Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
Tujuh puluh


__ADS_3

Sore ini Zelia sedang menyiapkan beberapa pakaiannya dan Marvel yang akan di bawa ke hotel nanti malam ke dalam koper, karena besok pagi adalah acara pernikahan adek iparnya yang di adakan di salah satu hotel Bandung.


Wanita dengan kaos oversize dan hotpants sepaha itu kini sedang memasukkan beberapa barang-barang lainnya yang akan di bawa ke dalam tas setelah tadi menyiapkan pakaian.


Setelah selesai dia menatap Marvel dengan jengah lalu menghampiri laki-laki itu yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya."Kamu mau bawa apa lagi?"


"Terserah, sayang."


"Bajunya udah aku siapin, kita cuma 3 hari di sana, kan?"tanya Zelia lagi.


Marvel hanya mengangguk pelan sebagai respon dari pertanyaan istrinya, jari-jari tangannya terus bergerak lincah di atas keyboard.


"Kita bawa bajunya dikit aja kali, ya?"Zelia menatap Marvel kesal menungggu jawaban laki-laki itu.


"Terserah."


Lagi-lagi kata-kata terserah yang Marvel lontarkan membuat Zelia yang sedari tadi berusaha sabar kini menjadi emosi. Wanita itu beranjak dari sofa lalu memasuki kamar mandi.


Brak


Zelia menutup pintu kamar mandinya dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang nyaring, wanita itu berdiri di depan cermin besar yang tertempel di dinding kamar mandi.


Dia mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah menetes membasahi pipinya, bukannya lebay atau cengeng. Pasalnya sedari pagi dia menyiapkan semua keperluan yang akan di bawa ke Bandung, Marvel terus mengabaikannya. Dan dia tak suka di abaikan.


"Heran, apa susahnya jawab yang bener kalo di tanya!"gumam Zelia sembari terisak.


Wanita itu mengusap perut ratanya pelan."Sayang, liat papa kamu udah gak sayang sama mama. Dia lebih sayang sama pekerjaannya."


Tok tok tok


"Sayang? Kamu lagi ngapain?"


Suara ketukan pintu serta pertanyaan Marvel barusan menghentikan isakan Zelia, wanita itu melirik pintu kamar mandinya dari pantulan kaca sejenak. Lalu kembali menatap wajahnya yang pucat dengan mata memerah.


"Mau ngapain?!"balas Zelia sedikit berteriak.


"Kamu ngapain di dalem?"


Zelia mendengus kasar lalu berjalan membuka pintunya setelah mengusap air matanya, dia melewati Marvel begitu saja untuk duduk di tepian ranjang.


Marvel mengikuti Zelia lalu menaiki ranjang duduk di belakang istrinya memeluk tubuhnya dari belakang."Kamu marah, hm?"tanya Marvel seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zelia.


"Ck, marah apa, si?"dengus Zelia sembari menjauhkan tangan Marvel yang melingkar di perutnya namun nihil.


"Maaf, sayang. Tadi aku lagi ada kerjaan,"ungkap Marvel lalu memberi kecupan basah bertubi-tubi di leher istrinya.


"Terus? Yaudah sana lanjutin kerjanya, kan penting banget. Lebih penting dari segala-galanya,"sindir Zelia. Dia meraih ponselnya yang ada di nakas lalu mulai memainkannya mengabaikan keberadaan Marvel.


"Udah selesai."

__ADS_1


"Kamu udah selesai nyiapin barang-barangnya?"lanjut Marvel namun tetap di abaikan oleh Zelia.


Laki-laki itu menghela nafas kasar, lalu mengigit pipi Zelia dengan gemas membuat sang empu memekik kesakitan.


"MARVEL!"pekik Zelia lalu memukul lengan Marvel dengan keras.


"Kalo orang ngomong tu di jawab,"ucap Marvel seraya membawa tubuh Zelia ke dalam pangkuannya. Dia menyenderkan badannya ke senderan ranjang.


Zelia yang sudah duduk mengangkang di atas pangkuan Marvel menatap laki-laki itu malas."Emang enak di kacangin?"


"Gak boleh gitu, sayang."


"Kamu aja gitu ke aku! Apa?! Dari pagi kamu ngacangin aku!"sinis Zelia.


"Aku lagi ke---"


"Tadi aku lagi main hp!"balas Zelia cepat memotong ucapan Marvel.


Marvel terkekeh pelan lalu menangkup wajah istrinya.


Cup


Cup


Cup


Nafas Zelia terengah-engah saat Marvel melepaskan ciumannya, matanya memerah menahan tangis membuat Marvel panik sendiri.


"Eh, jangan nangis. Kok nangis. Aku nyakitin kamu? Kegigit bibirnya? Atau aku terlalu kasar?"tanya Marvel bertubi-tubi dengan wajah resah dan khawatir.


Zelia menggeleng pelan, namun matanya semakin berkaca-kaca."Aku gak bisa nafas,"ucapnya.


"Maaf, sayang."


"Pengin tidur,"lanjut Zelia membuat Marvel tertawa pelan. Serandom itu keinginan Zelia, di menidurkan istrinya ke ranjang lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Dah, sekarang tidur."


"Kita berangkat jam berapa?"tanya Zelia sembari memainkan tangannya di dada Marvel.


"Jam 9 malam,"balas Marvel sembari terus mengusap punggung istrinya naik-turun dengan lembut.


Mata Zelia mulai terpejam namun dia kembali membukanya."Bangunin aku, loh."


"Iya, sayang. Aku gak mungkin ninggalin kamu."


"Yaudah,"gumam Zelia lalu lama-lama terlelap.


Marvel terus memandangi wajah damai istrinya dengan lekat, jujur dia sangat mengagumi segala hal yang ada di tubuh istrinya. Tangannya terangkat untuk mengusap pelipis Zelia.

__ADS_1


Pandangannya teralihkan saat ponselnya yang ada di nakas bergetar, Marvel buru-buru mengambilnya lalu menerima panggilan masuk dari bundanya.


"Halo, Vel."


"Iya, Bun."


"Kamu dimana?"


"Masih di rumah? Kenapa?"Marvel mengerutkan keningnya bingung, tumben-tumbenan bundanya menelfon.


"Mau berangkat jam berapa?"


"Jam 9 malam mungkin, gak jadi naik kereta. Mau pake mobil nanti di supirin,"jelas Marvel.


"Kenapa gak naik kereta aja?"


"Zelia gak mau, Bun. Kasian dia, kalo di paksa juga."Memang niatnya kemaren-kemaren dia akan ke Bandung baik kereta, namun tadi pagi tiba-tiba Zelia meminta agar mereka naik mobil saja.


"Yaudah kalo gitu. Ini bunda sama yang lainnya baru nyampe."


"Kak Clara udah ikut sekarang sama bang Jordan?"


"Iya, tadinya Clara sama suaminya mau nanti malem. Tapi mamanya minta buat bareng kita sekalian."


"Oh gitu. Gea udah ke situ, kan?"tanya Marvel. Memang yang akan menikah besok adalah Gea, adik kandungnya.


"Dia ma udah sampe sini tadi pagi. Dia berangkat duluan sama temen-temennya."


"Yaudah, deh kalo gitu. Marvel ntar malem berangkatnya."


"Iya. Mana istri kamu?"


Marvel menatap Zelia yang masih terlelap lalu tersenyum."Dia baru aja tidur, seharian ngambek."


"Duh, menantu bunda gemesin. Kenapa ngambek?"


"Marvel tinggal kerja bentar tadi, tau-tannya ngambek."


"Ck, kebiasaan! Yaudah kalo gitu bunda matiin dulu, ya."


"Iya, Bun."


Setelah panggilannya terputus Marvel meletakkan kembali ponselnya ke nakas, dia memiringkan tubuhnya menarik Zelia ke dalam pelukannya. Memberikan kecupan hangat di kening lalu puncak kepalanya.


Tatapan Marvel turun ke perut rata Zelia, lalu mengusapnya pelan."Sayang, jangan nakal, ya. Kasian mama kalo kamu rewel."


Marvel tersenyum saat mengingat di dalam perut istrinya ada buah hati yang sedang dia tunggu-tunggu kehadirannya."Sehat-sehat di perut mama, sayang. Biar bisa ketemu mama papa,"lanjut Marvel. Tatapannya berubah sendu saat mengingat almarhum anaknya. Yang bahkan belum sempat melihat dunianya namun sudah kembali di ambil Tuhan.


Marvel mengeratkan pelukannya lalu ikut memejamkan mata sampai tak lama kemudian terlelap.

__ADS_1


__ADS_2