Madness

Madness
Chapter 64


__ADS_3

Baru pada tengah malam, Nate berani masuk ke dalam kamar tidurnya. Pria itu melihat isterinya telah tertidur pulas dengan masih mengenakan pakaian kerjanya yang tadi.


Pria itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia butuh untuk mendinginkan kepalanya. Setelah itu, Nate pun perlahan menggantikan pakaian isterinya dengan pakaian tidur yang bersih. Isterinya tampak benar-benar pulas dalam tidurnya.


Masuk ke dalam selimut, Nate baru memeluk dan mencium dahi isterinya dalam ketika tiba-tiba isterinya terbangun.


"Nate. Aku ingin bicara."


Mendengar suara Lin, Nate mengusap rambut panjang isterinya dan kembali mencium ubun-ubunnya. Ia sama sekali belum mau melepaskannya karena tahu apa yang ingin disampaikan oleh wanita itu.


Tangan Lin mengusap-usap punggung hangat suaminya. Setelah pertengkaran mereka tadi, Lin kembali berfikir dan akhirnya dapat memahami kenapa Nate sampai mengatakan hal-hal yang kejam seperti itu.


Lin bahkan telah lama menduganya, jauh sebelum ia tahu kalau dirinya hamil. Ia tahu pasti kalau Nate akan menentang kehamilannya, karena hal ini akan sangat berisiko pada keselamatannya sendiri.


Kedua tangannya meremas pinggang suaminya erat. Hal ini harus diselesaikan.


"Nate. Aku benar-benar butuh untuk bicara denganmu, sekarang."


Suara isterinya yang tegas akhirnya membuat pria itu melepaskan pelukannya. Nate pun bangkit dari posisinya dan menyenderkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. Ia tidak memandang isterinya dan hanya menatap ke depan dengan muram.


Menghela nafas, Lin pun mengikuti posisi suaminya. Ia menolehkan kepalanya pada Nate yang masih belum mau memandangnya. Ia mengamati profil samping wajah suaminya yang tampak sempurna.


"Ayah sudah tahu mengenai hal ini, Nate. Bahkan ia juga yang pertama kali mengetahuinya."


Suaminya menundukkan kepalanya, memandang tangannya sendiri.


"Aku tahu. Aku ingat, kalau ia memang pernah mengatakan mengenai hal ini secara tidak langsung padaku."


Mata Lin mengerjap. "Kapan itu?"


"Pada hari kita berangkat ke Lofoten. Ia pernah berpesan padaku agar menjaga kalian."


Isterinya terdiam, dan mengalihkan pandangannya ke depan.


Ketika berbicara lagi, suara isterinya terdengar bergetar dan pecah.


"Apakah kamu benar-benar tidak menginginkan anak ini, Nate?"


Tidak mendengar jawaban suaminya, Lin pun menoleh ke samping dan tertegun.


Suaminya masih tidak memandang dirinya, tapi ia bisa melihat setetes air mata yang mengalir di pipi kanannya. Suaminya menangis dalam diam.


"Kalau nyawaku bisa membuat kalian berdua hidup, dengan sangat rela aku akan memberikannya, Lin. Kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu."


Lin merangkak naik ke pangkuan suaminya. Kedua tangannya mengusap pipi Nate yang basah. Wanita itu akhirnya dapat melihat pancaran mata Nate yang terlihat putus asa dan penuh kesedihan.


"Kamu tahu, aku pernah kehilangan keluargaku. Dulu, aku ingin mati tapi aku masih bisa bertahan hidup. Tapi sekarang kalau aku kehilanganmu, aku benar-benar akan mati menyusulmu, Lin." Suara dalam Nate terdengar serak dan pecah.


Mendengar itu, Lin pun memeluk erat leher suaminya.


Selama beberapa lama, mereka hanya saling berpelukan dalam diam. Sampai akhirnya, Nate pun merenggangkan pelukan mereka dan memandang wajah isterinya yang sembab.


Raut isterinya tampak penuh kesedihan yang dalam. Akhirnya pria itu menyadari perubahan dari tubuh isterinya, yang memang terlihat sedikit berisi akhir-akhir ini.


Pria itu mengusap pipi isterinya yang juga basah karena air mata. Kedua tangannya memeluk pinggang Lin dan akhirnya berhenti di pinggul wanita itu.


"Lin. Jujurlah padaku. Apa yang kamu rasakan selama kehamilan ini? Apakah kamu pernah merasa sakit atau lemas?"


Pertanyaan itu membuat isterinya menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak pernah, Nate. Aku sendiri benar-benar tidak tahu kalau sedang hamil. Ayahlah yang pertama kali sadar kalau aku hamil."


Dahi pria itu sedikit mengernyit. Informasi ini cukup aneh karena setahu pria itu, wanita manusia yang hamil dari benih pria V akan merasakan kesakitan dari minggu pertama kehamilannya. Tidak ada yang bertahan lebih dari dua minggu, sedangkan...


"Kalau begitu, apa yang kamu rasakan selama ini?"


"Benar-benar tidak ada. Aku bahkan tidak pernah merasa mual atau pun muntah. Selera makanku pun masih seperti biasa. Tidak ada yang berubah."


Lin menjawab suaminya dengan kepala tertunduk. Wanita itu *******-***** kaos suaminya dan menunduk memandang tangannya.


"Aku baru yakin kalau hamil, setelah memeriksakan kandunganku setelah kalian berangkat ke Lofoten. Pada saat itulah aku baru yakin, kalau aku telah hamil. Kalau tidak ada hasil pemeriksaan dan foto itu, aku pun tidak akan pernah percaya."


Tangan suaminya mengelus-elus pinggul Lin dengan pelan. Kedua alisnya berkerut dengan dalam. Ia pun sadar kalau isterinya bukanlah manusia biasa. Wanita ini juga bukan juga seorang kaum V yang berasal dari darah. Ia adalah keturunan murni dari ras yang berbeda.


Pria itu mengingat perkataan Felix di pesawat, mengenai kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh isterinya karena campuran rasnya tersebut. Ia pun menarik nafas dalam.


"Satu bulan."


Kata-kata Nate membuat Lin mendongakkan kepalanya. Ia memandang suaminya bingung.


"Satu bulan kita lihat, apakah janin ini akan membuatmu berada dalam bahaya atau tidak. Kalau memang berbahaya, kita akan menggugurkannya. Tapi kalau tidak, maka kita akan mempertahankannya. Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


Wajah isterinya tiba-tiba berubah cerah. Senyum bahagia terlihat di bibirnya yang mungil.


"Kamu tidak berbohong kan, Nate?"


Pertanyaan itu membuat Nate mau tidak mau tersenyum. Ia mengusap rambut isterinya.


"Untuk apa aku berbohong, Lin? Aku juga menginginkan anak dari rahimmu."


Tangannya berhenti di perut isterinya yang sedikit berisi, tapi masih terlihat rata. Pria itu mengusap-usap lembut perut Lin, menyebarkan kehangatan di dalamnya.


"Tapi jika kehamilan ini membahayakan nyawamu, maka aku lebih memilih dirimu dibanding anak ini. Aku sama sekali tidak bisa kehilanganmu, Lin. Kamu mau mengerti itu?"


Kepala isterinya mengangguk mantap. "Aku mengerti."


Pria itu akhirnya menarik nafas panjang. Ia sedikit merasa lega saat ini.


"Bagus kalau kamu mengerti. Karena aku benar-benar akan memastikan keselamatan dirimu selama masa kehamilanmu. Dan kamu sama sekali tidak boleh protes."


Kata-kata suaminya yang terdengar posesif di telinga Lin, membuat wanita itu kembali memeluk tubuh suaminya erat-erat.


"Terima kasih, Nate. Aku berjanji akan selalu menjaga diriku."


Malam itu, keduanya kembali memadu kasih. Kali ini, mereka berdua benar-benar melakukannya dengan sangat hati-hati karena tahu, ada yang telah berhasil tumbuh sebagai buah percintaan mereka selama ini, di dalam perut LIn.


Dua bulan kemudian.


Tanpa terasa, usia kehamilan Lin sudah memasuki minggu ke-15.


Wanita itu tampak semakin cerah dan bersinar, membuatnya terlihat semakin cantik. Perutnya terlihat sedikit menonjol, yang masih dapat ia tutupi dengan bajunya yang memang tidak pernah terlalu ketat.


Kehamilan wanita itu baru diketahui oleh rekan-rekan di kantornya, dan banyak dari mereka yang cukup terkejut dan patah hati ketika mengetahui kalau Lin ternyata telah menikah.


"Kapan kamu menikah, Alina? Kenapa tidak pernah mengundang kita?"


Beberapa dari rekannya menanyakan pertanyaan yang sama, dan selalu ia jawab dengan kalimat yang juga sama.


"Sudah cukup lama. Aku memang ingin merahasiakannya dulu dari kalian."


"Tapi kenapa?"


"Ada alasan pribadi. Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahukannya pada kalian."


"Alina."


"Ya, Pak Robertus."


"Masuk ke ruangan saya."


Menyadari mood atasannya yang sedang tidak baik, membuat Lin segera undur diri dari rekan-rekannya yang masih mengerubungi dirinya.


Perlahan, Lin mengetuk pintu ruangan atasannya yang masih dibiarkan terbuka.


Melihat pria baya itu mengangguk, Lin pun akhirnya masuk ke dalam ruangan Pak Robertus tanpa menutup pintunya.


"Duduklah, Lin."


Pria baya itu mengamati sosok wanita di depannya. Sudah sejak 3 tahun yang lalu, ia menyadari kalau Lin memiliki potensi yang lebih besar dibanding rekannya yang lain, membuat pria baya itu memberikan perhatian lebih pada bawahannya ini.


Ia tetap saja terkejut, ketika Lin dapat dengan cepat mengetahui permainan laporan keuangan yang telah dibuat oleh pimpinan perusahaan yang lalu, membuat pria itu terjerat hukuman penjara yang cukup lama.


Awalnya pria baya itu sedikit terancam dengan keberadaan Lin. Ia cukup khawatir kalau Lin yang masih muda, akan dengan cepat menggeser posisinya. Tapi setelah bekerja sama dengannya, ia pun tahu kalau anak buahnya ternyata tidak memiliki ambisi yang besar.


Lin hanya bekerja sesuai dengan kapasitas dan wewenang yang diberikan padanya. Ia tidak berusaha untuk menjadi lebih atau pun mengambil alih pekerjaan orang lain.


Bahkan ketika pria baya itu mempromosikan dirinya, Lin sempat menolak dengan alasan yang tidak jelas. Ia baru menerima, ketika atasannya mengancam akan memecatnya saat itu juga. Sungguh cara yang sama sekali tidak masuk akal untuk dapat mempromosikan seseorang.


Sekarang ketika wanita itu menikah, pria baya itu sangat khawatir kalau Lin benar-benar akan resign dari perusahaan. Apalagi wanita itu sangat menutup rapat kehidupan pribadinya, membuat Robertus cukup cemas bila ia keluar nanti.


Ia sama sekali tidak mau kehilangan anak buah yang sangat kompeten seperti Lin.


"Jadi, kamu telah menikah, Alina?" Pak Robertus memulai pembicaraannya.


"Benar Pak. Saya telah menikah."


Pria baya itu mengangguk pelan. "Kalau boleh saya tahu, sejak kapan?"


"Hampir 6 bulan yang lalu."


Informasi ini membuat pria baya itu sedikit terkejut. Ia tidak menyangka kalau Lin ternyata telah menikah selama itu.


"Apakah suamimu karyawan perusahaan juga?"

__ADS_1


"Maaf. Tapi saya rasa, informasi itu terlalu pribadi bagi saya. Kalau pun memang benar, tidak ada kebijakan dari perusahaan yang melarang sesama pegawai untuk berpacaran dan menikah, selama mereka berasal dari departemen yang berbeda."


Mata Pak Robertus mengerjap cepat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Lin akan menolak menjawab pertanyaannya segamblang itu.


Bawahannya ini memang benar-benar sulit untuk dikorek informasinya. Pria baya itu akhirnya menarik nafas kalah.


"Baiklah. Maafkan saya. Tapi saya benar-benar penasaran."


"Saya kira informasi itu tidak akan banyak berguna untuk Anda juga, Pak Robertus."


Nada Lin mulai sedikit tajam. Ia benar-benar tidak suka dikorek-korek seperti itu, apalagi oleh orang yang sama sekali tidak dekat dengannya.


Berdehem, Pak Robertus yang sudah sangat mengenal karakter Lin berusaha untuk mengalihkan pembicaraan ke topik yang dari tadi ingin ditanyakannya.


"Sebenarnya maksud saya memanggilmu, adalah untuk menanyakan rencanamu selanjutnya, Alina."


Alis Lin berkerut. "Rencana saya? Maaf, tapi saya belum mengerti."


"Seharusnya saya menanyakan ini saat kamu memang baru saja menikah. Tapi tidak salah juga, kalau saya menanyakannya sekarang. Apakah kamu ada rencana untuk resign dalam waktu dekat ini?"


Pertanyaan Pak Robertus membuat Lin menyenderkan punggungnya ke kursi. Ia sama sekali belum memikirkan rencana apapun terkait pekerjaannya saat ini.


"Sebenarnya, saya sama sekali belum memikirkan mengenai hal itu Pak Robertus. Saat ini, saya hanya ingin bekerja sesuai dengan rutinitas yang sudah ada saja."


"Jangan tersinggung kalau saya menanyakan ini. Karena terus terang, saya cukup khawatir kalau tiba-tiba suamimu memintamu untuk resign dari perusahaan. Saya masih sangat membutuhkan kamu di departemen ini, Alina."


Pujian tidak langsung dari pria baya itu membuat Lin merasa takjub. Meski tahu kalau Pak Robertus cukup mengandalkannya, tapi pria baya itu hampir tidak pernah memuji atau pun mempertahankan seseorang yang memang ingin keluar dari timnya.


"Saya yakin suami saya mendukung karir saya di sini, Pak Robertus. Anda tidak perlu khawatir. Tapi memang, saya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti."


Wanita itu sedikit menjeda, dan membayangkan kalau ia telah melahirkan nanti. Mungkin ia tidak akan memiliki waktu sebanyak sekarang untuk bekerja.


"Jika pun suami saya meminta saya untuk berhenti bekerja, saya tetap akan menjadi seorang konsultan keuangan. Anda akan tetap bisa menghubungi saya bila memerlukan bantuan."


Jawaban Lin adalah jawaban yang sudah diduga oleh pria baya itu. Dan ia cukup yakin, kalau Lin telah melahirkan nanti, suaminya akan meminta isterinya untuk dapat tetap di rumah sementara waktu. Tidak mungkin suaminya akan mengizinkan isterinya yang baru memiiliki anak untuk bekerja seperti sekarang.


Wajah pria baya itu terlihat murung, membayangkan kalau waktu Lin hanya tinggal beberapa bulan lagi sebelum wanita itu kemungkinan akan resign selamanya dari perusahaan.


Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar ketukan cukup keras dari arah pintu.


Saat menoleh, keduanya melihat sosok Marcus yang besar dan terlihat menutupi celah pintu yang sedang terbuka itu.


"Apakah saya mengganggu?"


Melihat sosok Marcus, Pak Robertus langsung berdiri dari duduknya.


"Pak Marcus! Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Pria dingin itu sangat jarang terlihat berjalan-jalan di sekitar perusahaan, sehingga sosoknya yang besar terlihat cukup mengintimidasi di departemen tersebut. Ruangan menjadi sangat hening hanya karena kehadiran pria itu.


"Saya ada perlu dengan Nona Alina Johan. Apakah dia bisa saya pinjam sebentar sampai dengan waktu makan siang?"


Pak Robertus mengalihkan tatapannya pada Lin yang juga tampak bingung. Tidak biasanya Marcus akan memanggil dirinya secara langsung seperti ini ke ruangan.


"Tentu saja Pak Marcus. Tidak ada hal penting yang sedang kami bicarakan tadi."


Marcus mengangguk kaku. Ia langsung mengalihkan tatapannya pada Lin yang masih duduk.


"Nona Alina? Bisa ikut dengan saya sekarang?"


"Baik Pak Marcus. Kalau begitu, saya permisi sekarang Pak Robertus."


"Tentu, Alina. Kapan-kapan, kita lanjutkan lagi pembicaraan kita tadi."


Wanita itu pun mengangguk sopan, dan segera mengikuti sosok Marcus yang tampak menyingkir dari celah pintu.


"Lebih baik, Anda membawa ponsel Anda, Nyonya."


Lin mendengar bisikan Marcus ketika mereka mulai melangkah, membuat wanita itu berhenti dan segera menuju kubikalnya.


Ia melihat ponselnya yang berada dalam kondisi tertangkup dan segera meraihnya.


Matanya melotot, saat melihat ada 10 panggilan tak terjawab dari MyV dan juga chat yang terlihat menumpuk di aplikasinya.


Wanita itu memijat pelipisnya. Ia sama sekali tidak menyadari kalau suaminya menghubunginya, karena tidak sengaja telah memasang mode silent pada ponselnya.


Dan karena tadi banyak dari rekannya mengerubunginya, Lin pun membalik posisi ponselnya, membuatnya sama sekali tidak tahu kalau pria itu sudah meneleponnya berkali-kali.


Menghela nafas, Lin pun menoleh pada Marcus yang masih berdiri menunggunya.


Tanpa diduga, pria dingin itu terlihat menyeringai menyeramkan.

__ADS_1


"Lebih baik Anda ikut dengan saya sekarang Nona, sebelum semuanya terlambat."


Oh Tuhan!


__ADS_2