![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Suara burung berkicau serta cahaya matahari yang memasuki kamar membuat tidur Zelia harus terganggu. Wanita itu menutup mulutnya saat menguap lebar, lalu membalikkan badannya sehingga langsung di sambut wajah damai Marvel yang masih terlelap.
"Sayang, wake up,"bisik Zelia seraya menepuk-nepuk pelan pipi Marvel.
Laki-laki itu hanya bergumam pelan lalu menarik tubuh Zelia ke dalam pelukannya, matanya masih terpejam karena memang dia benar-benar mengantuk mengingat semalam baru bisa tidur di pagi hari.
"Kamu gak kerja?"tanya Zelia.
"Enggak,"balas Marvel masih mempertahankan matanya yang terasa berat agar tak terbuka.
Zelia mendengus kesal lalu membuka mata Marvel dengan paksa."Bangun udah pagi!"
"Bentar, sayang."Marvel justru menyembunyikan wajahnya di depan dada Zelia seraya semakin mengeratkan pelukannya.
Pada akhirnya Zelia hanya bisa diam, dia memainkan rambut hitam Marvel yang berantakan."Kamu jadi nganterin aku?"
"Iya,"gumam Marvel.
"Yaudah, aku mau buat sarapan dulu,"ujar Zelia seraya menjauhkan tubuhnya dari Marvel namun tak bisa karena tenaganya kalah dengan laki-laki itu.
"Nanti pesen aja, jangan masak kamu capek,"tegur Marvel.
"Kelamaan, katanya mau nganterin aku!"kesal Zelia seraya terus mendorong tubuh Marvel hingga akhirnya dia bisa beranjak dari ranjang.
Tanpa mempedulikan panggilan Marvel, Zelia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah selesai dia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan.
Pagi ini Zelia hanya menyiapkan 2 gelas susu putih serta dua piring berisi roti yang sudah di lapisi selai. Dia menatap sarapannya lalu meletakkannya ke nampan dan membawanya kembali ke kamar.
Ceklek
Melihat ranjangnya sudah kosong Zelia langsung meletakkan sarapannya ke meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa, sembari menunggu Marvel keluar dari kamar mandi dia memainkan ponselnya.
"Mau ke rumah mama, gak?"tanya Marvel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu berjalan mendekati Zelia dengan tangan memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya.
Zelia mendongak lalu meletakkan ponselnya ke meja, dia mengambil alih handuk di tangan Marvel lalu membantu mengeringkan rambut suaminya.
"Kalo kamu gak sibuk,"balas Zelia.
__ADS_1
"Kayaknya enggak, hari ini gak ngantor."Marvel langsung menyantap sarapannya setelah rambutnya selesai di keringkan.
"Nanti makan di cafe aja, ya. Sama belanja keperluan dapur,"gumam Zelia. Karena memang keperluan dapurnya sudah banyak yang habis, padahal belum lama dia belanja.
"Hm,"jawab Marvel.
Zelia menghentikan kunyahannya saat tiba-tiba perutnya terasa mual, seperti di kocok-kocok. Wanita itu menutup mulutnya lalu berlari secepat kilat ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya.
Huekk huekkk
Marvel yang melihat itu pun langsung menghampiri istrinya, membantu memijat tengkuk wanita itu sembari membawa rambut Zelia ke dalam genggamannya agar tak kemana-mana.
"Udah?"tanya Marvel saat melihat Zelia selesai membasuh wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi.
Zelia hanya mengangguk lemah lalu menyenderkan badannya di tubuh Marvel, jujur tenaganya benar-benar terkuras habis. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang dan kini sudah berada di dalam gendongan Marvel yang membawanya ke ranjang.
"Kamu istirahat aja, kita ke rumah sakit siangan,"ujar Marvel membuat Zelia hanya bisa menurut.
"Masih mau di lanjutin sarapannya?"tawar laki-laki itu namun langsung di balas gelengan kepala oleh Zelia.
Zelia memiringkan tubuhnya lalu menatap lurus ke luar melewati kaca balkon yang sengaja di buka, tiba-tiba dia kepikiran soal keterlambatan dirinya pms. Atau jangan-jangan dirinya benar-benar hamil?
Bagaimana jika Zelia benar-benar hamil, tetapi kejadian sebelumnya akan terulang lagi? Wanita itu terus gelisah memikirkan hal-hal buruk yang sudah pernah terjadi, takut akan kembali terjadi nantinya.
Zelia hanya takut dia belum bisa menjadi ibu yang baik, bagaimana jika nanti dirinya keguguran lagi karena kebodohannya? Bagaimana jika nanti anaknya akan meninggal lagi sebelum melihat dunianya? Bagaimana jika nanti dirinya dan Marvel harus kehilangan anaknya sebelum sempat melihat wajahnya? Bagai—
"Sayang, kenapa ngelamun?"
Pertanyaan Marvel serta pelukan tiba-tiba membuat lamunan Zelia buyar, wanita itu membalikkan tubuhnya lalu menatap Marvel dengan sendu.
"Kalo aku hamil gimana?"tanya Zelia sembari memainkan jarinya di dada Marvel.
Marvel mengecup kening Zelia lalu menangkup wajah istrinya."Kamu gak boleh takut, sayang. Kalo kamu hamil berarti Tuhan udah ngasih kepercayaan ke kamu lagi,"jelas Marvel.
Zelia menghela nafas pelan, dia menurunkan tatapannya tak berani membalas tatapan Marvel."Maaf udah pernah ngecewain kamu, aku belum bisa jadi istri yang baik."
Marvel menarik tubuh Zelia ke dalam pelukannya semakin erat lalu mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Berkali-kali memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.
__ADS_1
"Syutt! Berhenti bilang kaya gitu. Kamu udah sempurna di mata aku, sayang."
Zelia menjauhkan sedikit tubuhnya lalu menatap Marvel dengan mata yang berkaca-kaca."Kamu beneran gak bakal selingkuhin aku, kan?"
"Siapa yang bilang mau selingkuh, hm? Demi apapun aku udah gak tertarik sama cewek lain. Kamu tau aku sama Fara waktu itu karena ancaman kakek,"jelas Marvel.
Zelia mencoba untuk mencari kebohongan dari mata Marvel, namun tak ada. Yang dia dapatkan hanya sebuah penyesalan besar, dan Zelia tau Marvel melakukan itu demi menyelamatkan keluarganya.
Akhirnya wanita itu memilih menyembunyikan wajahnya di dada Marvel, terisak pelan. Entahlah tiba-tiba Zelia hanya ingin menangis, tak tau apa yang membuatnya sedih sehingga harus meneteskan air matanya.
Marvel yang mendengar isakan istrinya langsung panik, dia menangkup wajah Zelia lalu mengusap air matanya."Kenapa nangis, hm?"
Sedangkan yang di tanya hanya menggeleng dengan polosnya."Gak tau, pengin aja."
"Jangan nangis,"larang Marvel menatap ke dalam bola mata Zelia dengan sendu.
"Aku gak mau kamu nangis, gak mau kehilangan kamu."
"I love you,"gumam Zelia dengan suara seraknya.
"Love you too, sayang."Marvel semakin menepis jarak wajahnya dengan Zelia lalu segera menyatukan keningnya.
"Jangan tinggalin aku,"pinta Zelia.
Marvel menggeleng pelan, dia tersenyum saat bisa merasakan hembusan nafas Zelia yang panas menyentuh wajahnya karena jaraknya yang sangat dekat.
"Gak akan, bahkan aku berharap kita bisa sama-sama sampai mati,"jawab Marvel.
"Janji, ya?"
Marvel menganggukkan kepalanya dengan mantap lalu memiringkan wajahnya meraup bibir pucat Zelia. Dia terus mencecap, menggigit serta menghisap bibir manis istrinya. Marvel mendorong kepalanya agar pagutan bibirnya semakin dalam.
Zelia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Marvel, dia memejamkan matanya seraya mulai membalas ciuman Marvel yang semakin ganas.
Wanita itu menggerang pelan saat Marvel mengigit bibir bawahnya, lalu tak lama setelahnya dia merasakan sentuhan tangan kekar Marvel di perutnya terus naik sampai di dua gundukan yang mengganjal.
Zelia hanya pasrah saat Marvel melepaskan kaos oversize yang melekat di tubuhnya, membiarkan laki-laki itu melakukan apapun sesukanya.
__ADS_1