![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Marvel menatap wanita yang sedang duduk di hadapannya dengan datar, sejak 10 menit yang lalu mereka berdua sudah duduk anteng di sebuah cafe. Namun tidak ada satupun dari mereka yang mau mengeluarkan suaranya.
"Jadi apa yang mau lo omongin, Ta?"tanya Marvel dingin yang sudah geram dengan Janeta yang dari tadi hanya bungkam, padahal wanita itu yang mengajaknya untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin di bicarakan katanya.
Janeta bergerak gelisah di kursinya, dia yang semula menunduk kini memberanikan diri untuk menatap Marvel. Tangannya yang di letakkan di atas paha mencengkram kuat ujung rok yang di pakainya karena takut sekalipun gugup.
"Gue.... Emm, gini jadi gue nemuin ini kemaren saat lagi berkunjung ke rumah Reksa,"ucap Janeta pada akhirnya seraya menyodorkan amplop coklat yang ada di tangannya.
Marvel mengernyitkan keningnya bingung lalu segera menerima amplop itu, kini pandangannya beralih kembali ke wajah Janeta meminta penjelasan."Apa maksud lo?"
"Jadi gini, gue kemaren sempet buka isinya. Dan ternyata itu tentang laporan kepolisian yang akan memenjarakan pelaku yang membunuh Fara,"jelas Janeta.
"Terus apa hubungannya sama gue? Gue gak ada sangkut pautnya sama kematian Fara, saat dia mati gue bener-bener lagi gak sama dia. Sekarang gue curiga sama lo, kenapa lo keliatan sibuk banget ngurusin kasus yang udah lama di tutup? Kenapa baru sekarang lo cari tau tentang kematian Fara? Lo kenal dia? Atau saudara dia?"ucap Marvel panjang lebar yang membuat Janeta langsung bungkam di tempatnya.
Marvel memajukan tubuhnya sehingga kini jarak antara dirinya dan Janeta semakin tipis."Gue peringatin lagi ke lo, jangan macem-macem sama Zelia. Gue udah tau maksud busuk lo dari awal, Ta. Gue gak sebodoh yang lo kira!"desis Marvel tajam sebelum pada akhirnya beranjak dari kursinya dan segera pergi meninggalkan area cafe.
Janeta yang merasa dirinya justru terancam pun langsung menggebrak meja, melampiaskan kekesalannya terhadap Marvel. Dia menatap amplop yang tadi di bawa lalu kembali memasukkannya ke dalam tas. Janeta memilih untuk pulang ke rumah.
Sedangkan Marvel kini sedang sibuk memikirkan kasus kematian Fara yang kembali di tenarkan, di mana polisi yang sedang menyelidiki dan mencari pembunuh Fara. Yang membuat dia pusing dan bingung, karena mengingat ucapan Zelia yang bilang bahwa wanita itu yang telah membunuh Fara.
Marvel menghentikan mobilnya di garasi rumahnya, lalu setelah mematikan mesinnya dia segera turun masuk ke dalam. Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam lebih.
"Sayang,"panggil Marvel saat tak menemukan keberadaan istrinya di kamar.
Laki-laki itu melepaskan dasi yang terasa mencekiknya sedari tadi lalu melemparkannya ke sembarang arah serta melepaskan jas kerjanya sehingga kini hanya menyisakan kemeja navy yang lengannya sudah di lipat sampai siku.
Marvel kembali keluar kamar untuk mencari Zelia, ruang tamu serta dapur sudah dia lewati dan tak menemukan istrinya. Dan tujuan terakhirnya sekarang adalah ruang kerjanya.
Ceklek
"Sayang, kamu ngapain di sini?"tanya Marvel seraya menghela nafas lega saat menemukan keberadaan istrinya.
Zelia yang sedang berkutat dengan komputer di hadapannya langsung menatap Marvel. Buru-buru dia mematikan komputernya lalu beranjak dari kursi.
"Kamu udah pulang? Maaf ya tadi aku ngecek beberapa pemasukan dari cafe,"ujar Zelia seraya mendekati Marvel yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Kenapa belom tidur, hm?"Marvel memeluk tubuh Zelia dengan posesif lalu mengecup bibir wanita itu berkali-kali.
"Belom ngantuk, kamu udah makan?"tanya Zelia seraya berjalan keluar saat pelukannya sudah terlepas.
Marvel mengikuti istrinya dari belakang lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa saat sampai di kamar."Aku udah makan,"jawab Marvel serak sembari memejamkan matanya.
"Kamu capek, ya?"Zelia dengan sengaja duduk di pangkuan Marvel lalu memijat pelan kedua pundak suaminya.
"Tadi capek banget, tapi capeknya hilang setelah ngeliat kamu,"goda Marvel seraya melingkarkan tangannya di pinggang Zelia menarik tubuh wanita itu agar semakin dekat.
Zelia tersenyum dengan pipi bersemu merah karena godaan Marvel. Kini tangannya berpindah membuka satu-persatu kancing kemeja Marvel sehingga bulu-bulu tipis di dadanya langsung terlihat.
"Kamu mandi dulu, gih."Zelia melepaskan kemaja Marvel hingga kini laki-laki itu sudah bertelanjang dada.
"Sama kamu,"jawab Marvel tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Zelia seperti koala dan membawanya ke dalam mandi membuat sang empu memekik terkejut.
"Gak! Ini udah malem, kalo sama aku kita bakal ngabisin waktu 3 jam!"tolak Zelia seraya memberontak.
Namun Marvel buru-buru menurunkan tubuh Zelia di bathtub yang sudah diisi air hangat, hingga pada akhirnya Zelia hanya bisa pasrah saat Marvel mulai melucuti satu-persatu pakainnya hingga dia benar-benar naked sekarang.
"Jangan teriak, sayang."
...•••...
Zelia menatap wanita yang ada di hadapannya dengan tajam."Mau apa lagi?"
Janeta terkekeh pelan seakan-akan meremehkan Zelia."Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue mau lo bujuk Marvel bu---"
"Jangan pernah mimpi buat dapetin Marvel! Karena sampai kapan pun gue gak akan biarin dia di miliki siapapun selain gue,"potong Zelia.
Janeta berjalan memutari tubuh Zelia dengan kedua tangan di lipat di depan dada."Yakin? Lo mau secepatnya masuk penjara, hm?"bisik Janeta.
Zelia langsung menepis tangan Janeta yang bertengger di bahunya."Gue gak takut, lo tau gue udah punya bukti yang sebenarnya!"
"Oh ya? Bukti apa?"tantang Janeta.
__ADS_1
"Bukti kalo lo pembunuh sebenarnya, jadi kalo lo ngelaporin gue maka lo juga bakal masuk penjara,"sinis Zelia.
"Wow! Apa si bukti yang lo pegang,"ejek Janet lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menyodorkannya di depan wajah Zelia."Liat ini, gimana?"
Deg
Tubuh Zelia langsung membeku di tempatnya saat melihat Vidio yang sedang di putar di ponsel Janeta, di sana terlihat jelas bagaimana saat Zelia menekan pisaunya di lengan Fara meskipun wajahnya tak terlihat.
"Ekhmm, gimana Zelia? Apa itu belum bisa buat lo takut?"
Zelia langsung membalikkan tubuhnya dan saat itu juga matanya membulat."Reksa! Apa maksud kalian?"
"Maksud gue mau cari keadilan,"jawab Reksa santai.
"Gimana Zel? Masih mau main-main sama gue?"Janeta menatap Zelia dengan nyalang.
"Lo bener-bener ya, Ta! Gue kira lo udah berubah, ternyata masih sama!"sinis Zelia menatap Janeta dan Reksa secara bergantian dengan tajam.
"Jangan galak-galak, sayang."
Sebelum tangan besar Reksa menyentuh wajahnya Zelia buru-buru menepisnya kasar."Jangan pegang-pegang gue, brengsek!"
"Gue gak punya waktu banyak buat bantu lo, jadi sekarang urus sendiri cewek gak tau diri ini,"ucap Janeta seraya memutar bola matanya malas.
"Thanks, Ta. Seenggaknya lo udah mempermudah gue buat bawa dia ke sini,"ungkap Reksa sebelum Janeta benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Zelia mulai merasa takut, apalagi ketika mengingat kebrengsekan Reksa yang berkali-kali hampir melecehkannya. Namun sebisa mungkin dia untuk terlihat biasa-biasa saja.
"Apa mau lo? Dendam apa lagi yang lo punya sampai-sampai cari masalah sama gue,"tanya Zelia tanpa basa-basi.
Reksa menyeringai bak seorang iblis, lalu semakin memajukan tubuhnya membuat Zelia dengan spontan langsung mundur.
"Lo lupa siapa Fara? Dan lo yang udah bunuh dia!"
"Lo tau bukan gue pembunuh aslinya, Janeta sendiri yang udah bunuh adek lo!"pekik Zelia yang merasa geram.
__ADS_1
Plak