
POV. Friska
*******
Winda dan tunangan nya Irfan sudah kembali ke rumah mereka ,,aku bantu ibu membereskan ruang tengah tempat acara tunangan tadi .
"sudah ,kamu duduk aja fris jangan capek capek ." mas Hendri mengambil karpet yang akan aku lipat .
"nggak papa kok mas,asal jangan angkat yang berat berat ." jawab ku lalu beranjak ke dapur membantu bulek Asni merapikan piring dan gelas yang baru di cuci .
"seneng ya fris ,lihat Winda di lamar sama bos nya ,kelihatanya Irfan itu baik dan bertanggung jawab ." ucap bulek Asni sambil mengelap piring yang sudah di cuci .
"iya bulek ,kita doakan saja semoga Winda mendapatkan suami yang baik dan bertanggung jawab ,semoga Winda bahagia ." aku meletakan piring yang sudah dilap ke lemari kayu dapur.
"ya sudah fris ,kamu istirahat sana ,dapur sudah beres bulek mau pulang dulu ya ." ucap bule sambil berjalan ke ruang tengah untuk pamitan sama ibu .
"aku mengikuti dari belakang ,ibu sedang mengobrol dengan mertua ku .
"mbak yu saya pulang dulu ya ," bulek pamitan sama ibu dan mertua ku .
"makasih ya as ,ini dibawa sekalian ,sahut ibu seraya menyodorkan kantong plastik berisi kue dan oleh oleh dari Winda .
"makasih mbak yu ,kalau gitu saya pulang dulu ya ,mari Bu sardi ." Bulek berjalan keluar menuju rumahnya .
"ibu tidur disini saja ,besok diantar mas Hendri pulang ." ujarku ke ibu mertua .
"iya fris ,,tadi sudah telepon Desi ,ibu nginap disini besok baru pulang ." sahut ibu mertua .
keesokan hari aku dan mas Hendri pergi kerumah mas Dany untuk menanyakan perkembangan bengkel .
sampai dirumah mas Dany aku melihat Lina sedang menggendong Angga di halaman ,sepertinya kondisi Lina sudah membaik .
"Lina ...mas Dany ada dirumah ? " tanya ku setelah dekat dengan Lina .
"eh,mbak Friska ,mas Dany sekarang tinggal dirumah istrinya,kalau ibu ada lagi cuci baju ." sahut Lina mempersilahkan kami masuk .
"duduk dulu mbak saya panggilkan ibu di belakang ." Lina berjalan menuju belakang dan keluar bersama ibu .
"eh ada tamu ,gimana kabarnya fris,,kamu sedang hamil ya,wah selamat ya mau punya anak lagi ." ucap ibu setelah duduk di hadapan kami .
"makasih Bu ,Oya mas Dany sekarang tidak tinggal sama ibu dan Lina ya ." tanya ku.
"Dany sudah menikah sama Lena yang punya salon Deket rumah ,nikah biasa saja fris dan hanya mengundang keluarga ,maaf ya nggak ngabari kamu soalnya kata Dany kamu lagi ada masalah nggak mau ganggu katanya ." Ucap ibu mas Dany .
"syukurlah kalau sudah punya keluarga baru ,semoga langgeng ,saya dan suami ada yang mau di bicarakan sama mas Dany ,,apa bisa ketemu ya Bu ." aku memandang ibu .
__ADS_1
"nanti saya kerumahnya dulu ya ,biasanya jam segini dia ada dirumah ." ibu berdiri lalu berjalan ke rumah mas Dany .
dan tak lama kemudian ibu kembali bersama mas Dany dan lena istrinya .
"mas Dany dan lena menyalami kami lalu duduk bersama .
"ada apa Hen ,fris ,tadi ibu bilang kalian ada perlu sama saya ." ujar mas Dany
"aku mau menanyakan soal bengkel mas ,aku kemarin kerumah Desi,aku lihat sepertinya bengkelnya ramai pengunjung ." ujar mas Hendri .
"iya ,istriku Lena membantuku mengelola bengkel ,dan berkat ke pintaran dia promosi bengkel jadi ramai ." mas Dany melirik Lena dan di balas dengan senyuman .
"sebetulnya kami sudah berencana akan ke rumah kalian untuk memberikan pembagian hasil ,tapi kami fikir biarlah agak banyak dulu uangnya baru kami berikan ke kalian ." ucap Lena menjelaskan .
"dua bulan terakhir ini kami memang lagi banyak masalah ,,tapi Alhamdulillah sudah teratasi , dan saya salut sama mbak Lena bisa bikin bengkel jadi ramai ." ujarku memuji istri mas Dany .
"ah mbk Friska bisa aja ,oh iya ini yang pembagian hasil selama tiga bulan sembilan juta ," Lena memberikan amplop berwarna coklat ke mas Hendri .
"makasih banyak mbak Lena ,mas Dany ,semoga lancar terus usahanya baik salon maupun bengkel ." ucap mas Hendri setelah menerima amplop tersebut.
"aku dengar permasalahan kalian ,dan ikut prihatin hen ,semoga kalian bisa mengatasi semua ya ,,kalian orang kuat kok pasti bisa bangkit lagi seperti dulu ." ucap mas Dany iba .
"makasih dah menguarkan kami mas ,kalau begitu aku sama Friska pamit dulu ya .' mas Dany mengajaku berpamitan dan kembali pulang kerumah .
dua hari kemudian dengan uang seadanya mas Hendri menyewa toko kecil di dekat sekolahan dan menjual alat tulis serta membeli mesin foto kopi bekas .
saat dirumah ,setelah pekerjaan rumah beres ,aku iseng membuka aplikasi membaca novel gratis dan menemukan nama pena mbak Mira Astuti .
aku jadi ingat ucapan bapak nya mbak Mira bahwa Mira bisa membeli rumah ku dari hasil nya menulis novel dan berjualan online .
rasa penasaranku membuatku membaca beberapa judul novel ,dan aku tertarik untuk menjadi penulis ,karena banyak wanita yang hanya diam di rumah tapi bisa menghasilkan uang sendiri .
aku mulai mencoba menulis dan mencari judul novel yang bercerita tentang istri yang dimadu dan semua permasalahan hidupnya ,ternyata nggak mudah untuk bisa menulis.
*****
"mama..nenek kenapa tidur nggak bangun bangun ." tanya amori sambil menghampiriku yang sedang duduk diruang tengah menulis .
"mungkin nenek capek sayang,amori main sama mama aja ya." jawabku menenangkan amori .
aku mengambil mainan amori di box lalu memberikan padanya,aku kembali duduk melanjutkan menulis ,kali ini banyak ide yang masuk di kepalaku ,tak ku sia siakan langsung aku tuangkan di tulisan .
praaang...
ada suara benda jatuh dari kamar ibu ,aku berjalan menuju ke sana ,,saat aku buka pintu ibu terjatuh di bawah ranjang .
__ADS_1
"Bu,ibu kenapa ..." aku menggoyang lengan ibu .
tidak ada jawaban ,mata ibu terpejam ,aku mengambil bantal dan menaruh kepala ibu diatas nya .
badan ibu dingin ,,aku menggoyang goyang badan ibu tapi tidak ada respon ,aku ambil ponsel di saku gamis ku dan menghubungi mas Hendri .
tak lama suami ku pulang dan langsung masuk ke kamar ibu .
"ibu kenapa fris ,kok bisa pingsan begini ." tanya mas Hendri sambil memegang urat nadi ibu ,wajah mas Hendri nampak tegang .
"nggak tahu mas ,tadi aku dengar suara benda jatuh dikamar ibu ,ternyata cermin. dibatas meja jatuh bersamaan dengan ibu terjatuh."jawabku ,ada perasaan was was melihat wajah mas Hendri .
"fris ,cepat kamu telepon ambulan ,ibu harus segera kita bawa ke rumah sakit ." mas Hendri masih nampak tegang wajah nya .
sepuluh menit kemudian mobil ambulan datang dan membawa ibu ke rumah sakit ,aku mengikuti di belakang bersama mas Hendri ,amori aku titipkan ke mbak wanti .
"mbak yu kenapa fris ,,apa yang terjadi sampai dia masuk rumah sakit ." tanya om Rahman saat tiba di rumah sakit bersama bulek Asni .
"aku nggak tahu penyebab nya apa om , ibu jatuh terus pingsan ." jawabku .
dokter keluar dari ruang pemerikasaan ,lalu memanggil kami semua.
"saya mohon maaf pak ,Bu ,,saya sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan pertolongan ke pasien ,tapi nyawa ibu anda sudah tidak tertolong akibat serangan jantung ." ucap dokter sambil mengusap peluh di keningnya .
seketika tubuhku lemas ,aku masuk kekamar dan memeluk tubuh ibu yang sudah dingin tak bergerak ,tangis ku pecah ,,,aku menggerak gerakan tubuh ibu ,tak percaya secepat ini ibu pergi .
"sudah fris,,kamu harus ikhlas ,suapan ibu bisa tenang ." mas Hendri memeluk ku dan mengusap punggungku .
om Rahman memeluk tubuh kakak perempuannya ,air matanya pun tumpah begitu pula bulek Asni .
kami membawa jasad ibu pulang ke rumah ,dirumah sudah banyak tetangga yang datang dan membantu menyiapkan peralatan mandi ,ibu mertuaku membantu di belakang bersama Bu Sarmi ,Desi dan suaminya juga sibuk mengurus keperluan pemakaman ibu .
"ibu....huaaaaa ....
Winda berlari masuk kedalam rumah diikuti tunangannya ,dia membuka kain yang menutupi tubuh ibu,Winda menangis ,lalu menhambur ke arahku dan memeluk ku .
"mbak ,kenapa ibu pergi secepat ini ,aku sudah janji sama ibu mau bawa umrah setelah aku menikah ,,kenapa ibu pergi mbak,,,
aku mengelus punggung Winda ,air mata ku masih mengalir membasahi rambut Winda .
"Allah lebih sayang sama ibu win,kita sama sama mendoakan ibu ya win,semoga ibu tenang di sana ."
tidak ada respon dari Winda,aku mengangkat kepalanya ,Winda pingsan .
om Rahman membawa Winda masuk ke kamar ,Irfan menemani dan menyadarkan Winda .
__ADS_1
banyak pelayat datang menyalamiku ,tapi ada aku tidak memperhatikan satu persatu ,jiwaku serasa ikut pergi bersama ibu ,aku sangat terpuruk rasanya belum bisa menerima kenyataan yang teramat pahit .