Madness

Madness
Chapter 77


__ADS_3

Tubuh Nate membeku ketika pria itu melihat Marcus dengan sangat luwes meraih puterinya dalam gendongannya. Tampak anak perempuannya sangat gembira dan memeluk erat leher pria dingin itu. Keduanya tertawa gembira.


"Apa-"


Tahu suaminya cukup syok dengan pemandangan ini, membuat Lin meremas lengan suaminya yang berotot padat.


"Maaf, Nate. Saat kamu tidak sadar, Pak Marcus memang cukup sering datang ke sini."


Kata-kata Lin sama sekali tidak menjelaskan keadaan yang terpampang di depan matanya.


Nate kembali mengalihkan pandangannya pada Marcus dan Nat, yang terlihat merasa dunia hanya milik mereka berdua.


Pria itu melihat anaknya tertawa lepas di gendongan pria dingin itu. Kedua tangan kecilnya memeluk erat lehernya dan ia pun menyenderkan kepalanya di bahu Marcus. Matanya yang besar perlahan mulai menutup kembali.


Baru kali ini Nate melihat raut muka Marcus yang sangat rileks dan tidak kaku seperti biasanya. Pria dingin itu ternyata bisa tertawa sangat lebar, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. Pemandangan itu membuat Marcus tampak jauh lebih tampan.


Ia baru saja menarik nafas lega, tapi matanya kembali melotot ketika melihat kedua mata cokelat Marcus yang tampak lebih gelap dari biasanya.


"Oh, tidak."


Isterinya terlihat mengerjapkan mata saat melihat suaminya dengan tergesa-gesa berjalan menghampiri pria yang sedang menggendong puterinya itu.


"Oh, tidak. Tidak. Tidak."


Tangan-tangan berotot Nate dengan sangat terlatih meraih dan merebut puteri yang sedang digendong oleh pria dingin itu.


Ia langsung mundur, menjauhkan dirinya dan juga anaknya dari pria dingin di depannya. Posisinya terlihat mengancam dan juga melindungi miliknya.


"Tuan?"


"Tidak bisa, Marcus. Aku tidak akan pernah mengizinkannya."


Kedua tangan Marcus yang tadinya masih terbuka karena menggendong Nat, dengan perlahan turun di kedua sisi tubuhnya. Raut mukanya kembali kaku dan dingin.


"Kenapa, Tuan?"


Pertanyaan itu membuat Nate mengerjapkan kedua matanya. Ia juga tampak bingung untuk menjawabnya. Pada akhirnya, pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak bisa mengizinkannya."


Raut muka Marcus berubah. Pria dingin itu terlihat sakit hati saat ini.


"Apakah karena latar belakang saya?"


Nate sedikit terkejut dengan kata-kata asistennya itu. Ia menggeleng dengan cepat.


"Kamu tahu, kalau aku sama sekali tidak pernah mempertanyakan mengenai hal itu, Marc. Bagaimana kamu bisa berfikiran seperti itu?"


"Apakah karena saya tidak punya apa-apa? Kalau Tuan mau, saya bisa menyerahkan-"


"Marcus! Kamu tahu kalau itu sama sekali bukan alasan yang akan aku berikan padamu!"


Nada suara Nate yang tinggi, membuat isterinya langsung mendekati pria itu dan merangkul lengannya. Salah satu tangannya mengusap-usap punggung suaminya yang menegang, berusaha menenangkannya.


Kehadiran isterinya di sampingnya membuat Nate merasa sedikit tenang. Pria itu akhirnya menarik nafasnya dalam.


"Nat masih kecil saat ini."


"Saya bisa menunggunya hingga dia dewasa."


"Aku mau Nat dapat memilih sendiri orang yang akan menjadi suaminya nanti."


"Nat sendirilah yang telah memilih saya, sejak dia berusia 1 bulan."

__ADS_1


Kepercayaan diri pria dingin itu yang berkobar, mulai membuat Nate menjadi geram. Ia semakin memeluk erat puterinya yang saat ini sedang tertidur lagi di dadanya dengan tenang, sama sekali tidak terbangun karena pertengkaran antar pria di hadapannya.


"Jangan terlalu membual, Marc. Tidak mungkin-"


Beralih menatap Lin yang sedang berada di samping atasannya, Marcus berucap pelan.


"Anda bisa menanyakannya pada Nyonya, kalau Tuan masih tidak percaya. Nat sendirilah yang telah memilih saya saat itu."


Informasi itu membuat Nate menunduk dan menatap isteri yang sedang berdiri di sampingnya.


"Apa maksudnya, Lin? Apa maksudnya Nat telah memilih Marcus?"


Kepala Lin tertunduk. Salah satu tangannya menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal. Wanita itu sangat bingung melihat pertengkaran kedua lelaki dewasa yang sedang memperebutkan posisinya di hadapan anak kecil, yang justru terlihat sama sekali tidak peduli.


"Nat memberikan reaksi ketika ia melihat Pak Marcus untuk pertama kali."


Lin akhirnya memulai penjelasannya dengan sangat singkat.


Alis Nate berkerut dalam. "Reaksi seperti apa?"


"Nat tertawa saat melihat Pak Marcus dan kedua matanya langsung menghitam."


Hal ini membuat suaminya langsung terdiam. Tubuhnya tampak tegang.


"Tapi, itu tidak membuktikan kalau Nat telah memilih Marcus sebagai pasangannya."


"Sejak bisa melihat jelas, Nat sama sekali tidak mau digendong oleh pria lain. Nat bahkan menendang hidung Dominic sampai berdarah ketika ia mencoba untuk memangkunya, padahal Nat saat itu baru berusia 1 bulan."


Bayangan hidung temannya yang berdarah, membuat Nate sedikit menggigit bibirnya. Akhirnya sahabatnya dapat merasakan penolakan keras dari yang namanya perempuan.


"Tetap saja. Itu tidak membuktikan apapun, Lin."


Isterinya tersenyum maklum sekaligus geli, melihat suaminya terlihat mulai posesif pada puterinya sendiri padahal ia baru melihatnya beberapa jam yang lalu.


Suasana tegang melingkupi ruangan tengah Nate. Sejenak, tidak ada yang berbicara. Kedua pria tinggi itu saling memandang tajam dan siap beradu jotos.


Cuping hidung Nate terlihat membesar, menandakan pria itu sedang mencoba meredakan emosinya yang cukup tinggi saat ini. Ia tidak mau kehilangan kontrol diri di hadapan isteri dan juga anaknya yang masih kecil.


"Baiklah. Aku akan mengatakan alasannya, kenapa aku menolakmu."


Mata Marcus mengerjap cepat mendengar perkataan atasannya.


"Apa alasan Anda, Tuan?"


Kedua mata Nate memicing dan nada suaranya terdengar sangat tajam saat ia berbicara.


"Aku menolakmu, karena kamu adalah seorang PRIA. Sekarang, pergilah dari rumahku, Marc."


Setelah mengatakan itu, Nate langsung membawa puterinya yang sedang tertidur ke kamar tidur anaknya. Ia sebenarnya ingin membanting pintunya, tapi kontrol dirinya yang sangat kuat membuatnya hanya menutup pintu itu dengan pelan. Ia tidak mau sampai membangunkan tidur anaknya.


Sepeninggal Nate, Lin dapat melihat kedua bahu Marcus yang tegap mulai merosot. Wanita itu baru kali ini melihat pria dingin itu terlihat lesu dan tampak kalah. Ekspresinya benar-benar menyedihkan saat ini.


"Anda harus sedikit bersabar, Pak Marcus. Nate baru saja terbangun hari ini, dan ia sudah dihadapkan pada pria lain, yang ternyata menjadi kompetitornya dalam mendapatkan kasih sayang anaknya."


"Tapi, saya sama sekali tidak bermaksud merebut Nat dari Tuan, Nyonya. Saya hanya ingin mengatakan, kalau Nat telah memilih saya menjadi pasangannya dan saya juga menginginkannya. Tapi, itu pun masih sangat jauh bukan sampai Nat menjadi dewasa nanti?"


Kepala Lin menggeleng dan dia tersenyum.


"Mungkin mulai sekarang, Anda harus belajar menghadapi Nate sebagai seorang calon mertua dan bukan atasan Anda lagi, Pak Marcus."


Perkataan isteri atasannya membuat Marcus semakin pusing tujuh keliling. Melihat tidak ada lagi gunanya ia di sana, pria dingin itu pun akhirnya berpamitan pulang.


Tidak berapa lama, Nate yang sedang berada di dalam kamar anaknya, mendengar saat pintu kamarnya terbuka dengan pelan. Ia tahu isterinya-lah yang sedang masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Nat sudah tertidur?"


Suaminya tampak mengangguk kaku. Ia masih belum berbalik dan hanya menatap anaknya yang terlihat sangat tenang dalam tidurnya, sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.


"Mengenai Pak Marcus-"


"Aku sama sekali tidak mau membicarakannya."


Wanita itu benar-benar tidak menyangka, kalau suaminya langsung meninggalkan dirinya terpaku di kamar tidur anaknya setelah mengatakan hal itu.


Lin menengadahkan kepalanya dan menarik nafas. Sepertinya ia harus mulai banyak bersabar menghadapi peringai suaminya yang ternyata sangat posesif pada miliknya itu.


Memasuki kamar tidur, Lin melihat Nate yang sedang berada di ruang ganti pakaian. Pria itu sedang berdiri di depan lemari kaca di hadapannya, dan menunduk sambil membuka kancing kemejanya.


Bersender di kusen pintu, Lin menatap suaminya yang telah membuka setengah kancing kemejanya, memperlihatkan dadanya yang berotot liat.


"Kamu masih marah?"


"Aku bilang, aku tidak mau membicarakannya."


Tersenyum miring, Lin menghampiri suaminya yang masih belum mau memandangnya. Wanita itu berdiri di belakang suaminya.


"Kamu marah padaku, Nate?"


Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang isterinya dari pantulan kaca yang ada di hadapannya.


"Bagaimana kamu bisa membiarkan itu, Lin? Nat masih kecil, sedangkan Marcus-"


Ucapannya berhenti ketika salah satu tangan isterinya meremas area pribadinya. Pria itu dapat melihat pantulan tangan mungil isterinya yang sedang beraksi di bawah sana.


"Apa katamu tadi, Nate?"


Pria itu tergagap dalam ucapannya sendiri ketika tangan Lin mulai membuka resliting celananya. Jari-jemari mungil wanita itu mulai mengeluarkan senjatanya dari sarangnya dan menjalankan aksinya yang membuat pria itu mengerang dalam.


Pemandangan erotis ini membuat lidah pria itu menjadi sangat kelu dan tidak mampu mengucapkan apapun, kecuali suara erangan. Kedua tangannya masih membeku di kancing kemejanya yang setengah terbuka.


Tiba-tiba, isterinya dengan kasar membalik tubuh suaminya dan membenturkannya ke dinding kaca di belakangnya.


Nafas pria itu telah terengah-engah dan kedua matanya menghitam sempurna. Jari-jemari isterinya masih menggenggam senjata suaminya, dan meremasnya pelan. Kedua tangan pria itu berada di samping kanan dan kirinya, menekan dinding kaca di belakangnya.


"Jadi, kamu marah padaku, Nate?"


"Lin..."


Tangan isterinya yang bebas masuk ke dalam kemeja suaminya yang setengah terbuka dan mengelus-elusnya, membuat kulit pria itu meremang.


Ketika tangan Nate akan memeluk pinggangnya, dengan kasar wanita itu membenturkan tangan suaminya ke dinding lemari di belakangnya.


"Kamu tidak boleh menyentuhku, kalau kamu masih marah Nate. Sekarang katakan padaku, apakah kamu marah padaku saat ini?"


Kepala suaminya meneleng ke samping saat isterinya mulai menciumi lehernya yang terbuka, terus turun menuju pusat tubuhnya. Pria itu sama sekali tidak bisa berfikir saat ini.


Isterinya terlihat menengadah, memandang pria itu dari bawah.


"Kamu masih marah padaku, Nate?"


Dengan mata berkabut, suaminya hanya bisa menjawab lemah.


"Tidak. Aku tidak akan pernah bisa marah padamu, Lin."


"Bagus. Sekarang kamu diam saja, dan biarkan aku melakukan tugasku."


Dalam sekejap, kepala Nate menengadah tinggi ke lemari dinding di belakangnya dan pria itu berteriak kencang. Otaknya benar-benar kosong saat ini karena hal yang dilakukan oleh isterinya, adalah pengalaman yang pertama kali dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2