![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Tak terasa kini usia kandungan Zelia sudah memasuki bulan ke 5, perutnya yang semula rata pun sudah sedikit membuncit. Selama ini juga dia mengalami Morning sickness. Namun setelah kandungannya memasuki bulan keempat dia sudah tak merasakan mual-mual lagi.
Zelia dengan gaun tidur selutut berjalan keluar kamar menuruni satu-persatu tangga di rumahnya, dia sedikit terkejut saat melihat Marvel yang tengah berada di dapur.
"Sayang, kamu ngapain?"tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Marvel yang sedang sibuk berkutat membuat nasi goreng harus mengalihkan pandangannya."Masak nasi goreng. Kenapa udah bangun masih pagi?"Dia mematikan kompornya lalu mendekati Zelia mengecup bibir wanita itu singkat.
"Maaf, ya. Kamu jadi masak sendiri, akhir-akhir ini aku sering bangun kesiangan,"ungkap Zelia dengan wajah murung. Dia memang sangat sulit bangun pagi dari beberapa minggu lalu, entahlah ini ada hubungannya dengan kehamilannya atau tidak.
Marvel menghela nafas pelan, dia menuntun Zelia agar duduk di kursi makan."Tunggu sini aku ngambil nasinya,"ucapnya seraya meraih piring untuk meletakkan nasi goreng buatannya.
"Kenapa mukanya di tekuk? Gak mau nyobain nasi goreng buatan aku?"tanya Marvel yang sudah duduk di samping Zelia.
Zelia menatap Marvel dan nasi goreng di hadapannya secara bergantian. Matanya mulai berkaca-kaca dengan bibir bergetar menahan tangis."Maaf, aku belom bisa jadi istri yang baik buat kamu,"gumamnya sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan air mata menetas.
"Siapa yang bilang kamu belom jadi istri yang baik, hm?"Marvel menangkup wajah Zelia lalu mengusap air mata istrinya.
"Dengerin aku baik-baik, kamu udah sempurna di mata aku. Yang aku pentingin saat ini kesehatan kamu, kenyamanan kamu, juga keamanan anak kita,"ucap Marvel lalu mengusap perut buncit Zelia pelan.
Zelia mengangguk pelan lalu menggenggam tangan Marvel."Nasi gorengnya enak, mau makan lagi,"ucapnya sembari terisak.
Marvel terkekeh pelan, benar-benar menggemaskan tingkah istrinya."Yaudah, lanjutin makannya."
Karena memang sudah lapar dan rasa masakan Marvel yang enak Zelia langsung melanjutkan acara sarapannya dengan lahap, tanpa dia sadari Marvel terus memperhatikannya.
Senyuman di bibir Marvel tak pernah pudar, dia mengusap sudut bibir istrinya yang kotor. Rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu, dia sedih takut Zelia kenapa-napa karena dirinya pasti tak bisa melindunginya 24 jam.
"Pengin main ke rumah Gea,"gumam Zelia dengan mulut penuh.
"Telen dulu makanannya,"titah Marvel yang langsung di lakukan Zelia.
Zelia menenggak air putih yang sudah di tuangkan oleh Marvel di gelas, lalu menatap laki-laki itu."Boleh?"
"Sama siapa? Nanti aku ada meeting,"jawab Marvel.
"Sendiri gak papa, kok."
Marvel langsung mengubah wajahnya menjadi datar. Jelas saja dia tak akan pernah membiarkan Zelia keluar rumah sendiri tanpa dirinya ataupun orang suruhannya."Gak akan pernah aku ngizinin kamu keluar rumah sendiri."
__ADS_1
Zelia mengerucutkan bibirnya sebal, Marvel selalu posesif."Terus? Kamu kerja juga. Aku bosen di rumah, pengin main ke rumah Gea."
"Nanti aku anterin, sekarang siap-siap,"pinta Marvel membuat Zelia mengangguk.
Wanita itu mengambil piring bekas mereka berdua makan lalu membawanya ke wastafel untuk di cuci sebentar. Setelahnya dia langsung ke kamar untuk siap-siap pergi ke rumah adik ipar sekaligus sahabatnya.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dengan Marvel yang mengemudi dan Zelia duduk di sampingnya."Jangan aneh-aneh di sana, jangan keluar-keluar."
Zelia menoleh lalu mengangguk."Aku cuma di rumah Gea, kok."
"Tepatin janjinya, jangan cuma ngomong. Kamu biasanya suka boong,"balas Marvel dengan tatapan yang masih fokus ke depan.
"Iya iya,"jawab Zelia malas mendengar ocehan Marvel yang sejak tadi tak berhenti.
Memang setelah menikah Gea memutuskan untuk ikut Arion yang sengaja membeli rumah dekat dengan rumah Zelia. Sehingga Zelia dan Gea bisa sering-sering berjumpa.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya mereka berdua tiba di rumah Gea. Zelia langsung turun saat Marvel sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah Gea.
"Sayang, pelan-pelan."Marvel menghela nafas kasar saat melihat Zelia berlari memasuki rumah adiknya.
"GEA!"pekik Zelia membuat Gea yang sedang duduk di atas pangkuan Arion langsung bangkit.
Zelia tertawa canggung, dia menatap Arion dan Gea secara bergantian."Gue ganggu, ya? Sorry gak ketuk pintu dulu."
"Gak papa, sans. Sama siapa ke sini?"tanya Gea sembari menuntun Zelia agar duduk di sofa.
"Sama gue, apa?! Gak suka lo?!"sarkas Marvel yang baru memasuki rumah.
"Santai, bro. Jangan bentak-bentak istri gue,"tegur Arion menatap Marvel sinis.
"Dia adek gue kalo lo lupa,"balas Marvel tak kalah sinis.
"Tapi gue lebih berkuasa sebagai suaminya,"ucap Arion.
Marvel mendekati Arion lalu duduk di samping laki-laki itu."Lo tau dia juga pas udah gede, gue yang tau dari kecil."
"Bacot lo!"umpat Arion.
Sedangkan Zelia dan Gea menatap suaminya masing-masing dengan malas. Selalu seperti ini jika Marvel dan Arion di satukan, maka akan beradu mulut tak ada hentinya melebihi ibu-ibu komplek ketika berjulid.
__ADS_1
"Bang Marvel pulang aja, deh. Kalo mau ribut di rumah Gea,"usir Gea dengan tatapan malas.
Mata Marvel langsung membulat, dia terekekeh pelan meremehkan ucapan Gea."Lo ngusir gue? Gini nih kalo adek gak tau terimakasih!"
"Vel, apasih! Jangan berantem kenapa? Udah pada bangkotan doyan banget berantem,"lerai Zelia seraya beranjak dari sofa.
Wanita itu menarik Marvel agar beranjak dari duduknya."Kamu katanya ada meeting buruan berangkat."
"Ck, iya. Ge, abang nitip Zelia. Jangan boleh keluar-keluar, kalo dia kenapa-napa lo yang gue tebas kepalanya,"ucap Marvel lagi-lagi membuat Gea harus menatapnya malas.
"Lebay, deh."Zelia berjalan ke depan mengantarkan Marvel.
Setelah mobil suaminya pergi dia kembali masuk namun langkahnya terhenti di tengah jalan."Mau kemana, Ar?"
"Kerja, lah. Cari duit buat ngasih makan istri gue,"jawab Arion.
"Ck, belagu yang udah nikah."
"Lo juga udah nikah,"balas Arion.
Zelia tak menanggapinya lagi dia memilih untuk masuk ke dalam, wanita itu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke sofa.
"Udah sarapan, Zel?"tanya Gea yang dari dapur.
"Udah, lo masak apa?"
Gea memilih untuk duduk di samping Zelia."Cuma bikin martabak telor,"jawab Gea.
Mata Zelia memicing, dia menatap Gea dengan lekat."Lo gak abis nangis, kan?"
Deg
Mendengar itu dengan spontan Gea langsung mengalihkan tatapannya. Dia mencoba untuk menormalkan ekspresi wajahnya."Siapa yang nangis?"
"Ge, lo tau kan gue siapa? Mau boong gimanapun juga gue tau."
"Gak papa, Zel. Gue gak nangis,"balas Gea masih mengelak.
Zelia menggenggam tangan Gea."Lo masih tetep sahabat gue, dan gue akan dengan senang hati mendengar cerita lo."
__ADS_1
Gea menatap Zelia dalam. Dia ragu ingin membicarakan hal ini kepada Zelia. Tapi apa boleh buat, karena sebenarnya dia juga butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahnya."Sebenarnya...."