
...Berakhir saja kalau begitu, supaya kita bisa menemukan orang-orang yang tepat....
...🔱...
"... karena gue udah ambil first kissnya dia," sambung Langit.
"Brengsek!" batin Arkan kesal.
Tangannya semakin kuat mengepal. Tanpa ragu lagi, akhirnya Arkan meraih kerah baju Langit dan menatap tajam sekali. Namun itu tak membuat seorang Langit takut, justru ia ingin menyelesaikan ini secepatnya. Berharap Arkan benar-benar melepaskan Senja.
"Brengsek lo, Lang! Lo tau kan Senja itu pacar gue! Dan gue janji mau nikahin dia setelah gue selesai kuliah nanti!" geramnya.
Namun Langit menatap Arkan santai. "Gue bisa nikahin dia besok," ucap Langit sembari tersenyum menang.
Senyum itu membuat Arkan tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia akhirnya melayangkan satu bogeman mentah ke pipi kiri Langit dan membuat cowok itu tersungkur. Arkan selalu begitu jikalau kesal terhadap adik tirinya, sedangkan Langit sama sekali tak berani melakukan itu duluan dan malah menunggu Arkan meninjunya lebih dulu.
"Gue udah baik sama lo! Gue bahkan selalu kasih lo kesempatan buat berdua sama dia!" Arkan berteriak. "Lo pikir gue gak cemburu saat lihat lo lebih dekat sama dia? Gue cemburu, Lang!"
Langit bangkit dengan sudut bibir yang berdarah. Kemudian ia menyeka darah segar yang mengalir itu. "Itu karena lo bodoh, Ar! Harusnya lo sadar ketika itu, Senja berusaha cari sesuatu yang gak ada di lo dan itu ada di gue!"
"Senja itu gak pernah sayang sama lo, Ar!"
"Dari mana lo tau, hah?" tanya Arkan.
"Karena dia pernah janji ... kalau dia cuma sayang sama Elang. Dan itu gue, Langit Prasetya!"
Meskipun yang mengatakan itu adalah Senja kecil, tapi itu akan terasa abadi untuk Langit. Sesey dan Elang adalah ketidaksengajaan. Namun bertemunya Senja dan Langit lagi, itu adalah sebuah takdir.
"Dan selamanya janji itu akan gue ingat!"
Seketik Arkan terasa sesak, ia kemudian memegangi dadanya yang sakit. Langit bisa melihat itu, Kakak tirinya itu sepertinya kambuh lagi. Namun Langit tidak peduli sebab Arkan pasti bisa menemukan obatnya sendiri.
"Gue harap lo mau lepasin Senja." Langit kemudian meninggalkan Arkan yang tengah sesak itu sendirian.
****
"Tumben Arkan masih tidur, apa dia kecapekan ya semalam?" tanya Mamanya sembari mengolesi roti untuk sarapan suaminya, Papa kandung Arkan.
"Tapi biasanya dia gak pernah bangun sesiang ini."
Roti yang tadi diolesi akhirnya ditaruh di piring Papanya yang hendak berangkat bekerja. "Ya udah kalau gitu Mama coba bangunin Arkan dulu," ucapnya dihadiahi anggukan suaminya.
Mama dari Arkan pun naik ke lantai atas untuk menemui kamar Arkan, lalu beliau mengetuk pintu kamar anak pertamanya itu. "Arkan! Bangun sayang! Kamu gak ke kampus?"
Tidak ada jawaban.
"Arkan!" Tok. Tok.
Masih tidak jawaban.
Itu membuat Mamanya cemas. Ya, Mama dari Langit itu selalu mengkhawatirkan anak tirinya daripada Langit, anak kandungnya sendiri. Mungkin karena Arkan memiliki penyakit asma, jadi itu membuat Mamanya memberikan perhatian lebih. Mungkin itu juga yang membuat Langit iri dan bersikap dingin.
Akhirnya Mamanya mendorong perlahan pintu kamar anak sulungnya itu. Seketika matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak, Arkan dengan wajah yang sangat pucat tengah terbaring di lantai kamarnya.
"ARKAN!" teriaknya sembari berlari menemui anaknya yang tergeletak dibawah bersama Inhealernya. "Arkan, bangun sayang!" Air matanya mengalir begitu saja.
Tidak ada tanda-tanda tubuh yang hangat atau suhu yang normal. Sekujur tubuh Arkan terasa sangat dingin dan kaku.
__ADS_1
"Arkan ... jangan tinggalin Mama. Hiks."
****
Siang ini Bunda dari Senja akhirnya diperbolehkan pulang. Beliau sudah lebih baik karena dirawat oleh kedua orang yang disayang, yaitu Senja dan Risa. Belum lagi, ada Langit dan Eri yang bisa diandalkan di sini.
Risa tak henti-hentinya memeluk Bundanya yang baru saja sembuh. "Makasih ya kalian udah bantu Bunda," ucap Bundanya sembari tersenyum.
Langit hanya mengangguk, sedangkan Eri berbinar. "Sama-sama, Bun. Itu kan udah tugas kita, calon mantu Bunda."
Semua tertawa mendengar itu, tapi Senja dan Langit tiba-tiba tertawa canggung karena mereka bukan pasangan. Namun Langit berterima kasih kepada Eri yang telah mencetuskan namanya di samping kata calon mantu Bunda.
Bundanya ingat akan seseorang. "Oh, iya. Nak Arkan mana?"
Senja dan yang lainnya tiba-tiba diam. "Kak Arkan lagi sibuk, Bun. Jadi dia gak bisa antar Bunda pulang."
"Oh, gitu, ya." Bundanya mengerti.
Padahal Senja juga tak tahu Arkan kenapa, tapi sepertinya Arkan memang tengah sibuk dan itu pasti karena tugas kuliahnya yang menumpuk. Senja menatap ke arah Langit dengan tatapan yang bertanya. Langit menggeleng karena tidak tahu apa-apa.
"Bun?" panggil Risa. "Risa mau ngomong sesuatu sama Bunda."
Bundanya tersenyum, sedangkan yang lain takut. "Mau ngomong apa sayang?"
"Makasih udah rawat Risa selama ini. Maaf karena Risa belum bisa balas kebaikan Bunda, tapi Risa janji, Risa akan balas semua jasa-jasa Bunda sama Kak Senja."
Bundanya langsung mengelus rambut anak bungsunya itu. Kenapa tiba-tiba anaknya bicara seperti itu?
"Kamu jangan mikirin itu dulu, yang penting sekarang kamu belajar yang rajin supaya kamu masuk ke universitas yang bagus."
"Iya, Bun." Risa dan Eri berbinar mendengar itu.
Bundanya ke kamar, sedangkan Risa dan Eri meminta izin untuk keluar membeli makanan.
"Kak Senja, Kak Langit? Aku sama Kak Eri mau keluar sebentar buat beli makanan. Kalian mau nitip?" tanya Risa.
Langit menggeleng, begitupun Senja. "Nggak usah, kalian aja."
"Oke. Ayo Kak!" Risa dan Eri pun keluar meninggalkan Senja dan Langit berduaan.
****
"Kamu mau minum apa?" tanya Senja. Langit hanya menggeleng.
"Gak apa-apa, aku ambil minum dulu, ya?" Senja bangun dari duduknya. Namun ditahan oleh Langit dan membawa Senja untuk duduk di sampingnya lagi.
"Kenapa, Lang?" tanya Senja.
"Di sini aja."
"Aku cuma sebentar, kok."
Langit menggeleng-gelengkan kepala pelan. "Jangan kemana-mana.."
Senja menatap Langit dengan tatapan sendu. Apa yang Langit sembunyikan?
"Karena a-aku.."
__ADS_1
"Aku apa?" tanya Senja.
"A-aku..." Senja diam dan serius memperhatikan. Sedangkan Langit terlihat menunduk dan gugup. "Akukangen!"
Senja terkejut, tapi langsung lega mendengarnya. Karena ia berpikir Langit mau mengatakan hal yang serius, ternyata hanya mengatakan itu.
Senja langsung memegang tangan Langit. "Aku juga kangen sama kamu, Lang," balasnya.
Langit baru bisa menatap Senja. "Beneran?"
Senja terkekeh. "Iya, beneran," jawabnya. "Aku juga kangen sama Kak Arkan. Kamu tau Kak Arkan kemana?"
Padahal Senja baru tiga hari tidak bertemu Arkan, tapi itu terasa seperti tiga abad. Belum lagi selama tiga hari ini Arkan tidak membalas pesannya. Itu semakin membuatnya khawatir dan kesal, ia merasa tidak dianggap oleh Arkan.
Wajah Langit langsung datar kembali. Kenapa harus Arkan lagi?
"Arkan ada, tapi mungkin dia lagi sibuk."
Senja mengangguk paham. Memiliki kekasih yang super sibuk membuatnya tidak nyaman juga. Apalagi jika sampai tidak diberi kabar, Senja jadi kesal sendiri.
Ponsel Langit tiba-tiba berbunyi.
Mama
Memanggil
"Sebentar," ucap Langit kepada Senja. Kemudian ia mengangkat telpon dari Mamanya itu.
"Halo, Ma."
"Lang..."
Langit mendengar suara Mamanya itu bergetar, ia menyadari jika wanita yang disayanginya itu sedang menangis.
"Mama nangis?"
Senja menatap Langit serius, karena cowok itu juga tengah serius.
"Kakak kamu Langit hiks..."
Arkan?
"Dia kenapa, Ma?"
"....."
Langit langsung menengok pelan Senja yang tengah memandangi dirinya yang tengah menelpon.
"Mama kenapa, Lang?" tanya Senja.
Langit menggeleng. "Bukan Mama, tapi Arkan." Senja tersentak.
Arkan kenapa?
...~🔱~...
...Maaf ya ada kesalahan teknis😢😭...
__ADS_1