MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 40


__ADS_3

...


...


Kedua gadis itu nampak sangat lelah setelah mengikuti MOS di sekolah SMA Tirta Bangsa. Senja dan Risa bahkan sampai lupa untuk sekedar menyapa bundanya yang tengah melayani pelanggan.


Senja maupun Risa berjalan gontai untuk mencapai kursi yang biasa mereka duduki. Risa langsung menenggelamkan wajahnya di lengannya. Sedangkan Senja hanya menopang dagunya dengan telapak tangannya.


Bunda Gina menghampiri putri-putrinya. "Kok gak nyapa Bunda?"


"Hallo Bun." Hanya Senja.


Bundanya menunjuk Risa menggunakan dagu. Kemana dirinya yang ceria? Kenapa Risa begitu lemas dan tetap pada mode menutup wajah layunya. Gadis itu mendadak menjadi dingin.


Senja mengedikkan bahunya. Ia tak tahu apapun soal Risa. Karena Senja pun dipenuhi tugas untuk mengatur gugus yang dipeliharanya, yaitu Butterfly.


"Gak tahu Bun."


Risa spontan bangkit dari lemasnya, Senja dan bunda Gina terlonjak kaget. "Bun, aku pulang duluan, ya?"


"Loh, kenapa? Gak mau bantu Bunda dulu sayang?"


"Aku lagi gak enak badan, Bun."


Bunda nya langsung menyentuh dahi Risa, dan benar suhu badannya sedikit panas. "Kamu demam, biar Kak Senja yang anter kamu, ya?" tanya Bunda.


"Gak usah bun. Aku bisa sendiri!" kemudian Risa berlalu begitu saja.


Ada apa dengan anak itu?


****


...(V Feat. RM 🎶4 O'CLOCK🎶)...


Sepanjang jalan Risa hanya menunduk. Air matanya jatuh tanpa di sengaja, meluncur begitu deras membasahi pipinya. Gadis itu demam sebab lambungnya belum dimasuki sesuap nasi pun. Ia terlihat sangat kacau dengan wajahnya yang pucat.


Tak ada satu orang pun di jalanan itu. Langit mendung, sangat hening, dan hanya terdengar jeritan hati seorang Risa. Ia tak henti-hentinya mendengarkan isi kepalanya.


"Kak, tolong hargai perasaan aku, aku minta Kakak menjauh!"


"Karena gak ada satu orang pun yang mampu bersahabat sama rasa sakit, Kak."


Ini terlalu bodoh menurutnya. Namun jika ia tak mundur, itu akan menjadi lebih buruk.


Kali ini Risa benar-benar terpuruk oleh perasaannya sendiri. Mengapa orang yang Langit suka adalah kakak kandungnya? Itu terdengar menyesakkan.


Kilat menyambar, suara menggelegar terdengar bersaut-sautan dari arah barat ke timur. Tidak salah lagi, setelah ini pasti hujan.


Rintik-rintik air jatuh dari gumpalan awan, membasahi rambut tergerai milik Risa.


Kini semuanya basah, termasuk mata Risa.


Risa sampai di pekarangan rumahnya, ia masih sendu dan matanya menatap kosong ke arah depan. Dengan susah payah ia menaiki tangga untuk mencapai kamarnya. Risa bahkan tak berniat untuk membersihkan diri dari seragamnya yang basah.


Ia meraih ujung kasur dan duduk tergeletak dilantai yang dingin. Gadis itu memeluk lututnya erat, sesekali terdengar rintihan dan tubuh mungilnya menggigil kedinginan.


Ponselnya menyala.


Kak Langit Calling


Risa hanya menatap ponselnya yang kala itu menunjukkan pukul 04.00 sore. Lelaki itu ternyata sudah menghubungi Risa sebanyak 12 kali. Untuk apa? Risa menggeser tombol berwarna merah dan membuka baterai ponselnya.

__ADS_1


Kini suara tangis merdu itu bertubrukan dengan melodi hujan.


****


Langit kini di selimuti rasa bersalah, sesuatu memang harus terjadi. Tapi mengapa begitu rumit? Ya, satu sisi Langit menyukai Senja, di sisi lain ia tak mungkin menyakiti gadis yang baik itu. Dan yang lebih buruknya lagi kedua gadis itu adalah sepasang saudara.


Ia menghempaskan tubuhnya di kasur king size miliknya. Langit kini berada di rumah megahnya, sebab ia tak ingin membuat mama nya khawatir.


Kini Langit menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia terlampau bingung bagaimana merespon sikap Risa tadi? Langit bahkan tak ingin menyakiti gadis itu, ia justru mendekati Risa untuk menghargai perasaannya.


Namun nyatanya Langit memang salah mengambil tindakan. Jujur saja, gadis mana yang pernah Langit dekati selain Senja dan Risa? Keysa? Dia ada karena terpaksa.


Meski begitu, esok pagi kalian akan tahu respon apa yang akan ia berikan kepada Risa. Karena kini Langit terlelap dan tidur nyaman diatas ranjangnya hingga besok.


Ceklek.


Paruh baya itu tersenyum ke arah lelaki yang tidur tampan di kasur. Ia pun duduk disamping yang terlelap dan mengelus lembut pipinya, memandang beberapa saat dan membangunkan perlahan.


"Langit? Sayang?"


"Bangun! Mama udah buat nasi goreng kecap kesukaan kamu."


Langit mencoba membuka matanya, sangat sulit untuk membukanya kali ini, mah. Kasur ini terlalu nyaman.


"Lima menit lagi, ya Mah?"


"Loh kok gitu sayang, itu Kakak sama Papa udah nunggu."


Itu semakin membuat Langit malas, mah. Tapi apalah daya, ini demi mama, Langit lakuin semuanya. Padahal sekolah lagi bebas mah, Langit bisa bangun siangan dikit.


"Hm, Langit mandi dulu, Mah."


"Iya, Mama tunggu di meja makan." Sembari memegang tangan Langit.


13 menit kemudian.


Suara tawa begitu renyah terdengar di bawah sana. Rupanya Arkan dan papa kandungnya telah mendarat di meja makan. Oh, lalu apa maksudnya ini? Mengapa Arkan duduk di sebelah nyonya Arlita, haruskah Langit duduk di dekat Papa tirinya? Tidak mungkin.


Dengan terpaksa Langit duduk di kursi dekat papa tirinya. "Papa seneng kamu balik lagi kesini," ujarnya kepada Langit.


Langit terdiam setelah melihat senyum tulus yang di tunjukkan Papa dari Arkan itu. Seperti ini, rasa bersalahnya seakan timbul dengan sendirinya. Hati Langit begitu yakin jika senyum itu tulus diberikan untuknya dan tanpa rasa terpaksa.


Langit menunduk sejenak, Mama Arlita pun menaruh nasi berwarna coklat itu ke piring Langit.


Setelah ini hanya ada suara perang saudara antara garpu dan sendok, juga rasa canggung Langit yang hanya mendengar ocehan canda dari keluarga kecilnya.


****


Senja terus memperhatikan gerak gerik Risa yang tak seperti biasanya. Padahal wajah pucatnya begitu jelas menggambarkan bahwa ia tidak baik-baik saja. Namun Risa bersikeras bahwa ia kuat dan mampu menaklukan MOS hari kedua ini.


"Dek? Kan Kakak udah bilang kalau memang sakit, jangan dipaksain."


"Aku gak apa-apa Kak." kata Risa dengan wajah datar.


"Kamu istirahat di UKS aja, mau?"


"Kak! Aku bilang aku gak apa-apa!" bentak Risa.


Tentu Senja tertegun, bukankah Risa tahu jika Senja tak bisa di bentak orang tersayangnya? Risa pun menundukan kepalanya setelah melihat mata Senja berkaca-kaca. "Maaf Kak ... Aku baik-baik aja, kok."


"Sebenernya apa yang terjadi? Apa yang buat kamu jadi dingin kaya gini? Apa ini karena Langit?"

__ADS_1


Risa menggeleng cepat. "Bukan!"


"Senja?" seseorang memanggil dan menghampiri mereka yang tengah memperbincangkan permasalahan es di depan gerbang.


"Eh hai Risa?" Kali ini ia menyapa Risa.


"Hai Kak Lia."


"Kalian berdua kok ngobrol disini? Kenapa gak di dalem aja?" tanya Lia.


"Eh i.. iya Li. Ini kita mau ke dalem, ya 'kan Dek?"


"Iya Kak."


"Yaudah kalau gitu, ayo!" Lia menggandeng Senja.


"Hm, Kak arah kelas aku kesana."


"Oh gitu, ya? Ya udah semangat Risa!"


"Iya, makasih Kak." Sembari tersenyum hambar.


Lia menarik Senja menjauh dari Risa, padahal masih banyak yang harus dibicarakan. Namun bagi Risa, itu sangat tak penting untuk dibahas. Lagipula Risa harus buru-buru sampai di kelas karena kepalanya semakin sakit.


Risa terus merintih, mengapa kepalanya sangat sakit? Ia terus memegang kepalanya seraya meraba dinding. Sudah tak kuat! Risa pun masuk ke dalam ruangan yang belum di ketahui ruangan apa yang jelas kelas itu tak berpenghuni.


Ia mendudukkan diri di salah satu bangku disana. Ruangan itu hanya terdapat tujuh kursi dan satu meja. Seketika kepalanya seperti terguncang dan sangat sakit.


Bruk!


"Risa?"


Gadis itu terpejam di meja. Dipanggil tak menyahut, sebenarnya tidur atau pingsan?


"Risa? Hei?" Ia menepuk pelan pipi Risa. Namun gadis itu tak bergerak sedikitpun.


Tunggu-tunggu? Kenapa pipinya terasa panas? "Risaa?"


Ia berdecak, tak salah lagi gadis mungil itu tak sadarkan diri. Ia pun mengendong Risa ala bridal style dan menidurkan tubuh mungil Risa di brankar UKS.


7 menit kemudian


Risa berusaha membuka matanya. Penglihatan yang kabur membuatnya sedikit menerka-nerka lelaki yang ada di sebelahnya. Perlahan-lahan ia bangun, lalu melihat jelas orang itu.


Deg


Kini matanya membulat sempurna ketika melihat siapa yang telah menolongnya. "Kak Langit?"


Langit membuka botol minum dan memberikan obat yang tadi diberikan petugas PMR. Risa melihat sekilas ke arah botol itu, lalu mengambilnya dari Langit. Obat dan air mineral itu berhasil diteguknya.


"Makasih Kak."


Kali ini Langit membukakan plastik yang berisi roti isi coklat, sama hal nya dengan minuman, Risa melihatnya sekilas kemudian jari mungilnya merebut lembut roti itu dan memakannya dihadapan Langit.


Langit melihat Risa yang sedang melahap. "Jangan pernah nangis untuk seorang Langit," ujar Langit.


Mengapa Lelaki itu tahu semalaman Risa habis menangis? Mata sembab Risa menjawab semuanya.


"Cukup Langit yang mendung, Risa jangan." Mata Risa membulat sempurna mendengar itu.


Keadaan langit memang selalu mendung akhir-akhir ini. Eh maksudnya Langit atau langit? Entahlah, yang jelas ucapan manis itu berhasil membuat Risa gagal move on dan memilih untuk damai dengan perasaannya.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2