
...Apa yang kau lihat memanglah apa yang kau ketahui, tapi tak selamanya yang kau tahu itu adalah bukti....
...🔱...
Rupanya Senja membawa Bundanya tersebut ke rumah sakit terdekat, ia membawa Bundanya setelah menelpon ambulans. Gadis itu sangat kahwatir, jadi ia menelepon ambulans untuk kemudian membawa Bundanya ke rumah sakit. Senja sangat takut sekarang ini, ia sendirian dan tak ada orang yang menemani.
Bundanya sepertinya sudah ditangani oleh Dokter, Senja menunggu di ruang tunggu. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Menatap kosong ke depan dan mencoba menyimak semua yang terjadi.
Bundanya memang sering melamun dan telat makan. Yang ia tahu, wanita yang sangat ia cintai itu bekerja keras tanpa henti. Apa mungkin beban Bundanya bertambah setelah Senja kuliah? Senja menunduk dan menenggelamkan wajahnya dengan telapak tangan lalu menangis.
Ia lebih rela jika berada di posisi Bundanya daripada harus menanggung beban seperti ini. Dijauhi Langit, diabaikan Arkan dan melihat orang tersayangnya sakit. Senja tidak bisa menahan semua beban ini.
"Kamu yang membawa pasien ke sini, kan?" tanya Dokter itu ketika Senja sedang mengusap pipinya.
"Iya Dok. Saya anaknya."
"Pasien sudah sadar, kamu boleh jenguk."
Senja mengangguk. "Terima kasih, Dok."
Bundanya tidak dirawat di kamar VVIP, melainkan kamar dengan kelas 3. Gadis itu langsung menemui Bundanya yang diberi selang infus. Wanita itu memang terlihat kelelahan dan lemah, Senja langsung meraih tangan Bundanya dan menangis di punggung tangan Bundanya itu.
"Bun.. maafin Senja, Bunda sakit karena Senja, kan?" tanya Senja sembari menangis tersedu-sedu. "Kalau Bunda gak mampu, biar Senja berhenti kuliah aja, Bun."
Bundanya mengusap kepala Senja. "Kamu jangan bilang begitu, sayang. Bunda bukan kecapekan karena kuliahin kamu, kok. Inget, sakit itu pelebur dosa, jadi kamu harus bersyukur karena Bunda masih dikasih sakit."
Senja menggeleng, "Tapi Senja gak bisa lihat Bunda kayak gini."
"Eh, udah ah, jangan nangis. Bunda baik-baik aja, kok."
"Bun, Senja gak suka kalau Bunda bohong. Bilang aja kalau Bunda capek. Biar Senja berhenti kuliah dan gantiin Bunda kerja."
Bunda dari Senja tak mengerti kenapa tiba-tiba Senja bersikeras untuk berhenti kuliah. Apa mungkin putrinya ini ada masalah dengan kekasihnya?
Bundanya tersenyum getir, "Kamu ada masalah sama Nak Arkan, ya?"
Bukan hanya Arkan Bun, tapi Senja punya masalah dengan Langit dan Kakak tingkatnya, yaitu Yumi.
Senja menggeleng. "Nggak Bun, Senja cuma capek kuliah dan pengen bantu Bunda aja kerja."
"Itu sama aja, sayang. Kerja juga ujung-ujungnya kamu pasti capek. Lebih baik kuliah dan nanti kamu bisa kerja di tempat yang enak."
"Buat apa Senja kerja di tempat yang enak, kalau ngorbanin Bunda?" tanya Senja sembari menangis.
Bundanya ingat, apa anaknya ini tertekan gara-gara kehadiran Yumi?
"Bunda!" Risa langsung berlari setelah melihat Bundanya. Gadis itu baru saja pulang sekolah dan langsung menerima kabar buruk tentang Bundanya.
Sama halnya dengan Senja, gadis itu memeluk Bundanya erat. Sepertinya sakit yang diderita Bundanya memang cukup parah. Meskipun hanya tifus, tapi lemas yang menyerang tak mengizinkan Bundanya untuk berdiri atau bahkan sekedar duduk. Pusingnya saja bukan main-main.
__ADS_1
"Kok kamu masih pakai baju seragam?" tanya Bundanya kepada Risa.
Risa menggeleng keras. "Jangan peduliin Risa, Bun. Yang penting Bunda jangan sakit lagi."
Tak Senja, tak adiknya, kedua gadis cantik itu menangis ketika melihat Bundanya lemah seperti itu.
"Kenapa jadi pada sedih, sih? Padahal Bunda biasa aja, lho." Bundanya memperlihatkan senyumnya. "Malah Bunda bisa tambah sakit kalau kalian nangis kayak gini."
Senja dan Risa mengusap air mata mereka dan mencoba melawan rasa khawatir itu. "Nah, gitu dong. Bunda sakit bukan untuk ditangisin. Justru kalian harus terus doain Bunda supaya cepat sembuh."
"Kita pasti doain Bunda, kok. Bunda cepet sembuh, ya?" pinta Risa kepada Bundanya.
Bundanya hanya tersenyum dan mengangguk lemah.
****
Luna merasa tak nyaman memakai pakaian milik Mama dari Langit. Meski terlihat sederhana, tapi Luna mampu menyihir sesiapun yang melihatnya. Namun bagi Luna ini sama sekali bukan fashionnya. Ia sama sekali tidak nyaman memakai baju sefeminim ini.
Gaun selutut dengan warna kalem itu menghiasi tubuh Luna. Bahkan Langit sampai melihat dari bawah hingga atas. Karena gadis tomboi yang tadi dibawanya tiba-tiba berubah menjadi gadis yang lembut.
"Kelihatan lebih cocok di kamu, tambah cantik," ucap Mamanya.
Luna meneguk salivanya gugup. "M-makasih, Tante. Luna pinjam dulu, nanti besok Luna kembaliin."
Mamanya tersenyum. "Gak usah, itu buat kamu aja. Lagian kamu kan bukan siapa-siapa, kamu itu kan pacarnya Langit." Langit dan Luna melebarkan mata mereka. "Jadi, ambil aja buat kamu."
"Oiya Luna, kamu mau kan makan malam di sini sama Tante dan Langit?"
"Eum.. maaf Tan, tapi Luna harus pulang."
"Iya, Ma. Luna harus pulang," ucap Langit.
"Yah, sayang banget. Padahal kayaknya seru kalau kamu makan malam di sini."
"Lain kali aja ya, Tan?" tanya Luna. "Ya udah, kalau gitu Luna pamit dulu." Luna mencium punggung tangan Mama Langit.
"Iya, pokoknya kamu harus makan malam sama Tante nanti," desaknya.
Luna hanya melihat ke arah Langit sembari tersenyum kaku. "Langit antar Luna dulu," pamit Langit.
"Hm, hati-hati, ya?" pinta Mamanya.
"Iya, dah Tante."
Kemudian Langit dan Luna pun pergi keluar. Sepanjang perjalanan menuju motor Langit, Luna sangat berisik dan tidak mau berhenti mengomel.
"Lo kenapa bilang kalau gue ini pacar lo?! Pokoknya gue gak mau tahu, lo harus jelasin yang sebenarnya ke Mama lo!" bentak Luna. "Terus ini... ih gue lebih suka baju laki-laki daripada baju ini! Ini bukan gue!"
"Cantik, kok."
__ADS_1
Luna diam dan menatap Langit dengan tatapan kagum. Akhirnya bungkam, pikir Langit.
Mereka sampai ke motor Langit. "Cepet naik!" kata Langit.
"Lo benar-benar cowok modus, ya! Masa iya gue naik motor itu pakai baju kayak gini! Yang ada nanti..."
Langit membuka jaketnya untuk kemudian memasangkannya di pinggang Luna.
"Jangan anggap semuanya susah," kata Langit.
Akhirnya Langit berhasil membuat gadis itu diam lagi. Mereka pun meninggalkan rumah megah Langit dengan membawa bungkusan yang dibeli Luna tadi.
****
Bunda dari Senja dan Risa tersebut memejamkan matanya dan tidur setelah makan dan minum obat. Hari ini Senja yang akan menunggu Bundanya di rumah sakit. Sedangkan Risa menunggu Eri datang menjemput.
Senja dan Risa keluar untuk menikmati angin segar, karena di dalam terlalu banyak zat yang tidak sedap untuk dihirup.
Mereka duduk di taman, meski dinginnya malam menusuk, Senja dan Risa tak peduli. "Kak, tadi Kak Arkan telpon aku dan nanyain Kakak."
Senja biasa saja. "Nanya apa?"
"Kakak lagi ada masalah ya sama Kak Arkan? Terus Kak Langit.. kenapa Kakak gak hubungin mereka?" tanya Risa.
Senja menggeleng. "Mereka punya kesibukan masing-masing. Jadi buat apa?"
Risa menatap Kakaknya pelik. "Kak, tapi Kak Arkan itu calon Kakak, harusnya dia tahu soal ini."
"Nggak, Kakak gak mau dia tahu."
"Kenapa?"
"Kakak gak mau ganggu Kak Arkan."
"Lho? Tapi Kak Arkan nyari Kakak kok tadi, itu artinya Kak Arkan lagi khawatir sama Kakak. Jadi mana mungkin Kakak ganggu dia."
"Sekarang Kakak mau terbiasa tanpa Kak Arkan, juga tanpa Langit. Kakak gak mau ngerepotin mereka yang masih berstatus orang lain."
Risa melebarkan matanya kaget. "Tapi mereka bukan orang lain, Kak. Kak Arkan itu pacar Kakak dan Kak Langit itu sahabat Kakak."
"Justru itu... kalau hubungan Kakak sama mereka putus, itu artinya kita hanya akan berakhir jadi orang lain, kan?"
Risa menggeleng tidak percaya. "Kak, Kakak gak seharusnya bicara kayak gitu.."
"Udahlah, Ris. Cukup! Kakak gak mau bahas mereka dulu. Kakak mau fokus jaga Bunda sekarang."
Senja meninggalkan Risa begitu saja. Sedangkan Risa menatap Senja bingung. Masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi?
...~🔱~...
__ADS_1