Madness

Madness
Chapter 69


__ADS_3

Siang hari, hari-H kecelakaan. Jam 12.30.


Terlihat seorang pria baya tergopoh-gopoh berjalan di lobi. Kepalanya yang berambut putih celingak-celinguk di ruangan lobi yang luas itu.


"Ayah!"


Panggilan itu menoleh kepala pria baya itu menoleh, dan wajahnya terlihat geram saat menghampiri pemuda yang memanggilnya tadi.


"Kau!"


Jari gempal pria baya itu menunjuk pria muda di depannya, dan tidak disangka memberikan jitakan yang cukup kuat di kepalanya.


"Aduh! Apa-apaan sih! Aku sudah mengunjungimu, dan ayah malah memukulku?"


Dengan kasar, ayahnya menarik pria muda itu ke arah sofa tunggu yang terletak di sudut ruangan lobi itu. Ia menghempaskan tubuh anaknya kasar di sofa dan berdiri berkacak pinggang di depannya.


"Anak nakal! Sudah berapa lama kau tidak pulang ke rumah, hah? Ibumu yang khawatir, malah melampiaskan kemarahannya padaku! Kapan kau mau pulang?"


Nick mengusap-usap keningnya yang merah karena jitakan ayahnya. Alisnya berkerut dalam dan mulutnya cemberut.


"Ayah. Aku sudah 32 tahun. Sudah dewasa. Wajar kalau aku jarang berkunjung ke rumah kalian, kan? Aku juga sibuk di kantor."


Lagi, ayahnya menjitak anaknya di tempat yang sama, membuat Nick kembali berteriak.


"Kalau kau sudah menikah, kami pun tidak akan ribut. Tapi kau masih bujang begini dan alasan itu sama sekali tidak bisa kami terima!"


Mata Nick sedikit berair. Jitakan ayahnya benar-benar keras, membuat kening pria itu mungkin akan benjol besok.


"Ayah, tolonglah! Aku kesini karena tugas, dan ingin meminta bantuanmu!"


Mendengar suara anaknya yang terdengar seperti petugas polisi, ayahnya pun akhirnya duduk di samping anaknya.


Terlihat Nick mengeluarkan selembar foto berwarna dan menyodorkannya ke ayahnya.


"Ayah, pria ini Marcus yang sering ayah ceritakan bukan?"


Pria baya itu menatap foto di tangannya dan mengangguk. "Benar. Ini Pak Marcus."


Alisnya terlihat berkerut. "Siapa pria di sebelahnya ini, Nick?"


Anaknya mengeluarkan nafas pelan. Wajahnya terlihat sedikit frustasi.


"Jadi, ayah juga tidak mengenalinya? Kukira ayah tahu identitas pria itu."


Kepala ayahnya menggeleng pelan. "Ada apa kau mencari tahu tentang ini, Nick?"


"Tadi pagi terjadi kecelakaan di dekat sini. Kami sedang mencari pihak-pihak yang terlibat untuk membuat laporan tuntutan."


"Ya. Ayah tahu ada kecelakaan di area sini. Apa kau tahu korbannya? Terus terang, ayah juga sedang khawatir saat ini. Salah satu karyawan ayah belum datang sampai sekarang, dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Ayah takut dia menjadi korban dalam kecelakaan itu."


"Oh? Siapa namanya?"


"Alina Johan."


Terlihat Nick memeriksa buku catatannya, dan kepala pria itu menggeleng.


"Tidak ada korban yang bernama Alina Johan di sini."


Ayahnya menghela nafas lega. "Oh, syukurlah kalau begitu."


Nick pun mengambil foto itu dari tangan ayahnya dan menumpukkannya pada beberapa foto lain dari buku catatannya. Terlihat ada foto mobil ringsek di salah satunya.


"Tunggu."


Kepala Nick menoleh pada ayahnya. "Hmm?"


"Boleh ayah lihat foto-foto itu, Nick? Foto mobil yang ringsek itu."


Terheran-heran, anaknya pun menyerahkan lima lembar foto yang diperolehnya dari kamera CCTV lalu lintas beberapa waktu lalu.


Tampak ayahnya membalikkan beberapa lembar foto, dan wajahnya terlihat pucat.


"Ayah?"


"Ini... Ini mobil Alina."


Telunjuk ayahnya yang gemetar mengarah pada mobil yang ringsek itu, membuat kening Nick berkerut dalam.

__ADS_1


"Ayah yakin?"


"Ayah yakin sekali, Nick. Kami pernah pergi bersama-sama saat bertugas keluar kota saat itu, dan Alina membawa mobilnya sendiri. Ayah masih ingat, karena mobilnya yang berukuran sangat mungil dan wanita itu sangat menyayangi mobilnya itu."


"Tapi mobil ini..."


Dengan cepat, Nick memeriksa catatannya kembali.


"Mobil ini bukan tercatat sebagai mobil Alina Johan. Mobil ini terdaftar dengan nama Alexandra Johanes, dan dia tinggal di kota lain. Ada kemungkinan dialah korban dari kecelakaan ini, karena tubuhnya sama sekali belum ditemukan di lokasi kejadian."


"Oh Tuhan..."


Pria baya itu tertegun di duduknya. Ia benar-benar mengkhawatirkan Alina yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri. Apalagi wanita itu sedang hamil muda saat ini.


"Apakah benar-benar tidak ditemukan tubuhnya di mobil itu, Nick?"


"Bukannya tidak ditemukan, tapi Marcus dan pria asing itulah yang membawa tubuh korban entah kemana. Karena itu, aku sedang mencari identitas pria itu, ayah. Mungkin, aku harus bertemu dengan Marcus sekarang."


Ayahnya menggeleng pelan. "Percuma kau datang hari ini, Nick. Pak Marcus sepertinya sama sekali tidak akan masuk kantor saat ini."


"Dia tidak datang ke kantor?"


"Tadi, dia memang ke kantor dan ayah sempat melihatnya menghubungi bandara. Tapi Pak Marcus langsung pergi lagi, dan sepertinya dia akan keluar negeri. Entah kemana."


"Keluar negeri? Segera setelah kecelakaan ini?"


Kening Nick benar-benar berkerut dalam. Ini sangat aneh. Semuanya sangat aneh.


Pria muda itu melirik raut wajah ayahnya yang terlihat khawatir saat ini.


"Ayah benar-benar mencemaskan wanita itu ya?"


"Bagaimana ayah tidak cemas, Nick? Alina sedang hamil muda saat ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungannya nanti?"


"Apa!?"


Informasi baru ini membuat sudut pandang Nick berubah.


Pria muda itu mengamati kembali salah satu foto yang memperlihatkan pria asing itu menggendong si korban. Tampaknya, pria itu juga sangat marah ketika mencengkeram Dave dan terlihat hampir memukulnya di foto yang lain.


"Ayah. Apakah menurutmu, pria ini suami dari Alina Johan?"


Tiba-tiba ayahnya memanggil seseorang yang baru saja masuk ke lobi perusahaan.


Nick melihat seorang wanita cantik berambut cokelat gelap dan bermata hijau menghampiri kursi mereka. Tatapannya sedikit terpaku pada sosok wanita itu.


"Selamat siang, Pak Robertus."


"Selamat siang, Lucy. Tumben kamu terlambat?"


"Ya. Tadi saya harus mengantarkan Scott dulu. Ada sedikit keperluan di sana."


Scott? Siapa itu? Benak Nick bertanya-tanya tanpa disadarinya.


Pria baya itu menganggukkan kepalanya dan baru tersadar ketika melihat anaknya mengamati wanita yang baru datang itu dengan lekat.


"Oh Lucy. Kenalkan ini, Nick. Dia anakku dan juga seorang detektif."


Keduanya saling berjabat tangan erat. "Selamat siang, Pak Nick."


"Panggil saja saya Nick." Pria itu sedikit meremas genggamannya pada wanita itu.


Salah tingkah, Lucy melepas genggamannya dan berpaling pada Pak Robertus.


"Ada apa bapak memanggil saya?"


"Duduklah dulu, Lucy."


Pak Robertus mengarahkan Lucy untuk duduk di salah satu sofa tunggal di sana.


"Nick. Lucy ini adalah teman baik dari Alina. Kau bisa bertanya padanya kalau mau."


Akhirnya pria muda itu paham kenapa ayahnya memanggil wanita itu tadi.


Ia pun sedikit menjelaskan mengenai tujuannya, dan kemudian memperlihatkan beberapa foto pada wanita itu.


Tampak kening Lucy berkerut ketika memandang foto-foto yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah Anda mengenali sesuatu?"


Kaku, Lucy menganggukkan kepalanya. Ekspresinya terlihat cemas saat ini.


"Ini adalah mobil Lin, teman saya. Apakah Anda tahu keadaannya?"


Merasa tidak enak, Nick menggelengkan kepalanya.


"Maaf, tapi kami benar-benar tidak tahu. Mengenai pria yang sedang menggendong teman Anda itu, apakah Anda mengenalinya?"


Nafas Lucy sedikit tajam ketika mengingat sosok pria tampan yang sempat ditaksirnya dulu.


"Ya. Ini adalah suami Lin."


Hati pria itu gembira ketika akhirnya ia dapat menemukan sebuah petunjuk.


"Siapa namanya?"


Harapannya terjun bebas melihat kepala wanita itu yang menggeleng pelan.


"Saya tidak tahu nama lengkapnya. Lin sama sekali tidak pernah menceritakannya."


"Tapi, apakah Anda tahu dimana suaminya itu bekerja? Saya sangat membutuhkan informasi itu saat ini."


Lucy terdiam dan menoleh pada Pak Robertus yang duduk di depannya.


"Saya... Maaf, tapi Lin sangat menutupi mengenai kehidupan pribadinya. Saya ingin menceritakannya pada Anda, tapi..."


Pak Robertus akhirnya paham mengenai kecanggungan Lucy. Pria baya itu pun bangkit dari duduknya, disusul dengan Nick yang tampak tidak enak.


"Kalau begitu, saya akan ke atas dulu. Nick, kami menunggumu di rumah. Sesekali, pulanglah."


Tersenyum, Nick pun mengangguk. "Aku usahakan untuk pulang minggu ini."


Ayahnya tersenyum senang dan menepuk bahu anaknya keras. Ia pun berpaling pada Lucy.


"Saya permisi dulu."


"Pak Robertus. Maafkan saya, tapi..."


"Tidak perlu, Lucy. Saya juga sangat mengenal karakter Alina. Ia pasti tidak akan suka kalau saya mencari tahu mengenai kehidupan pribadinya di belakangnya."


Kepala Lucy mengangguk. "Terima kasih atas pengertian Anda."


Setelah ditinggal berdua, Nick pun kembali menatap wanita cantik itu yang masih terdiam.


"Jadi, apa yang Anda tidak bisa ceritakan di hadapan orang lain?"


Lucy menghela nafasnya. Ia tahu kalau pria muda di depannya ini sedikit menegur dirinya.


"Saya akan langsung saja. Sejujurnya, saya tidak tahu banyak mengenai kehidupan pribadi Lin, dan juga suaminya. Tapi Lin pernah bercerita, kalau suaminya adalah salah satu orang penting di perusahaan."


"Salah satu orang penting di perusahaan ini?"


Wanita cantik itu mengangguk.


"Saya juga tadinya tidak percaya, tapi saya pernah melihat Pak Marcus yang terlihat sangat menghormati dan melindungi pria itu yang membuat saya yakin, kalau yang diceritakan oleh Lin adalah benar adanya."


"Marcus menghormati pria itu? Bukannya Marcus juga salah satu petinggi di perusahaan?"


"Benar. Pak Marcus adalah orang tertinggi kedua di perusahaan ini. Dan beliau memanggil pria itu dengan sebutan 'Tuan'."


"Tuan? Apakah Anda yakin?"


"Saya juga seskeptis Anda saat itu. Tapi saya mendengarnya sendiri dengan telinga saya. Pak Marcus memanggil pria itu dengan sebutan 'Tuan'. Padahal, Pak Marcus dan pria itu sepertinya memiliki usia yang sebaya. Cukup aneh bukan?"


Kedua tangan wanita itu terlipat rapih di pangkuannya.


"Tapi ada satu hal terpikirkan oleh saya, apalagi saat menyadari nama depan suami Lin."


"Apa itu?" Nick lebih penasaran sekarang.


"Nama depan suami Lin adalah Nathanael atau Nate. Dan nama owner dari perusahaan ini adalah N. Axelle kalau Anda pernah dengar."


Bola mata Nick melotot ketika mendengar nama yang familier itu. "Aksel? Excel?"


"A-X-E-L-L-E. Axelle, dengan aksen Perancis." Lucy membenarkan pengucapan pria itu.

__ADS_1


"Satu-satunya yang terpikirkan oleh saya adalah kalau suami Lin merupakan owner dari perusahaan ini. Dan nama lengkapnya adalah Nathanael Axelle."


__ADS_2