![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Seorang wanita dengan dress hitam selutut yang sedikit longgar di tubuhnya dengan perut buncit itu berjalan dengan anggun melewati lorong-lorong kantor.
Zelia, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan yang bertuliskan CEO. Setelah mengetuk berkali-kali pintunya akhirnya Zelia di persilahkan untuk masuk.
"Janeta?"beo Zelia saat melihat wanita dengan kemeja serta rok hitam selutut yang melekat di tubuh wanita itu.
Janeta yang sedang berbincang-bincang dengan Jordan dan Marvel langsung menolehkan kepalanya. Kini semua pasang mata pun tertuju kepada Zelia.
"Hai, Zel."
Zelia mendengus pelan lalu segera duduk di antara Janeta dan Marvel."Ngapain lo di sini?"
Janeta terkekeh pelan, rupanya Zelia terlihat masih tak menyukainya. Mengingat dulu masa SMA nya, saat mereka tak pernah akur.
"Kita ada kerja sama, sayang."Marvel mengusap kepala Zelia pelan.
"Ada abang juga, jangan khawatir Marvel berpaling,"timpal Jordan ketika melihat kecemburuan adiknya.
Janeta dan Jordan tertawa pelan. Janeta sedikit menggeser tubuhnya."Tenang, Zel. Gue juga udah punya pasangan gak mungkin ngerebut suami orang,"ujar Janeta.
Zelia memicingkan matanya, menatap Janeta dengan lekat."Lo udah gak suka sama suami gue, kan?"
"Enggak, yaampun. Itu cuma dulu, masa-masa cinta monyet."
"Sayang, udah."
Janeta memilih bangkit dari duduknya "Kalo gitu, gue permisi dulu Vel, bang Jordan."
Jordan dan Marvel ikut berdiri lalu menjabat tangan Janeta."Semoga kerja samanya lancar,"ucap Jordan.
Akhirnya Janeta pergi meninggalkan ruangan Marvel. Jordan pun sudah ikut pamit, laki-laki itu tak pernah bisa lama-lama jauh dari istrinya.
Setelah kepergian dua makhluk itu, Zelia langsung kembali duduk di sofa memainkan ponselnya tanpa mempedulikan Marvel.
"Kenapa ke sini?"tanya Marvel yang sudah kembali duduk di samping istrinya.
"Kenapa? Gak boleh?"sinis Zelia.
"Ck, kamu lagi hamil, sayang. Dan gak boleh capek-capek,"tegur Marvel.
"Aku ke sini pake mobil gak jalan kaki, jadi gak capek."Zelia memutar bola matanya dengan malas.
Wanita itu memilih beranjak dari sofa seraya meraih tasnya. Dia berjalan menuju ke pintu hendak pergi sebelum ucapan Marvel menghentikan langkahnya.
"Aku gak ngizinin kamu keluar!"Marvel berjalan mendekati Zelia, memang istrinya itu sangat sensitif setelah hamil.
Laki-laki itu menuntun Zelia untuk kembali duduk di sofa, di tangkupnya wajah istrinya."Aku minta maaf,"ucap Marvel dengan wajah lelahnya.
Zelia memutar bola matanya malas, lalu memalingkan wajahnya membuat tangan Marvel terlepas.
__ADS_1
"Mau minta apa?"tawar Marvel saat tak mendapat jawaban dari Zelia.
"Gak."
"Mau makan?"
"Udah."
"Kamu mau apa?"
"Enggak mau apa-apa."
Marvel hanya bisa menghela nafas berat, lalu beranjak dari sofa menuju ke kursinya untuk mengerjakan beberapa berkas yang belum selesai. Kesabarannya sudah mulai habis menghadapi sikap Zelia yang seperti itu.
Sedangkan wanita itu yang merasakan di abaikan pun memilih untuk berdiri meraih tasnya mendekati Marvel.
"Aku mau pulang,"pamitnya seraya mengecup punggung tangan suaminya.
"Sekarang?"
Zelia mengangguk dengan wajah lesu, entahlah tiba-tiba dia ingin menangis. Oleh karena itu dia memilih untuk pulang dari pada menangis di kantor Marvel.
Marvel beranjak dari kursinya setelah mengirim pesan kepada seseorang yang menjadi tangan kanannya lalu meraih jas dan ponselnya.
"Ayok pulang,"ajak Marvel seraya memeluk pinggang Zelia dengan posesif. Sedangkan wanita itu hanya mengikuti langkah Marvel menuju ke mobil dan segera pulang.
Sesampainya di rumah, Zelia langsung turun dari mobilnya tanpa mau menunggu Marvel. Wanita itu dengan susah payah duduk di sofa kamar, karena perutnya yang membuncit membuat dia kesusahan bergerak.
Sedangkan di luar rumah, Marvel masih sibuk mematikan mesin mobilnya. Tadi hendak turun mengejar Zelia tetapi ada telepon masuk membuat dia lebih dulu mengangkat panggilannya.
Laki-laki itu berjalan dengan gagah menaiki satu persatu tangga di rumahnya, lalu membuka pintu putih yang menjulang di hadapannya.
Ceklek
Marvel berdecak kesal seraya membuka jas kerjanya, mendekati Zelia yang tertidur di sofa lalu dengan perlahan membawa tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
Dengan hati-hati Marvel menurunkan Zelia di ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuh Zelia sebatas dada. Laki-laki itu mengecup kening istrinya dengan sayang lalu mengusap puncak kepalanya.
"Eunghhh,"lenguh Zelia perlahan-lahan membuka matanya.
"Sayang, jangan tidur di sofa lagi. Nanti kepala kamu sakit,"tegur Marvel. Laki-laki itu berjongkok di samping ranjangnya lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Ketiduran,"gumam Zelia lalu mengubah posisinya menjadi memunggungi Marvel dan kembali terpejam.
Marvel hanya bisa menghela nafas pelan lalu memilih berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket sebelum ikut tidur.
...•••...
Zelia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum pada akhirnya terbuka lebar, wanita itu menatap sekelilingnya. Ternyata langit sudah mulai menggelap itu tandanya sebentar lagi malam akan tiba.
__ADS_1
Dia duduk di pinggiran ranjang untuk mengumpulkan nyawanya lalu segera membersihkan tubuhnya. Setelah selesai hanya dengan daster selutut yang melekat di tubuhnya, berjalan keluar kamar.
Zelia memicingkan matanya saat melihat Marvel sedang berkutat di dapur, hanya menggunakan celana selutut dan bertelanjang dada.
"Vel, kamu ngapain?"tanya Zelia seraya mendekati Marvel, dia berdiri di samping suaminya.
"Udah bangun?"tanya Marvel balik tanpa menatap lawan bicaranya karena sibuk dengan nasi goreng yang sedang di olah.
"Udah, kamu bikin nasi goreng?"
"Iya,"jawab Marvel lalu mengambil dua piring kosong dan meletakkan nasi goreng yang sudah jadi ke piring itu.
"Kenapa gak bangunin aku?"Zelia mengikuti Marvel yang berjalan menuju meja makan.
Marvel menarik kursi lalu mempersilahkan Zelia untuk duduk di susul dirinya."Kamu tidur, sayang."
"Tapi kan bisa bangunin, masa kamu yang masak."Bukannya apa-apa, Zelia hanya tak tega melihat Marvel harus masak sendiri.
"Gak papa, lain kali aku bangunin kamu. Makan sekarang,"titah Marvel membuat Zelia langsung menyantap makanannya.
Marvel sama, dia juga mulai memakan nasi gorengnya, mereka menghabiskan makan malamnya dengan hening.
Setelah selesai makan, kini Marvel dan Zelia sedang duduk bersampingan di sofa ruang tamu. Dengan Marvel yang sibuk berkutat dengan laptop yang ada di pangkuannya, lalu Zelia sibuk melihat sinetron di layar tivinya.
"Sayang, lusa aku ada kerjaan di Bandung,"gumam Marvel.
Zelia yang sedang asik dengan kegiatannya langsung menoleh, menatap Marvel."Lama?"
"Paling 3 hari lebih,"jawab Marvel. Laki-laki itu mematikan laptopnya meletakkan di meja lalu menatap Zelia dengan tatapan teduhnya.
"Yaudah,"balas Zelia. Lagipula mau dilarang pun, itu pekerjaan Marvel.
"Sayang, kamu gak marah, kan?"tanya Marvel seraya menangkup wajah istrinya.
Zelia hanya menggeleng pelan, entahlah dia hanya tak ingin berjauhan dengan Marvel tetapi tak tau bagaimana caranya agar laki-laki itu tak jadi pergi.
"Kalo kamu gak mau di tinggal, aku bisa cansel. Kalo gak biar asisten aku yang wakilin,"lanjut Marvel.
Zelia masih diam menatap Marvel, lalu dengan pelan memeluk laki-laki itu dari samping."Aku gak mau jauh dari kamu."
Senyuman manis terbit di wajah Marvel saat mendengar kejujuran Zelia, dia semakin mengeratkan pelukannya."Yaudah, aku gak jadi berangkat."
Zelia mendongak menatap Marvel."Jangan, itu kan juga penting. Kamu gak boleh ngutamain aku, karena kerjaan kamu juga penting."
"Kamu lebih penting dari apapun, sayang."
Pipi Zelia seketika bersemu merah saat mendengar gombalan Marvel."Halah, gombal mulu."
Marvel hanya bisa tertawa, dia paling senang jika menggoda Zelia. Apalagi melihat pipi gadis itu yang memerah bak tomat matang.
__ADS_1
...•••...