Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
[49]. Diambang Kematian


__ADS_3

Kini Marvel sedang berdiri di depan pintu ruangan UGD, dia terus berjalan kesana-kemari. Keringat dingin tak berhenti membasahi wajahnya, rasa takut, rasa penyesalan, rasa khawatir semua menjadi satu.


Tadi dia langsung membawa Zelia ke rumah sakit, dengan rasa panik. Sesampainya di rumah sakit Zelia langsung di larikan ke ruang UGD, dan Marvel langsung memberitahu keluarganya. Semuanya dia ceritakan tentang pertengkarannya, tentang semua yang Zelia ucapkan tadi.


Beberapa memar terlihat di wajahnya, bekas pukulan bertubi-tubi dari Jordan, papa dan ayahnya. Jelas saja mereka marah, saat tau bahwa ternyata selama ini Marvel masih belum bisa membahagiakan istrinya.


Namun mereka akhirnya juga mengerti, bahwa semua ini salah mereka bersama. Bukan hanya salah Marvel, terlebih kedua orang tua Zelia yang merasa sangat menyesal dan berdosa. Lia dan Gino tidak pernah berfikir sejauh itu, mereka tak berfikir bahwa Zelia akan terluka karena perjodohan ini.


Setelah hampir setengah jam lebih Zelia di tangani, akhirnya pintu ruangan UGD terbuka menampilkan sang dokter dan beberapa suster yang keluar.


"Dok, bagaimana kondisi istri saya?"tanya Marvel mewakili semuanya.


Dokter yang kini berdiri di hadapan Marvel menampilkan senyumannya."Alhamdulillah, untung pasien tidak terlambat di bawa ke sini sehingga nyawanya bisa di selamatkan. Andai terlambat 5 menit saja, mungkin nyawanya sudah tak tertolong. Pasien akan kami pindahkan ke ruang VIP setelah keluarga membereskan biaya administrasinya. Dan untuk saat ini kondisinya masih lemah dan belum sadar, karena banyaknya darah yang keluar membuat pasien kehabisan darah,"jelas sang dokter.


Semua yang ada di sana langsung menghela nafas lega, terutama Marvel. Laki-laki itu merasa beban yang tadi sangat berat bertenggar di bahunya kini perlahan-lahan mulai menghilang setelah mendengar penjelasan sang dokter.


Namun tiba-tiba wajah sang dokter berubah saat dia mengingat sesuatu."Tapi maaf, untuk bayi di dalam kandungannya tak bisa di selamatkan. Karena tadi pasien sempat mengalami pendarahan, mungkin dia terjatuh? Sehingga bayinya tak bisa di selamatkan,"lanjut sang dokter.


Berita itu bagaikan bencana yang menghantam keras hidup Marvel, matanya langsung memerah. Tubuhnya luruh begitu saja ke lantai, laki-laki itu mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Sedangkan Lia yang melihat kekacauan anaknya langsung memeluk tubuh rapuh itu, dia bahkan sudah menangis tersedu-sedu. Lia tau bagaimana hancurnya Marvel saat tau bayi yang selama ini sudah di nantikan lalu pergi begitu saja sebelum dia sempat merawatnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu,"pamit sang dokter lalu segera meninggalkan ruangan Zelia.


Nia sudah menangis dalam diam di dalam pelukan suaminya, begitupun dengan Clara dan yang lainnya. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Zelia saat mendengar kabar buruk ini, bahkan tak sanggup membayangkan jika ada di posisi Zelia saat ini.


...•••...

__ADS_1


Sudah satu hari lebih Zelia di rawat, dan sampai sekarang wanita itu masih belum sadar dari komanya. Sejak istrinya di pindahkan ke ruang rawat inap VIP Marvel selalu setia menemaninya.


Seorang wanita yang kini tengah terbaring lemah di brankar rumah sakit mulai membuka matanya yang terasa berat perlahan-lahan, keningnya berkerut saat melihat ruangan serba putih dan bebauan obat-obatan yang menyengat.


Dia meringis pelan saat merasakan nyeri di perutnya, hal itu membuat Marvel yang sedang terlelap langsung bangun. Laki-laki itu membulatkan matanya saat melihat Zelia sudah sadar.


"Sayang, kamu udah sadar? Mana yang sakit biar aku panggilin dokter,"ucap Marvel seraya mengusap dengan lembut tangan Zelia yang ada di genggamannya.


Zelia menatap Marvel dengan tatapan sayu, kerutan di keningnya menandakan bahwa dia sedang menahan sakit sekaligus bingung."Perut aku kram, terus ini kenapa kecil? Anak kita udah lahir?"tanya Zelia seraya mengusap perutnya yang berubah menjadi rata.


Marvel terpaku mendengar pertanyaan Zelia, dia tak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan yang sulit seperti ini. Laki-laki itu tersenyum lalu semakin mengeratkan genggamannya.


"Jangan pikirin itu dulu, sekarang kamu harus banyak istirahat,"ujar Marvel.


"Emang kenapa, si? Aku pengin liat anak kita, dia cewek atau cowok?"Zelia benar-benar penasaran ingin melihat wajah bayi yang selama ini di nanti-nanti.


"A-anak ki-kita gak papa, kan?"tanya Zelia gagap dengan perasaannya yang mulai campur aduk tak karuan.


Mata Marvel mulai memerah hingga perlahan-lahan air terlihat menggenang di sana, dia berkali-kali mengecup punggung tangan Zelia di barengi dengan mengucapkan kata maaf tanpa henti.


Tetesan air yang membasahi punggung tangannya membuat Zelia sadar jika Marvel sedang menangis. Dengan susah payah dia duduk, lalu menangkup wajah Marvel hingga kini dia bisa melihat dengan jelas pipi basah dan air mata yang menetes di wajah suaminya.


"Kenapa? Jelasin kenapa kamu kaya gini? Mana anak kita?"


Marvel beranjak dari kursinya berpindah hingga kini sudah berdiri di samping brankar Zelia. Tanpa aba-aba dia langsung menarik tubuh lemas istrinya ke dalam pelukannya dengan air mata yang tak berhenti menetes.


Zelia yang bingung hanya diam membalas pelukan Marvel, kepalanya mendongak menatap Marvel yang sedang menumpukan dagunya di puncak kepalanya.

__ADS_1


Marvel mengangkat kepalanya, hingga kini tatapan mereka berdua saling bertemu."Anak kita gak bisa di selametin, kamu harus ikhlas, ya."


Deg


Bagai terkena lemparan batu besar berkali-kali, hatinya terasa seperti tertusuk benda tajam tak kasat mata. Bibirnya mulai bergetar lalu air mata menetes begitu saja tanpa bisa di cegah. Tubuhnya yang memang masih lemas semakin tak berdaya sehingga Marvel semakin mengeratkan pelukannya.


"Kenapa? Maaff,"gumam Zelia. Suara tangisnya teredam karena dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvel. Memeluk tubuh laki-laki itu semakin erat sembari menumpahkan air matanya.


"Semua gara-gara aku, pasti karena aku dia jadi pergi. Padahal aku belom sempet ngeliat dia, penantian kita selama 7 bulan lebih sia-sia. Maaf Vel aku emang istri yang buruk buat kamu,"cerocos Zelia di sela-sela tangisnya yang semakin menjadi.


Marvel berkali-kali memberikan kecupan sayang di kening istrinya, mencoba untuk menguatkan Zelia meskipun dirinya sangat rapuh saat ini. Tangannya bergerak naik-turun mengusap lembut punggung Zelia yang masih bergetar.


"Maaf,"gumam Zelia. Dia merutuki kebodohannya sendiri, mungkin ini hukuman untuk dirinya agar lebih berhati-hati dalam berbicara. Dia teringat saat punya rencana untuk menggugurkan kandungannya pada saat itu.


"Berhenti minta maaf, ini bukan salah kamu,"tegur Marvel masih setia memeluk tubuh Zelia.


"Kamu pasti kecewa ya sama aku? Kamu boleh kok marah,"ujar Zelia sembari melepaskan pelukannya.


Dia menatap Marvel dalam, air matanya diusap dengan kasar."Kamu mau ninggalin aku?"


Marvel menggeleng lemah, dia benar-benar tak tega melihat istrinya. Mata itu yang sedang menatapnya, terlihat penuh dengan luka. Marvel menangkup wajah Zelia lalu memberi kecupan hangat di bibir wanita itu.


"Kamu istirahat, ya. Gak boleh mikir aneh-aneh, aku bakal selalu bersama kamu sampai kapanpun,"ungkap Marvel lalu mendaratkan kembali kecupannya di kening Zelia lama.


Sekali lagi air mata Zelia jatuh, wanita itu memejamkan matanya menikmati bibir Marvel di keningnya. Entahlah untuk saat ini perasaannya benar-benar campur aduk.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2