![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
Hari demi hari berlalu, bulan pun berganti. Tak terasa kini anak Zelia dan Marvel sudah berusia 5 bulan, sejauh ini mereka selalu mengurusi anaknya bersama-sama. Mereka selalu kompak, memberikan kasih sayang yang penuh kepada anaknya. Bahkan Marvel yang dulu ketika kerja selalu pulang malam kini hanya sampai pukul 5 sore. Karena laki-laki itu ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama anak dan istrinya.
Indriana Mhyesa Kirania, gadis kecil yang membuat hidup Zelia lebih berwarna dan sempurna. Mereka memanggilnya dengan nama Rania.
Zelia kini sedang sibuk memandikan Rania, sedangkan Marvel sudah berangkat ke kantor tadi pukul 7 pagi. Zelia sendiri tidak terlalu repot karena sekarang sudah ada mbak di rumahnya yang membantu untuk membersihkan rumah dan pekerjaan lainnya.
"Sayangnya mama cantik banget, hm?"gumam Zelia sembari membalut tubuh basah anaknya menggunakan handuk lalu menggendongnya membawa keluar kamar mandi.
Kini Rania sudah di tidurkan ke ranjang. Sembari memakaikan pakaian anaknya Zelia tak pernah memudarkan senyumannya.
"Papapa....tatata...."
"Papa kerja, sayang."Zelia menoel pipi tembem anaknya.
"Mamamama,"oceh Rania yang sudah sibuk bermain dengan mainannya.
Zelia memindahkan tubuh Rania ke karpet agar tidak jatuh, karena anaknya itu sudah mulai aktif.
"Sayang tunggu sini bentar, ya."Wanita itu berjalan keluar kamarnya lalu berdiri di ujung tangga.
"Mbak!"panggilnya sedikit keras membuat pembantunya yang ada di dapur langsung menghampirinya.
"Kenapa, non?"
"Tolong jagain Rania sebentar, saya mau mandi dulu,"pinta Zelia seraya kembali ke kamarnya di susul oleh pembantunya.
Wanita itu langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena hari ini dia akan mengunjungi kantor Marvel, sudah sangat lama Zelia tak berkunjung ke kantor suaminya.
Setelah hampir setengah jam berada di dalam kamar mandi akhirnya Zelia keluar dengan blouse hitam di padukan rok rajut panjang yang sudah melekat di tubuhnya. Dia berjalan mendekati meja riasnya lalu duduk di sana.
"Ck, Marvel marah gak ya gue ke sana?"gumam Zelia sembari memoleskan bedak tipis di wajahnya. Lalu memakai lipstik untuk mewarnai bibirnya agar tak pucat.
"Bodoamat marah juga,"lanjutnya. Dia berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya dia ikat kuda agar tak risih nantinya.
Lalu setelah selesai dia meraih tas yang sudah di siapkan tadi dan berjalan keluar kamar menuruni tangga.
"Mbak, saya tinggal dulu, ya."Zelia membawa tubuh mungil Rania ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Hati-hati, non."
Zelia mengangguk lalu berjalan keluar rumah, dia akan di antarkan oleh sopirnya sekarang. Wanita itu duduk di kursi penumpang, dan mobil pun mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Mamamama dadahhhh paapapa,"oceh Rania yang sedang memainkan jarinya untuk di gigit.
Cup
Zelia mengecup kedua pipi tembem Rania secara bergantian, anaknya ini benar-benar terlihat sangat menggemaskan."Jangan gigit jari, sayang."
Rania menggelengkan kepalanya kuat-kuat sembari menatap mamanya dengan mata bulatnya."Mbemmmmm, papappaa."
Melihat wajah sumringah anaknya membuat senyuman Zelia tak pernah luntur sejak tadi, apalagi saat Rania mengoceh tak jelas. Terkadang saat dirinya sedang lelah begitu melihat wajah anaknya semua rasa lelah itu lenyap begitu saja.
Memang benar senyuman anaknya dan wajah gembiranya bisa menyembuhkan rasa lelah, rasa sedih dan rasa-rasa buruk lainnya yang terkadang membuat dirinya badmood.
Akhirnya setelah beberapa menit menghabiskan waktu di jalan kini mobil yang Zelia tumpangi sudah berhenti di depan kantor Marvel yang terlihat ramai banyak para karyawan-karyawati yang berlalu-lalang.
Zelia berjalan memasuki kantor Marvel, dia terus menyapa para karyawan-karyawati yang dia lewati. Tetapi langkahnya terhenti di depan ruangan Marvel saat ada yang menghadang jalannya.
"Maaf, anda siapa? Mengapa bisa masuk ke kantor ini sesukanya?"
Wanita dengan kemeja ketat dan rok seksi sepaha itu menyeringai. Jangan lupakan make-up tebal yang melekat di wajahnya membuat Zelia bergidik ngeri."Saya sekretaris di sini. Dan anda bisa meninggalkan tempat ini jika tak punya kepentingan. Karena pak Marvel sedang tak bisa di ganggu."
Zelia memutar bola matanya malas. Lalu tanpa permisi berjalan begitu saja meninggalkan wanita ganjen itu. Apalagi anaknya sudah mulai rewel merengek.
"Eh! Mbak denger gak, si! Kok malah masuk ke ruangan bos saya sembarangan!"Wanita itu mencengkram kuat lengan Zelia membuat sang empu meringis pelan.
"Anita, ada apa ini?"tanya Marvel bingung. Matanya membulat saat melihat Zelia yang sedang meringis.
"Jauhin tangan kamu dari istri saya!"bentak Marvel membuat wanita yang bernama Anita itu langsung menjauhkan tangannya.
"Maaf, pak. Saya tidak tau jika dia istri bapak,"ungkap Anita dengan takut apalagi ketika melihat wajah marah Marvel.
"Tinggalin ruangan saya!"usir Marvel membuat Anita langsung pergi.
Zelia memilih menjauh dia mencoba untuk menenangkan anaknya yang tiba-tiba menangis."Cup cup cup, sayang. Kenapa nangis, nak."
__ADS_1
"Tangan kamu sakit?"tanya Marvel khawatir mengingat tadi wanita itu meringis kesakitan.
Zelia mendengus kesal lalu menggeleng pelan."Dia baru di sini?"
"Iya buat sementara, karena yang lama lagi cuti. Kamu gak suka? Atau mau aku pecat dia aja?"tanya Marvel.
Lagi-lagi Zelia menggeleng."Jangan, dia kerja juga pasti butuh uang."
Marvel mengangguk lalu menatap anaknya yang pipinya di banjiri air mata."Sayang, anak papa kenapa nangis, hm?"
Rania lagi-lagi mengoceh tak jelas lalu mengangkat tangannya meminta untuk di gendong oleh papanya membuat Marvel dengan sigap langsung mengambil alih tubuh anaknya.
"Kamu udah makan?"tanya Marvel yang sedang menggendong Rania.
Zelia menggeleng pelan, dia sudah duduk di sofa menatap Marvel yang berdiri di hadapannya."Belom, nanti aja."
"Mau makan di luar?"tawar Marvel namun Zelia langsung menggeleng.
"Kamu gak lanjut kerja? Sini biar Rania sama aku,"ucap Zelia.
"Udah selesai, sayang. Nanti jam 2 meeting, ini masih ada waktu sekitar 1 jam kalo kamu mau makan di luar aku temenin,"ujar Marvel.
"Aku belom laper,"balas Zelia.
"Papappaa mamammama."Ocehan Rania yang selalu seperti ini membuat Zelia dan Marvel tertawa geli.
"Anak papa pinter ngomong, ya?"kekeh Marvel. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Zelia.
"Anak mama juga,"timpal Zelia sembari menoel pipi tembem anaknya.
"Anak kita, sayang."Marvel mengecup sudut bibir Zelia singkat.
Plak
"Jangan sembarang nyium, tuh Rania ngeliatin."Zelia paling malas dengan Marvel yang suka menyosor di mana-mana.
Bukannya marah Marvel justru tertawa pelan, dia paling suka menggoda istrinya itu."Liat, nak. Mama kamu pemarah, ya."
__ADS_1
"Tatatta mamamaa maayahhh,"balas Rania seakan-akan mengerti ucapan papanya.
Zelia menatap Marvel dan Rania yang sedang entah berbicara apa secara bergantian. Senyumannya terukir indah, dia bahagia melihat pemandangan di depannya yang membuat hatinya terenyuh. Tak terasa bahwa kini dirinya sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu.