![Married With You [MARZEL]](https://asset.asean.biz.id/married-with-you--marzel-.webp)
"Maksud Mama?"
Nia menghela nafas pelan, menatap Zelia dalam-dalam."Sayang, dulu Mama sama orang tua Marvel udah pernah buat pernjanjian. Kalo kalian udah dewasa, kita mau jodohin kalian,"jelas Nia.
Zelia melotot tajam."Ma, Zelia masih sekolah! Gak mau nikah dulu,"tolak Zelia.
"Zel, Marvel tu anak yang baik. Papa minta kamu jangan nolak, ya?"bujuk Gino.
"Iya, Zel. Dia tu bisa bikin kamu jadi murid yang lebih teladan juga. Kakak sering denger dari Mama kalo kamu sering bikin ulah di sekolah,"timpal Clara.
"Iya, Zel. Percaya sama Mama Papa, mereka cuma mau yang terbaik buat kamu,"ujar Jordan ikut menimpali.
"Mau ya, sayang? Mama cuma gak mau kamu sama laki-laki lain. Mama udah percaya sama Marvel. Bahkan dari kecil dia udah bisa jagain kamu. Apa kamu gak inget gimana dulu masa masa kamu dan Marvel?"ungkap Nia mencoba mengingatkan masa-masa kecil Zelia bersama Marvel.
Cukup lama Zelia terdiam. Dia masih tidak tau harus menolak atau menyetujui perjodohan konyol ini. Gadis itu menatap Mamanya yang juga sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh harap.
"Jadi Bunda sama Ayah Marvel juga udah tau ini?"tanya Zelia.
"Ya tau lah, Nak. Kan itu perjanjian kita berempat,"ujar Gino.
Zelia menghela nafas pelan. Dia tidak mungkin bisa menolak, karena jika menolak dia takut akan membuat banyak orang kecewa."Tapi apa Marvel mau?"
"Kamu kaya gak tau dia aja. Inget! Marvel itu gak pernah mau bantah keinginan Bunda Ayahnya,"sahut Jordan yang sudah tau betul sifat Marvel.
"Jadi, kamu mau, kan?"tanya Nia memastikan.
"Terserah Mama, Papa. Zelia ke kamar dulu, ya,"pamit Zelia seraya beranjak dari kursinya.
Gadis itu menutup pintu kamarnya, berjalan menuju ke balkon. Zelia menolehkan kepalanya ke samping, dimana itu adalah balkon kamar Marvel. Laki-laki itu sepertinya belom pulang dari markasnya karena Zelia bisa liat motor Marvel belom ada di garasi rumah cowok itu.
"Apa Marvel mau nikah sama cewek kaya gue?"gumam Zelia.
Zelia tau dia hanya gadis pemalas dan bodoh, lalu apakah pantas jika disandingkan dengan lelaki sesempurna Marvel. Zelia berkali-kali menghembuskan nafas gusar.
"Ihhhh, tapi kalo gue nolak Bunda sama yang lainnya pasti kecewa."
"Tau ah, pusing gue,"gerutu Zelia seraya berjalan masuk ke kamarnya.
Zelia memutuskan untuk tidur, memang sekarang sudah pukul 3 sore. Tak membutuhkan waktu lama Zelia sudah terlelap.
...•••...
"Vel, masalah perjodohan yang pernah Ayah bilang ke kamu waktu itu gimana?"tanya Juan menatap Marvel yang sedang duduk memainkan ponselnya di sampingnya.
Gea yang mendengar itu langsung menatap Ayahnya terkejut."Bang Marvel sama Zelia, Yah?"
Juan mengangguk pelan."Iya, Ayah mau kalian segera nikah, Vel."
Hal itu membuat Marvel langsung mengalihkan pandangannya, laki-laki itu menatap Ayahnya marah."Ayah gila? Marvel masih sekolah, Yah,"keluh Marvel.
"Vel, Bunda sama Ayah cuma pengin yang terbaik buat kamu,"timpal Lia.
"Iya si, lagian Abang sama Zelia udah deket juga,"ujar Gea menimpali.
Marvel menatap Gea tajam."Diem lo anak kecil,"kesal Marvel membuat Gea mengerucutkan bibirnya sebal.
"Mau ya, Vel?"tanya Lia.
"Anak Ayah gak pernah bantah,"sindir Juan.
Marvel menghela nafas pelan."Tapi nikah itu bukan mainan, Yah. Marvel takut belom bisa jadi kepala rumah tangga,"jelas Marvel.
"Kamu bisa. Bunda yakin kamu pasti bisa bertanggung jawab sebagai suami,"ucap Lia penuh keyakinan.
__ADS_1
"Tapi, Bun. Emosi Marvel terkadang masih gak stabil, Marvel masih sekolah. Nanti kalo Marvel suatu saat nyakitin Zelia, gimana?"Marvel hanya takut tak bisa menjaga anak orang.
"Kamu mau ngecewain Ayah sama Bunda? Bahkan Tante Nia sama Om Gino aja udah berharap kamu mau."Juan masih berusaha mencari cara agar Marvel mau mengikuti kemauannya.
"Ini terakhir permintaan Bunda. Bunda janji gak akan nuntut ini itu lagi kalo kamu mau nikah sama Zelia,"bujuk Lia.
"Bun, masalahnya Marvel masih sekolah. Kalau nanti anak-anak tau gimana? Terus kalo misalnya gur—"
"Kamu lupa siapa pemilik sekolah itu?"sela Juan.
"Ayah tinggal bilang ke Om Firman untuk menutup rapat-rapat tentang masalah ini,"lanjut Juan.
Jadi pemilik sekolah yang Marvel tempati adalah Firman, atau lebih jelasnya adik dari Ayah Marvel. Hal itu memudahkan Juan untuk menutupi status pernikahan Marvel dan Zelia nantinya.
"Mau ya, Vel?"tanya Lia sekali lagi penuh harap.
Marvel menghela nafas berat sebelum pada akhirnya menganggukan kepalanya pelan."Oke, Marvel mau."
"YEAY AKHIRNYA ZELIA BAKAL JADI KAKAK IPAR GUE. JUDULNYA SAHABATKU ADALAH KAKAK IPARKU,"pekik Gea kegirangan membuat Bunda dan Ayahnya tertawa pelan. Berbeda dengan Marvel yang berdecak sebal.
"Bun, kalo menurut Gea. Mending pernikahannya di percepat aja,"ujar Gea mengompori.
Marvel melotot tajam."Mulut lo, Ge, mau gue bebek?"ancam Marvel membuat Gea menatap lelaki itu dengan sengit.
"Vel, kok gitu sama adeknya?"tegur Lia.
Juan beranjak dari duduknya."Udah, kalian tidur udah malem. Ayah mau ke kamar,"ujar Juan seraya berjalan menuju ke kamarnya.
Lia yang melihat itu pun ikut bangkit."Gea jangan lupa kerjain tugasnya, ya,"peringat Lia.
"Kok cuma Gea? Bang Marvel gak?"protes Gea.
Lia terkekeh pelan."Abang kamu kan gak pernah lupa ngerjain tugas."Lia langsung berjalan menyusul suaminya.
Marvel menyeringai meledek Gea."Gue anak teladan, gak kaya lo pemalas,"cemooh Marvel lalu kembali fokus ke ponselnya.
Terkadang Gea juga bingung. Padahal yang dia liat Marvel selalu bermain game di ponselnya. Tetapi lelaki itu selalu mengerjakan tugasnya, ntah kapan dia melakukan itu.
...•••...
Zelia yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya pun menuruni tangga berniat untuk sarapan.
"Ma, udah pada berangkat?"tanya Zelia saat di meja makan hanya ada Mamanya dan Clara.
"Udah,"jawab Nia seraya memberikan sepiring nasi goreng kepada Zelia.
Zelia hanya mengangguk. Gadis itu menarik kursi untuk dia duduk dan segera menyantap sarapannya.
"Kak Clara duluan aja. Aku ntar siangan biar di anterin Pak Mamang aja."
Clara mengangguk pelan, dia bangkit dari kursinya lalu menyalami tangan Mamanya."Clara duluan, Ma,"pamit Clara di setujui Nia.
Nia menatap anak gadisnya yang sedang sarapan."Jangan siang-siang dong, Zel. Kamu mau di hukum lagi kalo telat?"tegur Nia.
"Aduh, Ma. Zelia tu males kalo gak telat."
Nia menggelengkan kepalanya pelan, memang Zelia itu sangat bandel."Terserah. kalo sampe Papa sama Bang Jordan tau, terus marah. Mama gak mau belain kamu."
"Gak akan tau. Kalo Mama gak ngomong."
"Ck, anak siapa si kamu?"
Zelia melotot tajam."Anak Mama, lah. Emang anak siapa lagi? Anak Bunda?"
__ADS_1
Nia terkekeh pelan melihat wajah Zelia yang terlihat kesal. Zelia bangkit dari kursinya setelah berhasil menghabiskan sarapannya.
"Zelia berangkat ya, Ma,"ucap Zelia setelah mengecup punggung tangan Mamanya.
Zelia berjalan memasuki mobilnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit lebih akhirnya mobil Zelia berhenti di depan gerbang sekolahnya yang sudah tertutup.
"Makasih, Pak,"ungkap Zelia seraya turun dari mobilnya.
Zelia berdiri di depan gerbang sekolahnya. Gadis itu mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya lalu segera menghubungi nomor seseorang.
"Apa?"
"Vel, bukain gerbang dong."
"Ck, kebiasaan!"
Tut...Tut...
Zelia memasukan ponselnya kembali saat panggilannya di putus oleh Marvel.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya di pagar, menatap jalanan raya yang sepi sembari menunggu kedatangan Marvel.
"Kebiasaan,"gumam Marvel seraya membuka pintu gerbang sekolahnya membuat Zelia langsung menegakan tubuhnya.
"Makasih, Vel. Lo emang yang terbaik,"ungkap Zelia berniat langsung menuju ke kelasnya tetapi tasnya di tarik membuat tubuhnya mundur beberapa langkah.
"Mau kemana?"
"Kelas, lah. Vel, lepasin gue udah telat tau gak!"kesal Zelia.
"Lo udah telat dari tadi Zelia!"geram Marvel.
"Terus?"
"Lo harus di hukum."Marvel langsung menarik lengan Zelia membawanya ke lapangan sekolah.
Zelia menarik tangannya kasar membuat cekalan Marvel terlepas."Gue kira lo bakal bantuin gue biar gak di hukum."
"Lari 3 kali putaran!"titah Marvel tak terbantahkan.
Laki-laki itu menatap Zelia tajam saat gadis di hadapannya hanya diam."Mau gue tambahin?"
"Ck, iya-iya,"decak Zelia seraya mulai berlari memutari lapangan.
Marvel masih berdiri di pinggiran lapangan sembari terus memperhatikan Zelia. Laki-laki itu terlihat sangat tampan dengan seragam yang selalu rapi melekat di tubuhnya, lalu kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana. Apalagi dengan rambut yang sedikit berantakan membuat Marvel terlihat lebih seksi.
...•••...
Zelia memandang air kolam yang ada di hadapannya dengan hening, gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ini untuk kesekian kalinya Zelia menghela nafas dalam-dalam. Minggu depan adalah hari pertunangannya dengan Marvel. Entah mengapa ada rasa senang tersendiri di hatinya, tetapi Zelia juga sedih.
Dia takut hanya akan menjadi beban untuk Marvel. Bahkan hal seperti ini tak pernah terpikirkan akan terjadi di dalam hidupnya. Pasalnya Marvel itu adalah teman kecilnya, tetapi apa mungkin laki-laki itu tidak keberatan jika menikah dengannya.
"Kenapa, Zel?"tanya Clara mengejutkan Zelia.
Zelia menolehkan kepalanya menatap Clara yang sudah duduk di sampingnya."Kak, menurut kak Clara Marvel nerima perjodohan ini karena kepaksa gak?"
"Ck, yaelah kaya gitu di pikirin terus. Mungkin Marvel suka sama lo,"jawab Clara.
Zelia melotot tajam."Kok gitu si? Orang Marvel aja selalu ngeselin sama gue. Mana kaya cuek banget lagi."
"Yakin lo gak mau sama dia? Kalo gak beda 5 tahun aja Kakak mau di jodohin sama Marvel,"ujar Clara berniat menggoda Zelia.
__ADS_1
"Ck, males banget ngomong sama lo gak ada manfaatnya,"kesal Zelia seraya beranjak pergi, hal itu membuat Clara tertawa puas karena berhasil membuat Zelia kesal.
...•••...