
Keesokan harinya aku aku memilih pakaian tertutup untuk menutupi bintik-bintik di tanganku, sesampai dikampus David mengajakku kekantin untuk sarapan.
Sebenarnya aku tau kalau David itu sudah sarapan dari rumahnya karena neneknya pasti tidak akan membuatnya kekampus dalam keadaan perut kosong. Namun ini hanya alasannya saja supaya aku bisa sarapan, dirumah aku jarang sarapan karena ibu hanya menyediakan roti dan susu. Aku sangat tidak suka susu dan hanya David yang tau.
Kedua orang tua ku tidak tau apa aku suka susu atau tidak.
Setelah membeli soto kami duduk ditempat biasa. Meja paling pojok kantin tersebut. Aku sangat suka soto yang dijual kantin ini karna sotonya dicampur cumi-cumi. Hampir setiap hari aku memakan soto disini. Berbeda dengan David yang hanya memesan coffee.
Semua mahasiswa memperhatikan kami namun kami tidak pernah ambil pusing akan hal itu, Tiba-tiba doni datang menghampiri kami
“nan aku tau kamu dan David hanya berteman, maka dari itu aku mohon jangan lagi menolak ku. Ayolah kita jadian. Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau”pinta doni
Aku hanya tersenyum dan tidak menjawabnya
"don, sudahlah Nandini itu ga mau sama kamu. Jangan terus-terus mengganggunya dengan mengajaknya jadian”kata David sembari menatap doni yang berdiri disampingnya.
“mending lu diam, aku tidak ngomong sama kau”jawab doni mengancam David.
“Sudah don, sampai kapan pun aku tak mau sama mu, mau kamu jadikan yang keberapa aku dari semua pacar-pacar mu? “tanya ku sambil berdiri.
__ADS_1
“Aku akan meninggalkan mereka demi kamu nan”pinta doni
aku mengabaikannya dan menarik tangan David meninggalkan tempat itu.
Hampir tiap hari aku diganggu oleh doni pria playboy yang kaya itu. aku tidak seperti gadis lain yang tergoda dengan uang doni. sifat buruknya membuatku muak, bahkan dia tidak puas dengan satu wanita saja.
***
Saat kami pulang dari kampus terlebih dahulu kami mencari makan siang, tiap hari kami kamana-mana selalu berdua. Kami menghabiskan waktu bersama selama ini
Sambil menunggu pesanan aku menggeser scroll hp ku
“ya ampun nan kamu gapapa? “ tanya David terkejut sembari mengambil tissu dan menyodorkan kepada ku.
“aku gapapa “ cepat-cepat aku ambil tissu dari tangannya dan menyumbat hidung ku.
Darah terus menetes dan David mulai panik. Dia mengambil air hangat dan menyodorkanya kepada ku. Aku mencoba berdiri dan melangkah menuju toilet. Aku mencuci hidung ku di wastafel toilet tersebut. Aku menatap diriku di cermin tampak pucat. Aku memeriksa leherku dan terdapat banyak bintik-bintik merah.
“Aku kenapa ya”gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku keluar dengan sempoyongan, cepat-cepat David meraih ku supaya tidak terjatuh.
“Nan kamu gapapa ya? Ayo kita kerumah sakit sekarang “pinta David.
“ga kok aku baik-baik aja, aku cuman pusing aja. Nanti juga baikan”sahut ku.
“Nan kamu ga sakit kan? Kamu tampak beda dari sebelumnya, kamu terlihat kurus dan wajah kamu terlihat sering pucat. Kamu ga sakitkan Nan?” tanya David.
“aku itu sehat David, aku itu kuat. Bukankah aku makin cantik? “aku menimpal bertanya
“kamu itu bagiku tetap cantik Nan”jawab david.
“Ahhh sudahlah ayo makan, aku tidak akan melewati makanan kesukaan ku ini hanya gara-gara kepala pusing “ canda ku kepada David.
Dia hanya tersenyum melihat ku semangat menyantap makanan.
Keesokan paginya aku tidak ngampus dengan alasan tidak enak badan. Setelah ibu melihat bintik-bintik merah dibadan ku, ibu menyuruh ku istirahat. Ibu ku memiliki sifat tertutup, dia juga bersifat tenang dan juga terlihat cuek. Bukan hanya kepada orang lain tapi kepada keluarganya pun ibu tidak pernah terbuka. Apa yang dilaluinya sepanjang hari dan apa isi hatinya pun tak seorang pun yang tau. Begitu juga dengan ayah memiliki sifat yang sama dengan ibu, hal itu membuat rumah selalu hening walaupun kami bertiga sedang berada dirumah. Selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan masing-masing.
* * *
__ADS_1