
...
...
Mengapa minggu ke senin itu dekat? Sedangkan senin ke minggu itu jauh? Ya, itu sangat tidak adil. Senin datang lagi, mereka kembali kepada rutinitasnya. Langit dan sahabat-sahabatnya memulai kegiatan bersekolahnya lagi setelah 3 hari di skors. Dan anehnya, kali ini mereka tak menggunakan telat sebagai rutinitasnya, malah sekarang mereka tengah berdiri tertib diantara peserta upacara.
Lia berencana untuk mengusili teman sebangkunya itu. Ia memiliki ide supaya Senja melihat ke arah barisan kelas IPS. Karena sungguh, ada lelaki yang begitu tampan dengan berdiri tegak dan melipat tangannya ke belakang.
"Senja? Itu liat! Arif gak telat lagi," desus Lia.
"Lia berisik, kalau kita ketahuan Pak Surya gimana?!" desis Senja tak menoleh sedikitpun.
"Senja itu liat, ada Kak Arkan!" Ini jurus Lia yang sebenarnya.
Senja pun menengok ke arah barisan Kelas IPS. Namun bukan Arkan yang terlihat, melainkan Langit. Ya, orang itu adalah Langit.
"Mana?" pekik Senja sedikit berteriak.
Depan, belakang, samping kiri dan kanan menoleh ke arah mereka berdua. Bayangkan saja jika kalian berteriak di tengah keheningan dan khidmat. "SSSTTT!"
"Liaaa!" bisik Senja sedikit kesal.
"Ya maaf..." Kata Lia lalu menunduk dan tersenyum penuh kemenangan, karena ia berhasil mengalihkan pandangan Senja ke arah kelas IPS.
Sebelum peserta dibubarkan, ketua esktrakuliler wartawan mading mengumumkan hal penting untuk anggota yang terpilih.
"Maaf, bagi yang terpilih sebagai wartawan mading, dimohon datang ke ruangan setelah ini. Terimakasih banyak," kata Irfan menggunakan Mic.
Irfan, selain wakil ketua OSIS ia juga ketua dari eskul ini. Dari empat puluh orang yang mendaftar hanya terpilih delapan orang saja yang menurutnya memiliki kriteria yang cocok untuk eskul ini.
Setelah semuanya berkumpul di ruangan yang dimaksud ketua eskul tersebut, Irfan pun memberitahu apa tujuannya menyuruh anggota untuk berkumpul.
"Oke. Ini kelas XI ada 7 orang..."
"Dan kelas X hanya Senja Aprilia Farnanda."
"Sebelumnya saya minta maaf, untuk pengumuman yang mendadak seperti ini,"
" ... Langsung saja, untuk senin depan saya minta kalian cari informasi menarik dari sekolah ini, baik dari siswa, guru, apapun itu dan tentunya itu harus hal baik," sambungnya.
Senja mengacungkan tangan, karena ada hal yang harus ia tanyakan. "Kak maaf, hanya informasi? Atau dengan dokumentasi?"
Senja bertanya karena Irfan tak memberitahu perihal penggunaan kamera.
"Dua duanya. Jadi, buat yang terbaik. Karena mading kita cukup banyak yang melirik," jelasnya, lalu menutup perjumpaan dan semua anggota diperbolehkan keluar.
__ADS_1
Saat di perjalanan menuju kelas, Senja melewati mading, ia melirik sesuatu yang menarik. Ya, isinya adalah tentang esktrakulikuler Dance boy, yang artinya hanya untuk murid laki-laki.
"Jadi kak Arkan leader Dance di sekolah ini?" Itu berhasil membuat Senja semakin mengagumi Arkan.
****
Arif melirik ke arah mading, melihat pengumuman yang menarik minatnya. Ia pun mengambil kupon yang tertera di sana dan membuang sebagian kupon ke tong sampah, agar yang mengikuti seleksi itu sedikit jumlahnya.
Dengan wajah bahagianya, ia pun masuk ke kelas untuk memberitahu perihal dance kepada teman-temannya.
"Permisi bu." Rupanya Arif keluar untuk membasuh muka tadi.
"Yasudah masuk," kata Bu Nurma.
Arif masuk kelas dan duduk di samping Langit, lalu memberikan kupon itu untuk Langit dan kedua temannya yang duduk di belakangnya. "Ambil, kalian harus ikut pokoknya!" bisik Arif.
"Widih, gue emang mau masuk eskul ini," kata Falah pelan-pelan.
"Gue juga Lah, Arif terbaek." Kali ini Eri bisik-bisik.
"Lang gimana? Lo mau 'kan?" tanya Arif kepada Langit.
Langit tau siapa leader dari eskul tersebut. Arkan, orang yang sangat ia hindari, tapi mau bagaimana lagi, teman-temannya memaksa untuk ikut. Ia tak bisa egois. Langit dan teman-temannya itu memang mahir dance, karena sejak SMP mereka pernah mengikuti eskul tersebut.
"Hm." Langit meraih kupon itu.
****
Senja dan Lia datang ke kantin untuk makan siang. Senja memesan bakso dan air mineral yang langsung dipesankan Lia. Ia menyisir seluruh isi kantin, berharap menemukan seseorang yang ia cari.
"Itu dia!" kata Senja yang langsung menemui orang itu.
"Hai Kak..." sapa Senja pada Arkan.
"Eh, hai Senja, duduk!" ucap Arkan sembari menepuk kursi untuk Senja duduk di sebelahnya.
Senja duduk disamping Arkan dan langsung memberikan sebuah lukisan yang masih terbungkus rapi dengan sampul coklat.
"Ini," seraya memberikan lukisan yang dibuatnya.
"... Gue buat itu sebagai ungkapan terima kasih gue, karena lo udah benerin hp gue yang rusak, bahkan lo juga kasih gue hp baru. Semoga lo suka."
"Hm, pasti. Pasti gue suka," kata Arkan terlihat semringah bahagia. "Makasih Senja."
Setelahnya banyak gadis tak terima, banyak fans Arkan yang langsung panas hati, ada juga yang mendukung kedekatan mereka.
__ADS_1
"Kegatelan banget sih tuh cewek, pake nyogok-nyogok Arkan segala."
"Mereka berdua cocok yaa."
"Ish Kak Arkan gue."
"***** tuh cewek!"
Sontak kata terakhir itu membuat seseorang bangkit dan menggeprak meja kesal. Seantero kantin tertuju pada meja yang berisikan empat laki-laki. Yang memang di sebelahnya terdapat meja dengan gadis-gadis centil.
"Buset, eh lo kenapa Lang?" tanya Arif kaget.
Falah terkejut sehingga langsung menjenggut rambut Eri dan memeluk kepalanya. "Iya, liat si Eri sampe pingsan nih!"
"Eh.. ih jijik gue." Yang punya kepala marah tak terima.
Falah melepas jenggutannya. "Ih pala lo! Duh maaf Ri, otak lo bisa makin geser tuh," ucap Falah bergidik ngeri melihat Eri dengan rambut berantakan oleh ulahnya sendiri.
Langit tak peduli. Ia menatap gadis yang tadi mengejek Senja dengan tajam, sampai orang lain pun tak tahu apa maksud tatapan itu. Ia pun memutuskan untuk pergi keluar kantin.
Menatap sekilas ke arah Senja, yang ternyata Senja pun tengah memperhatikannya.
****
Senja sudah kembali kepada Lia. Mereka sedang menikmati sedapnya bakso yang ada di kantin. Seketika ada sesuatu yang berhasil masuk kembali ke dalam pikiran Lia.
"Senja? Lo tau gak Langit kenapa tadi?"
Senja mengedikkan bahunya, ia benar-benar tidak tahu mengapa Langit tiba-tiba marah dan pergi begitu saja. Bukan hanya dingin, lelaki itu aneh, pikirnya.
"Apa mungkin dia cemburu liat lo sama kak Arkan tadi?" kata Lia dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Senja yang tengah menyantap bakso.
Uhuk.. uhuk..
Spontan Lia memberikan minum, "Eh minum-minum..."
Senja meneguknya dan langsung menegur Lia. "Lo bilang apa tadi? Ya gak mungkinlah, buat apa dia cemburu?"
"Ya kali aja,secara lo sama dia itu pernah deket. Lo juga bilang pernah di interogasi sama Langit, kan?" tanya Lia mencoba mengungkit kejadian Senja bersama Langit.
Dengan segera Senja menepis kesalahpahaman yang ada. "Di interogasi doang Lia, bukan berarti deket!" ucapnya gemas-gemas kesal.
Lia bergidik ngeri, ia sangat takut pada temannya yang satu itu. Jika sudah marah, ia akan menjelma sebagai singa betina.
"Tapi apa mungkin?" batin Senja. Seketika ia menggeleng-gelengkan kepala, supaya pemikiran itu hilang.
__ADS_1
...****...
...🔱...