![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Marvel yang sedang duduk di sofa menatap laki-laki tua di hadapannya dengan wajah datar, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kamu harus inget ucapan kakek Marvel, jangan pernah tolak kemauan Fara atau kakek bakal bikin Ayah dan Bunda kamu jadi gelandangan termasuk kamu dan Gea."Harto—Kakek Marvel dia menatap cucunya dengan tatapan penuh ancaman.
Marvel yang mendengar itu menggertakan giginya, wajahnya mulai memerah menahan emosi."Sampai kapan kakek bakal siksa Marvel?"
Harto membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan konyol Marvel. Dia tertawa pelan, tawa meremehkan."Jadi kamu merasa tersiksa dengan ini semua? Lalu apa kamu bakal lebih tersiksa kalo kakek bikin perusahaan Ayah kamu bangkrut?"
"Stop ngancem Marvel kaya gitu, jangan karena selama ini Marvel selalu menuruti kemauan kakek. Terus kakek jadi bersikap seenaknya, kakek tau Marvel udah punya istri!"ucap Marvel sedikit meninggikan suaranya, emosinya sudah berada di atas ubun-ubun dan sebentar lagi akan meledak.
"Kakek gak suka sama dia, apa lagi gadis itu dari keluarga Gino!"ketus Harto.
"Marvel, turuti aja kemauan kakek kamu. Dia cuma mau yang terbaik buat kamu, nak,"ujar Dewi—Nenek Marvel yang dari tadi hanya diam.
"Terbaik apanya, nek? Ini bukan demi kebaikan Marvel, tapi cuma demi kebaikan Kakek. Karena kakek egois!"
"Marvel! Apa itu yang orang tua kamu ajarkan? Jadi anak kurang ajar?"murka Harto saat mendengar jawaban Marvel.
Marvel terkekeh pelan, laku kini sorotan mata tajamnya tertuju kepada kakeknya."Kenapa? Ini bukan ajaran Ayah atau Bunda, tapi ajaran kakek. Kakek yang bikin Marvel jadi anak gak sopan kaya gini."
Laki-laki itu beranjak dari sofa, berjalan mendekati neneknya lalu mencium punggung tangan yang sudah keriput itu bergantian kepada kakeknya."Marvel pulang, assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban dari nenek dan kakeknya dia langsung berjalan keluar, meninggalkan pekarangan rumah kakeknya.
Marvel menatap jalanan di depannya dengan pikiran berkecamuk, sembari terus menjalankan motornya. Dia benar-benar tak mengerti, kenapa hidupnya sesial ini. Entah apa dosa besar yang dia lakukan sehingga hidupnya yang tadinya tentram kini menjadi sial seperti ini.
Marvel menepikan motornya di pinggir jalan, lalu membuka helmnya dan mengambil ponselnya yang bergetar dari saku jaketnya.
"Apa?!"
"Vel, anterin gue jalan ya?"
"Gue sibuk Far!"
"Oh sibuk sama Zelia? Yaudah aku tinggal bilang sama kakek."
"Lo sadar gak si? Kalo cara Lo itu murahan!"
"Gue gak peduli, selama gue bisa dapetin lo."
"Gila!"
Tut tut
__ADS_1
Marvel buru-buru mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak, lalu kembali memasukannya kedalam saku jaketnya. Dia memakai helmnya dan segera menjalankan motornya.
|| Markas ||
Marvel memarkirkan motornya di depan gedung tua yang gak lain adalah markasnya, laki-laki itu berjalan masuk setelah mengambil kunci motornya.
"Dari mana, Vel?"tanya Alden yang sedang duduk di sofa bersama Danil di sampingnya. Sedangkan Rendra dan Kenzo sedang asik bermain game.
"Dari rumah,"bohong Marvel lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa kosong yang ada di hadapan Alden.
"Ada masalah?"tanya Danil serius saat melihat wajah kusut Marvel.
Marvel memejamkan matanya lalu menyenderkan tubuhnya ke sofa sembari memijat pelipisnya, kepalanya terasa ingin meledak sebentar lagi.
"Soal Fara?"tebak Alden.
Marvel kembali membuka matanya,lalu menatap Alden dan Danil secara bergantian."Hidup gue bener-bener sial!"
"Lo gak perlu takut sama ancaman kakek lo, Vel."Danil menatap Marvel dalam, meyakinkan Marvel bahwa dia bisa melewati masalahnya.
"Gue gak tau harus gimana,"gumam Marvel dengan putus asa.
"Gue bisa bantu, Vel. Bahkan kita bakal bantu lo, kita bisa minta bantuan orang tua kita kalo kakek lo bener-bener bakal bikin perusahaan ayah lo bangkrut,"ujar Alden di setujui Danil.
"Lo gak bilang Zelia juga alasannya? Masalah ini?"tanya Rendra yang dari tadi sudah ikut menyimak.
Marvel menggeleng pelan, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya saat benda pipih itu bergetar. Laki-laki itu izin untuk menjauh sebentar kepada teman-temannya.
"Kenapa Bun?"
"Marvel! Dimana kamu? Bisa-bisanya kamu ninggalin istri kamu sendirian di rumah! Kamu tau sekarang Zelia masuk rumah sakit, kamu tau dia punya trauma gak seharusnya malam-malam kaya gini kamu tinggalin!"
Deg
Tubuh Marvel langsung mematung, keringat dingin mulai mengucuri wajahnya. Bahkan tangannya terasa licin karena keringat dingin, bibirnya terkatup rapat seakan-akan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kamu kesini sekarang, atau selamanya gak akan bisa ketemu Zelia lagi!"
Tut tut
Marvel langsung tersadar dari keterkejutannya, dia buru-buru masuk kembali ke markas mengambil kunci motornya lalu pamit kepada teman-temannya. Dengan tergesa-gesa Marvel menghidupkan mesin motornya lalu segera melajukannya pergi meninggalkan markas menuju rumah sakit.
|| Rumah Sakit ||
__ADS_1
Marvel berlari kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang sedikit sepi, nafasnya memburu karena rasa panik bercampur dengan penyesalan. Dia memelankan langkahnya saat melihat keluarganya sedang berdiri di depan pintu ruangannya yang tertutup.
Bugh
"Marvel!"Juan tanpa aba-aba langsung memberikan bogeman mentah di rahang Marvel, membuat laki-laki itu yang belum siap langsung terhuyung ke belakang.
"Bener-bener bodoh! Bagaimana bisa kamu ninggalin istri kamu sendiri malam-malam di rumah hah?!"bentak Juan penuh amarah.
"Ayah, udah."Lia langsung memeluk lengan Juan, mencoba untuk menenangkan suaminya.
Sedangkan keluarga Zelia hanya diam, saat ini yang mereka pedulikan hanya kondisi Zelia. Karena tak ada gunanya juga memarahi Marvel, toh semuanya sudah terjadi.
Ceklek
Suara pintu ruangan yang terbuka membuat semua yang ada di sana langsung menyerbu dokter yang keluar dengan berbagai pertanyaan.
"Dok gimana kondisi anak saya?"
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Dok, apa adik saya baik-baik saja?"
"Bagaimana keadaan menantu kami Dok?"
Dokter yang berdiri di depan pintu menghela nafas pelan, lalu menatap satu-persatu orang yang ada di hadapannya dengan tatapan sendu.
"Untuk saat ini sepertinya pasien akan lebih banyak diam, dia masih trauma dengan kegelapan. Dan mungkin kejadian tadi sangat ekstrim sehingga dia sendiri benar-benar merasa ketakutan seperti itu, jadi untuk saat ini saya berharap jangan banyak di tanya dulu demi kebaikan pasien,"jelas sang dokter membuat semuanya terkejut.
"Pasien sudah bisa di jenguk, saya permisi dulu."Setelah itu dokter pun langsung pergi.
Sedangkan keluarga Zelia langsung masuk menemui gadis yang kini sedang terbaring di atas brankar dengan tangan terinfus dan tatapan kosong.
"Sayang, ini mama."Nia langsung meneteskan air matanya melihat tatapan penuh luka milik anaknya. Dia mengecup kening Zelia berkali-kali membuat sang empu tersadar.
"Mama, jangan nangis."Zelia menatap mamanya dengan senyuman merekah di bibir pucatnya.
Nia pun langsung menyunggingkan sudut bibirnya, meskipun matanya masih berkaca-kaca.
Kini tatapan Zelia tertuju kepada laki-laki yang berdiri di samping kiri brankarnya yang dari tadi hanya bungkam. Dia bisa melihat dari tatapan mata Marvel, laki-laki itu benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
Zelia mengangkat tangannya lalu menggenggam tangan kekar Marvel, senyumannya masih bertahan."Ini bukan salah kamu."
...•••...
__ADS_1