
...Semua orang pasti berubah....
...Setelah itu tergantung bagaimana cara kita bertahan atas sikapnya....
...🔱...
Arkan memandangi ponselnya yang berada di samping laptop. Barusan saja Senja menelepon dirinya dan terus mengiriminya pesan yang tak pernah dibalas. Arkan selalu menjaga sikapnya di depan Senja, ia tak ingin Senja mengetahui semua rasa cemburunya. Namun mau bagaimana lagi, ia juga perlu bersikap adil kepada perasaannya.
Arkan mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana bisa ia melakukan ini kepada gadisnya?
Cowok ganteng itu pun mengambil ponselnya dan membuka ruang chatnya bersama Senja. Gadis itu sudah mengirimi sekitar 10 pesan yang belum dibaca.
Senja❤
[Kak, bisa temuin aku di toko Bunda?]
[Kak, bisa ambil kue di rumah?]
[Ini buat Mama]
[Kak?]
[Kak bales]
[Kak, bisa ngomong sebentar?]
[Hari minggu nanti aku mau hadir ke acara ulang tahunnya Lia, Kakak mau temenin aku, kan?]
[Kalau Kakak gak mau, aku bisa sendiri]
[Aku udh siap, Kakak jemput aku, kan?]
[Hati-hati kalau mau kesini]
Dan pesan yang terakhir kali dikirimkan adalah waktu Arkan mengantar Senja ke kampus tadi. Bodohnya adalah Senja selalu lupa untuk menanyakan langsung soal acara ulang tahun Lia.
Arkan terbelalak. "Hari minggu?!"
Ia teringat omongan Sara dengannya di telepon tadi. Sara juga mengajaknya untuk berkeliling mencari buku tentang kedokteran.
Flashback ON
[Ar? Lo ada acara gak hari minggu?]
"Gue.. kayaknya gak ada."
[Eum.. gue mau ajak lo ke toko buku. Ada buku yang harus gue beli. Lo bisa, kan?]
"Gue bisa, lo tentuin aja jamnya."
[....]
Setelah itu Arkan bersorak karena senang. Namun setelahnya ia melihat ponselnya terdapat satu panggilan tak terjawab dan itu dari Senja.
Arkan pun mematikan data ponselnya karena Gilang mengirim pesan makian dalam jumlah banyak. Itu membuatnya risih.
Flashback OFF
__ADS_1
Jadi bagaimana ini? Siapa orang yang harus Arkan tempuh? Senja atau Sara? Mengapa mereka memiliki inisial yang sama?!
Ah, SAS! eh SOS!
Arkan mengacak rambutnya frustrasi. "Senja... maafin Kakak."
****
Langit membelikan keduanya minuman yang bisa membantu menghangatkan tubuh. Sambil meminum minumannya, Langit mengamati kedua gadis itu. Semoga Luna bisa mengatasi masalah Senja. Namun cowok dingin itu nampaknya tlah salah mengambil jalan, bukannya Senja yang curhat, ini malah Luna.
Senja tak tahu maksud Langit membawa Luna ke sini. "Jadi.. kenapa lo bisa sama Langit?"
"Di jalan tadi cowok lo..."
Flashback ON
Luna mendorong dada Langit agar cowok itu menjauh dari wajahnya. "L-lo mau ngapain? Mau macam-macam, ya!"
Langit memutar bola matanya malas. "Nafas lo aja gak segar lagi!"
"Ih berani banget ya lo ngomong kayak gitu ke gue!"
"Kenapa harus takut?!"
Tangan Luna mengepal, rasanya ingin menampar cowok di hadapannya ini. "Gak ada gunanya gue ngomong sama lo! Lebih baik gue pergi!"
Sebelum Luna pergi, ia sempat memungut kembali batang rokoknya. Namun segera di tepis Langit. Ia malah memegang erat tangan Luna. "Eh, apaan sih?!"
Gadis tomboi itu dibawa Langit ke motornya. "Mau ngapain?" tanya Luna.
"Naik!"
"Naik! Sekarang!"
"Ya emangnya mau kemana sih?!"
"Senja."
Flashback OFF
Senja melotot. "Apa?! Jadi lo ngerokok?"
"Ya... ya iya. Terus kenapa? Walaupun gue perempuan, tapi gue suka rokok. Karena dengan ngerokok, semua masalah gue hilang gitu aja," ucapnya kemudian meminum minuman yang dibeli Langit.
Jadi Senja kan yang harus menasehati. "Tapi tetap aja, bahkan sepantas pantasnya laki-laki merokok, itu tetap aja gak baik..."
Ucapan Senja terpotong karena Luna menerobos. "Apalagi perempuan? Itu kan yang mau lo bilang?" tanya Luna. "Gue udah sering dapat nasehat kayak gitu! Duh gini ya Sen, gue milih pulang deh daripada cuma dinasehatin kayak gini."
Luna hendak beranjak, tapi dicegah. "Gue pantang pulang sebelum lo mau berubah!"
Luna memperlihatkan wajahnya yang masam tak terima. "Gue merasa jadi nyamuk baru tau, gak?! Kita baru aja ketemu tadi. Masa lo berdua udah berani larang-larang gue!"
"Gue sama Langit itu kenal sama masa depan dan impian. Jadi kita peduli sama masa depan lo! Lun, lo itu masuk fakultas hukum, lo bisa melarang semua orang yang merokok sembarangan di tempat umum nanti. Emangnya lo gak malu sama impian lo?!"
"Lo harus tahu, gue kuliah itu karena paksaan. Gue memang dapat beasiswa, tapi buat jalanin kuliahnya gue gak mau!" jelas Luna. "Gue juga gak tertarik sama hukum, jadi buat apa?!"
Senja menghembuskan nafasnya kasar. "Lo bahkan punya otak yang lumayan. Tapi kenapa gak lo pakai?"
__ADS_1
Luna terdiam. Senja kembali pada modenya yang tadi tengah bersedih. "Langit itu bukan cowok gue, dia cuma sahabat gue."
Luna sudah tahu, tapi ia mengira bahwa Langit menyukai Senja. Dari penglihatannya, Langit begitu khawatir tadi pagi. Bagaimana pun, Senja beruntung karena bisa menganggap dan dianggap oleh Langit.
"Gue udah punya pacar..." ucap Senja. Luna terkejut dan langsung melihat ke arah Langit. Tadinya ia hendak menyuruh Langit segera menembak Senja dan jadian. Tapi ternyata kenyataannya begitu, pantas saja mereka hanya sepasang sahabat.
"Dia pengidap asma, tapi walau begitu, dia gak pernah mau kenal sama penyakitnya. Tahu sesaknya kayak apa, tapi dia tetap lawan. Gue sampai gak tahu dia mengidap asma waktu itu, yang gue tahu, Kak Arkan itu sempurna," ucap Senja melihat ke langit berbintang.
"Jadi gue mau lo hargai pacar gue, Lun. Dia mau lepas dari sesaknya, tapi lo? Lo malah sengaja buat udara kotor."
Luna terenyuh. "Dampaknya sebesar itu, ya?"
"Dampak sebesar itu berawal dari lo yang kecil. Bahkan bukan cuma orang lain, diri lo sendiri aja nangis lihat lo merokok. Jadi, gue mohon berhenti ngerokok, ya?" pinta Senja. "Gimana kalau kita sama-sama angkat kelingking kita.." Senja mengacungkan kelilingnya. "Kita temen sekarang, kita bisa hadapi masalah kita sama-sama. Gimana?"
Luna tersentuh, baru kali ini ia dapat pertanyaan semacam itu. Luna merasa beruntung telah dipertemukan dengan Senja dan Langit. Dua manusia yang mau menjadi temannya, karena biasanya Luna ditakuti oleh teman perempuan atau bahkan laki-laki.
Luna mengangkat kelingkingnya ragu, tapi ia benar-benar mengomfirmasi pertemanan Senja. "Hm, kita teman sekarang."
Senyum tersenyum. "Akhirnya gue punya teman baru."
Luna tertawa. "Lo mending teman baru, gue teman baru plus pertama."
Lalu mereka tertawa bersama-sama. Langit melihat mereka mulai tertawa dan sepertinya keduanya sudah membaik. Langit pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri mereka berdua.
Plak!
Seekor nyamuk mendarat di lengan Langit. Itu membuat para gadis terkejut. "Nyamuk baru, ya Mas!" teriak Luna, membuat Senja tertawa.
Langit menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu meneruskan jalannya. "Udah malam, kita pulang!" katanya.
Luna mengangguk. "Oke, makasih ya Sen? Lo udah buat gue jauh lebih baik sekarang."
"Hm, janji jangan ngerokok lagi?"
"Iya gue janji."
"Kalau gitu gue pulang, ya?" Pamit Luna, kemudian hendak beranjak.
"Mau kemana?" tanya Langit.
"Ya pulang, lah!"
"Gue yang antar lo pulang."
Senja tersentak. Jika Luna yang diantar pulang, itu artinya Senja pulang sendirian?
"Ya udah, kalau gitu kalian pulang," ucap Senja.
"Aku antar kamu dulu," kata Langit sembari memegang tangan Senja. Ia beralih kepada Luna. "Tunggu di sini!"
Langit pun menarik Seseynya untuk pulang. Luna terlampau jauh menanggapi Langit, laki-laki itu memang baik kepada siapapun. Dan siapapun itu pasti luluh.
...~🔱~...
...Bagi yang suka, ayo komentar sebanyak-banyaknya🤗...
...Jangan lupa follow ya, mau follback? komentar aja....
__ADS_1
...Salam kenal dari Hani Aprilliani❤...