Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
[14]. Larva & Oskar's


__ADS_3

"Bahkan di depan orang-orang pun sama"


Kata-kata itu sedari tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Berkali-kali Zelia mencoba untuk menghilangkannya tetapi tak bisa.


Zelia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia bangkit dari kursinya lalu beranjak pergi keluar kamar.


Zelia menuruni satu-persatu tangga di rumahnya, tetapi sangat sepi seakan akan tidak ada penghuninya. Dengan kasar gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Kadang pengin banget bisa ngumpul sama keluarga, terus tertawa bahagia bareng-bareng. Apa mereka gak pernah mikir kalo uang bukan segalanya?"gumam Zelia.


Orang-orang yang melihat Zelia pasti akan beranggapan bahwa hidupnya sangat sempurna. Dengan kedua orang tua yang sangat menyayanginya lalu memiliki dua kakak yang juga sangat menyayanginya. Siapapun yang melihatnya akan berkata bahwa hidup Zelia pasti sangat bahagia.


Tapi siapa sangka ternyata di balik semua itu ada luka yang sangat dalam di hatinya? Zelia tak sebahagia itu. Dia juga salah satu gadis yang kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tua atau bahkan keluarganya.


Bagaimana tidak, dari dulu kecil Zelia selalu di titipkan ke pengasuhnya, karena orang tuanya selalu sibuk bekerja. Dan semua itu masih terus berjalan sampai sekarang.


Memang orang tuanya sangat menyayangi dirinya, hanya saja karena terlalu sibuk bekerja sampai lupa jika Zelia juga butuh waktu untuk kumpul bersama, bercanda bersama, bahkan mungkin liburan bersama.


Seperti yang orang-orang tau, Zelia adalah anak yang bandel di sekolah. Dan juga seperti yang pernah Marvel bilang, dia itu sangat malas jika mengerjakan tugas kalau tidak ada yang menemaninya. Alasannya ya karena dari dulu yang Zelia inginkan adalah agar orang tuanya akan lebih perhatian seperti menyuruhnya untuk mengerjakan tugas atau bahkan menemaninya mengerjakan tugas. Tetapi ternyata bahkan mereka tidak pernah menanyakan soal keseharian Zelia di sekolah.


"Apa perkataan Marvel tadi benar, ya?"


Zelia menggelengkan kepalanya kuat-kuat."Aduh, Zel. Plis jangan mikir aneh-aneh kalo gak mau gila."


Zelia memejamkan matanya dengan perlahan dengan punggung yang di senderkan pada senderan sofa.


"DORRRRRR!"pekik Gea tepat di samping Zelia yang membuat gadis itu jantungan.


"Anjing! Astagfirullah dosa, tapi lo anjing!"umpat Zelia marah yang membuat Gea tertawa.


Dengan cekikikan Gea ikut duduk di samping Zelia yang sedang menatapnya tak bersahabat.


"Maaf, Zel. Elah mata lo udah kaya mau lepas aja,"ucap Gea.


"Gue kaget, bego!"


"Iya, maaf."Gea menelusuri pandangan matanya di seluruh penjuru rumah Zelia."Pada kemana orang tua lo, Zel?"tanya Gea.


"Mama sama Papa lagi ke Thailand, jenguk nenek."


"Lama dong?"


"Paling ya 2 sampai 3 minggu,"jawab Zelia.


"Terus yang lainnya?"


"Bang Jordan kan lagi ke Jogja, nemuin camernya. Kalo kak Clara lagi camping kan sama temen-temennya,"jelas Zelia.


"Lo sendirian dong di rumah,"tanya Gea masih kepo.


"Sama ibu sama pembantu yang lainnya."


Ibu yang dimaksud Zelia adalah pengasuh gadis itu sejak kecil, sampai sekarang juga masih mengurusi keperluan Zelia. Namanya Rura.


Gea hanya mengangguk paham."Lo masih marahan sama Bang Marvel?"


Zelia terdiam, dia sama sekali tak menceritakan kejadian tadi di taman belakang sekolah bersama Marvel kepada teman-temannya. Karena dia pikir ini tidak perlu di beritahu ke temannya.


"Enggak."Hanya kata itu yang keluar dari bibir Zelia.

__ADS_1


Drtt Drtt


Deringan di ponsel Gea membuat pemiliknya langsung mengambil ponsel yang di letakan di saku bajunya.


"Apa Bang?"


"Di mana?"


"Rumah Zelia."


"Pulang!"


Tut Tut...


"Zel, gue pulang dulu, ya,"pamit Gea sembari bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan rumah Zelia.


Zelia menghela nafas berat sebelum akhirnya memilih untuk ke kamarnya.


...•••...


"Vel, anterin ini ke rumah Zelia."Lia menyerahkan piring berisi puding buatannya kepada Marvel.


"Gea kan ada, Ma,"ujar Marvel.


"Dia lagi belajar. Mumpung lagi mau belajar jangan di ganggu."


Marvel menghela nafas pelan sebelum pada akhirnya menerima piring dari Mamanya dan segera pergi ke rumah Zelia.


Marvel memasuki rumah Zelia yang sepi, hanya ada beberapa pembantunya yang sedang bersih bersih walaupun sudah malam.


"Bi, Zelia ada?"tanya Marvel.


"Yaudah, makasih, Bi."Setelah menyerahkan piring bawaannya kepada pembantu Zelia Marvel langsung berjalan menaiki tangga di rumah Zelia untuk menuju ke kamar gadis itu.


Ceklek


Marvel mengerutkan keningnya bingung karena saat pintu terbuka dia tak melihat ada Zelia di dalam. Detik selanjutnya matanya langsung menangkap pintu balkon yang terbuka, tanpa aba-aba Marvel langsung menuju ke balkon.


Marvel menghentikan langkahnya di tengah-tengah kaca balkon saat melihat tubuh Zelia yang sedikit bergetar, bahkan dia bisa mendengar suara isakannya. Zelia nangis? Itu yang ada di pikiran Marvel saat ini.


Dengan langkah pelan Marvel mendekati gadis itu."Kenapa?"tanya Marvel saat sudah berdiri di samping Zelia.


Zelia sontak langsung mengusap air matanya saat mendengar suara seseorang, gadis itu menoleh dan seketika langsung terkejut."Mar-Marvel,"cicit Zelia.


Marvel hanya menaikkan sebelah alisnya, masih dengan tatapan yang tertuju kepada Zelia. Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke besi pembatas balkon dengan kedua tangan yang disilangkan di depan dada.


"Ngapain kesini?"tanya Zelia setelah menormalkan suaranya yang tadi sedikit serak.


"Gak boleh?"


"Kenapa gak ngapelin Jan—"


"Zel, bisa gak usah kaya anak kecil?"geram Marvel. Dia tau kemana arah ucapan Zelia.


Zelia menghela nafas pelan lalu mengfokuskan pandangannya ke depan, enggan menatap Marvel. Suasana hatinya sedikit buruk tetapi di depan Marvel dia akan berusaha terlihat baik-baik saja.


Marvel masih terus memperhatikan wajah Zelia."Kenapa?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Nangis?"


"Gak!"


"Bohong banget, nangis kenapa? Baru di tinggal berapa minggu sama Mama Papa, masa udah kangen aja. Dasar bocah,"gumam Marvel.


Zelia menatap Marvel marah, gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal."Enggak, siapa juga yang nangis. Bisa gak berhenti ngata-ngatain gue bocah, bocil anak kecil atau sebagainya. Gue udah dewasa Marvel!"


"Tapi di mata gue, lo tetep anak kecil,"kekeh Marvel seraya mengacak-acak rambut gadis itu.


"Dih, gaje lo!"


Marvel menegakkan tubuhnya lalu menghadap ke Zelia."Gak mau cerita?"


"Cerita apa?"


"Apa gitu."


Zelia tersenyum lebar."Oh iya. Gue tadi abis nonton larva, tap—"


"Gue gak mau denger kalo tentang itu!"potong Marvel cepat.


"Katanya tadi ma—"


"Itu yang katanya udah dewasa? Tontonanya aja masih Larva sama Oscar's?"ejek Marvel.


"Dari pada lo, yang di pantengin bola mulu. Gak sakit tu mata?"


"Seenggaknya gue beneran udah dewasa, gak kaya lo!"Marvel semakin memajukan tubuhnya membuat Zelia dengan spontan langsung mundur hingga menubruk dinding di belakangnya."Bocil,"lanjut Marvel berbisik di telinga Zelia.


Marvel langsung berjalan masuk dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celananya. Zelia yang melihat itu langsung mengejar lelaki di depannya.


"MAR—"


Dugh


Zelia memegangi keningnya yang terasa berdenyut karena menabrak punggung kekar Marvel yang keras, gadis itu mendongakkan wajahnya menatap Marvel yang sudah menatapnya dengan kesal.


"Kalo berhenti bilang, dong!"solot Zelia kesal.


"Lo ngapain lari-lari kaya bocah?"


Bugh


Tanpa perasaan Zelia memukul lengan Marvel dengan kasar, tapi lelaki itu sama sekali tak meringis."Berhenti bilang gue bocah!"


"Emang bocah, kan?"


"Marvel! Gue nangis, ni,"ancam Zelia memasang wajah melasnya.


"Coba aja,"tantang Marvel.


"Gue marah sama lo!"ucap Zelia merajuk, gadis itu menghentak-hentakan kakinya kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


Marvel yang melihat tingkah Zelia terkekeh pelan."Jangan bergadang, besok berangkat bareng."Setelah mengatakan itu Marvel langsung berjalan keluar meninggalkan kamar Zelia. Dia pulang.


Zelia melebarkan senyum di bibirnya, kini perasaanya terasa membaik karena perdebatan dengan Marvel tadi. Memang dari dulu hanya laki-laki itu yang mampu membuat perasaanya membaik ketika sedang badmood.


Dengan gerakan cepat Zelia menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya, lalu mulai memejamkan matanya hingga benar-benar terlelap.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2