
Sementara itu, telepon di atas meja kerja Marcus tiba-tiba berbunyi nyaring. Hal ini cukup mengganggu pria itu yang sedang serius menelaah beberapa laporan keuangan yang sebelumnya telah ia bahas bersama dengan atasannya pagi tadi.
"Halo." Suara seraknya menunjukkan rasa tidak suka karena telah diganggu saat bekerja.
"Selamat malam Pak Marcus. Saya dengan Donald, maaf mengganggu Anda."
Donald adalah sekretaris pria itu, menggantikan Jon yang dimutasi ke salah satu negara lain.
Menyadari yang menelepon adalah sekretarisnya, Marcus melirik jam di tangan kirinya.
"Ada apa, Don? Bukannya tadi kamu sudah pulang?"
"Barusan, saya mendapatkan telepon dari perwakilan Allard Corp. Dari mereka meminta untuk bertemu dengan Anda, terkait dengan kejadian pagi tadi."
Menyenderkan punggung di kursinya, alis pria itu terangkat naik. Secepat ini?
"Apa yang mau mereka bahas?"
"Mereka tidak mau mengatakannya secara langsung, tapi mereka meminta waktu Anda untuk bertemu dulu untuk mendiskusikannya. Mereka akan membawa perwakilan pengacaranya."
Marcus mengingat pria tambun yang tadi pagi berani mengancamnya, di dalam lobi perusahaannya sendiri.
Pria dingin itu sudah memerintahkan orang di luar kantor untuk menyelidiki pria bernama Mark Adler itu, dan menemukan kalau ternyata ia hanyalah orang dengan kemampuan biasa saja, namun punya mulut dan cara kerja yang sangat berbisa.
Mark telah kawin-cerai beberapa kali, dan dengan kasus kekerasan domestik yang sama. Namun uang kompensasi yang cukup besar diberikan pada para mantan isterinya dulu, membuat hal ini teredam dan terkubur sangat dalam.
Saat ini, pria itu pun dalam proses perceraian dengan Lucy dan sedang memperebutkan hak asuh anak mereka.
Track record pribadi pria pengacara itu sangatlah kacau, tapi masalahnya ia mampu memenangkan beberapa kasus yang melibatkan keuntungan dari perusahaan tempatnya bekerja dulu, membuatnya cukup mendapatkan tempat di profesinya saat ini.
Meski orang-orang di sekitarnya tahu kalau Mark menempuh berbagai cara ilegal untuk memenangkan kasusnya, tapi siapa juga yang mau berurusan dengannya jika tahu bahwa hal tersebut justru dapat memberikan pemasukan yang sangat besar bagi perusahaan mereka.
Hasil dari penyelidikan sementara baru pada tahap bahwa pria tambun itu telah pindah kerja beberapa kali, dan di perusahaan terakhir pun ia baru tergabung selama kurang dari 2 bulan.
"Katakan pada mereka kalau saya tidak punya waktu untuk hal sepele ini, terkecuali mereka mau membawa masalah ini ke jalur hukum. Kita akan meminta perwakilan pengacara perusahaan untuk menghadapi mereka secara langsung di pengadilan."
"Baik Pak. Saya mengerti. Saya akan menginformasikan hal ini pada perwakilan Allard Corp."
Tiba-tiba, Marcus baru menyadari satu hal. Satu hal yang membuat otaknya berfikir sejenak.
"Sebentar Don. Kamu tadi bilang Allard Corp.?"
"Betul Pak."
"Maksudmu, pengacara tambun itu bekerja untuk Allard Corp.?"
"Benar Pak Marcus. Itu yang saya katakan tadi."
Marcus mengarahkan pandangannya ke luar jendela yang menampilkan pemandangan gelap. Ia teringat pada kejadian sangat jauh ke belakang, yang membuatnya menggertakan giginya.
"Pak Marcus?" Donald sang sekretaris bertanya kembali, ketika atasannya masih terdiam.
"Kapan mereka meminta untuk bertemu?"
"Tadinya mereka meminta jadwal Anda di hari Senin Pak, mengingat besok sudah week end."
__ADS_1
"Don. Saya berubah pikiran. Tolong kamu percepat waktu pertemuannya jadi besok dan wakilkan saya untuk bertemu langsung dengan mereka. Tanyakan apa mau mereka, dan-"
Marcus mengepalkan tangannya yang bebas. Dalam hatinya, ia berharap untuk yang terbaik.
"Selidiki siapa pemilik Allard Corp."
Setelah itu, ia mematikan teleponnya.
Masih memandang kegelapan malam di depannya, Marcus hanya bisa berharap bahwa apa yang sedang dipikirkannya saat ini tidak akan menjadi kenyataan nantinya.
Di saat yang sama, Lin masih terlihat belum memberikan respon untuk pertanyaan Nate.
Ia bahkan masih dalam tahap mencoba untuk menyerap dengan sempurna semua informasi bertubi-tubi yang baru diterimanya dari pria itu.
Dan kini, kembali harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ayah yang belum pernah ditemuinya hanya memiliki waktu 6 bulan lagi untuk hidup?
Melihat wanita di depannya masih terdiam, Nate berusaha untuk mendesaknya.
Pria itu terpaksa untuk sedikit memaksa Lin, karena ia ingin agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan. Terutama karena ia juga masih memiliki masalah pribadi dengan ayah dari wanita yang disukainya ini.
"Lin? Kamu dengar aku?"
Mengerjapkan matanya, Lin sedikit mengangguk.
"Ya. Ya. Aku dengar, Nate."
Nate sedikit meremas bahu Lin kembali, mencoba untuk mendorongnya untuk segera mengambil keputusan.
"Jadi. Bagaimana keputusanmu?"
Wajah Lin tampak berkerut dan sedikit memerah. Dalam hati, Nate sedikit merasa bersalah tapi saat ini, ia sudah tidak mau bersabar lagi.
Ia mungkin masih bisa menunggu mekarnya perasaan Lin pada dirinya, tapi untuk dapat memastikan agar Lin tetap berada di sisinya? Ia sudah tidak bisa bersabar lagi.
Ia sudah menunggu terlalu lama. Ia harus segera menandai wanita ini.
Saat ini, Nate benar-benar sudah merasa mantap dengan pilihannya. Dan ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita itu.
Tapi melihat keadaan Lin yang sangat galau, membuat Nate mencoba sedikit menurunkan egonya. Ia pun meraih kedua tangan mungil itu, dan menggenggamnya di tangannya.
"Apa yang membuatmu masih ragu, Lin? Katakan padaku."
Tangan yang ada di pangkuannya sedikit bergetar, membuat Nate mengusap-usapnya pelan. Menenangkannya.
Kedua alis Lin mengernyit. Tenggorakannya terasa kering, membuatnya sulit berbicara.
Lin hanya bisa menunduk ketika ia mengucap pelan. "Aku takut, Nate."
Pria itu meremas tangan Lin pelan. "Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut kalau dia tidak menerimaku, Nate."
Ketika akhirnya Lin mengangkat wajahnya, raut Nate sedikit pias. Ekspresi Lin terlihat sangat sakit. Sangat ketakutan. Seperti seorang anak kecil yang kehilangan arah.
"Seumur hidupku, aku mempercayai kalau aku anak yang tidak diinginkan. Bahkan ibuku pun pernah berniat untuk menggugurkan aku."
__ADS_1
Ia mendongakkan kepalanya, berusaha menahan air matanya.
"Kamu tahu rasanya, Nate? Dia bahkan mengatakan hal itu saat di akhir masa hidupnya."
Kalimat wanita itu membuat Nate sudah tidak bisa mendengarnya lagi. Ia menarik tubuh Lin dan memeluknya erat.
"Dia bahkan tidak pernah mau memandangku saat berbicara. Tidak pernah satu kali pun memelukku. Aku tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang ibu."
Seumur hidupnya, baru Nate-lah yang pernah menunjukkan seperti apa rasanya disayangi oleh seseorang. Lin benar-benar baru bisa merasakan nyamannya memiliki kedekatan fisik dengan seseorang, ketika bersama dengan pria itu.
Lin meremas bahu Nate dengan kuat. Ia sangat butuh kekuatan dari seseorang saat ini.
"Bagaimana kalau ayahku pun tidak pernah menginginkan aku? Dia bahkan meninggalkan aku ketika aku masih belum lahir ke dunia. Bagaimana kalau dia memang membenciku?"
Pertanyaan itu membuat Nate sedikit menjauhkan tubuhnya. Ia memegang kedua sisi kepala Lin dan memandangnya tepat di kedua matanya.
"Bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau ayahmu sebenarnya sangat menginginkan kehadiranmu? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tapi dia meninggalkan aku, Nate. Dia meninggalkan aku ketika aku bahkan masih berada dalam kandungan!"
Secara perlahan, Nate mengusap air mata wanita di depannya. Ia pun memberikan kecupan dalam pada kedua mata Lin yang masih mengeluarkan air.
Terakhir, Nate mencium keningnya. Bibirnya masih berada di dahi Lin ketika ia bertanya.
"Apakah kamu tidak mau mencari tahu?"
Nate kembali memandang wanita itu dan memegang kedua sisi kepalanya.
"Tidakkah kamu mau menunutut penjelasannya? Setidaknya kamu akan mendapatkan jawaban yang memang kamu cari selama ini, meski mungkin hal itu bisa membuatmu sakit."
Kata-kata Nate yang perlahan masuk ke otaknya, membuat air mata Lin mulai berhenti mengalir di pipinya. Ia mengerjapkan matanya.
"Kamu diberikan peluang untuk mencari tahu, Lin. Dan langsung dari sumbernya. Apakah kamu yakin mau meninggalkan kesempatan ini?"
Air mata Lin benar-benar berhenti. Saat ini, logika wanita itu mulai berjalan menggantikan sisi emosionalnya yang tadi sempat muncul ke permukaan.
Menarik nafasnya, Lin akhirnya berani untuk menatap pria di depannya.
"Apakah aku benar-benar bisa bertemu dengannya?"
Pria di depannya menganggukkan kepala dengan mantap. Bibirnya terlihat tersenyum samar.
"Kalau kamu mau, aku akan menemanimu."
Lin masih belum yakin dengan perasaannya pada Nate. Tapi ia tahu pasti kalau saat ini hatinya benar-benar merasa lega dan bahagia mendengar perkataan pria itu.
Ia mengusap pipi Nate, dan mengelus bibirnya pelan. Saat menatap mulutnya, wanita itu berfikir bahwa mulut itu selalu dapat mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa tenang.
Wanita itu tidak pernah merasa dihakimi di hadapannya dan merasa diterima apa adanya.
Dengan lembut, Lin memberikan kecupan singkat pada bibir itu dan memeluk tubuhnya erat.
"Terima kasih, Nate." Helaan nafasnya terdengar lega ketika Lin mengeluarkannya.
Terpana dengan kejadian barusan, membuat Nate baru bisa membalas pelukan itu beberapa saat kemudian. Menutup kedua matanya, hatinya berdoa.
__ADS_1
Ia berdoa semoga ia benar-benar telah menemukan pasangan jiwanya saat ini. Dan semoga, Lin pun segera membalas perasaannya.