Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
[50]. Kehilangan


__ADS_3

Seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam itu kini sedang duduk di kursi roda, menatap gundukan tanah yang masih basah di hadapannya dengan sendu. Air matanya tak bisa berhenti menetes sejak dia sampai di pemakaman.


Tubuh Zelia semakin bergetar saat satu-persatu orang-orang mulai pergi meninggalkan makam anaknya, hingga kini hanya tersisa keluarganya serta keluarga Marvel.


Memang dia masih belum bisa berjalan, karena kondisinya juga masih lemah. Sehingga harus memakai kursi roda untuk beberapa saat ketika ingin pergi.


"Sayang, kamu iklhasin anak kamu, ya. Percaya sama mama, Tuhan pasti akan kasih kamu kepercayaan lagi nantinya,"ucap Nia seraya memberi kecupan di wajah anaknya.


"Gak boleh nangis, kamu gak mau kan dia sedih nantinya kalo liat mamanya nangis?"timpal Lia yang berdiri di samping kursi roda Zelia.


Zelia hanya bisa mengangguk lemah, Marvel yang berdiri di belakang kursi roda dia langsung mengusap air mata yang membasahi pipi Zelia. Lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala wanita itu.


"Ayo kita pulang, kayaknya mau hujan,"ujar Juan saat melihat awan yang tadinya terang mulai menggelap karena mendung.


"Zelia balik ke rumah sakit ya, sayang. Bunda sama ayah pulang dulu soalnya ayah ada acara di kantor,"ucap Lia.


Akhirnya mereka semua memutuskan untuk pergi meninggalkan area pemakaman, dengan orang tua Marvel dan orang tua Zelia yang pulang. Lalu Marvel mengantar istrinya kembali ke rumah sakit.


|| Rumah Sakit ||


Kini Zelia sedang terlelap di brankar rumah sakit, wanita itu langsung memejamkan matanya sesampainya di rumah sakit. Mungkin dia kelelahan karena sebenarnya kondisinya sendiri belum stabil, namun tadi harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh untuk memakamkan anaknya.


Sebenarnya dokter dan keluarganya tadi sempat melarang dia untuk ikut, namun karena Zelia kekeuh untuk tetap ikut memakamkan anaknya sehingga semuanya pun hanya bisa pasrah. Mereka tau bagaimana terlukanya wanita itu saat ini.


Meski matanya terpejam, namun Zelia sudah terbangun sejak tadi. Dia tak bisa berhenti menangis ketika mengingat anaknya, kehilangan seseorang yang sudah sangat kita harapkan kehadirannya memang sangat sulit untuk di ikhlaskan.


Marvel yang duduk di kursi tepat samping brankar Zelia pun langsung mengusap air mata di pipi istrinya. Dia tau apa yang istrinya rasakan saat ini, karena sesungguhnya dirinya pun tak sekuat itu. Hanya saja dia harus terlihat kuat demi menguatkan Zelia yang jelas-jelas lebih terpuruk.


"Jangan nangis, sayang. Buka mata kamu, ada aku di sini,"gumam Marvel seraya membawa tangan dingin Zelia ke dalam genggamannya.


Entahlah Marvel sendiri jujur masih kecewa dengan perbuatan gila Zelia yang nekat melukai dirinya sendiri, namun situasinya sangat tidak pas untuk marah ataupun kembali menyalahkan wanita itu. Hingga akhirnya Marvel memilih untuk melupakannya, dan yang terpenting sekarang adalah selalu ada dan lebih perhatian kepada Zelia.

__ADS_1


Zelia membuka matanya, lalu menatap Marvel dengan sendu."Pengin peluk,"rengeknya.


Marvel tersenyum lalu beranjak dari kursinya hingga kini sudah ikut terbaring di sebelah Zelia, menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Untung brankar di ruangan VIP sangat luas, sehingga cukup untuk tidur dirinya dan Zelia.


Marvel menumpukan dagunya di kepala Zelia, menatap lurus dengan kosong. Pikirannya berkelana kemana-mana, rasa sedih, kehilangan dan lain-lain bercampur jadi satu. Namun dia tetap berpura-pura untuk kuat demi terlihat baik-baik saja oleh keluarganya.


"Kamu gak akan ninggalin aku, kan?"tanya Zelia setelah cukup lama bungkam. Wanita itu mendongak agar bisa menatap wajah Marvel tanpa melepaskan pelukannya.


Marvel sedikit menunduk hingga akhirnya tatapan mereka saling bertemu, laki-laki itu mengusap sebelah pipi Zelia lalu dengan gemas menggigitnya membuat sang empu mengaduh kesakitan.


"Sakittt,"rengek Zelia sembari mengerucutkan bibirnya sebal.


Marvel hanya terkekeh pelan, lalu tangannya berhenti di bibir pucat wanita itu di usapnya pelan menggunakan ibu jarinya."Sayang, apapun kondisi kamu. Mau kita berantem kaya gimanapun, jangan pernah harap aku bakal ninggalin kamu."


"Love you,"ungkap Zelia dengan mata berkaca-kaca.


Marvel semakin menepis jarak wajah keduanya hingga kini kening mereka sudah menyatu, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.


Zelia memejamkan matanya, tangannya mencengkram kuat ujung kaos yang Marvel kenakan. Hingga akhirnya keduanya larut dengan ciuman yang menjelaskan seberapa besar rasa cinta mereka kepada satu sama lain.


...•••...


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09 malam lebih, kini Marvel dengan telaten sedang menyuapi Zelia bubur yang di sediakan oleh rumah sakit. Besok pagi wanita itu sudah di izinkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya sudah membaik.


"Udah, pengin muntah gak enak buburnya,"tolak Zelia saat Marvel hendak kembali menyuapkan bubur di sendok ke dalam mulutnya.


Marvel menghela nafas pelan, tak apa wanita itu tak menghabiskan makanannya yang terpenting adalah Zelia sudah memakan beberapa sendok sehingga perutnya sudah terisi malam ini.


Dia meletakkan mangkok berisi sisa buburnya ke nakas lalu mengambil air putih yang ada di dalam gelas memberikannya kepada Zelia.


"Sekarang tidur, ya?"ucap Marvel seraya mengusap sudut bibir Zelia yang kotor menggunakan tangannya.

__ADS_1


Zelia mengangguk pelan, namun masih pada posisinya duduk tanpa ada niatan untuk tidur.


"Kenapa?"tanya Marvel saat melihat tatapan sendu istrinya.


"Pengin di peluk, takut nanti pas aku udah tidur kamunya pergi,"ungkap Zelia membuat Marvel langsung tertawa melihat tingkah menggemaskan istrinya.


Laki-laki itu buru-buru menaiki brankar Zelia, lalu membantu wanita itu untuk merebahkan tubuhnya hingga kini keduanya sudah saling berpelukan. Marvel mengecup seluruh wajah Zelia bertubi-tubi membuat sang empu terkikik geli.


"Marvel udahhhh!"pekik Zelia saat Marvel terus melakukan aksinya.


Marvel semakin meledakkan tawanya membuat Zelia pun ikut tertawa. Untuk sejenak mereka melupakan kesedihannya karena kehilangan anaknya, namun tak tau di hari yang akan mendatang apa mungkin mereka masih bisa tertawa lepas tanpa beban seperti sebelum-sebelumnya saat belum kehilangan.


Tiba-tiba tawa Zelia mereda, wajahnya berubah menjadi sendu. Marvel yang sadar perubahan Zelia pun langsung menatap wanita itu dengan khawatir.


"Hey, kenapa kok murung?"tanya Marvel lembut seraya mengusap surai hitam Zelia.


"Maaf, ya. Gara-gara aku kamu gak bisa ngerasain gendong anak kita, padahal aku tau kamu udah nunggu banget momen itu,"ucap Zelia saat dia mengingat bayinya yang sudah pergi. Sesakit ini ternyata rasanya kehilangan seseorang yang sudah di tunggu-tunggu kehadirannya.


"Sayang, aku udah bilang berkali-kali ke kamu. Ini bukan salah kamu, bukan salah siapa-siapa. Mungkin emang Tuhan belom percaya sama kita, jadi kita harus belajar lebih banyak lagi biar bisa jadi orang tua yang baik. Percaya sama aku, Tuhan akan memberi kejutan yang tak terduga ke kita suatu saat. Aku yakin kamu bisa hamil lagi,"jelas Marvel.


Zelia mengangguk, dia yakin Tuhan akan kembali memberinya kepercayaan untuk menjadi seorang ibu."Makasih kamu udah selalu ada, udah mau bertahan sama aku."


"Sama-sama, sayang. Kita harus tetep bareng-bareng apapun keadaan dan masalah yang masuk ke dalam kehidupan kita,"ucap Marvel dengan tulus.


Laki-laki itu mengecup kening Zelia lama."Sekarang tidur, ya. Udah malem kamu besok mau pulang, kan?"


"Iyaa, goodnightt,"ucap Zelia setelah mengecup kedua pipi Marvel lalu mulai memejamkan matanya.


"Night tooo, sayang."Marvel pun ikut memejamkan matanya hingga akhirnya mereka berdua terlelap.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2