
Lin meremas rambut tebal Nate dan memperdalam ciumannya. Lidahnya bermain-main di dalam mulut pria itu.
Ia kemudian mengalihkan ciumannya ke pipi pria itu, ke kedua mata dan hidung Nate.
Pria di depannya terlihat pasrah saat Lin memberikan ciuman-ciuman ke seluruh wajahnya. Ketika Lin kembali mencium bibirnya, Nate pun membalasnya dengan hasrat yang sama besarnya.
"Nate..."
Pria di depannya semakin mempererat pegangannya pada paha wanita di atasnya. Ia mulai mengelus kaki dan punggung wanita itu naik turun.
Lelaki itu pun mulai mengarahkan ciumannya ke leher Lin, dan ke arah telinganya.
"Lin... Lin... Lin sayang..." Balas pria itu pada wanitanya.
Nate menyadari kalau ia benar-benar sudah sangat menyukai wanita di pangkuannya ini.
Pria itu tampak tenggelam dalam perasaannya. Belum sadar sepenuhnya kalau wanita di pelukannya ternyata sudah menghentikan kegiatannya.
Tiba-tiba, ia merasakan tarikan yang kuat di rambutnya dan pandangannya dipaksa untuk bersibobrok dengan wanita di depannya.
Lin tampak menggigit bibirnya dan mukanya memerah seperti tomat. "Oh Tuhan, Nate!"
Wanita itu segera turun dari pangkuannya dan menjauh dari pria di hadapannya. Ia ternyata kembali tidak sadar dengan yang telah dilakukannya.
Ia membalikkan badannya, membelakangi pria itu. Ia berusaha untuk mengatur kontrol dirinya kembali. Apa yang kali ini telah dilakukannya?
Sementara Nate, saat itu terlihat terbengong. Kedua tangannya masih dalam posisi yang terbuka. Pikirannya masih belum menyatu dengan situasi yang sedang terjadi.
"Nate, apa yang telah kulakukan padamu kali ini?" Dengan gemetar Lin bertanya. Ia masih belum mau menghadap ke arah pria itu.
Pertanyaan itu membuat Nate mengerjapkan matanya.
Meletakkan kedua tangannya kembali di pahanya. Pria itu berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang tadi sempat hilang.
"Hmm... Kamu menciumku." Jawab pria itu dengan suara linglung.
"Apa lagi?" Wanita itu masih belum percaya kalau ia tidak melakukan hal lainnya.
"Kamu menciumku di bibir." Pria itu berkata pelan.
Hatinya mulai sedikit merasa kecewa ketika menyadari kalau Lin ternyata masih melakukannya tanpa sadar.
"Apa lagi, Nate?"
"Tidak ada."
Menghela nafas lega, wanita itu membalikkan badannya dan membeku.
Tampang Nate saat itu sangat berantakan. Rambutnya terlihat awut-awutan bekas diacak-acak. Mulut dan seluruh mukanya tampak belepotan dengan lipstik Lin.
Kacamatanya terlihat menggantung terbalik di kepalanya. Leher dan kerah baju pria itu pun tampak ternoda dengan warna lipstik merah bata.
Oh, Tuhan. Apa yang telah kulakukan pada pria malang ini?
Muka Lin kembali berwarna merah. "Nate, mungkin sebaiknya kamu mencuci mukamu."
Pria itu menoleh padanya. Pandangannya bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Mukamu... Sebaiknya kamu mencuci mukamu, Nate." Lin mengalihkan pandangannya.
Melihat wanita di depannya yang tidak mau memandang dirinya, membuat hati pria itu sedikit sakit.
Sampai sebegitukah Lin tidak suka padanya? Apakah Lin hanya menyukai fisiknya dan itu pun saat ia sedang tidak sadar saja?
Nate mulai menyadari, bahwa pikiran-pikiran ini mulai menghantui benaknya.
"Baiklah."
Perlahan, pria itu bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan.
Tidak lama, Lin dapat mendengar seruan pendek pria itu ketika baru menyadari tampangnya yang terlihat memalukan.
Sambil menunggu Nate, wanita itu pun membersihkan sisa-sisa lipstik dari mulutnya dengan menggunakan tisu. Ia mencoba melihat cerminan dirinya dari sendok teh yang dipegangnya.
Ia juga langsung membersihkan sisa make-up di mukanya dengan menggunakan tisu basah. Untungnya tadi ia langsung membawa tas tangannya saat datang ke sini.
__ADS_1
Mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, wanita itu melihat Nate yang baru keluar.
Pria itu menenteng rompi dan dasi di tangannya. Tiga kancing kemejanya tampak dibuka, memperlihatkan sedikit pemandangan kulit di dalamnya. Mukanya sudah tercuci bersih.
Jantung Lin berdetak kencang, ketika menyadari kalau ia sudah mulai tertarik pada pria ini. Baru kali ini Lin merasakannya pada seseorang.
Wanita itu memperhatikan Nate melemparkan dengan pelan rompi dan dasinya ke atas meja kerjanya. Mukanya terlihat sedikit muram dan pria itu menunduk.
"Nate?"
Lin khawatir pria itu marah padanya, karena ia belum bisa mengontrol n*fsunya. Jika Nate tidak mau menemuinya lagi, mungkin Lin memilih untuk langsung pergi dari perusahaan ini.
Pria di depannya mengangkat wajahnya, dan tampak terdiam ketika melihat muka Lin.
Mendekat, Nate duduk di samping Lin dan tampak mengamati wajah wanita itu.
Tanpa sadar, tangan Nate terangkat untuk menyentuh wajah wanita di depannya. Jari-jemarinya terasa mengusap pipi dan bibir wanita itu dengan lembut.
Sentuhan lembut Nate di wajahnya membuat Lin hanya termangu menatap pria itu.
"Aku baru memperhatikan, ternyata wajahmu sangat berbeda tanpa make-up."
Saat di apartemen Lin, pria itu belum sempat melihat dengan jelas karena rentetan kejadian yang saling berdekatan saat itu.
Sedikit melamun, pria itu tersenyum samar. "Kamu cantik, Lin."
Kata-kata Nate tampak melambungkan hati Lin. Pipinya yang sedang diusap-usap oleh Nate mulai merona merah.
Perlahan senyum di wajah pria itu memudar. Nate memandang mulut Lin dan sedikit mengusapnya. Setelah itu, ia pun kembali berdiri.
Nate memilih untuk duduk di balik mejanya. Mungkin saat ini, ia lebih baik menjaga jarak dulu dengan wanita itu, sampai mendapat kejelasan mengenai perasaan Lin pada dirinya.
Awalnya, ia memang ingin mengenal Lin lebih jauh. Tapi setelah menyadari perasaannya, pria itu mulai merasa takut.
Ia tidak mau merasakan patah hati untuk kedua kalinya.
Menumpukan kedua tangannya di meja, pria itu meletakkan dagunya pada kepalan jarinya. Jari-jemarinya tampak mengusap-usap dagunya yang mulai terlihat menggelap.
"Apakah kamu mau menceritakan apa yang memb@uatmu melakukan hal tadi padaku?"
Wanita itu sedikit bingung dengan perubahan sikap pria yang duduk di seberangnya, tapi memutuskan untuk menerimanya karena memang ia yang salah.
Sama seperti dirinya dulu, pria itu pun berhak untuk mendapatkan jawabannya.
"Kasusnya sama seperti yang kamu rasakan padaku dulu. Aku bern*fsu ketika melihatmu."
Lin tidak mau memandang wajah Nate. Ia tahu pasti kalau perasaannya saat ini melebihi dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan hasratnya saja, tapi ia masih belum bisa mengakuinya.
"Tapi sebelumnya, hal ini tidak pernah terjadi, Lin. Kalau aku perhatikan, sepertinya sejak kamu merasakan darahku, baru kamu mengalami hal itu."
Perkataan Nate membuat wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Aku juga berfikir seperti itu. Sejak kejadian itu, entah bagaimana, hanya dengan mencium aromamu saja bisa membuatku menjadi gila."
Sambil sedikit melamun, wanita itu mengungkapkan rahasia yang memalukan itu. Ia menjadi teringat pada sweater pria itu yang sampai sekarang masih tergolek di tempat tidurnya.
Alis mata Nate terangkat mendengarnya. Entah mengapa, hatinya sedikit terobati ketika mendengar hal ini. Setidaknya Lin tidak hanya tertarik dengan darahnya saja.
Bahkan ia juga gembira, ketika tahu kalau justru aroma tubuhnya-lah yang membuat Lin menyerangnya, mengingat kalau Lin tidak tahan dengan bau pria lain.
"Kamu menjadi gila hanya karena mencium bauku?" Pria itu tersenyum kecil.
Baru sadar kalau ia telah membeberkan rahasianya, muka Lin kembali memerah.
"Tidak. Maksudku, ya. Tidak, entahlah." Ia membuang pandangannya ke lantai.
Pandangan Nate melembut pada wanita di seberangnya. Ia pun mendekati Lin dan kembali duduk di sampingnya.
Sepertinya ia akan bersedia untuk mengambil resiko demi wanita ini.
"Aku akan membantumu, seperti waktu itu kamu membantuku, Lin."
Meraih kedua tangan Lin, pria itu menggenggamnya erat di pangkuannya.
Takut ia kembali memanfaatkan pria di depannya, Lin berusaha menarik tangannya tapi ditahan kuat oleh pria itu.
__ADS_1
"Nate, aku takut melecehkanmu lagi." Matanya terlihat cemas.
Ia sama sekali belum bisa mengontrol dirinya dengan baik. Naluri liarnya bisa muncul kapan saja dan dimana saja, membuatnya dapat menyerang pria di depannya ini dengan brutal.
"Kamu boleh melakukan apapun padaku, Lin."
"Hah?"
"Ya. Tentunya tidak akan gratis. Tapi aku belum memikirkan mengenai pembayarannya."
Mata Lin sedikit berkilat. Ia berusaha menarik tangannya kembali dengan sedikit emosi.
"Ini bukan bahan bercandaan, Nate. Bisa-bisa aku memperkosamu nanti."
Pria itu tetap menahan tangannya. "Aku serius, Lin. Kamu boleh melakukan apapun padaku."
"Nate!"
Wanita itu mulai emosi menghadapi pria itu yang tampak memandang enteng masalahnya.
"Percayalah padaku, Lin. Tidak ada yang akan sampai kelewat batas."
Setelah kejadian beberapa kali yang menimpanya, tampaknya pria itu sudah menyadari sesuatu. Sesuatu yang mungkin dapat menyadarkan wanita itu dari fase kegilaannya.
Ia berniat akan mencobanya lagi nanti, saat ada kesempatan.
Melihat ekspresi Nate yang serius, Lin pun akhirnya terdiam dan menarik nafasnya dalam.
Tampaknya ia harus mencoba mempercayai pria itu saat ini. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu mengenai rahasianya.
"Baiklah. Tapi saat aku sudah kelewatan, maka kamu harus memukulku."
Nate mengerjap mendengar perintah dari Lin. Tapi melihat mata tajam wanita itu, maka mau tidak mau, ia akhirnya pun menganggukkan kepalanya.
"Oke. Aku akan menamparmu kalau itu sampai terjadi."
Tentu saja ia tidak akan melakukannya. Ia pasti akan memilih untuk pasrah saja.
Badan Lin sedikit bergidik, ketika membayangkan tangan berotot Nate menampar wajahnya. Tapi itu jauh lebih baik, daripada ia melakukan hal yang akan disesalinya nanti.
"Oke." Akhirnya wanita itu menyetujuinya.
Tidak mau percaya begitu saja, Nate mengulurkan tangannya. "Jadi, kita sepakat?"
Memandang tangan Nate yang terulur, dalam hati Lin merasakan dorongan ingin memeluk pria itu. Bagaimana mungkin pria ini begitu saja menyerahkan diri padanya?
Ia pun membalas uluran tangan Nate. Meremasnya dengan erat. "Sepakat."
Keduanya pun terdiam kembali setelah itu. Masing-masing memikirkan banyak hal yang sebenarnya ingin ditanyakan pada satu sama lain, namun tidak tahu harus mulai dari mana.
Pria itu pun akhirnya bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela di belakangnya. Ia menimbang-nimbang sesuatu dalam benaknya sebelum akhirnya berbicara.
"Sebenarnya Lin, ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan denganmu."
Wanita itu menoleh, menatap pria yang sedang berdiri di belakangnya. "Apa itu?"
Pria itu berbalik. Tampak pemandangan langit malam menghiasi belakang punggungnya.
"Apakah kamu tidak mau tahu siapa ayahmu?" Nate bertanya hati-hati.
Lin membeku mendengar pertanyaan itu. Ia sudah sangat lama mencari keberadaan ayahnya dan sama sekali belum menemukan petunjuk apapun.
Ketika akhirnya ada kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk, entah mengapa dirinya justru merasa takut. Berbagai kemungkinan-kemungkinan dan juga pertanyaan, tampak berputar-putar di benak wanita itu.
Menengadah memandang Nate, suara wanita itu sedikit gemetar ketika bertanya.
"Kamu tahu siapa ayahku?"
"Bagaimana kalau aku tahu? Apa yang akan kamu lakukan?"
Mendengar pertanyaan itu, Lin termangu. Ia masih belum tahu harus menjawab apa.
Nate akhirnya menghampiri wanita di depannya yang masih terdiam, dan meletakkan tangan di bahunya. Dengan lembut, ia sedikit meremasnya.
"Carilah aku saat kamu sudah memutuskannya. Aku akan menunggumu."
__ADS_1