Madness

Madness
Chapter 78


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, terlihat sosok Marcus yang tegang sedang berdiri di depan ruangan bertuliskan 'Private'. Baru kali ini pria dingin itu merasakan keringat membasahi tulang belakangnya dan turun ke pinggangnya.


Ini adalah hari pertama Nate masuk kerja dan pria itu telah memanggil asistennya untuk datang ke ruangannya. Ia akan bertemu kembali dengan atasannya, sejak insiden beberapa hari lalu di penthouse Nate.


Setelah kejadian itu, Nate lebih sering menghubungi Marcus dengan menggunakan telepon atau email, dan sama sekali tidak mengizinkannya untuk datang ke rumahnya.


Pertama kali dalam hidupnya, Marcus merasakan rasa rindu yang amat sangat untuk seseorang. Dan rindu itu ia tujukan untuk seorang anak perempuan kecil yang sama sekali belum mengerti arti kehidupan.


Ia ingin bertemu dengan orang yang dirindukannya tapi sebelumnya, Marcus tahu kalau ia harus bisa menaklukkan lebih dulu orang yang sedang ada di balik pintu ini.


Menelan ludahnya, pria dingin itu pun memasuki ruangan atasannya.


Di ujung ruangan, terlihat atasannya sedang duduk dengan tenang. Kacamata baca bertengger dengan mantap di hidung mancungnya. Kedua mata kelabunya tengah menatap asistennya yang dengan perlahan menghampiri mejanya.


Berhenti di ujung meja kerja Nate, Marcus berkata datar seperti biasa. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya sebenarnya di balik topengnya sehari-hari.


"Tuan memanggil saya?"


Tangan kiri Nate yang masih menggenggam bolpoin, perlahan bergerak ke arah dagunya. Terlihat jempolnya mengusap-usap ujung dagunya yang mulai menggelap. Ekspresi atasannya tampak menilai pria yang sedang berdiri di depannya.


Pria di balik meja itu akhinya menyenderkan punggungnya dan meletakkan pena yang tadi dipegangnya. Ia pun menangkupkan kedua tangannya di atas meja. Cincin yang tersemat di jari manisnya terlihat berkilat memantulkan cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela.


"Duduklah, Marc."


Sedikit ragu, Marcus pun duduk di hadapan atasannya.


Selama beberapa saat, kedua pria itu saling memandang tajam. Saling mengukur kekuatan masing-masing.


Nate sangat tahu kalau Marcus adalah tipe yang sebenarnya setia pada satu orang. Meski pria itu sering bergonta-ganti pasangan, tapi tidak pernah ada yang ia berikan harapan.


Marcus hanya memanfaatkan para wanita itu untuk kebutuhan lahiriahnya. Ia hanya belum menemukan tambatan hatinya, sampai dengan saat ini. Masalahnya, orang yang berhasil meraih hati pria dingin itu adalah puterinya sendiri, yang saat ini baru berusia 1 tahun!


Sebagai seorang ayah, Nate tentu tidak mau puterinya didekati oleh seorang pria yang jelas-jelas berusia berkali-kali lipat dari anaknya. Apalagi puterinya masih sangat balita, membuat pria itu menjadi khawatir berlebihan saat ini.


Di seberangnya, benak Marcus berputar-putar, memikirkan cara bagaimana menghadapi atasannya. Ia tahu kalau dirinya akan kalah telak soal kekuatan dan teknik pertarungan. Akan sangat sia-sia kalau ia sampai berani menantang atasannya untuk bertanding di arena.


Untuk adu otak sendiri, Marcus masih cukup percaya diri. Namun tetap saja, Nate adalah mentornya selama ini. Tidak mungkin ia akan dapat dengan mudah menang dari atasannya, apalagi menggunakan taktik-taktik yang telah diajarkan oleh mentornya sendiri.


Mengepalkan kedua tangannya, Marcus mulai merasakan putus asa di hatinya. Ia sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun bila dibanding atasannya. Ia tidak memiliki sesuatu yang dapat digunakannya sebagai bargaining power untuk bernegosiasi mengenai puteri pria itu.


Tanpa sadar, pria dingin itu menundukkan kepalanya dalam.


"Kamu sudah merasa kalah?"


Pertanyaan itu membuat Marcus mengangkat kepalanya. Raut atasannya terlihat tidak senang dan matanya menyorot sangat tajam. Pupilnya yang hitam di tengah mata kelabu mudanya terlihat lebih jelas dan tampak menakutkan.


"Kamu belum mencoba dan sudah merasa kalah?"

__ADS_1


"Saya-"


"Berdiri."


Bingung dengan instruksi itu, Marcus pun berdiri dari duduknya. Ia melihat atasannya pun ikut bangkit dan mulai memutari meja, menghampiri dirinya.


Tanpa diduganya, atasannya melayangkan tamparan di pipi kanannya dengan keras, membuat kepala Marcus berpaling.


Kedua matanya terbuka lebar dan nanar ketika menatap lantai.


"Mulai detik ini. Aku, Nathanael Axelle melepaskanmu Marcus Corentin, sebagai bawahanku, dan juga pengikutku yang paling setia."


Ikrar dari atasannya membuat mata Marcus mengerjap cepat. Ia menatap pria yang sedang berdiri dengan sangat tenang di depannya.


"Tuan, saya-"


Kembali Marcus merasakan tamparan keras dari Nate, kali ini di pipi kirinya.


"Dan mulai detik ini juga. Aku melarangmu untuk memanggilku dengan sebutan 'Tuan'."


Melihat pria dingin di depannya tidak mengucapkan apapun, membuat Nate kembali berbicara.


"Apakah kau tidak mau mengucapkan apapun padaku?"


Nada dan cara berbicara Nate berubah. Marcus menyadari kalau pria yang ada di hadapannya telah menganggapnya sebagai orang lain. Bukan orang terdekatnya lagi.


"Terserah maumu, Marc. Itu adalah pilihanmu sendiri dan bukan urusanku."


Perlahan, Nate menghampiri jendela besar yang menampilkan pemandangan matahari yang mulai terbenam. Cahaya berwarna jingga mulai menyinari ruangan yang luas itu dan membentuk bayangan-bayangan gelap di sudut-sudutnya.


Dari tempatnya berdiri, Marcus melihat sosok Nate yang mulai membentuk siluet di salah satu dinding ruangan kantor itu. Kedua pria itu terdiam dalam pikirannya masing-masing.


"Dua puluh tahun."


Kepala Marcus terangkat menatap pria yang akhirnya berbalik menghadapnya. Kedua tangan Nate tampak masuk ke dalam kantong celananya dan mengepal erat di dalamnya.


"Aku memberimu waktu 20 tahun untuk membuktikan diri kalau kau memang pantas untuk puteriku. Apakah kau sanggup memenuhinya, Marcus Corentin?"


"Tu- Pak?" Pria dingin itu menelan ludahnya dengan susah payah.


"Terserah bagaimana caramu untuk membuktikan diri. Yang jelas, aku tidak mau kalau kau berusaha untuk bersaing denganku atau berusaha mengalahkanku, Marc. Karena itu tidak akan ada gunanya. Jadilah dirimu sendiri. Carilah jati dirimu dan temukan hal yang paling kau ingin lakukan dalam hidupmu."


Tubuh Marcus gemetar mendengar kata-kata pria yang selama hampir setengah masa hidupnya telah ia kagumi dan hormati. Lagi-lagi pria itu membuatnya tidak bisa lepas dari bayang-bayang kekagumannya.


"Saat kau sudah menemukannya, kembalilah dan minta puteriku untuk menjadi pasangan hidupmu. Itu pun jika dia masih belum menemukan penggantimu."


Senyum Nate yang mengejek berhasil membuat Marcus tersulut emosinya. Kedua tangan pria dingin itu mengepal erat di sisi tubuhnya.

__ADS_1


"Saya tidak akan mengecewakan Anda."


Suara serak Marcus terdengar bergetar dalam ruangan itu.


"Saya akan kembali dan mengklaim puteri Anda."


Mata kelabu Nate memicing dan rahangnya mengeras.


"Aku akan menunggu saat itu. Dan kini karena kau masih berstatus sebagai karyawanku, maka aku tugaskan kau untuk mencari penggantimu dalam waktu 2 bulan."


Nate terlihat kembali duduk di meja kerja besarnya. Salah satu tangannya mengayun, tampak mengusir pria dingin di depannya.


"Sekarang keluarlah dari ruanganku, dan jalankan tugasmu sampai hari terakhirmu nanti."


Kedua mata Marcus berkaca-kaca. Ternyata ia memang tidak salah dalam memilih jalan hidupnya. Ia telah memilih pria terbaik untuk ia dampingi sampai saat ini dan kini, sudah waktunya ia pun berjalan di jalannya sendiri sesuai permintaan pria itu.


Badan Marcus membungkuk dalam dan suaranya bergetar ketika ia mengeluarkan suara.


"Baik, Pak. Dan terima kasih telah bersedia menjadi atasan saya selama ini."


Sebelum pria dingin itu membuka pintu kantor yang masih tertutup, kembali terdengar suara Nate dari arah belakangnya.


"Oh ya, Marc. Aku minta maaf tadi telah menamparmu."


Kepala Marcus menoleh menatap Nate, dan tanpa sadar salah satu tangannya mengusap pipinya yang tadi ditampar pria itu.


"Sebenarnya tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin menghajarmu karena kau telah berani mendekati puteriku. Dan seingatku, kau belum pernah merasakan tamparan dariku selama ini."


Marcus dapat melihat sorot mata Nate yang menghina dan mulutnya yang menyeringai.


Pria dingin itu merasa sangat kesal saat ini. Tampaknya Nate sengaja menyulut emosi dirinya. Pria itu memang baru kali ini menamparnya tapi dulu, ia pernah menghajar Marcus sampai babak belur dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya berhari-hari.


"Apakah kau mau membalasku sekarang?"


Salah satu alis Nate terangkat. Menantangnya. Ia memang sengaja mencari pertengkaran. Sayangnya, Marcus tidak terpancing. Pria itu ternyata sudah terlalu banyak belajar dari dirinya sendiri selama ini.


"Tidak Pak. Saya akan membalas Anda, saat saya sudah berhasil nanti. Anda tunggu saja."


Setelah itu, Marcus pun langsung keluar ruangan dan menutup pintunya.


Sepeninggal Marcus, Nate membuka kacamatanya dan menyenderkan punggungnya ke kursi kerjanya. Salah satu tangannya menutupi kedua matanya. Ia merasa sangat lelah saat ini.


Terdengar deringan dari ponselnya yang ada di atas meja. Tersenyum, ia pun mengangkatnya.


"Halo. Kamu sudah selesai, sayang? Naiklah ke atas dan bawa Nat. Aku rindu padanya."


Mendengar perkataan isterinya di seberang telepon, Nate tampak menghela nafas.

__ADS_1


"Aku telah melakukan yang kamu minta, Lin. Dan aku sebenarnya tidak menyukainya. Kamu harus dihukum. Jadi, naiklah sekarang atau kamu akan menerima akibatnya nanti di rumah."


__ADS_2