Malaikat Kecilku

Malaikat Kecilku
bintik-bintik merah (suara hati Nandini)


__ADS_3

Hari ini adalah hari ibadah dalam agama ku. Aku di ajak oleh David untuk mengikuti ibadah, aku mengenakan gaun warna merah selutut. Untuk menutupi wajah ku yang pucat aku menutupinya dengan make up, setelah selesai berdandan aku melangkah menuju ruang tamu. Namun tanpa sadar aku darah kembali menetes dari hidung ku, cepat-cepat aku melapnya dengan tissu yang ada di atas meja.


aku melangkahkan kaki keruang makan, disana ayah dan ibu sedang sarapan. hari ini sarapan kami berbeda dari sebelumnya. tersedia soto, gorengan dan beberapa jenis kue.


"wahh cantik sekali putri ayah" puji ayah


"aku hari ini akan pergi kegereja bersama David" sahut ku.


beberapa saat kami hening menikmati sarapan


kami.


"ayah... ma... kapan kita pergi ibadah bareng? kita sudah lama tidak melakukan kebaktian bersama" tanyaku sedikit gemetaran.


"ayah sama ibumu sangat sibuk akhir-akhir ini nak, nanti kita akan pergi ibadah bersama ya" sahut ayah.


ayah dan ibu selama memberi jawaban seperti itu saat aku bertanya kapan pergi ibadah


bersama, namun sampai sekarang tidak pernah mereka tepati. tanpa sadar darah mengalir kembali dari hidungku,


"nak kamu gapapa?" tanya ayah panik


dia segera memberikan aku tissu yang tersedia di atas meja.


"aku gapapa ayah. kalian tenang aja. aku hanya sedikit pusing" sahut ku


"lebih baik kamu cek kerumah sakit" pinta ibu.


mendengar permintaan ibu itu seakan memintaku untuk pergi sendiri. aku sangat sedih mendengarnya.


Tiba-tiba suara klakson mobil David terdengar dari luar, aku segera menghampirinya dengan sedikit sempoyongan. Hari ini David memakai jas hitam, “sangat tampan”Gumam ku dalam hati.

__ADS_1


“Wahhh kamu benar-benar cantik Nan”puji David


Aku hanya tersenyum dan masuk kedalam mobil yang udah dibuka David pintunya.


***


Saat mulai ibadah aku mulai mengambil posisi berdoa, aku hanya diam dan tidak mengucapkan satu kata pun karena aku tau bahwa Tuhan mengerti isi hati ku.


Saat aku membuka mata aku menatap David yang begitu fokus untuk berdoa. Walaupun suaranya pelan untuk mengungkapkan isi hatinya selama berdoa aku masih bisa mendengar setiap kata yang ia ucapkan. Dan nama ku dia ucapkan beberapa kali. Aku tersenyum saat aku mendengar ia meminta agar aku menjadi jodohnya.


Saat selesai ibadah kami keluar dari rumah ibadah, aku memegang lengan David supaya tidak jatuh, kepala ku terasa sakit dan penglihatan ku samar-samar.


“Nan lengan mu kok ada bintik-bintik merah? Tadi itu ga ada deh” tanya David


Dengan cepat aku menutupinya dengan tangan walaupun tetap keliatan karna begitu banyak “ini mungkin alergi”sahut ku


David membuka jas nya dan memakaikannya kepada ku.


“Ya udah kalo gitu kita langsung pulang aja”kata David


***


Hari ini kami memilih untuk tidak kemana-mana setelah pulang dari ibadah, aku memilih istirahat dikamar dan David menonton diruang tamu. Makan siang hari ini David pesan karena dirumah ku tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, itu karena ibu jarang belanja.


sampai malam David belum pulang, dan lampu mati saat jam 19.00wib.


“David.... David... “panggil ku dari kamar


David berlari menghampiri ku, dia memeluk ku dengan lembut, aku hanya terdiam merakan dinginnya tubuh David.


“Nan badan mu sangat panas, ayo kita kerumah sakit”pinta David

__ADS_1


“Aku gapapa kok, aku hanya kelelahan “jawab ku.


Setelah jam 22.40 wib orang tua ku pulang, David berpamitan pulang, hanya ayah yang mengantarnya ke halaman.


“Nan kamu gapapa? “ tanya ibu


“ga kok ma, aku hanya demam saja” sahut ku


“ya sudah istirahatlah” sembari ibu meninggalkan kamarku.


***


Pagi ini ibu memberikan aku secangkir bubur, dengan rasa yang begitu enak aku yakin bukan ibu yang memasaknya.


“Rasanya enak, kakek itu pasti susah payah memasaknya” Kakek yg aku maksud adalah tukang bubur yg tiap hari lewat depan rumah. “Mama tidak sempat membuatnya, kami sudah telat. Kami berangkat dulu. Istirahatlah. “ Gumam mama.


Aku hanya terdiam, aku tidak seperti anak yang lain. Aku anak tunggal tapi jangankan dimanja , diperhatikan tiap hari pun tak pernah. Apa aku ada sudah makan atau tidak?,apa sekolah ku lancar?, apa aku baik2 aja. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bagaimana keadaan ku. Aku merasa bahwa aku tidak pernah mereka fikirkan. Bahkan hari libur mereka sibuk dengan bisnis mereka. Ayah ibu memiliki bisnis toko baju distro di medan mall .


suara mobil ayah terdengar meninggalkan pekarangan rumah. Seperti biasa aku kembali sendirian dirumah. Hening, hanya suara jam dinding yang terdengar. Aku berdiri mendapati cermin dekat pintu kamar. Saat melangkah kepala ku mulai pusing. Badan ku juga semakin panas, Tak tahan panas aku membuka semua baju ku. Betapa terkejutnya aku melihat hampir semua badan ku terdapat bintik-bintik merah.


Aku mencoba kembali ke kasur, namun belum sampai dikasur badan ku langsung jatuh ke lantai. Sudah tidak sanggup berdiri. Belum lama tiba2 terdengar suara kaki sedang berlari ke kamar ku. Aku sudah tidak berdaya. Bahkan walaupun tidak memakai sehelai pakaian pun, aku sudah tidak peduli.


" Nan... Nandini, bangun. Sadarlah buka mata mu” Ternyata David yg datang. Menyentuh ku dengan tangan halusnya membuat ku sangat tenang.


Dia mengangkat ku ke atas kasur, dengan setengah sadar dia memakaikan baju ku. Kemudian dia menggendong ku keluar rumah.


Bisa ditebak pasti kami akan menuju rumah sakit. Belum 10 menit kami sudah sampai di depan rumah sakit.


Dengan sigap Suster langsung membantu ku naik keatas emergency bed.


Sesampai di sebuah pintu ruangan. David melepaskan tangan ku.

__ADS_1


Aku masih setengah sadar, aku masih dapat melihat beberapa Suster sibuk dan seorang dokter memegang suntik. Terasa jarum suntik menembus kulit lengan ku. Semakin lama aku semakin pusing. Hingga akhirnya aku sudah tidak sanggup membuka mata.


****


__ADS_2