
Refleks, Lin mengusap-usap punggung Nate yang tertutup kaos singlet-nya. Ia berusaha memberikan kenyamanan pada pria itu.
Wanita itu sama sekali tidak mengerti apa yang sedang menimpa pria di pelukannya ini, padahal tadi ia terlihat baik-baik saja.
Merasakan pria itu yang mulai bergerak, Lin menunduk, menatap wajah Nate kembali.
"Nate?"
Wajah pria di depannya masih pucat, tapi ia tampak tidak terlalu berkeringat lagi.
"Maaf. Aku mual sekali tadi." Nate mulai menjauh dari Lin dan duduk menyender di sofa.
"Apa yang terjadi?"
Pria itu menggelengkan kepalanya. Ia meremas rambutnya kuat, tampak berusaha menghilangkan rasa mual yang masih ada di perutnya.
"Aku tidak tahan dengan baunya."
"Bau?"
"Temanmu."
Alis Lin terangkat naik. Apakah temannya sebau itu? Kenapa tadi ia tidak merasakannya?
Sepertinya pria itu tidak punya keinginan untuk menjelaskan lagi. Ia tampak memegang perutnya yang masih sedikit mual.
"Kamu mau teh hijau? Biasanya itu bisa menenangkan perut yang bergejolak."
Mendengar hal itu, Nate menoleh pada Lin. Ia mengerjapkan matanya.
"Kamu minum teh hijau?"
"Ya. Biasanya aku minum kalau aku juga merasa mual. Kamu mau?"
Wanita itu berdiri dan menuju pantry di dapur. Ia terbiasa menyediakan teh hijau di lemarinya, untuk jaga-jaga saat dia mual setelah pulang dari tiap kencannya yang gagal dulu.
Di pantry, Lin mulai meracik teh hijau seperti yang biasa dilakukannya. Sedangkan Nate yang masih duduk di sofa, hanya bisa memandang wanita itu dengan takjub.
Semakin lama aku mengenalmu, semakin aku menyukaimu, Lin.
Tidak lama, wanita itu membawa dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap panas dan kembali duduk di samping Nate.
Ia menyerahkan salah satunya pada pria itu. "Minumlah. Mungkin bisa membantu."
Berterima kasih, pria itu menerimanya dan mulai menghirup aromanya. Nate sedikit mengerutkan dahinya ketika mencium aroma asing.
"Kamu menambahkan sesuatu?"
Lin yang sedang meminum tehnya, memandang Nate dari balik cangkirnya. Wanita itu sedang bertanya-tanya, bagaimana caranya bau tubuh Nate bisa tidak membuatnya mual saat ini padahal pria itu tadi memeluknya dengan erat.
"Ya. Resep rahasiaku. Cobalah."
Perlahan, Nate menyesap teh yang masih panas itu.
Aliran teh yang hangat mengalir menuruni perut pria yang sedang bergolak itu. Tidak berapa lama, perutnya mulai terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Melihat pria itu secara perlahan menghabiskan teh di cangkirnya, membuat Lin terkekeh.
"Bagaimana? Enak?"
Nate memandangnya dan tersenyum lebar. Ia meletakkan cangkirnya yang telah kosong di meja. "Ya. Sangat enak. Bagaimana kamu membuatnya?"
Baru kali ini pria itu menyukai racikan teh hijau dari orang lain. Ia sama sekali tidak pernah mempercayai orang lain membuat teh untuknya sebelumnya.
"He-he. Rahasia." Lin mengedipkan matanya.
"Kamu punya bakat dalam bernegosiasi, Lin."
"Aku akan memberitahumu suatu saat nanti."
Wanita itu pun meletakkan cangkirnya yang juga telah kosong di sebelah milik Nate.
Penasaran, Lin menoleh pada pria itu.
"Sebetulnya tadi kamu kenapa, Nate? Saat di club tadi, sepertinya kamu masih baik-baik saja."
Mendapat pertanyaan yang sebetulnya tidak ingin dijawabnya, membuat Nate menyenderkan tubuhnya ke kepala sofa. Salah satu tangannya mengusap kepalanya sendiri.
"Sedikit memalukan sebenarnya. Kalau bisa, aku sejujurnya tidak mau menceritakan hal ini pada siapapun."
Posisi duduk Nate yang terlihat sangat maskulin, entah mengapa membuat Lin tertegun.
Ia baru menyadari kalau pria di depannya hanya mengenakan kaos singlet, yang memperlihatkan kedua bisepnya yang berotot padat tapi tidak berlebihan. Membuatnya masih tetap bisa terlihat langsing dalam balutan jas mahalnya.
Badan pria itu sangat terbentuk. Sangat jelas kalau ia menyukai kegiatan fisik yang cukup ekstrim, karena tubuh seperti itu tidak akan pernah didapat dari alat-alat yang ada di gym.
Hal ini membuat Lin sangat penasaran dengan latar belakang Nate, terutama sebelum ia mengalami perubahan.
Tanpa di sadarinya, tangan Lin memegang lengan atas pria itu. Ia meremasnya. Seumur hidupnya, Lin telah bertemu dengan banyak orang yang gemar berolahraga. Tapi tidak satu pun dari mereka yang memiliki fisik seperti pria itu.
Nate yang kaget mendapat sentuhan yang mendadak itu, hanya bisa termangu. Ia melihat wanita di depannya, yang tampak memandang lengannya seperti memandang benda asing.
Wanita itu memegang lengan Nate dan menimangnya tanpa sadar. Ia benar-benar seperti sedang menatap mainan yang baru pertama kali dilihatnya.
Sentuhan wanita itu, meski biasa saja tapi mulai menimbulkan desiran aneh di dada pria itu, membuat kedua matanya perlahan menghitam kembali. Apakah Lin mulai menyukainya?
"Lin?"
__ADS_1
"Eh?"
Lin tersadar sedang memegang lengan Nate, akhirnya melepaskannya terburu-buru.
Pipinya merona merah ketika meyadari bahwa ia telah menyentuh pria itu tanpa izin.
"Maaf."
Dengan malu, wanita itu bangkit dari duduknya dan tanpa bersuara membereskan cangkir-cangkir kosong mereka.
Meletakkan cangkir-cangkir yang kosong di wastafel di pantry, Lin mulai mencucinya perlahan. Ada apa dengan dirinya tadi?
Ia tadi merasakan dorongan yang kuat untuk menyentuh pria itu tanpa bisa ditahannya.
Menggelengkan kepalanya perlahan, ia pun memandang Nate. Posisi wastafel kebetulan memang berseberangan dengan sofa, memungkinkannya untuk mengobrol sambil tetap mencuci piring.
"Oh ya. Tadi bagaimana kelanjutan ceritamu?"
Nada bicara Lin dan ekspresinya yang sangat datar membuat harapan Nate yang tadinya menggelembung, perlahan mulai mengempis. Ternyata Lin memang tidak tertarik padanya.
"Cerita?" Suara Nate terdengar sedikit kecewa.
"Ya. Tadi kamu bilang itu memalukan. Kenapa?"
Nate menundukkan kepalanya sedikit. Ia sebenarnya malas membahas masalah yang tadi.
"Yah, intinya aku tidak bisa terlalu dekat dengan wanita manusia. Entah kenapa bau mereka membuatku mual."
Dahi Lin sedikit mengernyit mendengar penjelasan itu. Informasi ini hampir mirip dengan situasinya yang tidak bisa berada terlalu dekat dengan pria. Selain Nate.
"Tapi aku manusia Nate. Dan kamu sepertinya tidak apa-apa di dekatku."
"Hmm. Kamu memang berbeda. Tapi sebelum itu, kenapa tadi kamu memegang lenganku?"
Nate mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ia berusaha untuk menghindari topik yang berpotensi mengungkapkan informasi yang diketahuinya tentang Lin. Untuk saat ini.
Mengangkat kedua bahunya, wanita itu meletakkan cangkir-cangkir yang telah bersih di rak piringnya. Ia kemudian mengeringkan tangannya yang basah di lap bersih.
"Hanya penasaran."
"Penasaran?"
Perlahan, wanita itu kembali duduk di sampingnya dan menatap Nate.
"Apakah kamu menekuni olahraga tertentu, Nate?"
"Ya. Mungkin. Aku dan Marcus biasanya akan melakukan sky diving atau pun rock climbing saat kami ada waktu. Tapi akhir-akhir ini, kami sudah jarang melakukannya."
Meskipun kedua olahraga itu termasuk ekstrim, tapi tidak mungkin dapat membuat badan Nate sampai terbentuk seperti itu kecuali dia seorang atlet yang berdedikasi.
Pria itu terdiam. Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya, dan ia tidak tahu seberapa jauh ia akan dapat menjelaskan masa lalunya pada wanita di sampingnya ini.
Sadar dirinya yang terlalu blak-blakan, Lin menutup mulutnya.
"Oh, maaf Nate. Bukan maksudku untuk bertanya seperti itu. Kalau kamu tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja."
Sedikit malu, Lin bangkit kembali dari duduknya. Sudah dua kali ini dirinya mencoba melanggar batas. Hubungannya dengan Nate belum sedekat itu, untuk dia dapat menanyakan hal-hal yang sifatnya terlalu pribadi.
Tiba-tiba tangannya di tarik dan dengan perlahan, Lin pun diarahkan untuk duduk kembali.
Pria di depannya tersenyum dan memandangnya lembut dengan kedua mata hitamnya.
"Tidak usah meminta maaf. Kamu bisa menanyakan apapun padaku, Lin."
Nate memutuskan akan mencoba untuk mulai terbuka pada wanita di depannya ini. Ia berniat untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengannya. Setidaknya untuk beberapa hal, pria itu akan bersedia menceritakannya pada Lin.
Menggenggam kedua tangan Lin, Nate menunduk. Ia menyadari betapa mungil tangan wanita itu jika dibandingkan dengan tangannya sendiri. Rasa bersalah merayap di hatinya, ketika mengingat ia hampir memaksakan kehendaknya pada wanita itu.
"Dulu aku seorang prajurit. Seumur hidupku, aku habiskan untuk berperang."
"Kamu ikut peperangan? Maksudku benar-benar turun ke medan perang?"
Pria itu memandangnya dan menggangguk. "Ya. Peperangan di Perancis dan Eropa."
Wanita itu terdiam. Matanya tampak bertanya-tanya.
"Sebenarnya, berapa umurmu Nate?"
"Hem. Lebih dari 400 tahun."
Informasi ini membuat mata Lin melebar. Ia sama sekali tidak menyangka usia pria di depannya ternyata sudah sepanjang itu.
"Oh! Wow."
Komentarnya tidak mengandung kekaguman, malah sebaliknya. Ia ingin tahu bagaimana pria ini bisa bertahan dalam kehidupannya yang panjang, mengingat wanita itu sendiri belum ada setengahnya dari usia pria itu dan ia sudah mulai mengeluh.
"Apakah kamu... tidak kesepian? Setelah hidup selama itu?" Wanita itu bertanya hati-hati.
Pertanyaan Lin sedikit membuat hati Nate berdenyut sakit. Kata-kata itu membuatnya mengingat keluarganya yang tewas terbunuh dengan tidak adil.
Nate perlahan melepaskan tangan Lin dan bersender kembali di kursinya. Ia memandang menerawang ke depan.
Ia sebenarnya agak bingung menjelaskan mengenai sisi kesepiannya. Dan ia juga masih belum mau mengungkapkan tentang Marcus segamblang itu.
"Dulu... Aku punya keluarga kecil, tapi mereka telah meninggal terbunuh."
Akhirnya Nate memutuskan untuk menceritakan sedikit tentang keluarganya.
__ADS_1
Informasi lain yang membuat wanita itu terdiam. Sama sekali tidak pernah berfikir bahwa pria di depannya ternyata pernah menjadi seorang suami dan juga ayah.
"Seumur hidupku, aku hanya ingin mati dan menyusul mereka. Tapi tidak pernah bisa."
"Tidak pernah bisa?"
Lin sama sekali tidak mengetahui informasi lain mengenai kaum V, kecuali bahwa mereka berumur panjang dan hidup di sekitar manusia.
"Kami hanya bisa menunggu kematian datang menjemput karena masa usia yang telah habis. Atau pencipta kami sendiri yang mencabut nyawa ciptaannya kembali."
"Aku baru mendengar tentang hal ini."
Menyadari kalau topik ini menarik minat Lin, Nate menoleh dan tersenyum pada wanita itu.
"Tanyakanlah apa yang kamu ingin tahu."
"Jadi, maksudnya kamu tidak akan bisa terluka dan mati?"
"Aku bisa terluka, tapi proses kesembuhannya jauh lebih cepat dari manusia biasa. Membuatku tidak bisa mati hanya dengan luka biasa."
Lin menyadari kalau hal ini ternyata sama dengan kondisinya, yang juga memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang cepat. Tapi untuk saat ini, ia masih belum berani mengungkapkan tentang dirinya pada Nate.
Mengerjapkan mata, rasa ingin tahu Lin menjadi lebih besar ketika ia mengingat sesuatu.
"Apa warna darahmu?"
Ia cukup penasaran mengenai hal ini, mengingat pria di depannya memiliki kulit pucat dan urat-uratnya sedikit kelabu di bawah permukaan kulitnya.
Meski hal ini tidak terlalu kentara, tapi saat berada dalam ruangan terang, maka perbedaan ini akan cukup terlihat signifikan dibanding manusia normal lainnya. Terutama bila bakat kulitnya yang memang sudah putih dan cenderung pucat, seperti Nate.
"Hitam." Informasi baru lagi bagi Lin.
"Apakah aku boleh melihatnya?"
Alis Nate terangkat dan matanya bertanya-tanya. Baru kali ini ia mendengar ada seseorang yang ingin melihat warna darah orang lain.
"Kenapa?"
Wajah Lin tampak berbinar-binar. "Entahlah. Tapi kalian sangat menarik. Terus terang, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan kaum kalian. Jadi aku sedikit penasaran."
Nate masih sedikit bingung, tapi memutuskan untuk mengabulkan permintaan wanita itu.
"Baiklah. Mungkin aku bisa menggigit tanganku sedikit."
Lin langsung memukul lengan Nate yang tampak mulai terangkat menuju mulutnya.
"Kamu jorok sekali, Nate! Tunggu di sini, aku akan mengambil sesuatu."
Terkekeh, pria itu melihat Lin berdiri dan masuk ke kamarnya sendiri. Ia tadi hanya bercanda dengan wanita itu.
Tidak lama, Lin kembali ke ruang duduk sambil membawa sebuah kotak kecil.
Setelah duduk kembali, ia membuka kotak tersebut yang ternyata berisi berbagai macam jarum dan benang jahit. Wanita itu mengambil salah satu jarum yang berukuran sedang.
"Aku hanya ingin menusukmu sedikit. Apakah boleh?"
"Apakah itu steril?"
Tersenyum sinis, wanita itu membalas, "Apakah kamu bisa terkena penyakit tetanus?"
Nate nyengir lebar. "Tidak."
"Kalau begitu, tidak ada masalah. Ayo, kemarikan tanganmu."
Sedikit memaksa, Lin mengambil salah satu tangan Nate. Pria itu terlihat pasrah ketika wanita itu mulai mengarahkan jarum jahitnya pada jari telunjuk tangan kanannya.
Tampak tusukan kecil dilakukan oleh Lin di jari Nate, yang hampir tidak dirasakan oleh pria itu. Setitik darah yang berwarna hitam mulai keluar dari luka yang terbuka tersebut.
"Ternyata benar warnanya hitam." Wanita itu berkomentar. Matanya bersinar.
Jari-jarinya sedikit menekan telunjuk Nate untuk mengeluarkan darahnya agak banyak. Ia ingin melihat lebih jelas.
Saat itu, ponsel di saku celana Nate berbunyi. Sedikit sulit, pria itu mengeluarkannya dan melihat yang menelepon ternyata asistennya.
"Marcus."
Pria itu baru sempat menjawab ponselnya, ketika ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang basah dan terasa geli di jari telunjuknya.
Ketika menoleh ke sampingnya, pemandangan di depannya membuatnya cukup shock. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya karena saking terkejutnya.
Lin ternyata sedang mengulum jari telunjuknya. Matanya memejam, tampak menikmati.
"Li-Lin? A-Apa yang kamu lakukan?" Suara Nate terdengar seperti tercekik.
Jantung pria itu bertalu-talu di dadanya. Marcus yang mendengar perkataan atasannya, terdengar mulai panik dan memanggilnya.
"Aku tidak apa-apa, Marc." Dengan segera, Nate mematikan ponselnya.
Mendengar suara pria itu, Lin mulai membuka kedua matanya perlahan.
Kedua matanya yang tadinya coklat terang tampak menghitam, dan Nate melihat bahwa kedua gigi taring wanita itu terlihat sedikit memanjang.
Pria itu merasakan sesuatu yang tidak beres pada wanita di depannya. Pandangan wanita ini padanya, sama persis seperti dirinya saat pertama kali melihat Lin. Pandangan yang bern*fsu.
Menelan ludahnya dengan sulit, pikiran Nate mulai kalut. Oh Tuhan. Karma memang ada.
Ia terlihat pasrah menanti nasib yang siap untuk menimpanya.
__ADS_1