Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
[51]. Rumah Untuk Marvel


__ADS_3

Saat ini Zelia sudah berada di rumahnya, tadi pagi pukul 10 dia sudah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit. Dan sekarang sudah pukul 3 sore, wanita itu sedang duduk di sofa kamarnya sembari menatap foto-foto dirinya saat masih mengandung.


"Bukannya ini yang aku mau? Tapi kenapa rasanya sakit banget, aku gak akan pernah berfikir buat gugurin dia kalo tau rasanya akan sesakit ini,"gumam Zelia.


Wanita itu mengusap sudut matanya yang berair, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Mencoba untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya saat mengingat kembali bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak.


Marvel yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Zelia, ikut duduk di samping istrinya."Mau makan sama apa?"


Zelia yang semula fokus dengan layar ponsel di genggamannya kini menatap Marvel."Aku belom laper."


"Ini udah sore, dan udah waktunya makan."


"Yaudah, terserah kamu aja."


"Gak boleh gitu, sayang. Kamu maunya apa biar aku beliin?"tanya Marvel sembari membenarkan tatanan rambut Zelia yang berantakan.


"Pengin makan sate sama bakso,"jawab Zelia.


"Oke, aku pesenin. Mau minum apa?"


"Air putih aja di rumah kan banyak."


"Yaudah,"balas Marvel lalu meraih ponselnya yang ada di meja. Laki-laki itu segera memesankan makanan yang Zelia minta tak lupa juga untuk dirinya.


"Aku kerja bentar, nanti aku bawa ke sini kalo udah nyampe makanannya,"ujar Marvel seraya beranjak dari sofa berjalan keluar kamar.


Zelia hanya diam menatap punggung Marvel yang sudah menghilang di balik pintu. Wanita itu memilih untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Setelah hampir 20 menit menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, akhirnya Zelia keluar kamar dengan kaos oversize di padukan hotpants sepaha. Dia berjalan keluar kamar menuruni satu-persatu tangga di rumahnya menuju ruang makan.


"Marvel mana, mbak?"tanya Zelia seraya duduk di kursi makan sembari memperhatikan pembantunya yang sedang menyiapkan makanan yang Marvel pesan tadi.


"Masih di ruang kerja, non."Wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu Zelia itu menyerahkan piring berisi sate serta mangkok berisi bakso kepada Zelia.


"Makasih, mbak."Setelah itu Zelia memilih untuk beranjak dari kursinya, berjalan kembali menaiki tangga hingga kini dia berhenti di depan pintu bercat coklat yang menjulang tinggi di hadapannya.


Tok tok tok

__ADS_1


"Sayang, aku masuk, ya."


Tanpa menunggu jawaban dari dalam Zelia langsung membuka pintu ruangan kerja Marvel, dia menghela nafas kasar saat melihat laki-laki itu masih sibuk berkutat dengan layar laptopnya.


"Katanya mau makan,"ucap Zelia seraya berdiri di belakang kursi yang sedang Marvel duduki.


Marvel masih sibuk merevisi beberapa dokumennya, dia sampai tak menanggapi ucapan Zelia karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.


Zelia berdecak malas, lalu memilih menjauh dari laki-laki itu."Kamu sibuk pasti  gara-gara beberapa hari ini nemenin aku di rumah sakit, ya?"


Marvel mendongakkan kepalanya menatap Zelia dengan kening berkerut."Iya, pekerjaan aku bener-bener numpuk. Kamu makan duluan aja, ya."


Zelia menghempaskan tubuhnya ke sofa, lalu menggeleng pelan."Aku nunggu kamu aja."


"Makan duluan, Zel! Jangan sampe kamu sakit lagi,"geram Marvel yang sudah kembali fokus kepada pekerjaannya.


"Enggak!"


"Kamu bisa gak si pikirin diri kamu, pikirin kesehatan kamu! Jangan kaya anak kecil, ya!"tegas Marvel seraya menatap Zelia tajam.


"Maaf, aku gak bermaksud buat marah-marah. Tapi kamu sekali aja ngertiin aku, aku bener-bener pusing banyak banget pekerjaan di kantor yang aku tinggal kemaren. Dan kamu jangan mancing-mancing amarah aku, sayang."


Zelia masih diam tak membalas pelukan Marvel, wajahnya yang semula ceria kini menjadi lesu. Mood-nya sudah hancur gara-gara Marvel, dan sekarang nafsu makannya sudah hilang.


"Sekarang ayo makan,"ucap Marvel seraya beranjak sembari menarik tangan Zelia tetapi wanita itu menolak.


"Kamu makan sendiri, aku udah gak mood,"ketus wanita itu lalu berjalan mendahului Marvel.


Marvel yang melihat itu menggeram kesal, selalu seperti ini. Dia merasa kehidupan rumah tangganya tak pernah berjalan dengan baik, tak pernah tentram. Selalu saja ada pertengkaran antara dirinya dan Zelia.


"Arghhh!"


Bugh


Marvel semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat setelah memukul dinding ruangan kerjanya dengan keras, rambutnya di acak-acak kasar seolah-olah melampiaskan emosinya.


"Kenapa kamu gak pernah bisa ngertiin aku, Zel?"gumam Marvel seraya meluruhkan tubuhnya ke lantai.

__ADS_1


Dia menyenderkan tubuhnya ke dinding, menekuk kedua lututnya lalu menatap kosong ke depan. Wajahnya sudah memerah karena marah, dari matanya sudah menjelaskan bahwa dia sedang banyak masalah.


"Masalah kenapa selalu datang di saat yang bersamaan? Masalah kantor, masalah rumah tangga ini yang gak pernah ada habisnya. Lo emang bego, Vel!"makinya pada diri sendiri.


Bugh


Bugh


Punggung jari-jarinya sudah memerah karena kerasnya dia memukul lantai berkali-kali, matanya memerah karena tak kuat menahan semua kebisingan di pikirannya.


Namun detik selanjutnya dia langsung beranjak dari duduknya, berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar.


Ceklek


Begitu membuka pintu, dia bisa melihat Zelia yang sedang meringkuk di atas ranjang. Namun dia mengabaikan itu, Marvel memilih memakai jaket kulitnya lalu merampas kunci mobil di nakasnya.


"Mau kemana kamu?"


Suara serak Zelia membuat langkah Marvel terhenti di ambang pintu. Laki-laki itu sama sekali tak punya niatan untuk membalikkan badannya sampai akhirnya dia sadar bahwa Zelia sudah berdiri di belakangnya.


"Jangan pergi kalo kamu punya masalah,"gumam Zelia seraya menatap punggung tegap Marvel yang ada di hadapannya.


"Kamu udah dewasa, kamu punya aku, kamu udah berumah tangga udah punya istri. Seharusnya kalo ada masalah itu bilang sama aku, aku dengan senang hati bakal dengerin curhatan kamu, Vel. Kamu anggap aku apa selama ini? Sampai-sampai setiap ada masalah kamu selalu lari dari rumah, apa aku belom bisa kamu percaya untuk jadi tempat pulang saat kamu sedang banyak masalah?"ungkap Zelia membuat hati Marvel langsung tersentak.


Zelia membalikkan tubuh Marvel hingga kini sudah saling berhadapan dengannya, dia menangkup wajah suaminya."Jadiin aku rumah buat kamu, saat kamu punya banyak masalah dan lain-lain kamu bisa ceritain ke aku. Kamu tau aku selalu marah karena hal-hal sepele, karena aku pengin punya tempat buat ceritain keluh kesah aku. Dan aku udah tau gimana sulitnya di saat kita punya banyak masalah, tapi gak punya tempat atau rumah untuk pulang mencurahkan semuanya,"lanjut Zelia.


"Kenapa kamu gak mau cerita apa-apa ke aku?"tanya Zelia seraya menatap Marvel dalam.


"Ini kenapa? Kamu gak boleh nyakitin diri kamu sendiri, Vel. Aku sayang kamu, aku cinta kamu dan aku gak mau kehilangan kamu,"ungkap Zelia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Dia mengusap punggung tangan Marvel yang memerah dengan lembut, lalu meniupnya berkali-kali berharap rasa sakit Marvel akan menghilang. Tubuhnya sedikit tersentak saat tiba-tiba Marvel menariknya ke dalam pelukan hangatnya.


Marvel menumpukan dagunya di kepala Zelia, merasakan sensasi hangat dan tenang di saat yang bersamaan saat berada di dalam pelukan wanita itu. Dia terlalu buta selama ini, padahal Marvel sudah punya rumah yang cukup baik untuk dia pulang saat sedang di landa banyak masalah. Namun dengan bodohnya seringkali dia memilih untuk pergi saat sedang bertengkar.


"Makasih, sayang. Makasih buat semuanya,"ungkap Marvel seraya memberi kecupan sayang bertubi-tubi di wajah Zelia.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2