Married With You [MARZEL]

Married With You [MARZEL]
Enam puluh satu


__ADS_3

Zelia menatap sepasang manusia di hadapannya dengan nyalang, lalu terkekeh pelan bak seorang iblis."See? Kebusukan seseorang bakal terkuak pada waktunya,"gumam Zelia dengan tatapan tajamnya.


"Lo seharusnya juga ada di sini Zelia!"bentak Janeta.


"Oh ya? Lo punya bukti apa hah?! Bahkan bukti dari Marvel tentang kelakuan bejat lo dan Reksa lebih kuat daripada omongan lo yang gak ada buktinya sama sekali,"balas Zelia.


Lalu kini dia menatap Reksa yang sedang memberikan dirinya tatapan penuh dendam."Dan gue gak nyangka ada seorang abang yang sebejat lo, lo nyiksa adek lo sendiri cuma karena kehasut omongan wanita iblis kaya dia,"ujar Zelia seraya menunjuk Janeta.


"Diem bajingan!"bentak Reksa seraya menggebrak meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Zelia.


"Wow! Santai dong, gue cuma pengin buat lo sadar, Reksa."Zelia melirik jam di pergelangan tangannya lalu kembali menatap kedua manusia di hadapannya.


"Selamat ya, apa yang kalian tanem itu yang bakal kalian tuai. Jadi sekali lagi selamat bersenang-senang,"ucap Zelia seraya beranjak dari kursinya berjalan dengan anggun meninggalkan ruangan yang terasa pengap itu.


"Brengsek!"umpat Reksa sebelum pada akhirnya di masukkan kembali ke dalam jeruji besi.


Sedangkan Zelia kini menghampiri Marvel yang ada di dalam mobil, dia duduk di samping kemudi lalu memasang seatbealt-nya.


"Udah?"tanya Marvel. Dia memang sengaja tak ikut masuk karena Zelia yang melarangnya.


Zelia mengangguk pelan."Udah,"jawabnya membuat Marvel langsung melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor polisi.


"Kita mau kemana?"tanya Zelia saat menyadari jalan yang dia lewati bukan menuju ke rumahnya.


"Makan ke cafe, kamu belom makan siang kan?"jawab Marvel.


"Iya."


Akhirnya keduanya sama-sama kembali bungkam, dengan Marvel yang sibuk mengemudi lalu Zelia yang sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.


Terkadang dia berfikir, apa dirinya terlalu egois dan berkuasa? Dia melakukan kesalahan fatal yang membuat orang lain terluka, namun dengan mudahnya masalahnya di selesaikan dengan uang. Tanpa harus di tahan di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Tapi di sisi lain, dia juga tak siap jika harus mendekam di penjara. Lagipula orang tuanya bisa menyelesaikan dengan uang, bukannya uang bisa membuat segalanya menjadi lebih mudah? Itu yang sering orang-orang katakan, meskipun kenyataannya tidak seperti itu.


Banyak orang bawahan yang akan tertindas dan merasa tidak adil. Melihat orang-orang kaya yang bisa menyelesaikan kasus kejahatan hanya dengan uang tanpa harus mendekam di penjara, sedangkan orang-orang rendahan yang tak punya uang harus rela masuk penjara karena memang mereka tak punya uang untuk menyelesaikannya.


Terkadang mereka juga merasa tak adil, saat orang berkasta melakukan kesalahan fatal namun masih di bela mati-matian. Sedangkan orang yang p ada di bawah/rendahan akan di maki habis-habisan hanya karena terkadang melakukan kesalahan sepele.

__ADS_1


Karena terlalu larut dengan pikirannya Zelia sampai tak sadar jika mobil yang dia tumpangi kini sudah berhenti di depan cafe yang terlihat ramai pengunjungnya.


"Sayang, ayo turun,"ajak Marvel seraya melepaskan seatbealt Zelia.


"Ha? Oh udah sampe,"jawab Zelia terkejut seperti orang yang kehilangan separuh nyawanya.


"Hey, kenapa? You okey?"tanya Marvel seraya mengusap pelan pipi istrinya.


Zelia menelan ludahnya dengan susah payah lalu menatap bola mata Marvel dalam."I'm okay."


"Really?"Marvel masih tidak yakin dengan jawaban wanita itu, jujur dari tadi di sepanjang jalan dia terus memperhatikan kegelisahan Zelia yang terlihat dengan jelas.


"I-iya, sayang. Ayo katanya mau makan,"ucap Zelia agar bisa terbebas dari rasa kegugupan ini.


"Yaudah, ayok."Marvel langsung turun memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya, dia melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang wanita itu.


"Mau pesen apa?"tanya Marvel seraya memberikan buku menu kepada istrinya.


Zelia menatap beberapa menu yang ada di hadapannya lalu menunjuk nasi goreng kesukaannya serta jus jambu. Sedangkan Marvel memilih makanan ringan, karena dia sudah sempat makan di kantor tadi sebelum pulang dan mengantarkan Zelia ke kantor polisi.


Kini Zelia sedang berada di rumah orang tua Marvel, dan orang tuanya pun ada di sini. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu, membahas banyak hal sekaligus melepas rasa rindu satu sama lain.


"Jahat banget lo, Ge. Kemaren-kemaren ngomongnya single, tau-tau udah nyebar undangan aja,"gerutu Zelia seraya membaca undangan yang ada di tangannya.


Mereka semua yang ada di sana justru tertawa pelan, karena memang Marvel dan Zelia belum di beritahu soal pernikahan Gea yang akan di laksanakan minggu depan.


"Salahin bang Marvel yang gak mau ngajak lo pulang, kaya udah gak punya orang tua aja,"sindir Gea seraya melirik Marvel tajam.


"Gue lagi yang kena, apa banget si lo, Ge!"balas Marvel malas, pasalnya dari sejak dia tiba Gea selalu mencari masalah memanas-manasi Zelia agar marah kepadanya.


"Tuh Bun, Yah liat Marvel kaya gitu ke Gea,"adu Gea kepada bunda dan ayahnya.


"Ar, jangan mau nikah sama Gea. Liat dia masih bocil,"ujar Marvel kepada Arion yang sedang duduk di sampingnya membuatnya justru tertawa karena sedari tadi terus menyaksikan sepasang adik kakak yang beradu mulut.


Mata Gea membulat lalu menghampiri Marvel, berdiri sembari berkacak pinggang di depan abangnya."Bocil lo bilang?! Gue udah besar, udah hampir 22 tahun!"


"Dih masih bocil gini,"goda Marvel.

__ADS_1


Plak


Gea terus memukul lengan Marvel membabi buta melampiaskan kekesalannya, sedangkan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat sepasang adik kakak yang sedang bertengkar. Wajar, mereke seperti itu sebenarnya karena rindu hanya saja terlalu gengsi untuk mengungkapkan secara langsung.


"Bun! Gea udah!"pekik Marvel saat Gea semakin kuat mengigit lengannya.


"Sayang, udah,"tegur Lia namun tak di dengar oleh Gea.


Arion yang melihat itu langsung menarik lengan Gea, menatap gadisnya dengan teduh."Udah,"tegurnya.


Gea menjauhkan tangannya dari genggaman Arion lalu kembali ke kursinya. Wajahnya yang memerah terus di tekuk, sedangkan Nia yang melihat Gea yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri langsung memeluknya dari samping.


"Liat merah gini sampe wajahnya,"kekeh Nia seraya mengusap pipi Gea.


"Tau ah! Bunda gak sayang sama aku, aku sama mama aja,"ucap Gea lalu melingkarkan tangannya di pinggang mama Zelia.


"Heh! Mama gue itu!"ucap Zelia tak terima lalu beranjak dari sofa dia duduk di tengah-tengah Gea dan mamanya membuat pelukan keduanya terlepas.


"Mama gak sayang lagi sama Zelia? Mentang-mentang Zelia udah nikah mama jadi lupain aku,"lanjut Zelia.


"Ini apasih! Kenapa jadi kaya anak kecil semua,"ucap Gino yang dari tadi hanya diam. Dia menatap putri dan istrinya sembari memijat pelipisnya.


"Mereka sama-sama kangen, tapi gengsi buat ungkapinnya. Makanya alibinya pake cara ribut,"timpal Juan lalu tertawa pelan.


"Bunda yang udah ga di anggep,"sindir Lia membuat Gea langsung memeluk erat bundanya. Sedangkan Zelia masih diam duduk di samping mamanya.


"Gak malu, Ge. Ada calon suami lo di sini, tapi tingkahnya kaya bocil,"gumam Marvel membuat Gea tersadar bahwa  sedari tadi ada Arion yang menyaksikan sifat kekanak-kanakannya.


"Tuh, Arion jadi nikahin Gea, kan?"tanya Juan berniat menggoda Gea.


Arion terkekeh pelan. Lalu menatap Gea dengan tatapan yang sulit di artikan."Kayaknya batal, deh om."


"OH GITU! OKE FINE!"pekik Gea dengan wajah kesalnya sedangkan yang lainnya justru tertawa keras melihat wajah kesal Gea.


Ruangan itu terdengar semakin ramai dengan tawa menggema satu sama lain, sesederhana itu untuk bahagia? Di tengah-tengah tawanya Zelia memerhatikan satu-persatu keluarganya.


Ternyata gue bisa sebahagia ini hanya karena hal sederhana?

__ADS_1


__ADS_2