
Tanpa diduga, Nate merenggut kasar leher baju Dominic dan mendorongnya paksa ke dalam apartemen pria itu.
Sebelum menutup pintu di belakangnya, Nate memberikan instruksi pada Lin dengan dingin.
"Lin. Masuk ke dalam kamarmu."
Setelah itu, Nate langsung membanting pintu apartemen di depan wajah Lin.
Kejadian yang sangat cepat itu membuat Lin termangu di tempatnya. Baru kali ini ia melihat wajah Nate yang sangat dingin.
Selama ini, Lin mengenalnya sebagai pria yang sangat sopan dan sabar. Hampir tidak pernah Lin melihat Nate marah. Pria itu selalu bisa mengontrol emosinya, bahkan ketika ia hampir dikuasai oleh naluri liarnya.
Sebenarnya ada hubungan apa antara Nate dengan tetangga barunya?
Lin awalnya ragu untuk masuk ke kamarnya. Ia cukup takut kalau Nate akan melakukan sesuatu pada tetangganya.
Bukan karena mengkhawatirkan pria berambut merah itu, tapi ia justru takut kalau Nate akan melakukan sesuatu yang dapat membuatnya terkena masalah.
Mengeluarkan ponselnya, Lin hampir menghubungi polisi ketika hatinya mengambil alih.
Tidak. Ia pecaya pada pria itu. Lin yakin, Nate tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. Selama ini, pria itu selalu melakukan segalanya dengan hati-hati dan penuh perhitungan.
Nate tidak akan bisa bertahan di posisinya sekarang sampai sekian lama, jika tidak memiliki kontrol yang kuat pada dirinya sendiri.
Menghela nafas berat, Lin menyimpan kembali ponselnya ke saku celananya dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke apartemennya sendiri.
Ia memutuskan akan menunggu Nate di dalam dan membiarkan kedua pria itu untuk menyelesaikan masalah mereka berdua lebih dulu.
Di dalam apartemen seberang Lin, dengan bengis Nate sedang menghajar muka Dominic berkali-kali dengan kuat.
Ia juga menonjok perut Dominic di area yang berbahaya dan menendang tubuh pria tak berdaya di depannya dengan tanpa belas kasihan.
Pria yang sedang diselimuti oleh kemarahan itu, mengeluarkan segala kemampuannya untuk menumpahkan segala dendamnya pada orang yang sudah tampak lunglai itu.
Darah hitam berceceran di lantai dan wajah Dominic yang tampan pun sudah tidak berbentuk.
Ekor mata Nate melihat sebilah pisau dapur panjang yang terpajang di meja pantry, dengan cepat ia mengambil dan menusukkannya tepat di jantung Dominic.
Tidak puas, ia menarik pisau panjang itu dengan kasar dan langsung menebaskannya ke leher Dominic hingga lehernya hampir putus.
Dominic pun akhirnya ambruk di lantai. Pria itu sudah tampak mati dengan mengenaskan. Genangan cairan hitam tampak merembes ke dalam bajunya dan juga keluar dengan cepat dari tubuhnya sendiri.
Tidak berapa lama, kemampuan menyembuhkan Dominic mulai terlihat bekerja. Hal ini membuat luka-lukanya yang terbuka mulai menutup dengan perlahan.
Frustasi melihat keadaan itu, Nate kembali menghujamkan pisau yang masih dipegangnya pada Dominic yang terbujur kaku di bawahnya.
Berkali-kali Nate melakukannya, berkali-kali pula luka yang ia buat mulai menutup.
__ADS_1
Penuh kemarahan, Nate berteriak keras dan melemparkan pisau yang sedang dipegangnya ke tengah ruangan hingga menancap ke salah satu tembok.
Ia pun menendang dan menginjak-injak kembali pria yang masih pingsan itu sampai kakinya merasa pegal dan tenaganya terkuras habis.
Ketika akhirnya jatuh terduduk, Nate mengeluarkan air mata frustasi. Ia frustasi dan sangat marah, karena sama sekali tidak menyangka kalau leluconnya tentang ingin membunuh seorang kaum V akhirnya menjadi kenyataan.
Meski Nate ingin mengambil nyawa pria di depannya ini, sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah dapat dilakukannya.
Nate akhirnya menjambak rambut pria berambut merah itu dan menengadahkan kepalanya. Dan meski tahu Dominic tidak akan bisa mendengarnya, ia tetap berbisik serak.
"Jangan lagi kau pernah menunjukkan batang hidungmu di depanku, Allard. Atau aku akan melakukan hal ini berkali-kali sampai kau memilih untuk mati!"
Dengan kasar, ia pun melemparkan kepala pria yang tidak sadar itu ke lantai kayu di bawahnya, menimbulkan suara bedebum keras.
Gemetar, Nate bangkit dari duduknya dan perlahan melangkah ke pintu keluar. Dengan kasar ia membukanya dan membantingnya dengan suara keras.
Mendengar suara bantingan dari luar kamarnya, membuat Lin segera melangkah ke pintu depan. Dengan jantung berdebar keras, ia mengintip dari lubang pintu dan terkejut.
Nate terlihat berdiri di tengah lorong, di depan pintunya. Rambut dan bajunya tampak dipenuhi oleh darah berwarna hitam.
Ia mulai akan melangkah menuju lift dengan linglung, ketika Nate merasa tangannya ditarik dengan pelan.
Menoleh, pandangan mata Nate terlihat kosong ketika menatap Lin.
Lin pun akhirnya mengarahkan Nate untuk masuk ke apartemennya, dan berdoa semoga hal ini tidak sampai terekam oleh CCTV yang ada di ujung lorong.
Sampai di dalam, ia pun segera mengarahkan pria yang masih linglung itu ke kamar mandi.
Hati-hati, ia mendudukkan Nate ke dalam bathtub dan dengan pelan mulai menyiramkan air shower yang hangat ke tubuhnya.
Dengan lembut, Lin menyabuni rambut dan tubuh Nate. Ia membersihkan tubuh pria itu dengan perlahan dan mulai bertanya hati-hati.
"Nate. Kamu tidak apa-apa?"
Pertanyaan Lin membuat Nate makin menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya yang sedang ia peluk erat.
Wanita itu cukup terkejut, ketika merasakan badan pria tinggi itu gemetar dengan kuat, menandakan kalau Nate sedang menangis saat ini.
Meski bingung, Lin mengusap-usap punggung Nate dengan lembut dan kembali meneruskan membersihkan tubuhnya.
Untungnya Lin memiliki handuk berukuran jumbo yang cocok dengan ukuran tubuh Nate. Ia pun mengeringkan tubuh pria itu dan membuka pakaian tersisanya yang sudah basah.
Ia pun akhirnya membaringkan pria yang masih terlihat menangis itu di tempat tidurnya, dan memutuskan untuk membiarkannya sejenak.
Lin melihat pakaian kotor yang sedang dibawanya ke area mencuci dan mengernyit. Ia akhirnya sadar kalau tetangga barunya ternyata adalah salah satu kaum V.
Pantas saja Nate sudah memperlihatkan wajah kurang suka ketika mengetahui ada barang pemberian pria lain di dalam rumah Lin.
__ADS_1
Menghela nafas, Lin memasukkan pakaian kotor Nate bersama cucian lainnya. Setelah memastikan mesinnya bekerja, ia pun memutuskan untuk membuat teh hijau hangat yang disukai oleh Nate.
Saat kembali ke kamar, Nate tampak sudah lebih tenang. Ia terlihat menyenderkan kepalanya ke kepala tempat tidur.
Duduk di sisi lain tempat tidur, Lin menyodorkan gelas yang dibawanya.
"Minumlah Nate. Mumpung masih hangat."
Ketika menerima gelas itu, Lin melihat bahwa tangan Nate masih sedikit gemetar.
"Terima kasih." Suara pria itu terdengar serak.
Sejenak, Lin merasa bahwa Nate sedikit menjaga jarak darinya tapi memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa.
Melihat Nate yang telah menghabiskan minumannya, Lin mengulurkan tangannya, meminta gelas yang masih digenggam erat pria itu.
Lin pun meraih tangan Nate, memegang dengan erat salah satu tangan pria itu. Ia berusaha memberikan dukungan tanpa kata padanya, seperti yang sering dilakukan Nate padanya.
Hal yang sedikit membuat wanita itu terkejut adalah ketika Nate justru menarik tangannya perlahan dari genggamannya.
"Mungkin sebaiknya aku pulang." Pria itu tampak menghindari memandang wajah Lin.
Tanda yang sangat jelas atas penolakan ini, membuat Lin sedikit shock sampai ia butuh waktu untuk mencerna situasi yang sedang dihadapinya.
Berusaha untuk mengontrol air matanya yang muncul tiba-tiba dan wajahnya yang mulai memanas, Lin menganggukkan kepalanya dengan kaku.
Ia pun bangkit dari duduknya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kamu harus menunggu sampai bajumu kering, Nate. Aku sedang mencucinya. Kamu boleh menunggu di sini dulu."
Setelah itu, Lin pun langsung keluar dari kamar dan menutup pintunya pelan.
Sesampainya di ruang tengah, Lin pun duduk dengan perlahan di sofa. Ia meletakkan gelas yang telah kosong itu di meja di depannya.
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa sikap Nate tampak berubah padanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh pria yang sedang berada di kamarnya saat ini. Lin benar-benar merasa bingung.
Baru beberapa jam lalu, Lin merasa kebahagiaan yang tidak terkira dapat bertemu dengan ayah kandungnya. Ia juga merasa sangat bahagia bahwa dalam kondisi apapun, orang yang selalu menemani dan mendukungnya adalah Nate.
Menoleh pada pintu kamarnya yang masih tertutup, air mata Lin tampak mengalir di pipinya.
Perasaannya pada Nate saat ini sudah mutlak. Ia benar-benar sudah tidak akan bisa berpaling lagi sekarang. Tapi kenapa?
Kenapa di saat ia akhirnya memutuskan untuk membalas perasaan Nate, pria itu tiba-tiba malah menjauh dari dirinya?
Menghapus air matanya, Lin memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah sekarang.
__ADS_1
Sudah kepalang tanggung, jika Nate tidak mau menceritakan apapun padanya maka ia sendiri yang akan mencari tahu.
Setidaknya, saat ini ia sudah memiliki sumber informasi yang dapat ditanyainya. Ia tidak akan menyerah. Ia akan memperjuangkan pria itu, karena Lin merasa bahwa perasaannya pada Nate memang pantas untuk ia perjuangkan.