Madness

Madness
Chapter 66


__ADS_3

Kejadian 30 menit yang lalu.


Lin yang sedang mengendarai mobilnya dengan santai, tiba-tiba mendengar bunyi alarm pelan, menandakan kalau persediaan bahan bakarnya mulai menipis.


Setelah beberapa minggu pergi ke kantor dengan suaminya, Lin menjadi cukup mengabaikan mobilnya. Dan ia juga baru tersadar kalau belum mengisi penuh tanki mobilnya saat ia memakainya terakhir kali.


Sedikit panik, ia menoleh ke kiri-kanannya dan merasa lega ketika menemukan area pengisian bahan bakar tidak jauh di depannya.


Dengan pelan, wanita itu pun memarkirkan kendaraannya di salah satu mesin pengisian bahan bakar yang kosong dan mulai mengisi tanki mobilnya.


Baru sekitar 15 menit kemudian, ia bisa keluar dari area tersebut dan mengendarai mobilnya dalam keadaan marah.


Beberapa saat lalu, ia sempat bertengkar dengan salah satu pengunjung ketika baru selesai membayar tagihannya di kasir. Pria yang cukup perlente itu merayu dirinya dan bersikap kurang ajar dengan menepuk bokongnya, membuat Lin menampar wajahnya keras.


Tamparan yang dilakukan dalam keadaan marah itu cukup kencang, membuat Lin tanpa sengaja menggores wajah mulus pria itu, meninggalkan sedikit jejak darah di kukunya.


Pria itu mengelus wajahnya, dan sangat marah ketika mengetahui kalau pipinya terluka.


"Dasar wanita m*rahan! Apa yang kau lakukan pada wajahku!"


Memandang pria itu dengan mata yang menyipit, Lin pun tidak kalah pedas menjawabnya.


"Saya tidak melakukan apapun. Kalau Anda mau menyalahkan seseorang, salahkan tanganmu sendiri yang sama sekali tidak sopan itu!"


Perkataan Lin semakin membuat pria itu berang. Mukanya memerah dan berubah bengis.


"Apa kau bilang!? Jangan karena hanya sedikit cantik, kau sudah sombong! Dasar p*lacur!?"


Wanita itu berusaha menahan kemarahannya ketika mengingat kalau ia sedang mengandung. Ia tidak mau sampai melakukan sesuatu yang dapat membahayakan anaknya.


Ia pun berbalik dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Sebelum petugas kasir dapat melerai keduanya, tangan pria perlente itu dengan kasar menarik rambut panjang Lin yang sedang berjalan membelakanginya, menyebabkan beberapa helai rambut wanita itu sedikit rontok.


"Ahhh!"


Geram, salah satu tangan Lin mencengkeram lengan panjang kemeja pria itu dan dengan cepat melakukan teknik bantingan judo yang cukup mematikan.


Tubuh pria perlente itu terbanting dengan keras ke lantai, membuatnya menjerit nyaring. Pria itu memegang salah satu bahunya yang sepertinya sedikit bergeser karena bantingan itu.


Mengetahui pria itu sudah kalah dan mengerang di lantai, Lin pun segera keluar dari ruangan dan bergegas pergi dari lokasi yang membuat hatinya meradang.


Lin sama sekali tidak sadar, kalau pria itu memandangnya dengan tatapan penuh dendam.


Selang beberapa menit kemudian, Lin merasa lega ketika melihat gedung tinggi milik suaminya yang sudah terlihat. Ia pun bersiap untuk berbelok menuju area pelataran parkir, ketika tiba-tiba merasakan mobilnya terdorong dengan kencang ke depan.


Tabrakan itu membuat mobil kecil Lin sedikit oleng dan berputar, membuatnya dapat melihat dengan jelas mobil yang menabraknya tadi.


Wanita itu masih sadar, ketika matanya menangkap mobil yang tadi menabraknya terlihat mundur dan kembali mengarahkan moncongnya ke arah dirinya. Tepat menuju area samping pintu pengemudinya.


Matanya membelalak lebar, dan yang ada di benaknya adalah bayangan suaminya yang sedang tersenyum memandangnya penuh cinta.


"Nate."


Setelah itu, mobil Lin tampak terguling beberapa kali dan kecelakaan itu, membuat lalu lintas yang pagi itu cukup lengang mulai dipadati karena kemacetan yang tiba-tiba terjadi.


Tidak jauh dari situ, tampak mobil Marcus mendekati area kecelakaan. Pria dingin itu melihat beberapa orang yang keluar dari mobil dan mulai berkerumun di depannya.

__ADS_1


"Ada apa Henri?"


"Sepertinya ada kecelakaan di depan, Pak Marcus."


Pria itu menghela nafasnya berat. Ini kedua kalinya ia berada di lokasi kecelakaan.


Melihat kalau mobilnya sudah berhenti cukup dekat dengan perusahaan, Marcus pun memutuskan untuk berjalan kaki ke kantornya.


"Aku turun saja, Henri. Kamu parkir dulu di sini sampai menunggu kemacetannya terurai."


"Baik, Pak."


Dengan tegap, Marcus keluar dari mobilnya dan mulai melangkah ke arah jalanan.


Ia baru saja akan berbelok ke gedung perkantorannya, ketika matanya menangkap pemandangan mobil yang tampak teronggok di depannya. Mobil itu sedikit ringsek, tapi masih cukup utuh. Terlihat ada pengemudi yang masih berada di dalamnya.


Jantungnya berdegup kencang saat mengenali mobil itu. Tergesa, Marcus melangkah mendekatinya. Sudah ada beberapa orang yang sedang mengelilingi mobil itu, dan salah satunya sedang mengeluarkan ponsel untuk menghubungi polisi, juga ambulan.


Menyibakkan kerumunan kecil di depannya, nafas Marcus sedikit berhenti ketika ia melihat sosok isteri atasannya yang sedang duduk di dalam mobil. Tubuhnya masih terikat dengan aman di kursinya, dan kepalanya tegolek ke samping.


Meski wanita itu tampak mengkhawatirkan karena penuh dengan darah, tapi Marcus tidak terlalu cemas karena isteri atasannya memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang sama dengan dirinya dan juga suaminya.


Yang membuat pria dingin itu sangat khawatir adalah ketika ia mencium bau anyir darah di sekeliling wanita itu yang kuat. Pandangan matanya nanar saat menyadari, kalau itu berasal dari area tubuh bagian bawah Lin yang tampak mengeluarkan darah tanpa henti.


Pria dingin itu dengan mudah membuka paksa pintu yang telah ringsek, membuat orang-orang di sekelilingnya mulai mundur.


Ia baru saja akan menggendong tubuh wanita yang masih duduk itu, ketika merasakan bahunya ditahan oleh seseorang.


"Tunggu, Pak. Lebih baik, kita menunggu ambulan dan polisi dulu. Jangan memindahkan tubuhnya, karena kita tidak tahu dia menderita luka apa. Sangat berbahaya-"


Pandangan Marcus yang tajam dan dingin membuat pria yang sedang berbicara itu terdiam.


Ciut mendengar suara Marcus yang serak dan berat, pria itu pun akhirnya mundur untuk membiarkan Marcus menggendong Lin dan membaringkannya dengan pelan di aspal.


Pria dingin itu baru saja akan mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, ketika mendengar suara atasannya yang terdengar tercekat.


"Marcus?"


Tampak sosok pucat Nate yang menonjol sedang berdiri dengan kaku di kerumunan. Pria itu segera menghampiri dua orang di depannya dan langsung berjongkok ketika melihat tubuh isterinya yang tergolek lemah.


Nate memegang tangan isterinya dan memeriksa luka-lukanya. Ia sedikit lega, ketika mengetahui luka-luka isterinya perlahan mulai menutup tapi khawatir kembali, saat menyadari kalau pendarahannya belum berhenti.


Hal ini membuatnya langsung membuka jasnya dan menutupi tubuh isterinya.


"Apa yang terjadi?"


Suara atasannya terdengar tenang, tapi Marcus sangat tahu emosi yang sedang bergejolak di dalamnya. Kening atasannya telihat berkeringat dan pandangan pria itu dingin, menandakan kalau ia sedang berusaha meredam kemarahan dan kepanikan di hatinya.


"Saya juga baru sampai di sini, Tuan."


"Mobil itu yang menabraknya." Terdengar salah satu orang dari kerumunan itu berbicara.


Informasi itu membuat kedua pria itu menoleh. Mereka melihat seorang pria berkacamata dan mengenakan jas sedang menunjuk ke salah satu mobil sport yang masih berada di lokasi.


"Saya melihat mobil itu menabrak mobil wanita itu dari belakang. Tadinya saya mengira hanya kecelakaan biasa, tapi mobil itu mundur dan kembali menabraknya untuk kedua kali, membuat mobil wanita itu terguling beberapa kali."


Penjelasan itu membuat mata Nate memanas, dan rahangnya mengeras.

__ADS_1


Pria itu segera berdiri dan dengan cepat menghampiri mobil yang tampak sedikit ringsek di bagian depannya, dan masih belum bisa bergerak karena terjebak di kerumunan. Terlihat ada pria yang panik berusaha membuka pintu mobilnya yang sepertinya macet.


Dengan kekuatan yang tidak terbayangkan, kepalan Nate menerobos jendela kaca mobil itu dan menarik kerah baju pria di dalamnya. Dalam satu tarikan kencang, ia menarik paksa pria di dalamnya dan membuat pintu yang macet itu terbuka dengan sendirinya.


Tubuh pria itu terlempar kuat ke aspal. Ketakutan, ia berusaha untuk bangkit dan melarikan diri dari pria tinggi di depannya yang terlihat seperti monster.


Malang, tubuhnya kembali ditarik dan dihempaskan ke badan mobilnya dengan keras. Pria itu merasakan tulang rusuknya yang mungkin retak di beberapa tempat.


"Mau kemana kau?" Suara Nate dalam dan rendah.


Ia mengangkat badan pria malang itu dengan satu tangan, dan membantingnya ke atas kap mobilnya, Nate mencengkeram kerah lehernya, menahan pria itu untuk tidak bergerak.


Pandangan matanya yang kelabu terlihat bersinar sadis dan penuh dengan hasrat untuk membunuh. Pria itu mulai mengacungkan kepalan tinju tangan kirinya dengan perlahan.


"Aku akan membunuhmu."


Marcus yang melihatnya dari kejauhan mulai panik.


Nate adalah atasan yang sabar dan juga tidak emosional. Pria itu sangat tenang dan terkontrol dalam setiap situasi, tidak terkecuali saat ia berada di medan perang.


Marcus sangat tahu, kalau atasannya adalah mesin pembunuh yang sangat sempurna. Pria itu menguasai beberapa teknik beladiri dan juga seorang ahli di senjata tajam. Hanya dengan sabetan lengannya, pria itu dapat membunuh seseorang dengan tanpa berkedip.


Ia sangat berbahaya jika berhadapan dengan orang yang sama sekali tidak berpengalaman. Bahkan Marcus sendiri, tidak pernah berani menantang atasannya di arena pertarungan. Ia sangat yakin akan kalah dan babak belur dengan menyedihkan di tangan pria itu.


Karena hal ini jugalah, Marcus sangat menghormati Nate sebagai atasannya selama ini.


Dan kali ini, atasannya terlihat sedang melayangkan tinjunya yang mematikan ke arah pria yang jelas-jelas jauh lebih lemah dari dirinya. Pria itu akan mati!


"Tuan Axelle!?"


Suara Marcus yang serak dan berat, terdengar menggelegar di lokasi itu.


Teriakan dari asistennya yang sangat jarang terdengar, membuat tinju Nate berhenti beberapa inchi dari muka pria yang sedang dicengkeram Nate.


Tubuh pria malang itu gemetar dan mukanya sangat pucat, ketika menyadari betapa kuat angin yang menerpanya tadi dari tinju pria di depannya. Ia baru saja selamat dari kematian.


"Tuan."


Suara Marcus terdengar kembali saat melihat tangan Nate masih teracung dengan gemetar.


"Tuan. Nyonya lebih membutuhkan Anda saat ini."


Gigi-geligi Nate bergemeretak dengan keras. Kedua taring pria itu terlihat sedikit memanjang ketika ia memperlihatkan seringainya.


Ia pun akhirnya melayangkan tinjunya ke samping wajah pria itu, meninggalkan bekas yang sangat dalam dan hampir tembus, di atas kap mobil sport-nya.


Nate menghempaskan tubuh pria itu dengan keras ke atas kap mobilnya, membuat beberapa tulang rusuknya sudah pasti patah.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Ingat itu."


Pria itu segera berbalik dan sedikit berlari ke arah isterinya yang masih terbaring di aspal. Dengan ringan, ia membopong tubuh Lin yang masih terlihat tidak bergerak. Darah segar mengalir dari kedua kaki wanita itu, meninggalkan jejak ketika pria itu melangkah.


"Marcus. Tolong antarkan aku ke rumah."


Keduanya pun bergegas ke mobil Marcus yang masih terparkir sedikit jauh di jalanan. Setelah menyuruh Henri untuk pergi, Marcus pun segera mengarahkan mobilnya ke penthouse atasannya, dengan Nate yang duduk di belakang bersama Lin di pangkuannya.


Dari jauh, raungan sirene polisi dan juga ambulan perlahan terdengar mendekati lokasi kejadian. Tapi Nate sama sekali tidak bisa mendengar. Yang ada di telinga pria itu hanyalah bunyi dengingan yang sangat keras.

__ADS_1


Kedua mata Nate kembali memanas. Saat ini, ia harus melakukan segalanya untuk menyelamatkan isterinya dan juga calon anaknya. Ia tahu dengan pasti, kalau ia juga akan mati kalau sampai terjadi apa-apa dengan isteri yang ada di pangkuannya sekarang.


__ADS_2