Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
Lima puluh empat


__ADS_3

Sudah satu bulan lebih setelah kejadian dimana Zelia kehilangan anaknya, bagi wanita itu untuk sampai di titik ini terasa sangat sulit. Dimana dia yang harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian anaknya, dia yang setiap malam biasanya menangis karena menyesal sekarang sudah tidak melakukan hal konyol itu lagi.


Marvel selalu memberitahu dirinya, bahwa menangis setiap malam pun tidak akan membuat anaknya kembali hidup yang ada hanya akan menguras tenaga serta air matanya. Hingga akhirnya perlahan-lahan Zelia benar-benar bisa mengikhlaskan anaknya.


Wanita dengan kaos oversize navy di padukan hotpants sepaha itu kini sedang sibuk dengan masakannya di dapur. Jadi 2 minggu lalu pembantunya sudah keluar karena katanya sudah capek bekerja sehingga pada akhirnya Zelia memilih untuk tidak mencari pembantu lagi. Karena bagi dirinya sangat sulit untuk bisa percaya kepada orang baru lagi, berhubung pekerjaannya di rumah tak terlalu berat akhirnya dia memutuskan untuk mengerjakan semuanya sendiri.


"Pagi, sayang."


Marvel dengan setelan kerjanya yang sudah  rapi melekat di tubuhnya itu berdiri di belakang Zelia lalu mengecup kedua pipi istrinya sebelum pada akhirnya duduk di kursi makan menunggu sarapannya di siapkan.


"Pagi, kamu udah mau berangkat?"tanya Zelia seraya berjalan mendekati meja makan dengan satu mangkok berisi ayam yang sudah di masak serta satu piring masakan lainnya.


Zelia meletakan beberapa menu yang dia masak pagi ini ke meja makan, lalu mengambilkan suaminya nasi beserta lauknya ke dalam piring serta menuangkan air putih ke gelas kosong di hadapannya.


"Iya, nanti ada meeting jam 8."Marvel langsung menyantap sarapannya.


Zelia pun sama dia juga ikut sarapan, karena Marvel tidak akan pergi kerja sebelum melihat Zelia sarapan.


Setelah selesai Marvel langsung beranjak dari kursinya berjalan keluar rumah dengan Zelia di sampingnya yang membawakan tas miliknya.


"Jangan kecapean, aku gak suka liat kamu capek-capek."


"Iya bawel,"balas Zelia seraya mencium punggung tangan Marvel.


Marvel tersenyum manis lalu memberikan beberapa kecupan hangat di wajah Zelia sebelum pada akhirnya memasuki mobilnya dan membawanya pergi meninggalkan pekarangan rumahnya menuju kantor.


Zelia pun langsung masuk kembali saat mobil Marvel sudah menghilang dari pandangannya, wanita itu berjalan menaiki satu persatu tangga di rumahnya menuju ke kamar.


Dia melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 7 pagi, jadi dia memutuskan untuk mencuci pakaian serta membereskan rumahnya.


|| Kantor ||


Marvel yang sedang sibuk mengecek beberapa dokumen miliknya di kejutkan dengan pintu ruangannya yang tiba-tiba di buka dari luar tanpa permisi.


"Sopan lo gitu?"kesal Marvel menatap tajam laki-laki yang kini sudah duduk di depannya.

__ADS_1


Alden yang merupakan pelaku tak sopan itu pun hanya terkekeh pelan menanggapi kekesalan sahabatnya. Namun detik selanjutnya wajahnya berubah menjadi serius.


"Gue udah nemuin kebenaran tentang kematian Fara,"ucap Alden yang membuat Marvel langsung menatap laki-laki itu serius.


"Jadi? Apa kejadian yang sebenarnya, dia meninggal karena kecelakaan atau...."Marvel tak sanggup melanjutkan ucapannya dan Alden paham maksud laki-laki itu.


"Dia sebenarnya di bunuh bukan kecelakaan,"jawab Alden."Dan pembunuhnya---"


Tok tok tok


"Sial!"umpat Marvel lalu dia memerintahkan Alden untuk meninggalkan ruangannya karena dia akan meeting sekarang.


...•••...


Zelia yang sedang sibuk berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit di kejutkan dengan kehadiran sosok Janeta yang kini sedang menghalangi langkahnya.


"Hai, Zel. Kok bisa kebetulan gini si ketemu?"sapa Janeta dengan ramah seraya memamerkan senyumannya.


Zelia pun ikut membalasnya."Hai, iya ya kok bisa kebetulan. Lo ngapain di rumah sakit?"


"Ouh, ini gue abis nebus obat bokap gue,"jawab Janeta seraya mengangkat kantong putih kecil yang ada di genggamannya.


"Ini gue kemaren abis kecelakaan kecil, udah gak papa, si."


"Serius? Yaampun gue gak tau, emang lo sama siapa?"Jujur Zelia sedikit ngeri melihat kening Janeta yang di balut perban dan luka di bagian bibir wanita itu.


"Gue sendiri, kok. Emm, kalo gitu gue duluan ya udah di tungguin supir,"pamit Janeta yang langsung di setujui oleh Zelia.


Zelia menatap punggung Janeta yang mulai menghilang dari pandangannya dengan lekat, matanya sedikit memicing ketika melihat kertas seperti foto polaroid yang ada di lantai. Dia sedikit menunduk lalu meraih kertas itu.


"Punya Janeta, ya? Apaan si,"gumam Zelia lalu membalikkan kertas itu.


Matanya membulat dengan tangan yang mulai bergetar, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya begitu melihat foto di genggamannya.


"Fa-Fara...."Buru-buru Zelia berlari mengejar langkah Janeta, dia tau ini foto dari Janeta tadi yang mungkin sengaja menjatuhkannya.

__ADS_1


Di balik kertas itu ada foto Fara yang sudah bersimbah darah di seluruh wajahnya, bukan itu yang di permasalahkan saat ini. Tetapi tentang apa tujuan Janeta yang dengan sengaja menjatuhkan foto itu.


"Duh, kemana lagi udah gak keliatan jejaknya,"kesal Zelia seraya mengatur nafasnya yang memburu.


Dia kembali menatap foto di genggamannya, dan sekarang kecurigaannya terhadap Janeta semakin bertambah. Dia yakin mungkin saja Janeta adalah orang yang selama ini menerornya dengan mengirim beberapa foto-foto Fara yang menyeramkan, lalu mengirim bangkai tikus yang sudah di cabik-cabik dan banyak lagi.


Karena tak menemukan Janeta akhirnya Zelia memilih untuk pulang ke rumah, dia tadi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya yang belakangan ini sering sekali sakit kepala dan sakit perut. Dan hasilnya tadi dokter bilang karena lambungnya yang kambuh.


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit lebih akhirnya mobil yang di kendarainya sampai di garasi rumahnya. Buru-buru Zelia turun memasuki rumahnya saat melihat mobil Marvel sudah terparkir rapi di garasi.


"Sayang, kamu dari mana? Kenapa baru pulang?"tanya Marvel bertubi-tubi begitu melihat kedatangan istrinya.


Zelia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar lalu menyenderkan kepalanya di bahu Marvel.


"Abis keluar bentar, tadi berangkat udah sore jadi sampe malem,"jawab Zelia jelas saja bohong. Karena dia memang tidak memberitahu Marvel jika akhir-akhir ini sering merasakan sakit di kepala dan perutnya.


"Ketemu Liora?"tebak marvel seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Enggak, dia kan udah berangkat. Aku cuma ke cafe-cafe gitu doang, sendirian."


"Lain kali bilang dulu kalo mau keluar, ya."


Zelia menjauhkan tubuhnya dari Marvel, lalu menatap laki-laki itu dengan lekat."Maaf ya aku gak izin kamu tadi."


Marvel terkekeh pelan melihat wajah memelas Zelia, lalu menangkup wajah wanita itu dan memberi kecupan bertubi-tubi di wajahnya."Gak papa, jangan di ulangin lagi."


Zelia beranjak dari duduknya lalu pindah ke atas pangkuan Marvel."Kamu udah gak kerja lagi, kan?"tanyanya, pasalnya biasanya Marvel akan kembali sibuk dengan laptopnya meskipun sudah ada di rumah.


Marvel menggeleng pelan seraya melingkarkan tangannya di pinggang Zelia dengan posesif."Kenapa, hm?"


"Ya aku gak suka aja kalo kamu masih sibuk kerja padahal udah di rumah,"adu Zelia seraya mengusap jakun Marvel yang bergerak naik turun.


Marvel memejamkan matanya menikmati usapan lembut tangan Zelia yang perlahan-lahan turun membuka satu-persatu kancing kemejanya. Zelia langsung membungkam bibir Marvel dengan bibirnya seraya menarik kemeja laki-laki itu hingga terlepas.


Marvel yang sudah terlanjur bergairah langsung menidurkan tubuh istrinya ke sofa dan dia memposisikan dirinya di atasnya sehingga Zelia tak bisa bergerak karena kukungannya.

__ADS_1


"I love you,"gumam Marvel lalu kembali melanjutkan aksinya untuk menerjang Zelia yang sudah pasrah di bawahnya.


...•••...


__ADS_2