MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 36


__ADS_3

...


...


Setelah puas mengelilingi Little Venile, malamnya mereka pesta barbeque. Arkan dan Langit sibuk memanggang, sedangkan Senja dan Risa sibuk menyiapkan isian meja dan minuman.


Beruntungnya hotel tersebut mengizinkan mereka menggunakan rooftop.


Malam berbintang itu menghias kegiatan Senja, Langit, Arkan dan Risa. Jangan lupakan bulan, karena ia juga menjadi saksi sejarah kisah cinta mereka.


Anehnya, wajah Langit berbinar-binar di malam ini. Bukankah ia tengah memanggang daging dengan Kakak tirinya yang sangat ia hindari?


"Lang, tambah kecap lagi yang ini," pinta Arkan sembari menunjuk satu potong daging datar itu.


"Hm."


Kedua gadis cantik, Senja dan Risa berlari menghampiri mereka. "Wah harum, ya?" tanya Risa.


"Iya," sahut Langit disusul senyum.


"Hm ... itu udah mateng Kak, yang sebelah sana!" seru Senja.


"Yang mana?" sahut Arkan dan Langit.


Langit dan Arkan saling tatap, sedangkan Senja hanya melongo.


Risa memecah keganjilan itu. "Itu Kak, yang ini nih," tunjuk Risa ke arah daging yang hampir gosong.


"Oh, iya." Arkan kelabakan, begitu pula Langit.


Akhirnya daging itu ikut kelabakan juga, sebab ia diperebutkan oleh lelaki-lelaki tampan. Sampai akhirnya daging itu pasrah di capitan Arkan, namun setelahnya ia malah menghantam rumput. "Yah!" keluh Senja, Arkan, Risa dan Langit.


Hening tiga detik.


Kemudian mereka tertawa bahagia. Secara tidak langsung mereka tertawa diatas penderitaan orang lain, bukan orang lain, lebih tepatnya seonggok daging.


****


"Ayo kita makan!" ajak Arkan sembari memegang dua barbeque beralaskan benda ceper.


Arkan menaruh daging itu dihadapan Senja. Sama halnya dengan Arkan, Langit pun melakukan hal yang sama. "Wah, haha!" Risa tertawa.


Senja dan Risa mengambilkan minum untuk Arkan dan Langit. "Ini minumnya!" Segelas soda disajikan di samping piring mereka.


Dan tak lupa, aku menaruh Risa dihadapan Arkan, sedangkan Langit dihadapan Senja. Lebih jelasnya, Langit dan Risa berdampingan, Arkan dan Senja berdampingan.


"Eh, kita cheers dulu!" sela Risa ditengah mereka yang hampir memasukan sesendok makanan.


Arkan dan Senja terkekeh kecil, sedangkan Langit hanya memiringkan senyumnya. Mereka menjunjung gelas masing-masing. "Cheers, haha."


Satu menit kemudian hanya ada suara garpu dan sendok yang berperang.


"Gimana, enak?" tanya Arkan.


"Iya, enak Kak." jawab Senja.


"Risa? Sebentar!" Ia mengelap sudut bibir Risa yang terdapat setitik saus.

__ADS_1


Senja menatap itu dengan tatapan bingung, Langit mulai semringah ketika Risa membenarkan rambut Langit siang tadi. Mungkinkah itu alasan Langit terlihat bahagia malam ini?


Entah apa yang Senja rasakan, ia merasa cemburu dengan apa yang dilakukan Langit kepada Risa, ia juga merasa hancur ketika Arkan bersama dengan Oppi. Senja tak tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Ini rumit.


****


Langit melihat kakak tirinya itu sudah tertidur, ia meraih ponselnya. Seketika senyumnya terukir ketika melihat aplikasi Line. Senja mengirim sesuatu di statusnya.


^^^22.30^^^


Dengan caption bertuliskan "Happy Holiday" Benarkah captionnya itu sesuai dengan suasana hatinya? Semoga saja iya.


Langit teringat sesuatu.


Line!


Senja beranjak setelah mendapat notifikasi. Dengan sangat hati-hati ia berjalan keluar dari kamar.


"Mana?" Senja celingukan mencari seseorang. Terkadang ia bingung. Siapa yang butuh, siapa yang telat datang. "Huft ...."


Senja duduk dengan memeluk kedua lututnya. Dinginnya malam membuatnya menggosok kedua lengannya. Senja setengah mendongak, lalu melihat sempurna seseorang yang duduk di sebelahnya.


Langit menyodorkan kotak besar.


"Apa ini?" tanyanya.


"Benda yang dari tadi lo pikirin."


Senja membulatkan matanya, lalu ia membuka kotak itu. Beban yang ditopangnya sedari tadi seakan lepas, ia tak henti-hentinya menatap kamera kesayangannya itu.


"Gue gak tahu kenapa kamera gue bisa sama lo, tapi gue sangat sangat berterima kasih." Sambil memeluk kameranya itu.


"Kamera ini penting banget bagi gue, karena ini adalah satu-satunya kenang-kenangan dari Nenek."


Langit mengangguk mengerti.


Rambut tergerai milik Senja di usik angin malam. Sehingga ia kerepotan untuk menyelipkan anak rambutnya berkali-kali.


"Sebentar ...." pinta Langit.


Langit meraih tangan Senja yang terdapat ikat rambut. Ia pun mengepang satu rambut milik Senja. "Udah," ujarnya.


Senja masih tertegun. Jujur, hatinya berbunga-bunga sekarang. Senja tak menyangka, seorang Langit bisa mengepang rambut. Itu suatu pencapaian yang luar biasa.


Senja terkekeh kecil, "Kok, lo bisa ngepang sih?" tanyanya.


"Apa jangan-jangan ..." Senja menelaah mata Langit, sembari mengangkat jari tengahnya.


"Jangan-jangan apa?" tukas Langit.


"Jangan-jangan ... lo sering ngepang rambut pacar lo, ya?" tanya Senja.


"Gak ada pacar!" ucap Langit tertekan.


"Terus? Kok lo bisa ..." terpotong.


"Sahabat kecil gue," sela Langit.

__ADS_1


"Sahabat? Sahabat lo cewek?" tanya Senja memastikan.


"Iya. Dia punya boneka manusia." Senja menautkan alisnya. Boneka manusia?


"Barbie?"


"I.. iya mungkin." Itu sukses membuat Senja tertawa.


Mengapa gadis itu tertawa? Apa ada yang salah dengan pernyataan Langit barusan? Apa salah jika Langit mengatakan boneka manusia?


"Lo lucu sumpah," ejek Senja masih dengan tawanya.


"Lucu kenapa?"


"Ya itu ... lo main barbie? Lo kan cowok."


"Gue cuma lihat sahabat gue main, bukan gue yang main," bela Langit untuk dirinya sendiri.


Senja murung kembali. Ia ingat Elang, sahabat kecilnya. "Jadi, sahabat lo itu suka main barbie?"


Langit berdeham. "Gue juga suka dulu," ungkap Senja memberitahukan Langit.


Langit terkekeh. "Iyalah. Lo 'kan cewek."


Senja mencubit pelan lengan Langit. "Ish, maksud gue..." Langit hanya meringis sedikit.


Rupanya Senja bermaksud memberitahu soal ia yang bermain barbie ditemani sahabat kecilnya dulu. Namun nampaknya Langit tak paham soal itu.


"Eh bintang jatuh!" kejut Langit.


Senja refleks melihat ke arah langit. Betul, memang bintang jatuh malam itu. Jujur ini pengalaman pertama mereka melihat bintang jatuh. Bintang berekor itu sangat indah, kira-kira ia mendarat di bumi bagian mana? Semoga saja ia mendarat dengan baik.


"Buat permohonan yuk?" tanya Senja.


"Hm."


"Aku hanya ingin dipertemukan dengan Elang lagi," batin Senja.


"Semoga Sesey bahagia, dimana pun dia berada," batin Langit.


Senja menghembuskan nafas, ia lega setelah membatin nama "Elang". Ia berharap semoga dipertemukan dengan Elang lagi dan mereka bersahabat seperti dulu.


Langit memandangi wajah Senja yang menatap langit. Gadis itu berkaca-kaca dan hampir menangis. Sebenarnya Langit ingin tahu apa yang menjadi permintaan gadis itu.Mungkinkah ia ingin bersama selamanya dengan Arkan? Baiklah. Apapun itu, kabulkan saja Tuhan.


Senja mengelap kedua bawah matanya. "Hiks ... eum Langit. Ini udah malem banget, gue ngantuk," kata Senja.


Langit menghela nafas. Benar juga, ini sudah pukul 23 malam. Setidaknya pertemuan singkat itu tak begitu datar. Karena bintang berekor yang jatuh singkat tadi juga mengisi susunan acara yang sekejap ini.


"Hm, lo tidur. Selamat malam."


Senja tersenyum. "Iya selamat malam kembali dan terima kasih." Masih memepertahan senyumnya.


Oh Tuhan, itu manis sekali.


Mereka bangkit dan masing-masing berjalan ke arah yang berbeda. Langit maupun Senja tak berhenti memandang, mereka bahkan saling menoleh ke belakang.


"Have a nice dream," batin keduanya bergema di jantung.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2