MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 43


__ADS_3

...


...


...~Dia, suatu jawaban tanpa tanya.~ ...


...****...


"Senja?" lirih Langit.


Namun gadis cantik itu tetap melanjutkan langkahnya. Langit mengikuti Senja dari belakang, gadis itu menatap sendu pada ruangan yang biasanya menjadi ruangan Arkan. Ia mengetuk perlahan, lelaki itu diam setelah mendengar tiga ketukan.


"Kak?" panggilnya.


"Aku mohon buka pintunya!" Suara Senja mulai bergetar.


Arkan menelan salivanya, kemudian membuka pintu ketika mendengar suara Senja yang bergetar. Segera ia palingkan wajahnya dari gadisnya, sungguh berat menatapnya sekarang.


"Kak ... jangan marah, aku sama Langit cuma.."


Arkan menyela perkataan Senja. "Cuma apa? Cuma pelukan?"


Senja menautkan alisnya, tak menyangka akan respon Arkan yang begitu menohok. "Itu gak bener! Aku bahkan gak tahu kenapa Langit lakuin itu!"


Seolah tak peduli. "Terserah!" Lalu meninggalkan gadisnya itu.


Senja meraih pergelangan tangan Arkan. "Kak? Aku mohon dengerin aku dulu!" namun Arkan menepis keras. Hati Senja semakin teriris dan retinanya mengeluarkan air mata. Arkan bahkan tak peduli pada Senja yang kini menangis, ia hanya fokus berjalan dan memikirkan sakitnya.


Langit menahan Arkan. "Bisa lo gak usah kasar sama cewek lo sendiri!" tegur Langit.


Arkan terkekeh perih dan membuang muka. "Lo gak sadar? Semua ini gara-gara lo!" Sembari menunjuk-nunjuk Langit.


"Lo yang harusnya sadar! Apa lo mau gue tetap diam sementara pacar lo jatuh?"


"Lo gak peduli!" Sembari menunjuk Arkan. "Dan malah mentingin fans lo itu." Kali ini Langit membela Senja mati-matian!


"Langit udah!" Senja memisahkan percakapan sengit itu.


Arkan sedikit tergerak hatinya ketika Langit mencoba menjelaskan. Tapi ia selalu ingat kejadian tadi. "Gak perlu ikut campur!" kata Arkan kepada Langit, karena tak ingin larut dalam masalah dengan adik tirinya, Arkan memilih menyerah dan pergi.


Langit menarik lengan Arkan. "Pengecut!" Lalu menghantamnya.


"Langit!" teriak Senja, kemudian Senja menopang tubuh Arkan.


Namun sepertinya Arkan sangat marah, sehingga kembali menghempaskan Senja. Arkan membalas baku hantam Langit tadi. "Kak, udah!" Senja mencoba menghentikan Arkan.


Bogem mentah itu mendarat mulus dipipi Langit. "Aku mohon udah!" Senja tak kuasa lagi, ia sangat takut sekarang ini.


"Gue mohon udah, hiks." Senja semakin memperderas air matanya.

__ADS_1


Langit menatap pelik gadis itu, hatinya kembali terangkat. Arkan, lelaki itu hanya memandang Senja dengan segala luka. Bukannya Arkan tak peduli, namun tatapan Langit kepada Senja kali ini sungguh menandakan bahwa ia menyayangi gadis itu.


Lelaki berstatus hubungan spesial dengan Senja itu pun pergi bersama perasaan yang berkecamuk.


Senja masih menangis, gadis itu pun memukuli Langit. "Kenapa? Kenapa lo lakuin itu? Hiks." Sembari menghentikan kegiatan memukul dada Langit.


"Maaf."


Senja menatap mata Langit dengan tatapan sendu. "Sebenernya apa tujuan lo? Kenapa lo selalu ada? Kenapa lo begitu peduli sama gue? Itu gak perlu! Gue gak butuh lo!"


"GUE YANG BUTUH LO!"


Senja terbelalak dengan mata yang basah, ia tak menyangka akan apa yang dikatakan Langit. Perasaannya kembali goyah. Senja menatap dalam-dalam mata Langit, tak ada kebohongan disana.


Langit menunduk dan menghela nafas. "Gue sayang sama lo."


Senja meminta ditampar dan dibangunkan dari mimpinya. Namun sayangnya ini kenyataan, tak ada kekuatan untuk menentang suratan Tuhan.


Air matanya mengalir deras. "Maaf ... gue mau lo lupain gue, Lang!"


Dengan berat hati ia mengatakan itu kepada Langit. Senja pun tak ingin melakukan itu, namun sudah ada Arkan dan ia tak ingin kehilangan lelaki yang ia miliki saat ini.


Ternyata benar, Langit memang jawaban dari semua pertanyaan Senja.


Dengan perasaan yang kacau, Senja berjalan meninggalkan Langit yang sepertinya sedang hancur. "Gue juga," batin Senja terluka.


****


"Senja? Lo pulang sama gue, ya?" tanya Lia, ia khawatir karena penampilan Senja begitu kacau.


Senja hanya menggeleng pelan. "Please Senja, gue bakal minta Arif anter lo, ya?"


"Gak perlu Li, gue bisa sendiri."


"Please Senja, perasaan gue gak enak nih."


"Gue gak apa-apa kok." Senja tersenyum miris seraya menepuk pundak Lia dan beranjak untuk pulang.


"Sen ... ck!"


Senja berjalan sempoyongan menuju gerbang. Motor ninja merah yang biasanya membawa Arkan dan mengajak Senja jalan-jalan sudah hilang dibawa pemiliknya, itu artinya Arkan sudah pulang.


Senja menghela nafas, lalu melanjutkan perjalanannya menuju halte. Kemana Risa? Dia juga terciprat kejadian itu, alhasil dia sudah berada di jalan menuju rumah. Senja menatap kosong ke depan. Sesekali ia menyelipkan suara Langit dikepalanya.


"GUE YANG BUTUH LO!"


"Gue sayang sama lo."


Argh. Kenapa? Kenapa Langit menyatakan perasaannya kepada Senja? Bukan hanya Langit yang menyatakan perasaannya. Secara tidak langsung perasaan Senja kepada Langit juga terjawab. Dan itu akan melekat dipikirannya saat ini, besok, dan besok lusa. Atau bahkan ... hari-hari berikutnya.

__ADS_1


Pentofel Senja sudah menginjak aspal. Halte bertuliskan "Halte Sekolah" sudah di hadapan.


"Gue sayang sama lo."


"Gue sayang sama lo."


"Gue sayang sama lo."


Senja memejamkan mata ketika kakinya baru dua langkah dari trotoar.


****


"Langit, Senja kenapa?" tanya Lia kepada lelaki yang berdiri disamping motor ninja hitamnya.


Seakan pertanyaan dari Lia adalah angin lalu, Langit tak peduli dan malah memakai helm full facenya.


"Lang, cewek gue nanya tuh." Kini Arif yang buka suara.


Langit hanya menoleh sebentar ke Arif dan memilih naik ke motornya.


"Dia lagi kacau sekarang!" desak Lia.


Langit melajukan motornya setelah mendengarkan kata-kata Lia tadi. Entah ia akan peduli kepada Senja atau malah pergi ke tempat aman untuk mengeringkan luka menganganya. Yang jelas ia terlihat khawatir ketika Lia meracau tidak jelas tentang keadaan Senja.


"Gue mau lo lupain gue, Lang!" Pikiran Langit terarah ke ucapan Senja tadi.


Haruskah ia menghampiri gadis itu? Sepertinya salah.


"Dia gak butuh lo, Lang!" Kini ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Motor ninjanya berhenti beberapa kilometer di depan sekolah. Ia ragu untuk menemui gadis itu. Haruskah kembali peduli? Bagaikan sebuah kaset kusut, suara Senja kembali terdengar dibenaknya.


"Gue gak butuh!"


Oh ya sudah lah. Tak perlu lagi bertanya dan berpikir. Gadis itu kan sudah tak membutuhkannya lagi. Langit pun memutar gas motornya dan melaju kencang.


Sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan diatas aturan.


Senja membuka matanya perlahan.


Sementara gadis itu masih menatap kosong ke depan. Pada langkah ke empat, wajah Senja menoleh ke sebelah kiri dan kini mobil itu berhasil merobohkan pendirian Senja. Senja kembali terpejam setelah menghantam aspal cukup keras.


"SENJA!"


"Gue sayang sama lo." Kini mata Senja benar-benar tertutup rapat karena larutan merah itu telah menenggelamkan rasa yang ada.


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2