannya tadi. Ia pun segera berlari kecil menyusul Lin.
"Lin! Tunggu!"
Panggilan temannya membuat Lin menoleh. "Kenapa lagi Luce?"
Dengan santai, Lin memasukkan kunci mobilnya dan bersiap membuka pintunya.
"Tunggu Lin! Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Pertanyaan yang mana?" Lin sama sekali tidak ingat Lucy pernah menanyakan sesuatu.
"Pria asing itu. Siapa namanya?"
Pertanyaan Lucy yang sama sekali tidak diantisipasinya membuat Lin membeku. Kenapa temannya ini suka sekali membuatnya susah? Tadi cincin, sekarang nama.
Lin tidak mungkin mengatakan kalau nama pria asing itu adalah Nate, karena ia pernah mengatakan nama pria peleceh itu adalah Nathanael alias Nate. Orang bodoh mana pun tentu akan dapat langsung menyimpulkan kedua orang itu sebagai pria yang sama.
Melihat Lin yang diam saja, membuat Lucy mengguncang bahu temannya pelan.
"Lin? Kamu dengar aku?"
"Eh, iya Luce. Aku dengar."
"Jadi, siapa namanya?" Tanya Lucy bersemangat.
Kening Lin berkerut melihat gelagat temannya yang sedikit aneh.
"Kenapa kamu ingin tahu namanya, Luce?"
Tiba-tiba pipi Lucy terlihat merona merah, membuat hati Lin entah mengapa mulai panas.
"Aku cukup tertarik padanya. Dia tampan dan sepertinya pria yang baik. Dia bahkan tidak membalas saat aku memukulinya. Kalau dia memang bukan pria peleceh itu, aku ingin mendekatinya. Apalagi kelihatannya dia cukup sering ada di kantor kita."
Hal ini membuat Lin terkejut, dan lama-lama api kecemburuan mulai membakar hatinya. Sepertinya suaminya memang terlalu baik, membuat wanita lain menjadi salah sangka.
Sedikit jengkel, Lin baru akan mengatakan sesuatu ketika ponsel di tasnya berdering.
MyV.
"MyV? Siapa itu, Lin?" Tidak sengaja Lucy melihat ID di ponsel Lin yang berdering nyaring.
"Halo? Ya. Aku sudah di parkiran. Sebentar lagi akan pulang."
Mata Lin melirik Lucy yang sedang menatapnya tanpa dosa.
"Kamu sudah nakal ya? Aku akan menghukummu nanti saat di rumah. Kamu siap-siap saja."
Setelah itu, Lin pun menutup ponselnya.
"Siapa itu, Lin? Pacarmu?"
Wajah Lin terlihat geram, tapi ia berusaha mengendalikan emosinya. Saat ini, ia butuh untuk mengklaim pria yang telah berhasil membuatnya jengkel.
"Suamiku."
"Suami!?" Lucy berteriak di area parkiran basement yang sepi itu, menimbulkan gema.
"Kamu sudah menikah? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"
Lin membuka pintu mobilnya dengan kasar. Ia membuka kaca jendelanya lebar sambil memundurkan mobilnya.
"Kapan-kapan akan kuceritakan. Aku pulang duluan Luce. Dan ingat, ini masih rahasia. Selamat malam!"
Wanita itu langsung menutup kaca jendelanya dan melesatkan mobilnya dari area parkiran, menimbulkan bunyi decit ban yang nyaring dan meninggalkan bekas di lantai.
Saat itu, Lucy masih terbengong di tempatnya. Ia sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun dari pertanyaan yang kemukakannya tadi pada temannya.
Sementara itu, mobil Lin yang melesat dengan kecepatan cukup tinggi tertangkap oleh seseorang yang sedang duduk di dalam mobil sambil menelepon. Alis pria itu terangkat tinggi.
"Ya Tuan. Nyonya baru keluar dari basement. Dan tampaknya dia cukup marah."
Pria itu menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan. Selamat malam."
Menghela nafas lelah, pria itu menatap orang yang sedang duduk di balik kemudi dari spion.
"Henri. Kita ke club Onyx. Saya butuh hiburan sekarang."
"Baik Pak Marcus."
Setelah itu, mobil Marcus pun baru meninggalkan area parkiran, membawa pria di dalamnya yang mulai pusing menghadapi percikan api rumah tangga dari atasannya.
Sepertinya, ia tidak akan pernah mau menikah kalau jadinya seperti ini.
__ADS_1