
...Mencintai secukupnya, membenci jangan sepenuhnya. Karena bagaimanapun, orang yang kita kenal adalah yang dikirim Tuhan untuk mengajarkan....
...🔱...
Beberapa hari kemudian..
Sepulang dari rumah sakit, Senja dan Langit berinisiatif untuk makan malam di pinggir jalan. Menikmati udara yang segar dan sedikit dingin, tapi bagi mereka bersama saja sudah membuat atmosfer hangat dan nyaman.
Senja terus tersenyum ketika melihat Langit makan dengan lahap. Dia sepertinya sangat lelah karena kelas hari ini cukup panjang. Belum lagi Langit baru saja mengantar pacarnya itu untuk berobat di rumah sakit. Ya, Senja masih harus memulihkan diri semenjak kecelakaan beberapa tahun ke belakang. Ternyata dampaknya terbawa hingga kini. Kepalanya masih saja sakit tiba-tiba. Jadi Langit membawa Senja untuk berobat dan Dokter bilang Senja harus berobat jalan agar segera pulih seperti semula. Tidak ada yang serius, tapi semua orang pasti tidak ingin merasakan pusing berkepanjangan, kan?
"Lang, pelan-pelan makannya. Nanti kamu bisa kesedak." Senja menggelengkan kepala sembari tersenyum. Pacarnya itu berubah hangat ketika sedang di hadapan Senja.
"Nggak apa-apa. Aku kok yang kesedak."
"Iya, tapi dampaknya besar lho kalau sampai kesedak, apalagi kesedak biji durian."
Uhuk. Dan benar saja Langit tersedak setelah Senja mengatakan hal itu. "Tuh kan, kesedak. Apa aku bilang?" Senja mengambilkan minum untuk Langit dan cowok itu meminumnya.
"Ini nasi goreng, Sey. Bukan durian."
Senja tertawa. "Kamu banyak berubah, ya? Dulu kamu tinggal di kutub lho, Lang. Dingin banget. Sekarang udah pindah ke hutan tropis, ya?"
"Tapi kamu yang sekarang adalah kamu yang aku kenal dulu," sambung Senja. "Dulu.. waktu kita masih umur lima tahunan."
"Aku udah lupa," kata Langit sembari menyuapi nasi goreng ke mulutnya. Ia tak ingin mengingat itu, karena Sesey pernah pergi meninggalkannya.
"Aku memang pernah pergi, tapi sekarang aku di sini." Senja memegangi tangan Langit. "Dan semoga kita jauh dari kata pisah."
Langit mengangguk sembari tersenyum.
****
Mata Senja langsung tertuju pada seorang cowok yang tengah memantau toko Bundanya. Senja langsung bersembunyi di bekalang punggung Langit.
"Ada apa?" tanya Langit.
"Itu Lang, aku takut sama dia.." Senja menunjuk cowok itu.
"Takut? Takut kenapa?"
"D-dia yang udah cium aku waktu itu."
Langit mendelik, pantas saja Senja sangat takut dan sampai bersembunyi di punggungnya. Ternyata cowok itu yang mencuri first kiss Senja. Langit tak bisa tinggal diam, ia kemudian berjalan dengan tatapan marah, tapi Senja menahannya terlebih dahulu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Senja.
"Hajar dialah."
Senja menggeleng tanda tak ingin pacarnya berkelahi. "Jangan, Lang. Aku gak mau kamu berantem."
"Aku pernah janji sama kamu, kalau aku bakal cari orang yang udah kurang hajar sama kamu." Langit tidak peduli pada Senja dulu, ia malah menghampiri lelaki itu.
Langit meraih kerah belakang lelaki itu dan langsung menghantam rahang bawahnya sampai dia tersungkur. Tanpa ampun, Langit beranjak membabi buta cowok itu.
"Ternyata lo orang berengsek itu!" Langit geram.
"LANGIT!" teriak seorang gadis. Gadis itu langsung mendorong Langit agar menjauh dari lelaki yang sedang dihajarnya. "STOP!"
Sedangkan Senja hanya berdiri diantara orang-orang yang berdatangan karena ingin tahu.
"Luna?" Langit terkejut ketika tahu gadis yang menghalanginya adalah Luna.
Luna menolong lelaki itu. "Bang, lo gak apa-apa, kan?" tanya Luna.
Namun Kakaknya yang bernama Juan itu malah mendorong Luna dan menegur Langit. "Maksud lo apa tiba-tiba nyerang gue?"
__ADS_1
"Karena lo udah kurang hajar sama Sesey!" jelas Langit. Senja menghampiri Langit dan memegang lengan kekasihnya itu karena takut.
Luna membelalakan matanya. "Benar apa yang dibilang Langit?"
"Ck, lo gak perlu ikut campur! Ini urusan gue sama dia!" bentak Juan.
"Senja? Gue minta maaf kalau misalnya Abang gue kurang hajar sama lo." Luna yang meminta maaf kepada Senja. Namun Senja hanya menunduk.
"Kenapa lo minta maaf? Gue gak pernah kurang hajar sama cewek itu!" Juan mengelak dituduh.
"Gak mungkin Sesey bohong!" bantah Langit. Ia percaya pada Senjanya dibanding ucapan Juan.
Menyadari semua orang datang menonton dirinya. akhirnya Juan melarikan diri dan meninggalkan adiknya dengan rasa malu sendirian. Sedangkan Senja dan Langit hanya menatap sendu kepergian Luna. Kasihan Luna.
****
"Bang!" panggil Luna. "Bang, tunggu!"
Luna masih mengejar Abangnya sampai ia mampu meraih lengan Abangnya itu. Namun lelaki itu malah menghempaskannya. "Lepasin! Bisa kan lo pergi dari hadapan gue! Bikin muak!"
Luna hampir menangis. "Bang, gue belain lo tadi, supaya apa? Supaya lo gak malu."
"Gua gak butuh dibelain sama lo!"
"Tapi Bang.. tindakan lo tadi bukan cuma malu-maluin diri lo sendiri, tapi juga keluarga kita."
"Oh, jadi maksud lo.. gue itu malu-maluin?" tanya Juan. "Iya?!" Juan hendak memukul Luna. Namun seseorang menahannya.
Luna melihat orang itu. "Jangan beraninya sama cewek!" kata cowok itu. Luna tidak tahu siapa.
"Lo siapanya dia, hah?"
"Gue bukan siapa-siapanya, tapi gue gak suka lihat cewek dikasarin!"
"Kalau lo masih nekad, gue akan laporin tindakan lo ini ke bokap gue. Dia adalah kepala polisi."
Juan terkekeh. "Bocah ingusan! Emang lo pikir gue anak kecil yang bisa dikibulin, hah?"
Cowok itu kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan kepada Juan foto Ayahnya yang memang benar-benar kepala polisi. "Pergi dari sini! Karena gue bisa laporin lo ke Bokap gue dan lo bisa jadi buronan."
Juan hanya berdecak. "Gue belum selesai sama lo!" Kemudian menunjuk wajah Luna dan pergi begitu saja.
"Lo gak apa-apa?" tanya cowok itu.
Luna menggeleng. "Thank's."
Falah mengulurkan tangannya. "Kenalin... gue Falah."
Luna membalas menjabat tangan Falah. "Luna."
Mereka pun saling melempar senyum.
****
"SARA!" teriak Arkan tepat di gerbang rumah Sara. Gadis itu maupun orang rumah sama sekali tidak berinisiatif membukakan gerbang untuk Arkan.
"SARA!"
Ya, Arkan merasa bersalah telah mendekati Sara ketika masih memiliki Senja. Ia terus meminta maaf kepada Sara meskipun gadis itu masih terus diam dan tak berkata apapun kepada Arkan. Tak di kampus, tak di gerbang rumah, cowok itu terus mengganggu Sara yang masih berstatus pacarnya.
Sara memandang dengan rasa iba ketika Arkan tidak ingin pulang dan masih terus berteriak di depan rumahnya. Jendela kamarnya itu memang bisa diandalkan kalau sedang begini, Sara jadi tahu betapa tulusnya Arkan yang meminta dimaafkan.
"Sara? Itu teman kamu datang lagi. Gak mau keluar?" tanya Papanya yang seorang Dokter di rumah sakit yang pernah merawat Arkan.
Sara menggeleng. "Dia bukan teman, Sara."
__ADS_1
"Terus siapa?"
"Cuma orang lain, Pa." Sara masih terus memandangi ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"BERISIK! MALAM-MALAM TERIAK DI DEPAN RUMAH ORANG! GAK MALU? GANTENG-GANTENG BIKIN RUSUH!"
Sara langsung terbelalak ketika melihat Arkan kena marah tetangga sebelah rumah. Setiap hari Arkan memang membuat kegaduhan, tapi sepertinya sekarang adalah puncaknya karena tetangga datang untuk mengusir Arkan.
Tanpa basa basi lagi, Sara akhirnya berlari secepat mungkin agar bisa menjangkau Arkannya. Ia tidak peduli lagi akan rasa bencinya karena saking cemasnya jikalau Arkan sampai kena marah tetangganya tersebut.
Sara membuka pintu gerbang. "Pak! Jangan Pak! Dia teman saya. Jangan dimarahin." Sara memohon dan meminta agar Bapak-Bapak itu tidak memarahi Arkan.
"Oh, jadi dia teman kamu? Bilang sama temannya jangan berisik. Dia bisa mengganggu orang-orang di sini."
Sara mengangguk. "Iya, Pak. Saya minta maaf atas perlakuan teman saya ini."
"Sekali lagi saya minta maaf." Sara menunduk.
Bapak-Bapak itupun menyerah jika Sara yang meminta. Beliau pun pergi dengan wajah yang masih terlihat marah.
"Ar, lo gila ya setiap hari ke sini cuma buat teriak-teriak?" tanya Sara.
"Gue lebih baik dianggap gila karena berusaha dapat maaf dari lo. Daripada waras dan lupain segala kesalahan yang gue buat." Arkan terlihat sesak dan nafasnya seperti tersengal-sengal.
Sara masih tetap dengan perasaan ibanya. "Lo kelihatan sesak," ucap Sara cemas.
Arkan memegangi dadanya yang sesak. "Gue gak apa-apa, kok."
Sara menggeleng keras. "Lo kambuh. Lebih baik masuk dan bicara di dalam."
Arkan mengangguk dan membiarkan Sara memapahnya. Mungkin efek teriak-teriak, Arkan jadi kambuh dan memang akhir-akhir ini ia selalu dihadapkan dengan sesak nafas yang hebat.
Setidaknya, dengan sesak itu Arkan bisa masuk ke dalam rumah Sara.
Arkan terus menarik nafas dan menghembuskannya. Untung saja Papa dari Sara berada di sana. Jadi Arkan bisa langsung ditangani oleh Papanya.
"Jadi.. kamu ini teman Sara?" tanya Papanya.
"Saya pacarnya, Om." Arkan menjawab.
Sara hanya menunduk. Ternyata Arkan masih menganggapnya begitu.
"Pacar?" Dokter sekaligus Papa dari Sara itu manggut-manggut. "Kalau gitu... Om tinggal ke kamar gak apa-apa, kan? Biar kalian leluasa ngobrolnya."
Arkan mengangguk, sedangkan Sara menunduk. Ternyata Papanya itu terlampau peka.
Arkan menatap Sara. "Sar? Lo mau kan maafin gue?"
Sara mengangguk. "Gue udah maafin lo, tapi apa Senja mau maafin gue?" tanya Sara.
"Sar, semua ini salah gue. Bukan salah lo dan gue punya alasan untuk putusin Senja waktu itu." Arkan mulai terbuka dan menjelaskan semuanya kepada Sara.
"Gue adalah seorang Kakak, gue ngalah demi hubungan baik gue sama adik gue, Langit." Arkan menunduk. "Langit suka sama Senja, jadi gue pikir... ada baiknya gue ngalah dan nyerahin Senja buat Langit."
Sara berkaca-kaca. "Jadi lo pacarin gue.. itu cuma bagian dari skenario yang lo buat?"
"Awalnya memang gitu, tapi ternyata gue beneran suka sama lo, Sar. Gue mau bertahan sama lo."
Sara tersenyum sembari meraih tangan Arkan. "Kalau gitu ceritanya.. gue juga mau bertahan sama lo."
Arkan dan Sara kemudian saling mengembangkan senyum mereka.
...~🔱~...
...Stay yaa karena hanya tinggal beberapa part lagi🤗...
__ADS_1