
"Apa yang sedang kamu lakukan tadi, sampai tidak menjawab telepon dariku?"
Suaminya terlihat duduk dengan kaku di balik meja kerjanya. Matanya yang berwarna kelabu muda tampak memandang tajam ke arah isterinya, dari balik kacamata bacanya.
Tersenyum salah tingkah, Lin pun melihat Marcus yang dengan tidak berdosa mulai melangkah ke arah pintu keluar.
"Pak Marcus! Anda mau kemana?"
Lin sedikit panik memanggil asisten suaminya. Ia tidak mau ditinggal sendirian dengan pria yang sedang marah ini.
"Marcus. Keluarlah sekarang. Dan jangan kembali, sampai aku memanggilmu."
Terdengar suara tegas Nate yang berwibawa. Pria itu sangat jarang menggunakan intonasinya yang membuat orang lain merasa terintimidasi seperti saat ini.
Asistennya sedikit menundukkan badannya dan undur diri dengan santai.
"Baik Tuan. Saya mengerti."
Suasana pun kembali hening ketika di ruangan yang besar itu hanya tinggal mereka berdua.
"Jadi, apa yang bisa kamu jelaskan, LIn? Kenapa kamu sama sekali tidak mengangkat telepon dari suamimu sendiri?"
Lin berbalik ke arah suaminya dan melihat pria itu yang sedang menyilangkan tangan di depan dadanya, membuat Nate terlihat seperti berpose untuk majalah. Hati wanita itu berdesir ketika melihat pemandangan ini. Ia menarik nafas tajam ketika merasa hasratnya mulai naik.
Perlahan, Lin menghampiri meja besar Nate dan meletakkan ponsel yang sedang dipegangnya ke atas meja.
Jari-jemarinya menyusuri pinggiran meja dan ia pun mulai mendekati suaminya yang terlihat masih duduk dengan kaku.
Saat tiba di samping kursi suaminya, Lin pun memutar kursi pria itu menghadap dirinya. Pria itu melihat mata isterinya yang sudah menghitam, dan memandangnya dengan sayu.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Lin? Jangan merayuku. Kamu harus menjelaskan dulu kenapa tidak menjawab ponselmu tadi."
Telunjuk Lin menyentuh bibir suaminya ringan. Mata pria itu mengerjap dengan cepat dan tanpa diinginkannya pupilnya mulai membesar, perlahan menutupi iris matanya yang kelabu.
Tangan Lin mengusap dasi suaminya dan menuruni dada pria itu. Perlahan, ia mengangkat kedua tangan Nate yang terlipat dan meletakkannya di kedua lengan kursinya.
Dengan nakal, jari-jemarinya pun mulai membuka kancing rompi suaminya, memperlihatkan kemeja pria itu yang berwarna biru dongker. Ia mengelus area dada Nate naik-turun pelan.
Lin dapat mendengar nafas Nate yang mulai cepat dan terengah, meski ia belum melakukan apapun pada suaminya itu. Kedua tangannya tampak mencengkeram kursi dengan erat.
Perlahan, ia pun membuka dasi pria itu dan satu dami satu, melepas kancing kemeja Nate yang memperlihatkan bagian depan tubuh pria itu yang berkulit pucat dan mulus.
Dengan santai, Lin pun duduk di pangkuan suaminya yang otomatis tangan pria itu pun langsung menopang bokongnya, mencegahnya untuk jatuh.
Jari-jari wanita itu yang mungil, membentuk pola-pola lingkaran abstrak di dada suaminya yang terbuka, membuat kulit pria itu meremang.
"Jadi... Kamu tadi ingin menanyakan apa, Nate?"
"Aku..."
Otak Nate langsung kosong saat ini. Ia tidak tahu apa yang ingin dikatakannya dan sama sekali sudah melupakan kemarahannya pada isterinya tadi.
"Hmm... Apa Nate? Tadi, kamu mau mengatakan apa padaku?"
Salah satu tangan isterinya menyelinap ke dada pria itu dan meremasnya lembut. Jari-jarinya pun memainkan ujung dadanya dengan intens, membuat pria itu mengerang.
Wanita itu menundukkan kepalanya dan mengulum ujung dada suaminya dengan lembut, mengirimkan getaran listrik ke seluruh tubuh pria itu.
Mengambil kesempatan, salah satu tangan Lin mengarah ke bawah dan mulai mengusap-usap area pribadi suaminya yang tampak sudah sangat siap untuk berperang.
"Lin... Aku..."
Mata pria itu terlihat nanar dan berkabut. Ia sama sekali sudah tidak bisa berfikir saat ini.
"Apa Nate? Aku tidak dengar."
Bibir Lin melengkung menahan tawanya, ketika ia mencium area leher Nate yang tegang dan dapat merasakan pria itu kesulitan menelan ludahnya.
Tiba-tiba, kedua tangan suaminya mencengkeram bokong isterinya. Dengan sangat mudah, pria itu memangku isterinya yang sedang bergelayutan padanya.
"Oh, masa bodoh! Sekarang, aku hanya ingin bercinta denganmu!"
Segera setelah mengatakan itu, Nate pun menerkam mulut isterinya dengan buas dan membawa mereka ke dalam kamar mandi. Di sanalah mereka meneruskan permainan yang tadi telah dimulai oleh isterinya sendiri.
Baru hampir satu jam kemudian, keduanya pun terlihat duduk di sofa menikmati secangkir teh hijau hangat yang tadi dibuat oleh Lin.
__ADS_1
Meletakkan cangkirnya di meja, Nate menoleh pada isterinya yang terlihat polos dan tidak berdosa. Wanita itu balas memandang dirinya dari balik cangkir yang sedang dinikmatinya.
Kedua alis Lin terangkat, dan ia pun menaruh cangkirnya yang setengah kosong di samping cangkir suaminya.
"Kenapa, Nate? Kamu mau mengatakan sesuatu?"
Menghembuskan nafasnya lelah, Nate memijat pelipisnya yang sering sakit akhir-akhir ini, menandakan kalau sudah waktunya ia 'makan' dan berhibernasi kembali.
"Kenapa kamu selalu melakukan itu, Lin? Di saat aku ingin berbicara serius denganmu."
Sudut bibir isterinya terangkat dengan tanpa dosa. Mata wanita itu melebar.
"Justru seharusnya aku yang bertanya, Nate. Kenapa kamu selalu jatuh pada lubang yang sama, padahal aku hampir selalu melakukan trik yang sama padamu."
Menggelengkan kepalanya, suaminya terkekeh pelan.
"Mungkin aku memang sudah jadi orang yang bodoh."
Lin meletakkan tangannya di paha Nate yang berotot dan sedikit meremasnya. Ia mencium pipi suaminya dengan sayang.
"Tidak apa-apa kamu menjadi bodoh, suamiku. Asal kamu bodoh hanya ketika bersamaku."
"Apakah aku harus menganggapnya sebagai pujian, atau hinaan?"
"Entahlah. Yang jelas, aku hanya mengatakan kebenaran."
"Betul juga."
Keduanya pun tertawa bersama. Pria itu menarik bahu Lin untuk bersandar padanya. Tangannya mengusap-usap bahu wanita itu dengan lembut.
"Tapi Lin, kenapa kamu tadi tidak mengangkat teleponku? Aku sampai harus meminta Marcus untuk turun menjemputmu. Aku benar-benar khawatir saat itu."
Lin mengambil tangan Nate yang sedang berada di paha pria itu, dan mengusapnya pelan.
"Maaf. Aku tidak sengaja merubahnya ke mode silent. Dan tadi ketika tahu kalau aku hamil dan telah menikah, rekan-rekan di departemenku banyak yang bertanya dan penasaran. Termasuk Pak Robertus yang tadi sedang menginterogasiku ketika Pak Marcus datang."
Pria itu mengangguk mendengar penjelasan isterinya. Ia merasa bahagia ketika isterinya akhirnya mau mengakui pernikahannya pada rekan-rekannya.
"Jadi teman-temanmu sudah tahu kalau kamu telah menikah?"
Suaminya mengangguk kembali dan menarik tubuh isterinya semakin menempel padanya.
Selama beberapa bulan ini, ia memang cenderung overprotective pada Lin meski tampaknya kehamilan Lin tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya seperti yang diperkirakannya di awal.
Hal ini membuat Nate memutuskan untuk menjalani masa hibernasinya.
"Lin, kamu sudah tahu tentang masa hibernasi kaum V kan?"
Pertanyaan suaminya membuat Lin mendongak dan memandang Nate. Raut suaminya terlihat cukup serius, membuat isterinya menegakkan tubuhnya.
"Ya. Kamu pernah menceritakannya dulu padaku."
"Kamu juga tahu kalau kaum V harus 'makan' dalam periode tertentu, dan melakukan hibernasi selama beberapa hari."
Isterinya mengangguk mendengar penjelasan itu.
"Melihat kondisi kehamilanmu yang sepertinya aman, aku memutuskan untuk melakukan hibernasi mulai besok malam. Apakah kamu tidak apa-apa?"
"Ya. Aku akan baik-baik saja. Apakah ini memang sudah waktunya, Nate?"
Suaminya mengangguk pelan. "Sebenarnya, aku sudah menundanya dua bulan."
Mata Lin mengerjap cepat. "Berarti kamu sering sakit kepala karena sudah lewat waktunya?"
Mendengar hal itu, alis Nate terangkat. "Kamu tahu kalau aku sering sakit kepala?"
"Tentu saja, Nate. Aku cukup sering melihatmu memijat keningmu selama dua bulan ini. Tadinya aku ingin bertanya, tapi selalu lupa. Ternyata, ini sebabnya?"
Tersenyum, Nate mencium kening isterinya dengan sayang.
"Berapa lama biasanya kamu tidur, Nate?"
"Tergantung berapa kantong yang aku konsumsi. Sepertinya kali ini akan lebih banyak dari biasanya, dan aku mungkin akan tidur sekitar 6-7 hari."
"Kamu akan tetap tidur di kamar tidur kita kan?"
__ADS_1
Kedua mata Nate membulat. Ia tidak menyangka isterinya akan meminta hal itu. Tadinya pria itu berencana untuk tidur di kamar tamu, dan tidak mengganggu isterinya.
"Kamu yakin, Lin?"
"Tentu saja aku yakin, Nate. Lagipula, kamar tamumu sudah diubah menjadi kamar bayi kita. Kamu memangnya mau tidur di lantai?"
Meski senang, tapi tetap ada kekhawatiran di diri pria itu.
"Aku cukup senang kamu mau aku tidur di tempat kita. Tapi, tidur hibernasi cukup berbeda dari tidur biasa, Lin. Aku takut membuatmu tidak nyaman nantinya."
Dahi Lin berkerut dalam. "Memangnya, apa bedanya?"
Nate mengambil kedua tangan isterinya dan menimangnya di pangkuannya.
"Saat seorang V berhibernasi, ia benar-benar terlihat seperti mati. Karena ini tidur untuk pemulihan, maka otomatis sistem pelindung tubuh kami akan aktif. Hal ini membuat tubuh seorang V akan sangat kaku dan seperti patung."
Mata Lin membelalak lebar. Ia sama sekali belum pernah mendengar tentang hal ini.
"Intinya, seseorang tidak akan dapat melakukan apapun pada tubuh seorang V yang sedang berhibernasi. Apa kamu yakin bisa tahan selama 7 hari tidur di samping patung, Lin?"
Meski sedikit merinding membayangkannya, tapi bagaimana pun Nate adalah suaminya.
"Tentu saja, Nate. Lama-lama, aku juga harus terbiasa juga kan dengan keadaan ini?"
"Aku terserah padamu, Lin. Jika kamu memang tidak nyaman, kamu bisa minta tolong pada Marcus untuk memindahkan tubuhku nanti."
"Kalau begitu, tidak ada masalah lagi kan?"
Perkataan isterinya yang ceria membuat Nate ikut tertawa. Keduanya pun saling berpelukan di sofa panjang itu, menikmati waktu istirahat siang berdua.
Keesokan harinya di penthouse Nate, suami-isteri itu pun mempersiapkan rutinitas mereka seperti biasa. Keduanya saling berciuman sebelum berpisah untuk berangkat ke kantor.
"Kamu yakin membawa mobil hari ini, Lin? Kamu bisa ikut saja denganku pagi ini."
Terkekeh, Lin pun mengelus pipi Nate yang mulus baru bercukur.
"Nate. Aku sudah membiarkan mobil kesayanganku teronggok selama 2 bulan di tempat parkir. Sekali-kali, aku harus membiarkannya juga bebas di jalanan bukan? Kalau tidak, dia akan cepat rusak. Aku janji, besok aku akan ikut denganmu lagi."
Entah kenapa, hati Nate terasa tidak nyaman membiarkan isterinya menyetir hari ini.
"Tapi..."
Dengan cepat, Lin mengecup bibir suaminya.
"Jangan terlalu khawatir. Aku akan segera menghubungimu kalau sudah sampai kantor. Sampai jumpa nanti."
Isterinya segera bergegas ke arah lift, meninggalkan suaminya yang masih menatapnya.
Hati Nate tiba-tiba terasa tidak enak ketika melihat isterinya dengan tertawa melambaikan tangan padanya, sampai pintu lift menutup.
Mengepalkan kedua tangannya, pria itu berusaha mengusir perasaan tidak enak itu. Selama dua bulan ini, ia memang selalu khawatir pada isterinya. Tapi tampaknya, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, melihat kondisi kehamilan isterinya yang terlihat lancar.
Menarik nafasnya dalam, pria itu pun menuju pintu yang akan membawanya ke landasan helipad pribadinya yang berada di puncak gedung tinggi ini.
Selang beberapa menit, Nate telah sampai ke ruangannya. Ia melihat jam tangannya yang masih menunjukkan angka 07.15, menandakan kalau ia hanya membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai ke kantornya.
Nate pun segera duduk di mejanya dan membuka laptopnya. Pria itu memakai kacamata bacanya dan tidak lama, ia sudah tenggelam dalam pekerjaannya.
Tiba-tiba, ia merasakan kegelisahan di hatinya dan tersadar. Pria itu segera melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 08.05.
Tergesa, Nate meraih ponselnya dan menyadari tidak ada notifikasi pesan masuk sama sekali dari isterinya. Entah kenapa, jantungnya mulai berdegup lebih kencang.
Biasanya Lin akan mengirimkan chat padanya segera setelah wanita itu sampai ke kantor. Isterinya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit menggunakan mobilnya saat jalanan cukup macet di pagi hari. Dan hari ini, isterinya terlambat. Tidak seperti biasanya.
Nate baru akan menelepon isterinya, ketika ponselnya tiba-tiba terjatuh dari tangannya.
Mata pria itu nanar, dan menatap dengan bingung kedua tangannya yang gemetar.
Jantungnya berdegup dengan sangat keras, saat pria itu menyadari sesuatu.
Ia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan isterinya.
Telinganya yang tajam secara samar-samar, dapat mendengar rentetan klakson dan teriakan banyak orang yang berasal dari arah jalanan, jauh di bawahnya.
Perlahan, kepala pria itu menoleh ke arah jendela besar yang terbentang di sepanjang ruangan itu. Matanya memandang ke luar dengan gelisah dan keringat dingin mulai bermunculan di keningnya.
__ADS_1
"Lin?"