Madness

Madness
Chapter 38


__ADS_3

Kembali ke apartemennya, Lin berjalan dengan perlahan di lorong yang sepi itu. Pertemuannya tadi dengan ayahnya dan Felix membuatnya malah makin penasaran.


Benaknya penuh dengan pertanyaan dan juga rencana yang akan dilakukannya nanti.


Sambil menarik nafasnya, Lin mengeluarkan kunci akses dari tasnya dan sedikit menoleh pada pintu tertutup di seberangnya.


Menimbang-nimbang sejenak, akhirnya Lin memutuskan untuk menghampiri pintu itu. Tangannya sedikit gemetar ketika mengarahkan tangannya untuk memencet bel pintu.


Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah tindakannya bodoh? Tapi rasa ingin tahunya yang besar, mengalahkan sisi penakutnya.


Ia harus segera tahu mengenai kebenarannya. Kalau bisa secepatnya.


Menarik nafasnya panjang, akhirnya dengan mantap Lin menekan bel itu dan menunggu.


Lin menekannya kembali setelah ia menunggu beberapa lama.


Masih belum ada reaksi, dengan perlahan, ia mendekatkan telinganya ke pintu tertutup itu. Mencoba mendengar apapun yang ada di dalam.


Dahinya terlihat berkerut ketika Lin menjauhkan tubuhnya. Sama sekali tidak terdengar suara apapun dari dalam.


Lin pun melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya dan melihat bahwa saat ini baru menunjukkan pukul 21.30. Belum terlalu malam.


Apakah Dominic sudah tidur?


Memutuskan mencoba sekali lagi, ia pun menekan bel itu untuk terakhir kalinya.


Yakin bahwa pintu itu tidak akan terbuka, Lin pun akhirnya masuk ke apartemennya sendiri.


Ia meletakkan tas yang dibawahnya dengan asal ke meja pantry dan langsung menuju kulkas mencari air minum.


Sambil meminum airnya, ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan secara bersamaan, muncul notifikasi pesan masuk. Pesan dari Nate.


'Lin. Bagaimana kabarmu hari ini?'


Pandangan Lin sedikit kabur ketika membaca pesan yang dinanti-nantinya sepanjang hari.


Perlahan, ia pun mematikan ponselnya dan mengarahkan langkahnya ke kamar tidur.


Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian yang nyaman, ia mengambil laptop-nya dan duduk di tempat tidur.


Lin baru akan memulai pekerjaannya, saat ia kembali melirik ponselnya yang tergeletak di sisinya dalam kondisi mati.


Tidak. Ia tidak akan termakan rayuan pria itu lagi. Saat ini, ia ingin menghukum pria itu dulu agar dia merasakan apa yang dirasakannya kemarin.


Lin cukup sakit hati dengan perilaku Nate kemarin. Tanpa ada penjelasan apapun, pria itu meninggalkannya begitu saja dalam kondisi bingung.


Tangannya pun merogoh ke balik bantalnya dan mengeluarkan sesuatu.


Wanita itu memeluk benda itu dan mencium aromanya dalam. Memeluknya sejenak, ia pun akhirnya melingkarkan sweater Nate ke lehernya.


Sudah cukup merasa nyaman, Lin memfokuskan konsentrasinya kembali ke laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda seharian ini.


Sementara itu, Nate yang sedang duduk di sofa penthouse-nya tampak galau.


Pria itu tahu Lin telah membaca chat-nya tapi sama sekali tidak membalas.


Saat ia mencoba untuk mengirimkan pesan lain, ia melihat kalau pesan itu ternyata tidak sampai. Nate menduga kalau Lin telah mematikan ponselnya.


Melemparkan benda kecil itu ke ujung sofa dengan geram, Nate pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela yang membentang di sepanjang ruangan luas itu.


Sepanjang hari ini, ia tidak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Beberapa kali ia terlihat melamun, sampai Marcus sedikit menegurnya.


Baru sehari tidak bertemu dengan wanita itu, ternyata membuat perasaan Nate menjadi kacau terutama karena ia tahu telah melakukan kesalahan pada Lin kemarin.

__ADS_1


Memasukkan kedua tangannya di saku celana, pria itu menengadahkan kepalanya.


Saat ini, ia benar-benar ingin bertemu dengan Lin, tapi di satu sisi, masih ada rasa ketakutan di hatinya. Apakah ia sudah berani untuk melangkah lebih jauh? Bagaimana kalau ia bertemu dengan si bangsat itu lagi, apa yang akan dilakukannya nanti?


Nate benar-benar tidak mau Lin melihat sisi kasar dan bengis dari dirinya. Bagaimana kalau ia sampai lepas kontrol nanti?


Belum lagi perkataan Johan yang masih membayang-bayang di benaknya. Belum juga jadi mertua, tapi pria tua itu sudah berhasil membuat Nate merasa pusing menghadapinya.


Pikirannya saat ini galau, dan membuat kepalanya sakit seharian ini.


Nate akhirnya berbalik, dan tanpa disadari ia menatap ke sekeliling ruangan yang luas itu.


Baru kali ini, ia merasa bahwa ia tinggal di tempat yang luas. Ia menyadari bahwa rumahnya sangat luas. Tapi ia sendirian. Tidak ada orang lain sebagai tempat berbagi untuknya.


Kesadaran itu membuat hati Nate mencelos. Selama ini, ia menghabiskan masa hidupnya dengan sendirian. Tanpa siapapun.


Nafas Nate mulai lebih cepat. Entah kenapa, ia merasa sesak di dadanya. Pria itu merasakan kekosongan di hatinya yang semakin lama semakin membesar, menggerogoti jiwanya.


Lin. Aku membutuhkanmu sekarang...


Keesokan paginya, Lin kembali menekan bel pintu apartemen Dominic dan masih belum ada reaksi apapun dari dalam.


Wanita itu mulai berfikir bahwa mungkin tetangganya itu memilih pindah apartemen karena kejadian dengan Nate beberapa hari yang lalu.


Asumsi ini mau tidak mau membuat Lin sedikit sedih. Jika pria berambut merah itu sudah pergi, maka ia tidak akan bisa mengkonfirmasi informasi yang ingin diketahuinya.


Dengan lesu, ia mengarahkan kakinya ke dalam lift dan memutuskan akan mencari pria itu nanti setelah ia kembali ke apartemennya lagi.


Bersamaan ketika lift Lin berjalan turun, pintu lift yang ada di sebelahnya terbuka perlahan.


Nate terlihat keluar dari lift dengan mengenakan pakaian santai. Ia berniat menghabiskan hari ini dengan Lin, dan mencoba untuk membicarakan mengenai hubungan mereka berdua.


Ia berencana untuk meminta wanita itu untuk menunggu sejenak sampai ia sudah benar-benar merasa siap untuk memulai hubungan baru.


Saat melangkahkan kaki keluar dari lift, hidungnya samar-samar mencium aroma wanita itu. Aroma yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.


Dengan lebih bersemangat dan jantung berdebar-debar, Nate pun melangkahkan kakinya ke apartemen Lin.


Hatinya merasa kecewa ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari dalam apartemen setelah menekan bel pintu berkali-kali.


Mulai tidak sabar, pria itu mulai mengetuk pintunya cukup keras. "Lin?"


Telapak tangan Nate menekan daun pintu di depannya dengan perasaan frustasi. Mengapa susah sekali bertemu wanita itu? Ia sangat rindu dengannya.


Menghela nafas keras, pria itu mengambil ponsel dari celananya dan menekan sejumlah nomor yang telah dihapalnya di luar kepala.


Kesal mendengarkan jawaban monoton yang sama berulang kali sejak tadi malam, dengan kasar Nate mematikan hubungan ponselnya.


Mengernyit, Nate mengalihkan pandangan dan menatap pintu di seberang apartemen Lin dengan sedikit menggertakan giginya.


Ia mempertimbangkan untuk mengetuk pintu itu, tapi sadar bahwa mungkin saja pria yang dicarinya tidak akan bisa menjawabnya saat ini.


Bingung dengan apa yang akan dilakukannya, Nate terlihat berdiri mematung di tengah-tengah lorong apartemen yang sepi itu.


Hari masih pagi, dan seluruh rencana yang ada di otaknya semua berantakan.


Dengan lesu, pria itu pun mengarahkan kakinya kembali ke lift. Mungkin lebih baik kalau ia kembali ke penthouse dan masuk kantor saja.


Setidaknya kesibukannya nanti akan sedikit bisa mengalihkan pikirannya dari wanita yang sangat dirindukannya saat ini. Itu harapannya.


"Tuan, sebaiknya Anda memang tidak masuk kantor."


Suara serak Marcus memecah keheningan di ruangan yang sepi itu. Terdengar jelas, bahwa pria dingin itu berusaha menahan emosinya saat ini.

__ADS_1


Pria dingin itu benar-benar merasa jengkel pada atasannya. Baru kali ini, ia merasakan hal itu karena baru kali ini jugalah, atasannya melakukan sesuatu yang memang menjengkelkan.


Atasannya sama sekali tidak bisa mengkonsentrasikan dirinya pada pekerjaan yang ada di depan mukanya.


Ketika Marcus ingin mendiskusikan sesuatu, atasannya merespon dengan jawaban yang ngaler-ngidul. Sangat jelas terlihat bahwa pikirannya entah berada di mana.


Hal ini membuat pekerjaan Marcus menjadi bertambah 2x lipat. Di saat seharusnya ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, tapi menjadi sangat terhambat ketika atasannya ingin ikut terlibat.


"Tuan. Saya nanti akan memberikan laporan finalnya untuk mendapatkan approval dari Anda. Sebaiknya Anda pulang saja sekarang."


Nate menyenderkan punggungnya di kursi dan menghela nafas panjang. Ia mengurut pelipisnya yang masih terasa sakit sejak kemarin.


"Kamu benar. Aku benar-benar minta maaf Marc, karena sudah merepotkanmu."


Pria itu kembali melirik ponselnya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.


Drama sudah dimulai. Pria dingin di depannya berfikir dan tersenyum dalam hati.


Tampak putus asa, Nate membolak-balikkan ponsel di tangannya ketika ia tiba-tiba mengingat sesuatu.


Ia mengarahkan pandangannya ke asistennya kembali yang saat itu terlihat mulai membereskan berkas di atas mejanya. Tampak tidak sabar untuk kembali ke ruangannya.


"Oh ya, Marc. Bagaimana kelanjutan kasusmu dengan Allard Corp.?"


Alis Marcus terangkat ketika mendengar pertanyaan atasannya. Nada bicara pria itu terlihat biasa saja, tidak seperti kemarin.


Berdehem pelan, pria dingin itu meletakkan berkas-berkas yang sudah rapi di atas meja.


"Pengacara itu akhirnya dipecat langsung oleh sang pemilik. Secara otomatis, kasusnya pun ditutup tanpa ada kelanjutannya lagi."


Nate mengerjapkan matanya. Ia tidak mengira informasi ini.


"Dia dipecat langsung oleh sang owner? Sejak kapan?"


"Saya menerima kabarnya tadi pagi dari Donald. Saya baru akan meng-update-nya pada Anda barusan ketika Anda bertanya."


Pandangan pria di depannya menunduk, ke arah salah satu titik yang ada di atas meja. Benaknya tampak berfikir, mengingat kejadian ini terlalu kebetulan.


"Apakah kamu tahu alasannya?"


"Terus terang, saya juga tidak tahu alasannya Tuan. Tapi informasi dari Donald, hal ini diinstruksikan langsung dari pimpinan puncak perusahaan, yang membuat semua orang tidak ada yang dapat membantahnya."


Pria itu akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba menerima informasi yang cukup aneh ini.


Ia mengangkat pandangannya kembali ke Marcus.


"Marc. Tolong atur kembali pertemuan dengan Master Johan. Kalau bisa besok siang, karena ada yang harus kulakukan malamnya."


Besok malam, Nate berencana datang kembali ke apartemen Lin. Ia akan mencoba untuk berbicara kembali dengan wanita itu.


Lama-lama, ia sendiri yang menjadi seperti cacing kepanasan saat tidak bisa bertemu dengannya. Padahal baru beberapa hari lalu, ia yang ingin menjaga jarak dengan wanita itu.


Marcus mengangguk. "Saya mengerti. Apakah Anda dan Nona Alina ingin bertemu kembali dengan Master Johan?"


Atasannya memandang Marcus dengan senyuman samar di bibirnya.


"Tidak, Marc. Besok, kita yang akan bertemu dengan Master Johan."


Informasi dari atasannya membuat mata Marcus bersinar. Pria dingin itu benar-benar ingin bertemu dengan penciptanya untuk terakhir kali, sebelum pria tua itu meninggalkan dunia.


"Terima kasih, Tuan. Atas kesempatan ini." Hati Marcus terharu dengan kebaikan atasannya.


"Jangan berterima kasih, Marc. Derajat kita sama di mata pria tua itu. Kita adalah sama-sama mahluk hasil ciptaannya."

__ADS_1


__ADS_2