
...
...
Seperti biasanya, Langit dan teman-temannya berkumpul di rumah kedua Langit. Mereka merasa tenang karena sudah mengusut siapa peneror itu. Di sisi lain, kebahagiaan terpancar dari mereka yang sama sekali tak mendapat ancaman dikeluarkan, karena hukuman mereka hanyalah di skors beberapa hari ke depan.
"Rasain tuh si Arlan kena DO," pekik Arif kegirangan.
Namun sepertinya percakapan Arif pertama di sini menjadi salah karena didengar oleh orang sepolos Eri, sudah salah kalau mereka melempar kalimat begitu saja di depan Eri.
"Bukan D.O, tapi Drop Out." Itu yang di dengar oleh Eri saat kepala sekolah SMA Negeri Jakarta, tapi maknanya sama, haduh.
"Lah? Anak lo butuh minyak ikan!" ucap Arif kepada Falah.
"Enak aja anak gue!" respon Falah seraya memukul mukulkan tangannya ke kepala Eri.
"Lang lo mungut dimana sih nih anak?" Kali ini Falah melemparkan pertanyaan untuk Langit.
"Di Arab, waktu zaman zahiliyah." Arif yang menjawab.
Kemudian mereka tertawa bebas, akhirnya semuanya kembali membaik. Dan si Arlan itu mendapatkan ganjaran yang setimpal karena sudah berani menantang Langit.
****
Senja, Ibundanya dan Risa. Mereka tengah menyantap makan malam. Makan malam kali ini cukup sederhana. Namun itu tak membuat keluarganya sedih dan merasa kekurangan. Senja bahkan sangat bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang, Bundanya, Risa adiknya dan teman seperti Lia.
"Makasih Bunda untuk makan malamnya," ucap Senja sambil menghampiri Bundanya dan mengecupnya.
"Hm, iya sayang, sama-sama," balas Bundanya dengan mengelus wajah Senja.
"Bun, masakan Bunda emang paling top pokoknya," puji Risa.
"Alhamdulillah kalau kalian suka. Bunda seneng sayang."
Senja tersenyum, "Yaudah Bun, sini aku bantu," ucap Senja seraya mengambil piring kotor dari meja makan.
"Udah gak apa-apa, biar Bunda aja. Kalian belajar sana."
Senja dan Risa tahu betapa lelah Bundanya bekerja, apalagi mereka hendak membuka toko kue, itu sudah menguras tenaga Ibundanya selama seminggu lebih mengurus keperluan toko.
__ADS_1
"Bun, aku sama kak Sese-.." Senja menatap tajam ke arah Risa.
"Eh, maksudnya kak Senja bisa kok beresin ini," kata Risa tersenyum kaku.
Senja tak ingin dipanggil dengan panggilan kecilnya dulu, karena ia sangat tidak menginginkan nama itu. Menurutnya nama itulah yang akan terus mengingatkan saat ia lemah dulu.
Ia malah memilih untuk di panggil Sen, daripada Sesey. Padahal dulu ia membenci panggilan Sen, terdengar seperti mata uang.
"Nah, iya bener tuh Bun apa yang dibilang Adek, seharian penuh Bunda kerja, itu pasti capek 'kan? Sekarang Bunda istirahat aja ya?" tanya Senja sembari menatap Ibundanya iba.
Bunda Gina berdeham. "Bunda sayang kalian berdua, yaudah Bunda ke kamar dulu, jangan lupa nanti lampu matiin. Selamat malam bintang-bintangnya Bunda," katanya lalu beranjak pergi.
"Siap Bun, selamat malam juga bulannya kita," teriak Senja dan Risa disusul tawa keduanya.
Setelah membereskan piring-piring kotor. Senja tak langsung tidur, melainkan meneruskan melukis sesuatu untuk orang yang menurutnya spesial. Orang itu ada dilingkup sekolahnya. Namun ia masih merahasiakan kapan akan memberi lukisan buatannya itu saat sudah selesai nanti.
"Kak Senja? Belum beres-beres juga tuh lukisan?" tanya Risa yang tiba-tiba nyelonong masuk.
"Dek Risa tolong, ya? Kalau masuk ke kamar orang itu ketuk dulu atau gak salam dulu. Liat nih, kalau kakak gak hati-hati pasti lukisan ini bakalan ancur!" kata Senja yang mulai kesal karena ulah adiknya.
Benar kan? Jika saja Senja kaget, maka kuas itu akan berdiri tidak pada tempatnya. Seperti saat seseorang menggunakan lipstik dan lipstik itu terpeleset dan medarat didagu. Tidak tepat sekali 'kan?
"Hm iya maaf-maaf. Emang buat siapa sih? Kok kayanya kakak semangat banget bikinnya? Udah gitu sampai bermalam-malam pula, biasanya juga sehari beres."
"Yaelah kak, aku juga kan udah gede. Lagian kita beda dua tahun doang elah," protes Risa.
Ya, Risa sekarang adalah siswi SMP kelas sembilan.
"Tetep aja kamu itu di bawah kakak, awas aja ya kalau misalnya kakak denger kamu pacaran!"
Ya, Senja selalu memperingatkan adiknya untuk tidak berpacaran, bukan karena Senja tak memiliki pacar, ia hanya tak ingin adiknya terjerumus kepada pergaulan buruk. Apalagi adiknya itu imut seperti barbie.
"Ampun dah iya iya. Tau gak kak? Kuping aku sakit denger kalimat itu terus. Bosen. Lagian nih ya, bilang aja kali kalau lukisan itu buat pacar. Aku juga ngerti kok," ucap Risa tak ingin berhenti mengganggu kakaknya.
"Gak ada pacar tahu!"
"Ih udah sana tidur!" seru Senja mengusir Risa.
Akhirnya Risa menyerah dan memilih untuk ke kamar ternyamannya, daripada diterkam oleh kakaknya yang hendak berubah menjadi singa betina.
__ADS_1
Risa menggoda sekali lagi, agar raungan Senja keluar. "Iya iya, selamat malam kak Seseyku. Emmuah," kata Risa sembari berlari keluar kamar Senja.
"Sen-Ja, Risa!" pekik Senja meralat ucapan adiknya.
Risa sudah tak ada. Namun Senja membalas ucapan selamat malam dari adiknya itu. "Selamat malam juga Adekku, Risa."
Senja sangat bersyukur memiliki adik yang baik. Baginya Bunda dan adiknya adalah hal terindah yang diberikan Tuhan kepadanya, dan Senja akan menjaga pemberian terindah dari Tuhan itu untuk menggantikan posisi Ayahnya.
Kemudian Senja menatap bingung lukisan yang dibuatnya. "Lukisan ini spesial, dan ini untuk kak Arkan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini gue selalu mikirin Langit?" gumamnya.
****
Langit pulang dari rumah keduanya ke rumah milik Mamanya. Padahal bisa saja ia tinggal di rumah keduanya. Namun ia tak bisa meninggalkan Mamanya untuk kali ini.
"Abis dari mana aja kamu?" tanya seseorang yang tengah duduk di hadapan televisi.
Tak ada jawaban dari Langit.
"Langit, jawab Papa!" Papa Langit meninggal sejak Langit kecil. Namun yang kini menegurnya adalah Papa tiri.
"Langit!" pekik Papa tirinya, tapi Langit tak menghiraukan dan malah nyelonong pergi.
"Pah, udah, sekarang Langit cuma butuh waktu," ucap Mama kandung Langit menenangkan suaminya dari amarah.
"Sampai kapan Mah?" tanya Papanya murung.
Mamanya hanya menaikkan bahu cepat dan menggeleng, membuat papanya semakin frustasi karena anak bungsu mereka tak bisa menerima keluarga ini.
"Dia kenapa lagi Mah, Pah?" tanya kakak tiri Langit, ia berpapasan dengan Langit ketika di tangga tadi.
"Bukan apa-apa, kamu mau apa?" tanya Mamanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Hm, ini Mah aku mau ambil susu," jawabnya.
"Oh iya Mama lupa. Yaudah kamu duduk dulu sama Papa, biar Mama ambilin!"
Dia hanya mengangguk dan kemudian menghampiri papa kandungnya yang sedang menutup wajahnya dengan satu tangan karena terlihat lelah.
"Gue akan buat perhitungan sama lo, Lang!" batinnya kesal.
__ADS_1
...***...
...🔱...