MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Part 30 : Salah Paham


__ADS_3

...Dengan siapa akhirnya, aku tetap ingin kamu bahagia....


...🔱...


Senja memandangi nisan orang yang pernah mengecewakan dirinya dan Bundanya. Meski terlihat sangat kecewa, tapi Senja tahu betapa kecewa yang dimiliki Ayahnya lebih besar daripada miliknya. Air mata Senja jatuh begitu saja ketika tengah membersihkan nisan yang bertuliskan nama Ayahnya itu.


Ia jadi merasa bersalah ketika mengingat ucapannya yang pedas tentang Ayahnya.


"Sesey benci Ayah!"


"Ayah jahat!"


"Gue gak punya Ayah."


Terlintas begitu saja dan itu membuat hati Senja sesak dan nyeri. Sejahat apapun orang tua, tetap saja kita tidak boleh mengatakan hal yang tidak-tidak. Karena bagaimanapun, mereka telah ikut andil dalam memberikan kita kehidupan di dunia.


Senja menangis dan menaburkan bunga di makam Ayahnya itu. Sedangkan Yumi berada di mobil dan sedang menunggu gadis itu kembali. Ya, Yumi yang telah menunjukkan kepada Senja makam Papanya.


"Yah.. Maafin Senja. Senja benar-benar gak nyangka kalau hari itu Ayah ternyata pergi selama-lamanya." Senja menangis sembari meremas tanah kuburan Ayahnya itu. "Kita bahkan cuma bersama selama lima tahun. Senja belum tahu apa-apa soal masalah Ayah waktu itu. Maafin Senja.."


Senja menangis dan langit sore kala itu semakin mendung. Awan-awan juga ikut menghitam seakan mendukung Senja yang tengah bersedih itu. Suasananya lulus membuat Senja semakin sendu dan pilu.


"Tapi Senja janji sama Ayah, Senja akan terus jaga Bunda sama Risa. Dan buat Ayah bangga di sana."


Senja menengadahkan tangannya dan berdoa untuk Ayahnya. Semoga dengan begitu, Senja akan lebih baik dan Ayahnya juga akan tenang di sana. Tak lama, Senja mengusap wajahnya tanda berdoa telah selesai. Lalu kembali mengelus nisan.


"Senja pulang dulu. Tapi Senja janji sama Ayah, Senja pasti balik lagi bawa Bunda sama Risa ke sini. Senja juga mau kenalin Elang sama Ayah. Dia baik, ganteng juga kayak Ayah." Senja terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


Kemudian Senja berdiri sembari memandangi kuburan Ayahnya. Rasanya berat meninggalkan tempat itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin Senja akan menahan Ayahnya agar tidak terbaring tanpa nyawa dibawah sana.


Senja menghampiri Yumi yang sedang menunggu di mobil. Yumi baru saja menelpon seseorang. "Iya, gampang itu, sih. Eh, udah dulu, ya!"


Yumi mematikan telponnya sepihak. Lalu menyuruh Senja agar masuk ke mobil. "Cepat masuk! Kita main ke rumah sakit, terus ke rumah gue buat ketemu Kak Ayu." Yumi memutar bola mata malas. "Kakak tiri lo juga.."


Senja mengangguk. "Iya, Kak."


Kemudian gadis itu masuk ke dalam mobil Yumi.


****


Langit datang ke markas untuk menjalani rutinitasnya. Setiap malam sabtu, mereka berempat memang berjanji untuk meluangkan waktu kumpul-kumpul dengan teman. Hitung-hitung pembuktian bahwa pacar bukan penghalang mereka untuk berkumpul dan bersama lagi.


Mareka juga tengah menghargai Falah yang ternyata jomblo sendirian. Di sana sudah ada Langit, Arif dan Eri. Lantas dimana cowok yang berpredikat jomblo itu berada?


"Kapan-kapan kita triple date sebelum gue nikah sama Lia nanti," kata Arif.


"Lagian lo, ngebet banget kawin. Puas-puasin aja dulu sama kita. Kalau udah nikah, lo pasti berubah jadi Bapak-Bapak dan gak pantas nongkrong bareng kita!" celetuk Eri yang tidak terima jika Arif buru-buru nikah.


"Eh, Ri! Umur gue udah pas buat nikahin Lia. Lagian gue gak mau pacaran lama-lama, gue mau sah jadi suami Lia supaya orang-orang gak berprasangka buruk."

__ADS_1


"Justru itu, orang-orang pasti nyangka Lia udah itu duluan karena lo nikahin cepat-cepat!"


Langit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda percakapan mereka berdua sudah sangat jauh. Sedih bila mengingat Arif akan menikah sebentar lagi. Sekitar tiga tahun lagi, Arif pasti beranjak ke pelaminan untuk menikahi Lia.


Arif menjitak kepala Eri. "Sembarangan lo kalau ngomong. Lagian nih ya, gue sama Lia itu mau nikah diumur 22an. Itu wajar, Ri."


"Emang wajib secepat itu, Rif?" tanya Langit.


"Ya, k-kalau lo udah mantap, kenapa nggak?" jawab Arif. Itu membuat Langit berpikir jauh juga.


"Kalau gitu, gue juga mau datang ke Bunda buat lamar Sesey." Langit juga berinisiatif jadinya.


Arif berbinar, ternyata temannya itu juga sudah mulai dewasa dan memikirkan soal menikah juga.


"Nah gitu, dong. Berani nikah muda. Supaya terhindar dari zina juga," kata Arif setuju.


"Eh, eh lo berdua apa-apaan, sih? Kok malah berlomba-lomba mau nikah? Emangnya lo berdua gak peduli sama si jones Falah? Nanti dia gak ada partner."


"Siapa bilang gak ada partner? Gue ada kok." Mereka bertiga mengarahkan pandangan ke Falah yang baru saja datang.


"Nih kunyuk satu yang bilang! Katanya lo jones, Lah." Arif mengadu.


"Jangan gitu sama gua, Rif. Ntar gua berantem lagi sama Falah gimana?" bisik Eri mumpung Falah sedang mengambil minum.


"Mana yang bilang gue jones? Sini gue siram!" kata Falah sembari mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.


Eri berlindung dengan kedua tangannya. "Ampun, Lah! Gue minta maaf!"


"Mentang-mentang lo punya pacar. Lo jadi ngatain gue jones?" tanya Falah. "Asal lo tahu. Gue itu jomblo yang punya banyak cewek, daripada lo cuma satu."


Falah duduk di dekat Eri. Akhir-akhir ini memang Falah dan Eri sudah beranjak menjadi tom and jerry. Mereka berdua selalu bertengkar, tapi bercanda gitu.


"Kalau gitu ganti aja gelar lo jadi jores!" kata Eri.


Falah tengah menyeruput air putih yang diambilnya tadi.


"Jores?" beo Arif. "Apaan tuh Ri?"


"Jomblo ngeres!" jawabnya membuat Arif dan Langit tertawa.


Tiba-tiba saja air menyembur ke wajah Eri. "Kena lo! Lagian main-main sama jores!" ucap Arif.


"Oh, lo juga mau Rif?" tanya Falah.


"Kenapa harus nyembur, sih?" Eri mengomel.


Kemudian Langit tiba-tiba berjalan pelan ke dekat jendela, sementara yang lain bercanda. Sudah dari sore ini Senja tidak membalas pesannya. Langit sedikit khawatir, tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan kebersamaan ini. Jadi ia memilih untuk tetap bersama dengan teman-temannya. Lagipula Senja sudah berjanji kepada Langit untuk tetap di rumah.


****

__ADS_1


"Yah, ini tempat kemarin! Luna gak mau ke sini lagi!" tolak Luna. Gadis itu ikut karena diiming-iming pekerjaan.


"Ya emang, kamu tinggal pilih mau yang mana. Nanti uangnya ngalir!" kata Ayahnya.


Luna menggeleng. "Luna gak mau, Yah! Lepasin Luna!"


"Luna masih punya harga diri!"


Ayahnya itu menampar pipi kanan Luna. "Ayo ikut Ayah sekarang!"


"Luna gak mau, Yah." Luna terus berusaha melepaskan diri dari Ayahnya. Sampai akhirnya ia diserahkan kepada seorang laki-laki.


Kemudian Ayahnya itu mendapat uang dari laki-laki yang telah mengambil anaknya. "Oke Luna, Ayah pulang dulu."


Kemudian Ayahnya meninggalkan Luna yang memberontak. "Ayah! Luna gak mau!"


"Lepasin gue! Lo siapa?!"


"Mau kemana, sih? Di sini aja udah."


Luna ingin menangis dan melarikan diri, tapi sepertinya sangat sulit. Sampai matanya beralih pada seorang gadis yang tengah mabuk. Namun itu pasti bukan dia. Luna pasti salah lihat!


Luna membelalakan matanya. Gak mungkin!


****


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Arkan masih sibuk di depan laptopnya. Sampai akhirnya seseorang menelponnya. Tumben malam-malam begini Irfan menelpon.


Tanpa basa-basi lagi, Arkan kemudian mengangkat telpon dari Irfan itu sembari mengetik.


"Halo Fan, ada apa?"


"Pacar lo, Ar! Dia ada di kelab sama om-om! Cepat kesini!"


Arkan berhenti mengetik karena terkejut. "Serius? Lo lagi ngapain di sana?" tanya Arkan malah menanyakan soal Irfan yang ternyata nakal bermain di kelab malam.


"Kok lo malah tanya soal gue, sih! Cepat kesini dan lihat kelakuan pacar lo itu!"


Tapi Sara tidak mungkin berada di sana. "Fan lo gak ngada-ngada, kan?"


"Ck, lo sama sahabat sendiri gak percayaan. Ini beneran pacar lo ada di sini!"


Arkan perlahan mempercayai perkataan Irfan. "Oke, gue ke sana sekarang! Tolong awasin dia!"


"Hm, cepetan!"


Arkan pun bersiap-siap untuk membuktikan perkataan Irfan. Awas saja jika anak itu bohong! Tapi Arkan sedikit meragukan jika yang di kelab itu adalah Sara. Gadis itu adalah putri dari seorang Dokter, mana mungkin pergi ke tempat itu.


Tanpa basa-basi lagi, Arkan pun melaju dengan motornya untuk menghampiri kekasihnya itu.

__ADS_1


Wah, siapa ya kira-kira?


...~🔱~...


__ADS_2