
...Apa semuanya harus mendapatkan goresan yang sama?...
...🔱...
Senja berjalan santai menuju kelasnya, dirinya baru saja diantar Arkan ke kampus. Senja terlihat memegang beberapa buku didekapnya, ia juga sepertinya tengah terburu-buru. Sampai tepat di tikungan, ia hampir menabrak seorang gadis.
Namun mata Senja tertarik untuk melihat benda yang dipakai gadis itu di telinganya. Saking terperangahnya, Senja sampai memutar badannya hanya untuk memastikan. Sret. Senja mungkin hampir menabrak gadis itu, tapi bukunya malah mengenai lengannya.
Gadis itu meringis kesakitan sambil menatap Senja. "M-maaf Kak, aku gak sengaja," ucap Senja panik.
"Iya gak apa-apa," jawabnya santai, tapi Senja bisa lihat jika itu pasti perih.
Senja melihat lengan gadis itu. "Kak, tangan Kakak berdarah, aku obatin, ya?"
Gadis itu menggeleng. "Nggak usah, ini cuma goresan kecil aja, kok."
"Tetap aja Kak, itu lukanya terbuka, aku takut nanti malah terjadi infeksi."
Gadis itu tak habis pikir, lukanya bahkan tak seberapa, tapi kenapa Senja bersikeras untuk mengobati?
Akhirnya gadis itu ikut Senja ke unit kesehatan. Gadis itu duduk di brankar, sedangkan Senja di bangku. Ia kagum pada cara Senja mengobati lukanya. Dengan hati-hati Senja mengobati luka dari gadis itu.
"Maaf ya Kak? Aku gak hati-hati tadi."
"Padahal gue gak apa-apa, kok. Gue bisa obatin ini sendiri," ucapnya.
Senja masih telaten mengobati. "Tapi aku gak akan biarin Kakak lepas gitu aja, ini salah aku dan aku harus tanggung jawab untuk ini."
Senja merekatkan plester setelah membersihkan luka kecil itu. "Selesai."
"Hm, oh iya, gue Sara dari Fakultas Kedokteran," katanya sambil mengulurkan tangan ke Senja.
Senja terpaku, bagaimana bisa kebetulan begini?
Senja pun membalas jabat tangan Sara. "Senja."
Sara kebingungan karena gadis di hadapannya ini hanya menyebutkan namanya tanpa fakultas atau jurusan. Namun tidak apa, setidaknya nama paling penting untuk diketahui. Sara menatap bingung ke arah Senja, sebab Senja menatap sendu ke arah antingnya.
"Eum.. Senja, ini udah, kan?"
Senja kaget, "Eh, i-iya Kak. Udah kok."
"Oke, makasih, ya?"
Senja mengangguk.
Sara tersenyum. "Ada apa? Apa ada yang mau lo sampaiin?"
"Iya, aku kagum sama anting Kakak. Itu bagus."
Sara tersenyum malu. "Makasih, eum.. gue harus pergi, ada tutorial soalnya."
Senja tak tahu apa itu tutorial, tapi barusan saja Arkan mengatakan kata itu tadi. "Iya, sekali lagi aku minta maaf, ya Kak?"
"Oke, gak usah minta maaf lagi, karena setelah ini gue yang harus kembaliin maaf lo. Kebanyakan soalnya," ucapnya sembari terkekeh kecil. Kemudian ia menatap arlojinya. "Hm, gue harus pergi sekarang, kapan-kapan kita ngobrol, ya?"
"Seneng ketemu sama lo," sambungnya sambil berlalu dan melambaikan tangan ke arah Senja.
"Iya Kak," balas Senja singkat sembari melambaikan tangan juga.
__ADS_1
Perasaan Senja yang harus buru-buru, tapi kenapa malah Sara yang duluan? Sepertinya Senja terus berpikiran negatif, jadi ia harus mengendalikan pikirannya. Anting itu bukan hanya satu, pikirnya.
****
Ya, Senja buru-buru bukan karena kelas akan dimulai, tapi ia tengah mencari orang yang dibuat kecewa olehnya malam kemarin. Senja masuk ke dalam kelas, matanya langsung menemukan seseorang yang dicarinya. Dia duduk di depan yang di belakangnya terdapat seorang gadis.
Senja semringah dan langsung menghampiri Langit. "Lang!"
Langit menatap datar sebentar. "Eh Senja.. lo mau duduk di sini?" tanya Luna hendak bangkit, tapi tangannya segera ditahan oleh Langit.
"Lo kenapa, sih? Gue mau duduk di
belakang aja."
Langit menatap Luna. "Di sini aja!"
"Lun! Gak apa-apa, gue bisa di belakang," kata Senja kepada Luna. "Lang? Jangan marah, kemarin itu Kak Arkan tiba-tiba datang, jadi aku gak bisa berangkat bareng kamu."
Luna hanya diam memperhatikan, sepertinya mereka berdua sedang bertengkar.
Langit hanya diam. "Lang, aku minta maaf. Tolong maafin aku, ya?" Senja memohon.
"Lo bisa duduk di sini!" kata Langit datar, lalu kemudian ia menyambar tasnya dan duduk di belakang Luna.
Senja tersentak. Barusan Langit mengatakan kata 'lo gue' dan bukan 'aku kamu'. Itu membuat Senja yakin, Langit pasti sedang marah dan kecewa. Luna hanya menatap keduanya pelik, apa Langit tengah merajuk?
"Lo berdua kenapa, sih? Lagi marahan? Udah kayak anak kecil aja!" sindir Luna.
Langit dan Senja menunduk, memang benar apa kata Luna. Namun apa yang dikatakan Falah selalu menghampiri Langit dan membuat cowok itu mantap untuk melupakan Senja.
"Selamat Pagi," sapa dosennya. Itu membuat Senja langsung menaruh tasnya dan duduk lesu di bangku kampus yang tadi di tempati Langit.
****
Tak ada bedanya, Arkan juga tengah mencari seseorang yang dibuat kecewa olehnya tadi malam. Kenapa gadis itu belum juga muncul? Tapi temannya Ghea ada di sini. Apa mungkin ia absen hari ini? Arkan menggeleng, tidak mungkin seorang Sara menomorduakan kampus. Dia kan konsisten.
Pintu terbuka, menampakan seorang gadis yang dicari Arkan sedari tadi. Arkan langsung tegak dan menatap Sara terus menerus. "Sar!" teriak Ghea. "Sini duduk di sini!"
Mereka duduk membentuk lingkaran. Namun Ghea duduk di samping Gilang dan di dekatnya ada Arkan. Itu membuat malas dan mendebarkan, Sara lebih baik duduk di tempat yang aman dan tidak dekat-dekat dengan Arkan.
Sara menggeleng ke Ghea. "Gue mau duduk di sini aja."
Sara hendak duduk di samping temannya yang lain, ia bahkan sudah menaruh tasnya. "Maaf Sar, tapi ini udah di carter sama Zia."
Duh, carter-carter segala. Memangnya ini tempat sewaan apa? Sara kecewa, tak ada tempat lain selain bangku kosong di samping Arkan. Ah, kenapa cowok itu masih menatap ke arahnya.
"Zia duduk di sana aja bisa, kan? Bilang ke dia, deket Arkan kan enak," bisik Sara.
"Ck, enak aja kalau ngomong, Zia itu udah jadi pacar gue sekarang!" bentak cowok yang katanya pacar dari Zia.
Sara mengulum senyumnya, bagaimana bisa ia mengutarakan kalimat gila tadi. "Ups, maaf. Gue pikir Zia single," ucap Sara ngeles.
Sara jadi bingung, antara menahan malu atau marah, mana yang harus dihindari? Ia hanya berpikir untuk kembali membuka pintu dan keluar lalu pulang. Jangan mengada-ngada, ia pun pasrah dan menghampiri Ghea dan Gilang.
"Gil, minggir! Gue mau duduk di sini!" serunya.
"Eh enak aja main usir-usir," tegur Gilang. "Lagian lo kenapa, sih? Itu di dekat Arkan ada, duduk di sana aja!"
"Ghea sahabat gue dan dia teman lo! Kenapa gak lo aja yang duduk di sana!" bentak Sara tak mau kalah.
__ADS_1
"Ya udah santai aja kali," ujar Gilang.
"Sar, udahlah. Lo duduk di sana aja, ya?"
"Tapi Ghe..."
"Please deh, ini cuma sementara kok."
Sara hanya berdecak dan akhirnya Sara pasrah dan duduk di samping Arkan. Tentu cowok itu senang dan merasa menang. "Sar? Gue minta maaf soal yang kemarin, gue bener-bener ada urusan mendadak. Gak bisa ditinggal," ungkap Arkan.
"Hm, gue udah tahu kok. Lo memang orang sibuk, jadi selalu ada urusan."
"Gak gitu juga. Namanya mendadak gue gak bisa prediksi, Sar," jelas Arkan, lalu ia melihat anting yang dipakai Sara. "Lo pakai anting itu?"
Sara langsung menutup telinganya menggunakan surainya yang panjang.
Arkan tersenyum. "Itu artinya lo udah maafin gue?"
"Ck, lo pikir cuma dengan pakai pemberian lo, gue maafin lo gitu?" tanya Sara.
"Iya!" celetuk Arkan. "Karena itu artinya.. lo masih peduli sama gue."
Sara kaget dan pipinya memerah. Arkan tidak pernah kepedean, karena itu memang benar. Harusnya Sara tak menggunakan anting ini.
Ah, jadi menyesal.
****
Kelas sudah berakhir, Langit maupun Senja akhirnya bisa menikmati istirahat. "Lang!" panggil Senja.
"Eh Feb! Make up lo ketebalan tuh, gue lihatnya jadi kesel," ungkap Luna kepada temannya Febri. Anak itu memang sering berceletuk ria. "Eh, terserah gue dong!" balas Febri.
"Lun!" Luna langsung menoleh. "Lo pulang bareng gue!" Langit yang kemudian menarik lengan Luna melewati Senja yang tadi memanggilnya.
"Eh, tapi itu Senja..." kata Luna. "Langit!"
Luna memberontak ingin dilepaskan. Namun Langit malah memegang lebih kuat dan masih meneruskan jalannya. "Senja? Gue gak tahu apapun..." teriaknya.
Ketika sudah di parkiran, Langit melepaskan tangan Luna. "Lo apa-apaan, sih? Nanti kalau Senja marah gimana?"
"Ikut gue!" titah Langit.
"Nih anak langit satu, gue tanya apa jawabnya apa?!"
"Ikut atau gak?!"
"Ya udah, tapi mau kemana dulu?!"
"Lo mau rokok, kan?"
Luna langsung berbinar, sepertinya Langit tahu apa yang sedang ada di pikirannya. "Mau lah!"
Langit pun naik ke motor, perempuan langka satu ini sungguh mudah diajak. Seperti anak kecil yang hendak diculik. "Cepet naik!"
Luna pun naik ke motor Langit dan mereka pun pergi meninggalkan pekarangan kampus. Langit selalu merasa bersalah soal mengabaikan Senja, tapi ia juga sedang berusaha mengabaikan perasaannya sendiri. Jadi biarlah, lebih baik berpura-pura benci daripada terus menerus menumbuhkan rasa itu lebih dalam.
...~🔱~...
...Maaf kalau ada typo atau semacamnya. ...
__ADS_1
...😢...