Maduku Tuan Putri Dirumahku

Maduku Tuan Putri Dirumahku
bab. 41 tidak semudah yang dibayangkan


__ADS_3

POV. Hendri


aku dan Johan bergantian nyetir ,saat kami lelah di perjalanan kami beristirahat dan mengisi perut di warung di pinggir jalan ,setelah melewati perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai dirumah om nya Johan di Bengkulu .


rumah yang terletak di pinggiran kota Bengkulu ,Johan lahir dan besar di Bengkulu ,pindah ke Lampung saat kakak nya menikah dan mengajak kedua orang tuanya dan juga dia menetap di Lampung ,aku bersahabat dengan Johan sejak di SMA ,dia punya usaha mobil travel Jakarta Lampung .


"ayok turun hen...."ajaknya setelah mematikan mesin mobil .


aku keluar dari mobil dan mengikuti Johan ,sampai di depan teras Johan mengetuk pintu dan mengucapkan salam ,,pintu terbuka nampak seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu .


sesaat perempuan itu diam memperhatikan kami , johan tersenyum ke arahnya .


"nakan Hilda lupa ya sama udo." Johan membuka suara,perempuan yang dipanggil makan Hilda melonjak lalu menubruk Johan .


"ya Allah ,udo Johan apa kabar ..?sudah lama sekali tidak bertemu ,tentu wajar jika aku lupa ." ucapnya senang .


"Oya nakan kenalkan ini kawan udo ,namanya Hendri ." mereka melepaskan pelukan nya ,Hilda menyalami tangan ku ,kami berkenalan .


"ayo masuk udo,silahkan duduk aku kebelakang dulu buat air minum buat kalian,tentunya haus ya dari perjalanan jauh ." ucap Hilda seraya berjalan ke belakang .


aku duduk di ruang tamu ,sepertinya Johan paham melihatku bingung ,aku tidak mengerti bahasa panggilan orang Bengkulu ,Johan menjelaskan kalau nakan itu panggilan ke anak perempuan paman ,dan udo panggilan kakak.


Hilda keluar membawa nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring kue talam,aku sempat heran melihat wajah Hilda ,wajahnya putih mulut matanya coklat dan rambutnya pirang alami ,apakah keluarganya ada keturunan bule ."? bathin ku.


"diminum kopinya udo ...bang Hendri .' Hilda menawari kami dengan ramah


aku mengambil kopi dan meminumnya ,,kopi nya enak sekali bikin tubuh hangat .


"wan Zaenal kemana hil..nggak kelihatan ." tanya Johan sambil menyeruput kopi nya .


"Abah lagi ke kota udo ,katanya ada kawan nya mau ketemu ,mau buka bisnis disini,sore ini mungkin sudah kembali .jawab Hilda .


Hilda menyuruh kami beristirahat sambil menunggu Abah nya pulang ,aku masuk kedalam kamar yang ditunjuk Hilda untuk ku ,sementara Johan pamit mau ketempat saudara yang rumahnya tidak jauh dari sini .


saat masuk kedalam kamar aku melihat ke sekeliling ,rumah om nya Johan termasuk bagus untuk ukuran rumah kampung ,kata Johan om nya punya usaha minyak kelapa sawit ,makanya kehidupannya lebih mapan dibanding warga lainya .


aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur ,rasanya penat sekali seharian lebih di perjalanan ,saat aku mengambil bantal di sebelahku aku melihat ada album foto kecil ,aku mengambil dan membuka album itu .


di bagian depan album ada foto Hilda memakai seragam SMA ,Hilda cantik sekali waktu masih SMA dan wajahnya sangat kontras dengan kawan kawan disebelahnya ,aku yakin Hilda pasti ada darah bule entah mewarisi dari siapa .


halaman berikutnya ada foto Hilda dibawahnya ada tulisan "Paris with mom"...keren sekali Hilda pernah ke Paris ,terus yang dimaksud mom itu apakah ibunya ."


entahlah....


aku meletakan kembali album foto dibawah bantal ,ada benda jatuh dari plastik bagian belakang album ,aku mengambil benda pipih seperti liontin ,ada foto Hilda dengan seorang pemuda ,aku mengamati wajah pemuda yang memeluk Hilda ,sepertinya tidak asing dengan wajah itu ,tapi siapa dan dimana aku pernah bertemu .


aku memasukan liontin itu ke dalam album ,kembali merebahkan tubuhku ,fikiranku masih ke pemuda yang bersama Hilda ,mencoba mengingat ingat tapi aku masih bisa menemukan jawaban atas penasaranku .

__ADS_1


aku bangun dari tidur dan melihat jam yang ada di ponselku ,sudah jam lima sore ,lama sekali aku tertidur ,kenapa Johan tidak membangunkan ku ya ,telingaku mendengar suara orang yang sedang mengobrol diluar .


aku berjalan keluar dari kamar ,Johan duduk bersama seorang lelaki paruh baya di ruang tengah.


"kamu sudah bangun hen...." Johan menyapaku .


aku mendekat kearah Johan dan pria paruh baya yang mungkin paman nya Johan .


"ini kawan aku Hendri nama nya wan (panggilan paman ) ,aku menyalami paman Johan dan mencium tangannya .


"mari silahkan duduk ,aku juga baru pulang dari kota ,Hida tadi menghubungiku ,dia bilang Johan ada disini ." pak Zaenal paman johan menjelaskan .


"maaf pak tadi saya ketiduran ,tidak mendengar bapak datang ." ujarku menahan malu .


"tidak apa apa nak Hendri ,sekarang pergi mandilah ,Hilda dan adik perempuan ku sedang masak buat makan malam kita nanti ." ujar pak zaenal sambil menghisap cerutu nya .


aku segera berjalan menuju kamar mandi yang letaknya dekat dapur ,Hilda tersenyum saat aku melewati dapur ,.bau masakan sangat menggoda selera ,perutku sudah teriak minta diisi .


selepas mandi aku kembali bergabung dengan Johan dan paman nya ,kami melanjutkan obrolan sampai waktu magrib tiba ,kami pergi ke mushola dekat rumah untuk shalat berjamaah .


"siapa nama bapak mu hen..."pak zaenal mengawali pembicaraan saat kami sepakat akan membahas masalah yang sedang keluarga ku hadapi .


"Sardiman pak ...." jawab ku


"lalu siapa nama orang yang dulu mencelakai bapak mu ."


"kalau tidak salah namanya Margono ." ujarku sambil mengingat nama yang disebut bapak dulu .


"istrinya Margono pernah meminjam sejumlah uang ke istriku ,tapi saat ditagih dia marah dan melapor ke suaminya ,istriku hampir dianiaya oleh nya ,untung aku cepat menengahi ." ujar pak zaenal .


"sekarang apakah istrinya pak Margono dan anak anaknya masih tinggal di wilayah sini pak ." tanyaku .


"istrinya sudah meninggal karena depresi ,banyak warga yang tidak suka dengan istrinya Margono dan mengucilkannya sampai dia meninggal ,dua anak laki lakinya entah kemana ,anak perempuannya di adopsi orang dan katanya dibawa ke Lampung .


aku menyimak penjelasan dari pak Zaenal , di otak ku sedang menyusun rencana bagaimana langkah awal untuk menyelidiki permasalahan bapak .


"oh ya Johan,wan pernah mendengar kabar sekitar satu tahun yang lalu ,katanya ada warga yang melihat anak laki laki Margono di hotel daerah Simpang limo ." ujar pak zaenal serius .


"benarkah begitu wan...? berarti ada kemungkinan anak nya pak Margono masih tinggal di wilayah ini ." Johan menganalisa .


"iya ,ada kemungkinan begitu coba kamu tanya ke anaknya udo bahri ,siapa namanya wan lupa ." pak Zaenal mengingat ingat sebuah nama .


"Rafli bukan wan..."Johan mengingatkan paman nya .


"iya betul Rafli ,dia kan bekerja dihotel yang ada di simpang limo ,coba temui dia ." kembali pak zaenal memberikan informasi .


keesokan hari aku dan Johan pergi ke rumah Rafli yang letaknya lumayan jauh dari rumah paman nya Johan .

__ADS_1


lima belas menit mengendarai mobil kami sampai di depan rumah bercat coklat muda ,dihalaman rumah ada pohon mangga yang sedang berbuah ,aku jadi ingat istriku yang sedang ngidam, pasti dia senang jika nanti aku bawain mangga untuk nya .


Johan mengetuk pintu rumah ,tak lama keluar seorang ibu paruh baya ,ibunya Rafli ,karena masih ingat dengan Johan.


"Uncu apa kabar ...." Johan menyalami ibunya Rafli ,aku mengikutinya .


"baik Johan ....ayok masuklah ,ajak temanmu ." uncuk panggilan bibi atau Tante disini ,aku dan Johan masuk mengikuti uncuk .


"Rafli dimana *** ,sudah sukses dia sekarang ya katanya kerja dihotel ." ujar Johan .


'iya dia kerja di hotel Simpang limo han,anaknya sedang tidur dapat sift malam ,baru pulang jam tiga tadi ." ujar Uncu semangat .


aku dan Johan menikmati kopi buatan uncuk dan sepiring pisang goreng ,sambil menunggu Rafli bangun ,uncuk tak tega membangunkan anaknya yang sedang tidur .


aku mengambil ponsel ku mengirim pesan ke Friska .


{fris ....kamu sehat kan ,aku sedang berkunjung ke rumah seseorang atas informasi paman nya Johan ,semoga ada titik terang ,kamu doain ya ,jangan lupa makan dan jagain anak anak }


tak berapa lama Friska membalas


{aku baik baik saja mas ,dirumah sudah ada om Rahman ,aku lebih tenang sekarang ,oh iya bapak masih belum ada kemajuan mas ,masih koma ,kita saling mendoakan ya mas ,kamu hati hati disana }


aku mematikan ponsel dan .letaknya di kantong celana ,seorang pemuda keluar dari dalam kamar ,wajahnya masih lesu tapi berubah ceria saat melihat Johan yang datang .


"tadi Mak tidak bilang kalau kamu yang datang han,makanya aku kaget saat lihat kamu barusan ." Rafli terkekeh sambil memukul pundak Johan .


"mandi dulu sana raf ...muka banyak tahi mata tuh Sampai ke hidung ." Johan terkekeh menggoda Rafli ,aku pun ikut tertawa .


'tunggu ya aku mandi dulu ." Rafli berjalan ke belakang .


"ngomong ngomong ada keperluan apa nih kamu mencari ku ." tanya Rafli saat dia ikut duduk bersama kami .


"ini kawan ku hendri ....,bapaknya dukunada masalah waktu bekerja di pabrik sawit ,ada orang yang iri dan mau mencelakai bapaknya Hendri ,tapi keluarga Hendri memutuskan pindah ke Lampung ,tak lama orang itu meninggal ." ujar Johan .


"terus apa hubungannya dengan ku han ." Rafli berucap kebingungan .


"anak dari laki laki musuhnya bapak meneror dan mengancam akan membunuh bapak ,sekarang bapak ku ada dirumahsakit keadaanya kritis setelah digigit ular ." kali ini aku yang menjelaskan ke Rafli .


"Hendri merasa ada yang mencoba membunuh bapak nya dengan memasukan ular kekamar bapak nya ,dan ada bukti kuat dengan pesan yang dikirim ke handphone Hendri dan istrinya yang ada kaitan dengan musibah yang menimpa bapak nya ." ujar Johan .


"siapa orang yang mengancam keluarga mu...bang Hendri ." tanya Rafli serius .


"anaknya Margono ,,musuh bapak ku dulu ." jawabku .


sontak Rafli kaget mendengar penjelasan ku , terlihat dari raut wajahnya .


"menurut info dari wan Zaenal ,kamu pernah melihat anaknya Margono di hotel tempat kamu bekerja ,betulkah itu raf." tanya Johan .

__ADS_1


Rafli menatap Johan dan aku bergantian ,dia menghela nafas berat sebelum melanjutkan bicara .


"yang akan kalian hadapi sekarang bukan orang biasa ,sangat berbahaya ." ujar Rafli tegang .


__ADS_2