Madness

Madness
Bad Boy


__ADS_3

   Ini hanyalah sebuah karya fiksi. Nama, tokoh, cerita/peristiwa merupakan unsur fiktif belaka, yang diciptakan oleh "saya" selaku penulis cerita.


Warning! Cerita ini dibuat hanya sebagai sarana hiburan, tidak untuk dipraktikkan atau pun dicontoh beberapa unsur di dalamnya.


Noted: Berdasarkan banyak alasan saya mengubah seluruh isi cerita dari yang pernah diterbitkan sebelumnya. Terima kasih.


..


...


🌸


Berlari kencang napasku memburu. Keringat pun mulai membasahi pelipis, tengkuk dan punggungku, lelah sekali. Tapi untuk berhenti, aku tidak bisa.


Suara gonggongan di belakang memperingatkanku dengan jelas, aku tidak boleh berhenti.


Ugh, rasanya jantungku akan lepas hanya dengan melihat mulut bertaring itu meneteskan air liurnya. Jika tertangkap pasti aku akan dimakan, ralat, digigit. Kulitku akan tercabik oleh kuku-kuku tajamnya yang merah, berdarah, perih, sakit, dan bagaimana jika aku terkena rabies? Tidak, terima kasih. Aku akan berlari saja hingga ke tempat aman.


Tring!


Pintu gerbang kututup dengan segera membuat anjing besar berjenis Chihuahua itu terperangkap di sana. Dia menggonggong lagi. Dasar menakutkan. Harusnya kuminta ibu membuang hewan buas itu saat ada kesempatan.


Melirik ke arah jam yang melingkar di tangan mataku membuat.


"Tidak! Aku tertambat."


Dengan terpaksa, berlari lagi jadi pilihan agar aku tidak semakin membuat kekasihku menunggu.


**


**


"Kamu jelek. Kita putus aja."


A-apa?


Kekasihku, ralat, mantan kekasihku, Park Jimin si cowok berengsek pecinta bentuk fisik itu melenggang pergi setelah menatap--meremehkan padaku.


Rasa sesak merunjam tubuhku. Aku bangun pagi-pagi, dikejar oleh Mickeyㅡpeliharaan kakaku yang kejam, padahal dia tahu aku benci binatang. Jatuh tersandung batu di jalan hanya untuk menemuinya di taman setelah sekian lama ia menghilang.


Aku senang semalam Jimin menghubungi minta bertemu, kupikir dia juga rindu padaku. Tapi ternyata.... Aku diputuskan seperti ini.


Tawaku pecah.


Benar-benar cowok berengsek!


Memangnya dia tampan? Tinggi di bawah rata-rata dengan sepasang kaki pendek dan jari-jari gemuk pandak itu. Cih! Cuman modal tampang.


Kenapa aku bisa menerimanya dulu?


Dan, kenapa juga hujan membasahi dress kesukaanku?


Kenapa tubuhku bergetar, kenapa aku ... merasa sesak dan kosong? Kenapa?


Kenapa aku tidak cantik....

__ADS_1


**


**


Kacamata bulat. Sudah dilepas.


Gaya berpakaian. Trendi.


Make-up secukupnya. Ready!


Tinggal....


Aku menatap Kak Jun dan sepatu converse merah yang disodorkannya padaku.


"K-kak, serius aku harus pakai ini?"


"Ini bagus. Cocok sama kamu." Kak Jun mengangguk antusias. "Kaki kamu panjang, mulus, se-"


Aku bungkam mulutnya sambil berdecak kesal. "Dasar lelaki!"


Lagian selera Jimin dan Kak Jun itu mana bisa disetarakan. Jimin itu ... menyukai gadis manis dan baik hati, terlepas dari sikap iblisnya padaku. Seenaknya saja minta putus.


Kak Jun tertawa.


"Yaudah," katanya, "beli sepatu yang menurut kamu bagus aja."


Aku senyum. Narik Kak Jun ke toko sebelah buat milih sepatu lain.


Begitu masuk sepasang sepatu yang dipajang di etalase depan langsung menarik perhatian. Dolly-shoes berwarna peach.


"Kamu yakin?" Kak Jun tiba-tiba tanya.


Menjilat eskrim cone-ku lalu melirik Kak Jun yang duduk di tanah--dia terlihat lelah, wajar saja aku berbelanja dari empat jam lalu dan dia membawa semua tas belanjaannya. Ha ha ha.... Keana jahat.


Aku senyum ke Kak Jun." Yakin, dong," kataku mantap. "Aku mau bikin Jimin nyesel udah mutusin aku."


Mendengar alasanku Kak Jun geleng-geleng kepala. Bangun dia jinjing lagi tas belanjaanku. Ngulurin tangan kanannya dia bilang, "Yuk, pulang. Udah sore."


Aku mengangguk.


Bangun, aku meraih tangan Kak Jun. Kami harus pulang.


**


"Kak Jun, Ana cantik, gak?" Aku memutar badan, menunjukkan gaun dan riasan yang kupakai untuk hari penting ini.


Ya, hari penting.


Kak Jun menatapku. Bergeming, fokus ... lalu tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya ke arahku. Lesung pipinya yang dalam terlihat menawan.


Aku merasa tubuhku gemetar.


Eh-


Berbalik, aku merogoh saku gaunku. Ternyata ada pesan masuk. Pantas saja, aku sengaja mengaktifkan mode getar di gawaiku agar tidak mengganggu.

__ADS_1


Menyalakan layar aku memasukkan kembali gawai itu. Ternyata hanya operator. Menyebalkan.


"Yukk, Kak, berangkat. Telat, nih." Aku menyambar lengan Kak Jun. Menyeretnya ke luar.


Aku harus cepat. Tidak boleh terlewatkan apa pun.


Lagi ... aku penasaran gadis mana yang membuat Jimin berengsek itu, meninggalkanku.


Kemudian fakta itu sungguh menamparku.


Aula pernikahan itu cukup sederhana, tapi manis. Taburan bunga terlihat di sepanjang karpet merah yang membentang. Cantik sekali.


Berbagai jenis bunga dengan merah dan putih turut andil mengambil bagian untuk menghias meja-meja yang ada.


Putih, sepertinya menjadi tema acara ini. Putih yang suci, sepertinya acaranya. Pernikahan suci.


Ugh ... harusnya aku dan Jimin yang menikah bukan Jimin dengan orang lain.


"Ana, kau yakin ingin melihat?" tanya Kak Jun untuk ke tiga puluh kalinya.


Aku sampai bosan menjawabnya. Jadi kulayangkan saja tatapan tajam menusukku ke arahnya membuat ia tersenyum lebar dan memalingkan wajah.


"Umn ... Kak, kenapa yang datang sedikit sekali?" tanyaku, menatap ke sekeliling.


Aula ini memang tidak terlalu luas, tapi aku tidak menyangka jika yang datang akan sesedikit ini. Hanya ada sedikit sekali orang dalam ruangan.


"Nanti juga tau alasannya," jawab Kak Jun.


Kembali menatap ke depan aku tahu, aku harus menunggu untuk mendapatkan jawaban.


Dua orang pria bertuksedo hitam dengan bunga mawar yang terselip di dada kiri mereka menjadi jawabannya dan salah satu dari pria itu aku mengenalnya.


Jimin ... lelaki berengsek itu ... dia di sana menggandeng lengan pria di sampingnya, dengan buket bunga di genggamannya.


.


.


.


Namaku Keana, memiliki cinta pertama seorang lelaki berengsek yang memutuskanku demi menikahi orang lain.


Lebih tepatnya ... pria lain.


Menyedihkan....


...


...


Pernah diikutsertakan dalam tugas


#TugasCerpen_Thata4


Cianjur, 19 Agustus 2019

__ADS_1


__ADS_2