MASA LALU DAN TAKDIRKU

MASA LALU DAN TAKDIRKU
Chapter 38


__ADS_3

...


...


Langit hampir mati keheningan, sedangkan Risa hampir pingsan kepanasan. Mengapa dua sejoli itu begitu betah di dalam sana?


"Kak Langit? Aku haus, Kak Langit haus juga gak?" tanya Risa.


"Sebentar!" ucap Langit hendak pergi membeli air mineral.


"Kak!"


Langit menghentikan langkahnya, lalu Risa menghampiri Langit dan meminta untuk ikut.


"Aku ikut."


Langit mengikat kembali tangan jemari Risa dengan jemarinya. Langit, kau begitu menyenangkan. Senja dan Arkan keluar setelah 20 menit di dalam.


"Jadi ... tanaman itu ..." Ucapan Arkan terjeda setelah melihat Senja yang menatap lesu ke depan.


Arkan mengarahkan matanya ke objek yang juga di lihat Senja. Ternyata perilaku Langit ini terekam penglihatan Senja, hal aneh terasa kembali. Apa ini? Mengapa begitu perih?


"Senja?" sapa Arkan, mengambyarkan seisi pikiran Senja.


"Hm, kenapa Kak?"


"Mau nyusul Langit dan Risa?" tanyanya.


"Memangnya mereka mau kemana?"


Arkan mengedikkan bahunya. Sebab ia benar-benar tak tahu adik tirinya akan membawa calon adik iparnya kemana. "Kakak juga gak tahu."


"Yaudah, eum ... kita lanjut jalan aja," pinta Senja.


"Yaudah ayo." Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju taman mancur.


****


Cuaca yang sangat terik itu membuat hasrat ingin es batu meluap-luap. Risa ingin sebuah es krim yang di jual di dekat danau. Menurutnya panas-panas begini paling pas untuk memakan es krim. Sangat pas malahan.


"Kak, aku mau es krim," ujar Risa.


"Bukannya gak suka?"


Tunggu-tunggu. Kenapa Langit bertanya seperti itu?


"Kak Langit salah orang, yang gak suka es krim itu Kak Senja."


Ingin rasanya ia menepuk keningnya sendiri. Risa sudah cukup tersakiti dengan sikap Langit yang terus dipenuhi Senja. Langit menghela nafas, ia bahkan tahu persis yang dirasakan Risa, sebab Langit pun tengah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.


Langit kelabakan mengendalikan kesalahannya. "Eum.. mau rasa apa?" tanya Langit.

__ADS_1


"Rasa pisang!"


Risa, mengapa gadis itu menyebut pisang? Itu berhasil membuat Langit semakin terjebak dalam labirin ketersesatan. Langit meneguk salivanya. "Pisang?" Lalu mengerutkan keningnya.


"Bahkan Kakak tahu semua tentang Kak Senja ..."


"Udah berapa lama jadi penguntit?" lanjutnya sembari terkekeh perih.


Langit hanya menggaruk tengkuknya. Bukan penguntit, ia bahkan tak pernah memata-matai Senja. Langit adalah lelaki yang selalu ada ketika gadis itu sedang berantakan dan tenggelam dalam kesedihan, Risa.


"Mau beli es krim atau bahas itu?" tanya Langit berusaha mengalihkan dunia Risa dari keputusasaan.


"Kalau aku jawab bahas itu ... Kakak bersedia ceritain semua perasaan Kakak ke Kak Senja?"


Langit tercengang, gadis itu benar-benar bersedia jika hatinya teriris.


****


Senja dan Arkan melihat-lihat taman mancur. Mata Senja terarah untuk menatap pemandangan yang indah itu, namun pikirannya tetap saja melayang kepada adik dan lelaki peka itu.


"Kok Risa sama Langit lama, ya Kak?"


"Mereka mungkin istirahat dulu," jawab Arkan asal.


"Hm, iya sih. Aku puas lihat pemandangan di sini, kita lanjut aja yuk Kak?" ajak Senja.


"Loh, terus gimana sama mereka?"


Arkan mengiyakan ucapan Senja. Gadis itu hanya merasa hampa karena hanya berduaan dengan Arkan. Ia merasakan hal berbeda jika tanpa adiknya, lebih tepatnya patrner yang dibawa Risa.


Hanya sekitar tujuh menit, mereka sampai di taman sakura. Baru beberapa detik mereka datang, bunga bermekaran itu jatuh perlahan mengguyur kedua sejoli itu. Senja menengadahkan telapak tangannya guna menyangga kelopak-kelopak yang jatuh.


Arkan terpesona melihat pipi merona Senja yang langsung akrab dengan bunga berwarna pink itu.


...🎶Beautiful Life-Jungkook🎶...


Beberapa detik memandangi Senja yang tersenyum bahagia. "Cantik!"


Senja menarik pergelangan tangan Arkan, ia membawa kekasihnya itu untuk melakukan hal yang sama dengannya, yaitu memejamkan mata dan menghirup keberhasilan dua senyawa yang bekerja sama, yakni angin dan aroma bunga sakura.


Kebetulan hanya ada sedikit manusia di taman ini. Semesta saja tahu, jika aku meminta berdua denganmu, Senja.


Dengan jari yang masih merekat dengan jari Arkan. Senja terkekeh bahagia. "Ini impian aku, dari dulu aku pengin ke Jepang. Walaupun cuma mau lihat bunga sakura," ujarnya sambil menampilkan deretan gigi yang rapi.


Arkan mengacak pucuk rambut Senja. "Kakak janji, suatu saat nanti..." Merangkul Senja. "Kita berdua terbang ke Jepang, buat lihat bunga sakura."


"Janji?" tanya Senja menampilkan kelingkingnya.


"Janji," ucap Arkan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Senja.


Ternyata sedari tadi sudah ada yang memperhatikan mereka dari kerjauhan. Dengan hati yang pedih, dengan mata yang berkaca-kaca. Ini sakura. Indah tak menyayat, namun inilah kenyataannya, sakura hanya background terindah untuk rasa berkecamuk itu.

__ADS_1


Senja terkejut. Langit dan Risa? Apa mereka dari tadi berdiri dihadapan mereka?


Langit dan Risa menghampiri sepasang kekasih itu. "Romantis banget sih ..." goda Risa.


"Kalian juga!" ucap Senja lirih.


"Ih Kakak apaan sih," ucap Risa mengelak.


"Ehem ... kalian berdua gak mau foto disini?" tanya Arkan menerobos masuk percakapan mereka.


"Mau, lah Kak," kata Risa.


"Ya udah. Sini Kakak yang foto." Senja memberikan kamera itu kepada Arkan.


Ketika mereka bersiap dan hampir bergaya, tiba-tiba Arkan melihat subjek yang sedang mamasang wajah dingin. Ia merasa terabaikan. "Lang! Gabung sana," titah Arkan.


Langit hanya menggelengkan kepala. Lalu Arkan mengangguk pelan, kedua gadis itu hanya menatap Langit dengan wajah yang menandakan tidak peduli. Toh lelaki memang begitu, kadang kala mereka malah merasa risih ketika melihat gadis-gadis eksis.


Tapi Senja dan Risa tidak begitu, Langit.


"Oke ... 1... 2... 3..." cekrek!


"Oke, bagus!" ujar Arkan mengapresiasi karya sendiri.


Kemudian Senja dan Risa berlari kecil menghampiri Arkan untuk melihat hasil potretannya. Dan hasilnya benar-benar luar biasa, ia seperti photographer profesional. "Wah, bagus banget Kak," puji Risa.


Arkan hanya tersenyum. Risa berinisiatif membuat suasana asing untuk dirasakan mereka. "Eh Kak, gantian. Sini aku yang foto," pinta Risa.


Arkan dan Senja pun berjalan dan menghadap ke arah kamera. "Kak Langit!" teriaknya.


Yang dipanggil menoleh, sedang Arkan dan Senja memasang ekspresi tercengang yang luar biasa, keduanya menampilkan reaksi yang sama.


"Aku fotoin, cepet gabung sama mereka." Risa menitah Langit untuk berdiri disamping Senja.


Langit menghela nafas. Iya 'kan saja atau menolak.


"Oke."


Risa merasakan sesuatu menjalar ditubuhnya. Rasanya semakin sakit dari waktu ke waktu. Mengapa pula ia harus merasakan ini, tapi Langit selalu menguatkan.


"Percayalah, bahwa Kakak juga rasa apa yang kamu rasa," benak Risa bersuara.


"Kak Langit bisa geser sedikit!" ucap Risa sembari mengarahkan tangannya untuk membuat Langit lebih mendekat ke arah Senja.


Langit bergeser. Dan "3 ... 2 ... 1 ...!" Cekrek.


Air matanya jatuh tanpa sengaja. Sesungguhnya seorang Risa tak pernah bisa terlihat kuat.


...****...


...🔱...

__ADS_1


__ADS_2