Madness

Madness
Chapter 31


__ADS_3

Sorenya, Lin baru selesai membersihkan apartemennya ketika bel pintu tiba-tiba berbunyi.


Mengira yang datang adalah Nate, Lin langsung membuka pintunya begitu saja tanpa mengitip dari lubang pintu.


Senyum lebar tampak sudah terpasang di wajahnya ketika ia baru menyadari bahwa yang datang ternyata bukan pria yang sedang ditunggunya, melainkan pria menyebalkan tadi pagi.


"Selamat sore."


Pria berambut merah itu berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah pring yang mengeluarkan bau harum.


Senyum Lin langsung menghilang dengan cepat dan berganti dengan kernyitan di alisnya.


Sadar kalau wanita di depannya tidak menyukai kehadirannya, pria itu langsung mengulurkan piring yang sedang dibawanya tadi.


"Untukmu. Sebagai tanda perkenalan dan permintaan maafku tadi pagi."


Lin sebenarnya tidak mau menerimanya, tapi ia juga tidak mau bersikap terlalu keterlaluan pada tetangga barunya ini.


"Terima kasih." Ia menjawab kaku setelah dengan sungkan menerima piring tersebut.


Belum mau pergi, pria itu malah mencoba mengintip ke dalam apartemen Lin.


"Apakah aku boleh-"


"Tidak." Potong Lin dan langsung menutup pintu di depan hidung pria itu untuk kedua kalinya.


Lin baru saja meletakkan piring itu yang ternyata berisi kue bolu yang baru matang ke atas pantry dengan asal-asalan, ketika bel pintu kembali berbunyi nyaring.


Kesal, ia kembali membuka pintu dengan cukup kasar dan membentak.


"Apalagi maumu!"


"Lin?"


Wanita itu baru sadar bahwa yang datang ternyata adalah Nate dan bukan pria menyebalkan tadi. Wajahnya langsung memanas malu.


Menoleh ke kiri dan ke kanan, ia tidak melihat keberadaan pria berambut merah tadi di lorong apartemen. Lin pun menarik tangan Nate untuk langsung masuk ke dalam.


Setelah pria itu masuk, Lin langsung menutup pintunya dengan rapat.


Saat masuk ke apartemen Lin, Nate dapat mencium bau asing samar yang datang dari arah pantry. Perlahan ia menghampiri sumber bau itu, dan melihat datangnya ternyata dari piring yang berisi kue bolu yang masih hangat.


Nate dapat mencium aroma V yang cukup kuat datang dari piring tersebut, dan ia tahu kalau itu adalah bau laki-laki. Alisnya mengernyit tidak suka.


"Punya siapa ini, Lin?"


"Tetangga baruku. Tadi dia datang dan memberikan kue itu untukku." Lin menjawab malas.


Tanpa di duga, Nate melihat Lin dengan santai membuang kue itu beserta piringnya ke dalam tong sampah yang terbuka.


"Kamu membuangnya?"


Meski makanan manusia bukan makanan utamanya, tapi pria itu tetap merasa sayang untuk membuang-buang makanan.


"Aku tidak menyukai orang itu."


Hati Nate merasa senang mendengarnya, karena tadi tanpa diinginkannya rasa cemburu mulai muncul di hatinya.


Melihat Lin duduk di sofa sambil cemberut, Nate pun menyusul untuk duduk di sampingnya. Ia masih menimbang, apakah apakah akan menceritakan atau tidak kalau tetangga baru Lin bukanlah seorang manusia biasa.


Saat sedang berfikir, Nate tiba-tiba merasakan kalau jari-jemari tangan kirinya sedang dimainkan oleh Lin di pangkuan wanita itu.


"Lin?"


"Hmm?"

__ADS_1


Tangan Nate yang kuat yang hangat, entah kenapa memberikan rasa aman bagi wanita itu. Sangat berbeda jauh saat Lin menatap jari-jemari pria bermata biru tadi.


"Kamu tidak apa-apa?"


Lin menolehkan kepala pada Nate. Bibirnya tampak tersenyum.


"Aku tidak apa-apa. Cuma agak gugup."


"Kemarilah." Nate menepuk pahanya, membuat muka Lin langsung memerah.


Tidak banyak protes, dengan wajah masih memerah, Lin pun naik ke pangkuan Nate. Ia pun langsung merebahkan kepalanya di bahu pria itu dan merasakan rangkulannya yang mantap di punggung dan pahanya.


Aroma Nate yang kuat di lehernya, membuat Lin semakin mendekatkan wajahnya ke leher pria itu. Ia pun tanpa sadar menggosokkan hidungnya ke sana.


Nate sedikit meremang ketika merasakannya, namun tetap mengusap-usap lengan Lin dan mencoba menikmati keberadaan satu sama lain dalam keheningan.


Tidak lama, kedua tangan wanita itu terangkat untuk memeluk erat bahu pria di sampingnya. Lin semakin mendekatkan mulutnya ke arah leher Nate dan tanpa disadarinya, lidahnya menjilati area itu.


Tubuh Nate terasa bergetar mendapatkan stimulus yang sama sekali tidak disangkanya.


Ia sedikit menolehkan kepalanya, tapi tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang sedang dipeluknya.


"Lin?"


Mendengar panggilan Nate, Lin mengerjapkan matanya. Ia baru sadar kalau mulutnya sedang terbuka, dan mengarah untuk menggigit leher pria itu. Ia juga baru menyadari kalau kedua taringnya telah memanjang tanpa diketahuinya.


Takut melakukan sesuatu yang tidak dimengertinya, Lin langsung turun dari pangkuan Nate. Jantungnya berdebar dengan kencang. Apa yang akan dilakukannya tadi?


"Lin? Kamu kenapa?"


Tatapan Nate tampak bingung melihat Lin tiba-tiba menjauh darinya. Ia masih ingin memeluk wanita itu lebih lama.


"Tidak apa-apa, Nate. Aku hanya mau mengambil minum."


Lin langsung berjalan menuju kulkas. Mukanya terlihat pias. Ia takut kalau tanpa disadarinya, ia akan menyakiti Nate.


"Kamu mau minum, Nate?" Tanpa berbalik, Lin bertanya pada pria di belakangnya.


"Tidak. Terima kasih."


Nate hanya menatap punggung wanita di depannya. Benaknya masih bertanya-tanya mengenai perilaku Lin yang tiba-tiba terlihat sedikit menghindarinya.


Berlindung di salah satu meja pantry, Lin menaruh botolnya yang isinya tinggal setengah. Ia memutuskan untuk menanyakan mengenai hal ini pada Nate.


"Nate. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu."


Kepala Nate menoleh padanya. Ia sebenarnya ingin menghampiri Lin, tapi takut ditolak. Setelah menyadari perasaannya yang cukup dalam pada wanita ini, tampaknya emosi Nate menjadi lebih sensitif.


"Apa itu?"


Lin terlihat memainkan botol air yang ada dihadapannya dengan sedikit gugup.


Ketika matanya memandang pria di seberangnya, ia langsung bertanya.


"Apakah sesama kaum V dapat saling menyakiti?"


Nate mengalihkan pandangannya ke arah layar TV yang berwarna hitam di depannya.


"Kalau yang kamu maksud apakah kami dapat saling membunuh, maka jawabannya tidak."


Jawaban itu tampak sedikit memberikan angin segar pada Lin.


"Jadi, meski kalian berkelahi dan saling menggigit misalnya. Kalian tetap tidak akan bisa mati karena hal itu?"


Kembali menolehkan kepalanya pada wanita itu, Nate tersenyum samar.

__ADS_1


"Ya. Sebenarnya cukup membuat frustasi, apalagi kalau kita memang benar-benar membenci seseorang. Kita tidak akan pernah bisa membunuhnya."


Nate terlihat terkekeh dengan leluconnya sendiri.


Mendengar hal itu, membuat Lin melangkah keluar dari persembunyiannya.


Ia pun langsung kembali duduk ke atas pangkuan pria itu, membuat Nate terkejut dengan perilakunya yang berubah-ubah.


Mengusap-usap lengan wanita di pelukannya, Nate mencium dahi Lin perlahan.


"Kamu sebenarnya kenapa, Lin?"


Nate merasakan kepala wanita yang bersender di lehernya hanya menggeleng pelan. Tangan Lin terasa memeluk tubuhnya dengan lebih erat.


"Peluk aku lebih erat, Nate."


Tersenyum mendengar permintaan yang baru pertama kali didengarnya, membuat Nate dengan senang hati melakukannya.


Mereka akhirnya menghabiskan waktu beberapa lama hanya saling mengusap dengan pelan. Tidak ada yang saling berbicara. Masing-masing hanya menikmati kehadiran satu sama lain.


Waktu telah menunjukkan angka di pukul 19.30, saat Lin mulai merasakan kantuk di matanya.


"Lin?"


"Hmm?"


"Sudah jam 19.30. Sudah waktunya."


Tangan Nate masih mengusap-usap punggung wanita di pangkuannya. Ia juga sebenarnya tidak ingin beranjak dari posisinya, tapi ada hal lain yang lebih penting harus dilakukan.


Perlahan, Lin mulai melepaskan pelukannya dari bahu Nate. Ia masih terduduk dengan lesu di atas pangkuan pria itu. Matanya terlihat sayu dan mengantuk.


Pemandangan ini membuat Nate tidak bisa menahan dirinya. Dengan cepat, pria itu langsung mencium bibir wanita mengantuk di depannya dengan cukup agresif.


Mendapatkan serangan tiba-tiba itu, membuat mata Lin otomatis melotot dan ia pun kembali memegang lengan atas Nate dengan kencang karena takut terjatuh.


Mulai terdorong oleh hasrat terdalamnya, salah satu tangan Nate bergerak ke area dada Lin dan meremasnya perlahan. Ia mengusap-usapnya, memberikan rangsangan.


"Hmmh..."


Hal ini membuat kebutuhan lahiriah wanita itu pun naik dengan cepat. Ia memegang pergelangan tangan Nate dengan kencang dan lebih menekankan ke dadanya.


Sama seperti serangannya yang datang mendadak, Nate pun dengan tiba-tiba melepaskan ciumannya begitu saja dari mulut wanita di pangkuannya.


Bibir Lin terlihat memerah dan membengkak. Wajahnya bersemu dan matanya terlihat sayu.


Jika kontrol pikiran pria itu tidak kuat, mungkin Nate sudah akan memboyong wanita yang terlihat pasrah ini ke kamar tidur.


"Sebaiknya kamu mencuci mukamu dulu, Lin. Kamu terlihat sangat mengantuk."


Kata-kata Nate secara perlahan mulai terserap oleh otak Lin yang saat ini terasa kosong. Ia pun dengan perlahan bangkit dari posisinya, dibantu oleh pria di belakangnya.


Dalam hatinya, Lin sedikit merasa malu. "Tunggu sebentar. Aku akan ganti baju dulu."


Setelah itu, Lin pun mulai melangkah ke kamar tidurnya. Ia sedikit sempoyongan.


Tersenyum melihat tingkah Lin, Nate pun kembali menyenderkan tubuhnya di sofa. Ia mencoba untuk meredakan hasratnya sendiri yang masih tersisa saat ini.


Baru kali ini, ia benar-benar merasakan kebutuhan yang cukup kuat untuk dapat memuaskan hasrat lahiriahnya.


Bahkan selama menikah dulu pun, Nate melakukannya dengan isterinya hanya karena kewajiban. Dan mereka pun hanya melakukannya sebanyak dua kali sepanjang pernikahan mereka yang cuma berusia tujuh tahun.


Setelah memastikan bahwa benih Nicholas telah tumbuh dalam perut isterinya, mereka pun mulai kembali ke aktivitas masing-masing. Nate dengan karir perangnya dan Coraline dengan kesibukannya sebagai pengelola estate.


Suami-isteri itu pun tidur dalam kamar yang terpisah. Dan sepanjang pernikahan mereka, tidak pernah ada yang saling meminta jatahnya. Tampak bahwa kebutuhan itu hanyalah sepersekian persen dari hal lain yang lebih menjadi prioritas mereka dalam hidup.

__ADS_1


Hal ini sangat jauh berbeda ketika ia bersama dengan Lin. Saat berada di sekitar wanita itu, Nate benar-benar harus menahan tangannya untuk tidak menyentuhnya.


Selama hidupnya, baru kali ini ia merasakan rasa posesif pada sesuatu. Saat ini, Nate benar-benar butuh untuk mengklaim bahwa wanita itu adalah miliknya, dan hanya miliknya seorang.


__ADS_2