
Sedikit kasar, pria itu dengan paksa mulai melepas pakaian Lin satu demi satu.
"Jangan! Lepaskan Nate!"
Melihat tubuh polos Lin di bawahnya, membuat tangan-tangan Nate mulai bekerja secara aktif. Ia mulai memberikan berbagai belaian dan ciuman ke seluruh tubuh wanita itu.
Hal yang dilakukan Nate di tubuhnya membuat tubuh Lin mulai melemas. Tangannya mencengkeram dan meremas kedua bahu pria di atasnya.
Perlawanan wanita di bawahnya lama-lama melemah dan sampai pada suatu titik, Lin-lah yang akhirnya melingkarkan kedua tangannya di tubuh pria di atasnya.
"Nate..."
"Apakah kamu menginginkannya, Lin?"
Kedua tangan Nate meremas dada Lin dengan cukup kencang meski lembut.
"Hmmh... Nate..."
"Katakan, apakah kamu menginginkan aku, Lin?"
Pria itu menciumi area dada Lin dan membuat wanita itu menjerit ketika merasakan Nate mengisap salah satunya dengan keras dan menggigitinya. Pria ini membuatnya gila.
"Katakan Lin! Apakah kamu menginginkan aku?"
Nada Nate sedikit tinggi ketika ia menengadahkan kepala Lin, sambil memberikan rangsangan kuat di bagian bawah tubuh wanita itu.
Mendengar pertanyaan menyebalkan itu, dengan kasar Lin menarik rambut Nate.
"Iya! Aku menginginkanmu! Sekarang diamlah dan cium aku, Nate!"
Sambil tersenyum puas, Nate dengan senang hati mematuhi perintah itu.
Keduanya tampak bergulat sengit di atas tempat tidur. Masing-masing ingin saling menyentuh, mengelus dan meremas.
Tampak ada kebutuhan yang sangat kuat di antara keduanya, kebutuhan yang sudah sangat lama tertahan. Kebutuhan yang sangat perlu untuk dituntaskan sekarang.
Salah satu tangan Nate kembali turun ke bawah, memberikan rangsangan yang sangat intens pada tubuh wanita itu. Beberapa kali ia mengusapnya sampai wanita itu mengerang lirih.
Merasa bahwa wanitanya gemetar dan sudah sangat siap, perlahan Nate pun memposisikan senjatanya di gerbang surgawi yang telah menantinya.
Tanpa basa-basi, milik pria itu pun menerobos dengan kencang ke dalam, membuat wanita itu secara refleks menjerit dan sedikit mencakar punggung Nate.
Kedua mata Lin terbuka lebar, menatap sepasang mata hitam milik Nate yang juga terbuka. Nafas wanita itu terengah-engah. Ekspresinya kaget dan tampak kesakitan.
Nate cukup kaget dengan kenyataan ini. Tadinya ia mengira kalau Lin...
Tersenyum bahagia, pria itu dengan sangat lembut mulai memberikan kecupan-kecupan di wajah wanitanya.
Tangannya pun secara bergantian mengelus dan memberikan rangsangan di berbagai bagian tubuh wanita itu, mencoba membuat wanitanya merasa rileks dan tidak tegang.
Nate kembali menatap Lin. Pria itu mengusap lembut rambut panjang wanita itu yang telah basah oleh keringat.
"Masih sakit?"
Pria itu masih belum menggerakkan tubuhnya. Ia memberikan waktu bagi wanita itu untuk beradaptasi dengan situasi ini.
Lin mengangguk pelan, kedua pipinya terlihat merona. "Sedikit."
Perlahan, Nate menempatkan wajahnya di leher wanitanya. Ia menghirup aromanya dalam dan menciuminya, sampai ia mendengar Lin mendesah.
"Sudah siap?" Suara Nate terdengar teredam.
Mendengar pertanyaan itu, Lin pun dengan sengaja menggigiti telinga Nate dengan pelan.
Menggeram, pria itu mulai menggerakkan tubuhnya. Awalnya pelan, namun lama-lama keduanya mulai bergerak cepat. Semakin lama semakin cepat dan keduanya pun hampir mencapai ******* secara bersamaan.
Sambil bersiap untuk mengeluarkan kepuasannya di dalam tubuh Lin, pada saat itulah Nate memutuskan untuk menandai wanitanya.
__ADS_1
Kedua taring tajam pria itu mulai memanjang dan dengan cepat ia menggigit leher Lin. Perlahan, Nate menghisap darah wanitanya dan taringnya mengeluarkan cairan khusus yang dengan cepat mengalir ke seluruh tubuh wanita itu tanpa disadarinya.
Rasa sakit di lehernya semakin memompa naluri liar Lin yang dengan segera membuatnya mengerang lirih dan menjerit keras, memanggil pria itu.
"Nate!"
Ia meremas dan mencakar punggung pria yang ada di atasnya. Hasratnya terpompa dengan cepat dan keduanya akhirnya merasakan ledakan yang luar biasa bersamaan.
Setelah pelepasan yang kuat itu, pasangan itu tampak terengah-engah sambil masih saling memeluk. Nate pun perlahan menjilati luka di leher Lin yang tampak mulai menutup dengan cepat karena bantuan air liur pria itu.
Belum juga wanita itu bernafas dengan normal, dengan tiba-tiba ia merasa tubuhnya terangkat dan digendong ala koala.
Memeluk leher pria itu erat, Lin bertanya lemas.
"Nate?"
Mulai memompa dirinya kembali yang masih berada di dalam tubuh wanitanya, Nate mengarahkan mereka memasuki kamar mandi.
Mereka pun melanjutkan kegiatan yang sama di dalamnya, dan kali ini Lin-lah yang pada akhirnya menggigit leher pria itu.
Kepala Nate menengadah ke tembok kamar mandi, memperlihatkan lehernya yang terbuka.
Menjilat leher pria yang tampak pasrah itu, Lin pun memperdalam gigitannya dan mulai menghisap darahnya.
Sekali lagi, mereka merasakan ledakan kepuasan yang terasa luar biasa, membuat Lin terengah-engah dan merasa tidak memiliki tenaga lagi.
Wanita itu bahkan tidak sadar ketika Nate memandikannya dengan lembut, dan perlahan membaringkannya ke tempat tidur.
Pria itu pun menyelimuti mereka berdua dan memeluk tubuhnya erat.
"Lin. Aku mencintaimu."
Nate masih sempat berbisik, sebelum akhirnya jatuh tidak sadarkan diri sambil memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya.
Keesokan harinya, samar-samar terdengar deringan suara ponsel yang tidak berhenti, menggema di dalam kamar tidur yang masih terasa sunyi itu.
Perlahan, terlihat sebuah tangan yang meraba-raba ke arah meja samping tempat tidur dan akhirnya menemukan sumber keributan yang telah mengganggu istirahatnya.
"Halo."
"Halo."
Oh Tuhan!
Yang menelepon adalah Pak Marcus dan wanita itu telah salah mengira, bahwa ia menjawab ponselnya sendiri dan bukan ponsel Nate.
Panik, Lin melihat ke sebelahnya dan terlihat pria yang telah bersamanya tadi malam masih terlelap. Pria itu sama sekali tidak mendengar deringan ponselnya yang berisik tadi.
"Nate. Nate. Pak Marcus menelepon."
Pelan, Lin menggoyang-goyangkan tubuh pria itu dan berbisik di telinganya. Tapi pria itu entah kenapa, masih belum terbangun dari tidurnya.
"Nate!" Tanpa sadar Lin sedikit mengeraskan suaranya.
"Ehm... Nona Alina?"
Sayup-sayup terdengar suara serak Marcus mengalun dari ponsel yang masih dipegangnya.
"Eh, iya Pak?" Gugup Lin menjawabnya. Mukanya memerah.
"Apakah Tuan Axelle masih bersama Anda?"
"Eh. Iya Pak. Dia masih ada di sini."
"Bagaimana keadaannya?"
Keadaan? Apa maksudnya dengan keadaan?
__ADS_1
Melihat Nate yang seperti pingsan, Lin mulai mengkhawatirkan pria itu.
Perlahan dengan sedikit kesulitan, wanita itu menelentangkan tubuhnya yang berat dan menempelkan telinganya ke dada pria itu.
Terdengar dengan jelas detak jantungnya yang kuat, dan suara nafasnya yang sangat teratur.
Pria ini seperti benar-benar pingsan. Wanita itu mencobanya lagi dengan menampar-nampar pelan pipi pria di bawahnya dan masih belum ada reaksi apapun.
Wajah Lin mulai memucat. "Nate?"
Muka wanita itu perlahan memerah dan ia merasakan matanya memanas.
Ada apa dengan Nate?
"Nona Alina?" Terdengar kembali suara Marcus dari ponsel pria itu.
"Pak Marcus... Nate... Nate tidak bangun-bangun."
Suara Lin terdengar bergetar. Wanita itu hampir menangis.
Mendengar hal ini, Marcus terdiam. Berdehem pelan, pria dingin itu bertanya hati-hati.
"Ehm, kalau saya boleh tahu, jam berapa kegiatan terakhir kalian?"
Pertanyaan yang aneh ini membuat Lin sedikit bingung menjawabnya. Wanita itu memegang keningnya, mencoba mengingat-ingat.
"Nona Alina?"
"Ehm... Kalau tidak salah, saya pulang ke apartemen jam 19.00. Kami bertemu dan-"
Wanita itu terdiam, ia tidak mungkin akan menceritakan hal pribadinya pada pria lain.
Berdehem pelan, wanita itu berusaha memusatkan konsentrasinya pada kejadian tadi malam.
"Seingat saya, kami tidur sekitar jam 21.00 tadi malam." Akhirnya ia menjawab pelan.
Matanya masih terpusat pada pria di sebelahnya. Ia memegang wajah pria itu dan terasa hangat. Semuanya masih terasa dan telihat wajar, hanya saja pria itu tidak sadar.
"Sebenarnya, apa yang telah terjadi Pak Marcus? Apakah Nate punya penyakit tertentu?"
Wanita itu mengusap-usap wajah pria yang terlihat tidur itu dengan lembut. Ia berharap pria itu akan segera terbangun.
Di seberang telepon, Marcus melirik jam tangannya yang telah menunjukkan angka 16.00.
Tersenyum sangat samar, pria dingin itu menjawab pertanyaan Lin dengan nada tenang.
"Anda tidak usah khawatir, Nona Alina. Saya yakin Tuan Axelle akan terbangun beberapa jam lagi. Sebaiknya, Anda mempersiapkan air minum untuknya saja bila beliau terbangun nanti."
"Apakah Anda yakin Pak? Saat ini, Nate terlihat seperti pingsan. Ia sama sekali tidak bereaksi meski saya melakukan sesuatu pada tubuhnya."
"Tidak usah khawatir, Nona. Anda dapat menghubungi saya kembali, bila Tuan Axelle masih belum terbangun sampai besok pagi. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat sore."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lin untuk bertanya, Marcus telah menutup teleponnya.
Meletakkan ponsel Nate di meja samping, Lin memeluk tubuh pria itu dengan erat.
Wanita itu menciumi wajah pria di bawahnya dan mulai meneteskan air mata, ketika ia sama sekali tidak mendapatkan reaksi apapun dari pria itu.
Menyurukkan kepalanya di dada yang bidang itu, Lin mulai menangis.
"Nate... Kamu kenapa?"
Ia mencoba sekali lagi dengan mengarahkan tangannya ke area pribadi pria itu, mencoba memberikan rangsangan yang cukup kuat. Namun, wanita itu kembali harus merasa kecewa ketika sama sekali tidak ada reaksi yang datang dari tubuh pria itu.
Kedua mata Nate masih menutup erat dan pria itu sama sekali tidak terbangun dengan tindakan apapun yang dilakukan oleh Lin padanya.
Pada akhirnya, wanita itu hanya bisa menangis dan memeluk tubuh pria di bawahnya. Lin menangis sampai ia merasa lelah, dan matanya mulai terasa mengantuk kembali.
__ADS_1
"Nate... Nate... Bangun..." Lirih wanita itu berkali-kali.
Tidak lama, kedua mata wanita itu pun perlahan mulai menutup. Membawanya kembali ke dalam dunia mimpi.