MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 39


__ADS_3

...


...


Waktu berputar, ada yang harus berubah dari kehidupan. Misalnya seorang Risa Meytariani, ia sudah siap menjalani masa-masa indah yang sesungguhnya. Jika orang lain mengubah biru ke abu, maka Risa mengubah abu ke biru.


Ya, seragam Risa sewaktu SMP adalah berwarna abu, sedangkan SMA ia akan menggunakan seragam berwarna biru, biru kotak-kotak.


Dengan gagah ia memakai seragam asal dari sekolah menengahnya dulu, yaitu putih dan abu.


Tak muluk-muluk, Masa Orientasi di sekolah itu tak membuat calon murid-murid baru tertekan.


"Saya Arkan Hanipan selaku ketua OSIS akan mengumumkan bahwa Masa Orientasi Siswa resmi kita buka!" tegas Arkan menggunakan mic. Ia berdiri di podium dengan di kawal kandidat-kandidatnya, termasuk kekasihnya.


Semua orang bersorak. Mereka begitu antusias mendengarkan most wanted yang tadi berbicara.


"Kak Arkan? Udah punya pacar belum haha?" Seorang gadis tak tahu malu mengeluarkan unek-uneknya mungkin.


"Kak Arkan? Jatuh dimana pas kesini?" Kali ini gombalan yang dilempar.


Memangnya Arkan malaikat yang jatuh dari kayangan?


"Asik ketua OSISnya ganteng."


Risa hanya menautkan alisnya. Jika dia punya keberanian, ia pasti sudah berdiri di podium dan mengumumkan bahwa orang yang mereka maksud adalah kekasih dari Kakak kandungnya.


"Semangat untuk kalian semua!" ucap Arkan kepada seluruh anggota yang berada dibawah naungannya.


"Siap!" ucap mereka serempak.


Arkan mengacak lembut rambut kekasihnya yang hendak bertugas. "Semangat," ucapnya lalu tersenyum.


Senja tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Arkan. "Wih bucin ya Kak Arkan?" goda Lia.


Mereka memang sahabat sejati, kebetulan Senja dan Lia bertugas di gugus yang sama, yaitu Butterfly.


"Arif juga 'kan?" tanya Senja.


Sembari berjalan, mereka berdua berbincang-bincang soal orang spesial.


****


Sementara itu, Arkan dan seluruh anggota STB melakukan rapat diruangan khusus mereka. Sudah ada Langit dan ketiga temannya, juga teman dekat Arkan, yaitu Irfan dan Rizky. Bukankah Irfan dan Rizky adalah anggota OSIS?


"Asik dah kita berdua gak gabung sama mereka." Irfan dengan kemenangannya.


"Siapa dulu ketua OSIS tahun ini!" seru Rizky.


Langit hanya memutar bola matanya malas. Ia terpaksa mendatangi ruangan itu untuk mengikuti rapat dan latihan dance. Karena di hari terakhir Masa Orientasi Siswa nanti mereka akan menyuguhkan pertunjukkan. Bukan hanya eskul dance, melainkan yang lain.


Hanya dalam kurun waktu dua hari? Apakah mereka mampu menaklukan hari itu dan menyajikan penampilan yang spektakuler? Tunggu saja.

__ADS_1


Kala itu sudah pukul setengah sembilan, beberapa menit mereka berdiskusi tentang konsep koreografi yang akan mereka tampilkan di hari H nanti.


"Kita ambil BTS lagi?" tanya Rizky.


"Boleh ... tapi yang judulnya apa?" tanya Arkan.


"Falah? Woy?" Terdengar Arif membangunkan Falah yang tertidur.


Dengan mata setengah menyipit, ia berusaha membuka matanya lebar-lebar. "Hm? Apa?"


"Tuh, lo kan paling bisa ngusulin lagu. Lo kan Army sejati," jawab Arif.


"Oh ... iya, bias gue Bang Agus," jawab Falah keliru.


"Bodo amat!" Eri berbicara setelah beberapa menit mendengarkan ocehan kakak kelasnya itu.


"Jadi, gimana? Lagu apa?" tanya Arkan.


Terlihat Falah sedang berpikir, loadingnya anak ini cukup menguras waktu.


"Gue saranin untuk pake lagu ini ... " Biarkan hanya mereka yang tahu kelanjutan dialog Falah ini.


"Oke ... bagus juga. Lo emang the best Lah kalau soal ini." Akhirnya Eri mengaku bahwa Falah terbaik.


"Gue udah tahu kali."


"Oke kita pakai lagu yang disarankan Falah," jelas Arkan.


Kemudian sekitar 30 menit mereka berlatih dance. Sudah tiga kali mereka mengulang-ngulang gerakan itu.


"Siap, sore lagi atau udahan?" tanya Irfan.


"Udahan. Kita lanjut besok."


"Tumben, kenapa Ar? Lo sakit lagi, ya?" Kali ini Rizky.


Tentu Arkan menggeleng cepat. Dance itu bahkan tak menjadikannya lelah. "Bukan, bukan soal itu. Tapi gue harus ngurus OSIS." Arkan membela dirinya sendiri.


"Oh iya juga sih."


"Oke kalau gitu terima kasih untuk latihan hari ini," tutur Arkan yang langsung pergi meninggalkan mereka.


****


Istirahat adalah waktu berhenti sejenak dari kegiatan, tepatnya untuk melepaskan lelah. Di sekolah waktu ini paling diburu. Mereka sangat antusias jika bel istirahat berbunyi, terlebih lagi saat MOS seperti ini. Karena banyak siswa siswi baru yang merasa risih atas perbuatan kakak kelasnya.


Banyak dari mereka yang memilih kantin untuk dijadikan tepat rehat. Sisanya mungkin pergi ke toilet, tour sekolah tanpa bimbingan, atau bahkan diam di kelas. Contohnya gadis yang moodnya sedang turun itu.


"Ris, ayolah kita ke kantin!"


Namun Risa masih setia dengan posisi kepala ditidurkan di meja. "Hm, kamu bisa sendiri 'kan?" tanya Risa lemas.

__ADS_1


Gadis yang diduga teman baru Risa itu pun sedikit kecewa karena teman sebangkunya tak ingin diajak ke kantin bersama. "Seriusan gak mau ke kantin? Kita sampai sore loh, Ris."


Tetap saja Risa tak peduli. "Aku gak lapar."


"Ya emang sekarang belum, tapi nanti setelah orang lain kenyang kamu lapar."


Risa pun mulai menegakkan kepalanya dan menatap teman barunya itu intens. "Aku bener-bener gak lapar, Ta."


"Hm, oke kalau gitu." Dengan langkah gontai temannya itu keluar kelas untuk ke kantin.


Sedangkan Risa kembali dalam mode lemas. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Masa Orientasi di sekolah itu terasa hampa dan sedikit mencengangkan. Sebelumnya ia tak ingin bersekolah di SMA milik orang tua Langit itu, alasannya hanya karena otaknya memiliki volume yang kecil. Padahal Risa adalah salah satu yang terpintar di sekolahnya dulu.


Risa beranjak dan memilih duduk sendirian di lapangan belakang. Kebetulan gugus Bee tour ke lapangan cadangan tadi dan bilang jikalau lapangan itu adalah tempat tersepi kedua setelah rooftop.


Ia yakin kehidupannya setelah ini pasti tidak akan baik-baik saja.


"Lah? Lihat deh, ada adik kelas disana!" Eri, sudah dibilang ia akan benar fokus ketika berbicara soal perempuan dan games.


Eri menunjuk perempuan yang tengah duduk dipinggir lapangan. Falah refleks menoleh dan membuka mulutnya terpesona. "Woah, iya Ri. Samperin yuk?"


Eri mengangguk, kemudian mereka berdua hendak menghampiri gadis itu. Namun karena mereka tak berdua, akhirnya Langit menghentikan niat keduanya.


Kantin ramai, lapangan basket ramai, rooftop? Ah terlalu datar. Jadi mereka pergi ke lapangan belakang untuk sekedar melepas jenuh. Lagipula lapangan itu sangat teduh.


Langit menghentikan kegiatan kedua sahabatnya dan menyuruh mereka pulang. "Kalian pulang duluan!"


Eri dan Falah saling tatap sekejap, dan tak terima atas keputusan Langit. "Gak. Kita mau kesana 'kan tadi?" ucap Eri.


Langit takut jika Falah dan Eri mengganggu adik kelasnya yang satu ini. Langit kelabakan dan bingung ingin menjawab apa. Langit pun memberi isyarat kepada Arif untuk membantunya kali ini. Matanya mengisyaratkan agar Arif mengantar Falah dan Eri pulang.


"Iya Lang!"


Arif merangkul kedua temennya yang kurang tinggi itu menjauh dari Langit dan lapangan.


Hentakan kaki itu terdengar semakin dekat ke arahnya. Risa menoleh ke sumber suara, ketika tahu siapa yang menghampirinya, ia pun beranjak dan memilih menjauh dari Langit.


Tentu Langit mengejar lari kecilnya Risa. Gadis yang memakai seragam putih dan rok mini sekolah abunya itu berhenti berlari ketika Langit menghadangnya.


"Kenapa? Kenapa menghindar?" tanya Langit.


Risa menatap lelaki itu dengan tatapan marah, kemudian berusaha melanjutkan berlari, Langit tetap menghadang.


"Kak minggir, aku mau lewat!"


"Jawab dulu!"


Risa pun berhenti dan lebih memilih tegar untuk menjawab pertanyaan Langit. "Kak, tolong hargai perasaan aku, aku minta Kakak menjauh!"


"Karena gak ada satu orang pun yang mampu bersahabat sama rasa sakit, Kak," kata Risa dengan mata yang berkaca-kaca.


Risa pun menabrak bahu Langit yang tengah mematung.

__ADS_1


...****...


...🔱...


__ADS_2